by

Lapor Pak Polisi, Aku Saur dengan Nasi Anjing!!!

Cerpen esai oleh Kusmiati

KOPI, Magetan – Saur….. saur…. saur! Seru beberapa orang membangunkanku.

Kubuka mata ini dan duduk sejenak menata alam bawah sadarku yang sedari tadi terlelap karena lelah. Kupandangi seisi ruangan nampak sepi. Sudut-sudut bangunan ini tampak suram karena mungkin sudah lama tak berpenghuni. Beberapa saat bulu kudukku berdiri, mungkin karena dinginnya udara malam.

“mari saur pak,“ seru seorang laki-laki berperawakan kurus tinggi dan gelap sambil membawa satu bungkus nasi.

“iya pak terimakasih,” jawabku sambil mengulurkan tangan.

Laki-laki itu pun berlalu meninggalkanku sendiri di ruangan berukuran 8 kali 8 meter ini. Bangunan ini cukup luas, cukup kiranya untuk menampung kurang lebih tiga puluh orang. Tapi Aku sendiri disini. Ini adalah hari ke tiga aku di karantina dibalai desa.1  Namaku Sultan. Aku berada disini karena kerasnya isi kepalaku. Aku dan temanku Rendi, nekat mudik meskipun bapak Presiden telah melarang masyarakat untuk mudik. Kala itu kami nekat mudik dengan menggunakan angkutan bus AKAP.2

“ Tan, besok jadikan?” tanya Rendi

“jadilah, udah beres kan semua? Tanyaku

“ udah…pokok nanti habis sahur kita ke terminal, orangnya sudah nunggu disana.” Jelas Rendi

“masalah biayanya gimana?, tanyaku

“beres…. Bisa diatur, yang penting kita bisa keluar dari sini dulu.” Jelas Rendi malam itu.

Pada malam itu kami nekat ingin mudik lantaran sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan di kota ini. Aku dan Rendi adalah korban PHK. Kami di PHK karena wabah Corona. Perusahaan yang mempekerjakan kami tidak sanggup lagi membayar gaji semua karyawan. Kami tidak sendiri. Ratusan bahkan ribuan buruh pabrik di luar sana bernasib sama.3 Keputusanku untuk mudik bukan tanpa alasan. Selain aku bingung harus berbuat apa di kota ini lantaran tak memiliki pekerjaan, juga karena isi dompetku yang semakin menipis. Aku berfikir mungkin nanti di desa aku bisa lebih hemat dan menata kehidupan baru bersama anak istriku. 

“mana bis nya ren?. Tanyaku pada rendi karena sudah hampir satu jam kami menunggu di terminal tidak juga terlihat.

“ sabar. Sebentar lagi. yang penting nanti kita sampai rumah masing – masing dengan selamat dan aman.” Jawab rendi.

Rendi berencana akan mudik ke Jawa Tengah. Disana sudah ada keluarganya yang menunggu. Keluarga Rendi sungguh sangat memprihatinkan. Selama masa pandemic ini berlangsung, banyak hal yang telah mereka lakukan demi bisa mengganjal perut. Mulai dari menjual HP bekas hingga nekat mencuri beras karena kelaparan.4 Hal inilah membuat Rendi bersikukuh mudik. Dengan tabungan yang dibawanya, Rendi berharap bisa meringankan beban saudara – saudaranya itu. Pemerintah memang berencana akan menggelontorkan bantuan senial 600 ribu perbulan. Namun hingga ramadhan hari ketiga ini, bantuan tersebut belum juga cair.5

Setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, bus yang kami tunggu itupun akhirnya datang. Kenek bis dengan sigap mengambil barang – barang kami dan memasukkan ke dalam bagasi.

“ ayo bang masuk.” Ajak kenek bus.

Langsung saja aku menuju pintu bus.

“eh…… bukan disitu bang, tapi disini. Di bagasi bersama barang abang.” Jelasnya.

“ha???? Bagasi bang? 450 ribu duduk di bagasi ? Yang benar saja. “ protes ku saat itu. Aku tak tak terima karena aku sudah bayar mahal tapi kenapa harus duduk di dalam bagasi.

“begini bang….bukannya apa – apa, tapi demi keamanan abang dan juga kami.” Jelasnya.

“bagaimana maksudmu?” Tanyaku masih tak percaya.

“ kalau polisi melihat bus ini bawa penumpang, nanti kami yang kena dendanya bang. Abang mau di denda 100 juta dan dipenjara 1 tahun karena nekat mudik?? Jelas kenek tersebut.

Aku pun menghela nafas panjang dan berusaha menerima penjelasan kenek. Akhirnya aku dan Rendi dengan berat hati duduk di bagasi bus tersebut. Sesak memang, tapi masih sesak rasanya bila nanti aku harus membayar denda dan menjalani kurungan satu tahun penjara.6

Sesampainya di kampung halaman. Bukan sambutan hangat yang aku terima namun tatapan curiga dari para tentara, anggota polisi dan beberapa tenaga medis. Mereka sudah sedari semalam menunggu kedatanganku. Sebelum pulang memang aku telah menelfon istriku.

“ dik, minggu depan aku pulang. Maafkan aku ya dik.” Ucapku kala itu. Aku merasa bersalah karena sudah tidak bisa lagi mencari nafkah.

“ tidak apa – apa mas, ini ujian untuk kita.”  Ujarnya

“tapi aku tetap sedih dik,, ramadhan taun ini tak bisa memberimu nafkah lebih.” Ucapku

“mas…. Ramadhan ini adalah ramadhan terindah untuk kita. Kita bisa berkumpul bersama. Kita bisa beribadah bersama. Bukankah moment kebersamaan ini yang kita tunggu – tunggu dari dulu.? Masalah rizki biarkan Allah yag mengaturnya” Ucapnya menenangkanku.

Memang benar ucapan istriku. Selama ini aku jarang sekali pulang dan berkumpul bersama keluarga. Bisa jadi satu tahun hanya enam sampai delapan kali aku pulang. Itu pun hanya dua hari dirumah.

 Setelah percakapan itu, istriku melapor ke  ketua RT dan dilanjutkan ke jajaran atas perangkat desa. Aku patuh dengan anjuran pemerintah untuk dikarantina karena aku sayang keluargaku. Aku tidak ingin keluargaku terjangkit virus yang mungkin aku bawa selama perjalanan. Setelah melalui serangkaian tes, aku pun disuruh beristirahat di balai desa yang di modifikasi seperti rumah sakit. Disana nampak beberapa tempat tidur yang di sekat – sekat.

Hari ini adalah hari ke tiga aku menjalani ramadhan dalam keadaan terkarantina. Setiap hari, istriku membawa makanan untuk berbuka. Dan sedikit camilan untuk mengisi kekosonganku disini. Selama karantina ini, tak seorang pun boleh menemuiku. Hanya petugas yang diijinkan mengantarkan makanan dan keperluanku dari rumah. Istriku hanya sampai di pintu gerbang masuk dan kemudian kembali lagi kerumah. Sungguh, aku sangat rindu keluargaku.

Saur kali ini aku merasa tenang dan nyaman. Pasalnya pada hari sebelumnya, suasana saur disini sempat dihebohkan dengan adanya pembagian nasi berlogokan Nasi anjing. 7

Pada saat itu ditanganku sudah ada satu bungkus nasi yang kabarnya adalah pemberian sekelompok organisasi masyarakat sebagai bantuan untuk para korban covid – 19 yang dikarantina. Pada bungkus nasi tersebut terdapat logo anjing dan tulisan nasi anjing. Tulisan dan logo tersebut memanng sedikit membuatku ragu untuk memakannya.

“ pak pak…..” teriak ku memanggil petugas yang lewat.

“ ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?

“ nasi ini halal kan pak? Kok tulisannya nasi Anjing, jangan jangan…..???. tanyaku penasaran

“masak?? Kok saya tidak memperhatikan ya tulisannya. Coba sini saya lihat.” Ujar petugas itu. Petugas itu pun ternyata juga tidak tau kalau ternyata ada logo anjing.

Langsung saja petugas tadi membawa nasi tersebut ke bagian secretariat.  Melihat kondisi tersebut , semua petugas dan aku yang dikarantina disini menjadi sedikit resah. Kegaduhan pun berlangsung cukup lama. Beberapa petugas dan tenaga kesehatan sebagai penerima bantuan makanan yang sebagian besar beragama Islam merasa dilecehkan dengan logo kepala anjing pada bungkus makanan. Mereka berasumsi bahwa isi dari bungkusan makanan adalah daging anjing serta kenapa warga umat muslim diberikan makana anjing. Jajaran polisi yang tengah bertugas menjaga tempat karantina langsung menghubungi nomor telefon yang tertera pada bungkus makanan.

Selang beberapa menit setelah pak polisi menghubungi, pengirim nasi  itupun akhirnya datang.

Infestigasi itu berlangsung cukup lama. Aku pun cukup lama menunggu kepastian nasi tersebut.

 Setelah hampir satu jam kulihat pemberi nasi itu keluar begitu pun dengan para polisi.

“ bagaimana pak.?’’ Tanyaku penasaran

“ tidak apa apa, ternyata nasi ini halal.” Jelas petugas tadi seraya menjelaskan bahwa pengirim nasi tersebut telah  memastikan bahwa lauk-pauk dalam makanan itu merupakan makanan halal. Isinya terdiri dari cumi, sosis daging sapi, dan teri, bukan berisi daging anjing seperti dugaan warga. Mereka menggunakan logo kepala anjing untuk menggambarkan sifat anjing yang setia dan mampu bertahan di tengah kesulitan.

Alhamdulillah….. ujarku.

“ itulah pak pelajaran ramadhan tahun ini.” Kata petugas itu

“apa maksudnya.” Tanyaku masih tak mengerti

“ pelajaran bahwa meskipun suasana hati sedang gundah, kita tetap harus setia pada sang pemilik hidup dan harus tetap bertahan di tengah kesulitan ini. “ pungkas petugas yang sekaligus menjadi motivasiku menjalani ujian ini.

Referensi

1. Desa diminta menyediakan tempat isolasi untuk karantina pemudik yang nekat pulang kampung. https://jatengtoday.com/desa-diminta-sediakan-tempat-isolasi-untuk-karantina-pemudik-yang-nekat-pulang-kampung-42595

2. Viral bus AKAP angkut pemudik di bagasi. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/04/27/15371801/viral-bus-akap-angkut-pemudik-di-bagasi-polisi-tidak-mungkin-lolos?page=2

3. Pekerja di Jakarta kena PHK akibat wabah Corona. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4220444/30137-pekerja-di-jakarta-kena-phk-akibat-wabah-corona

4. Kisah pilu masyarakat miskin di tengah pandemic corona. https://bangka.tribunnews.com/2020/04/22/kisah-pilu-masyarakat-miskin-di-tengah-pandemi-corona-dari-jual-hp-rusak-hingga-nekat-curi-beras?page=3

5. Jokowi Putuskan beri bansos Rp.600.000 per bulan. https://nasional.kontan.co.id/news/jokowi-putuskan-beri-bansos-rp-600000-per-bulan-ini-yang-berhak-menerima?page=all

6. Mulai 7 Mei masyarakat yang nekat mudik di denda 100 juta. https://money.kompas.com/read/2020/04/23/193300426/mulai-7-mei-masyarakat-yang-nekat-mudik-didenda-rp-100-juta

7. Heboh bantuan nasi anjing yang gegerkan warga. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/04/27/07202801/heboh-bantuan-nasi-anjing-yang-gegerkan-warga-warakas-tanjung-priok?page=2

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA