by

Kisah Relawan Memakamkan Jenazah Pasien Covid-19

KOPI, Tomohon – Tidak gampang mengurus seorang pasien Covid-19 yang kemudian meninggal. Beberapa kasus di berbagai tempat masih terdapat penolakan warga terkait tempat pemakaman. Belum lagi mencari relawan untuk proses pemakaman. Kemanusiaan kita disaat ini sedang diuji.

Kematian seorang pasien positif Covid-19 pertama di Sulawesi Utara yang berasal dari Kota Tomohon, memberi kisah tersendiri dari seorang relawan yang memakamkan. Theo Merentek, S.Pd, salah seorang dari 6 relawan ketika dihubungi media ini, Senin, 27 April 2020, bercerita bahwa ketika ia diminta bergabung menjadi relawan untuk memakamkan jenazah pasien positif Covid-19, ada rasa was-was dan takut. Tetapi nuraninya mengatakan bahwa ia harus mengambil bagian dalam tugas kemanusiaan ini.

“Saya mendapat dukungan penuh dari isteri ketika bersedia menjadi relawan,” kata Theo.

Menurut Theo, sebelum melaksanakan tugas, mereka dibekali cara memakai dan membuka APD, serta tindakan lain saat memakamkan jenazah. Semuanya disesuaikan dengan protokol pemakaman jenazah Covid-19.

Theo kemudian menuturkan, bahwa selesai memakamkan jenazah, mereka diminta untuk isolasi mandiri selama 14 hari. Dan harus di-rapid tes sebanyak dua kali. Ketika menjalani isolasi mandiri ini, Theo mengapresiasi keluarga terdekatnya, bahkan tetangga-tetangga yang ada di sekitar kompleks dia tinggal.

“Mereka memberikan saya dukungan, mereka tidak takut berinteraksi dengan saya, tentunya dengan menjaga jarak dan memakai masker,” ungkap Theo.

Pria Lulusan Universitas Kristen Indonesia Tomohon ini sedikit kecewa terhadap beberapa gelintir orang yang memberikan stigma negative kepada relawan dalam pemakaman tersebut. Orang orang yang jauh dari lingkungan kami justru menganggap kami adalah sumber penyakit, kami sangat terpukul dengan cara diskriminatif seperti itu.

“Ini sebuah kegetiran yang merusak nilai kemanusiaan,” kata Theo sedikit emosi.

Theo berharap jangan pernah membangun stigma negatif kepada mereka yang menjadi ODP, PDP, dan positif Covid-19. “Mereka manusia yang tidak pernah ingin menjadi seperti itu. Beri mereka dorongan untuk semangat hidup, memeriksakan diri, beri mereka dukungan materi ketika mengisolasi diri, jangan pernah menyebar hoax yang membuat keresahan di masyarakat. Coba bayangkan jika itu terjadi di keluarga Anda, pasti Anda akan merasa rapuh jika orang orang menjauhi Anda,” ujar Theo.

Menutup percakapan, Theo berpesan kita hidup di tengah nilai-nilai budaya Minahasa yaitu Mapalus (Gotong-royong – Red), jangan biarkan Covid–19 memporak-porandakan nilai-nilai tersebut. (Anto)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA