by

Home Learning: Antara Isi Perut atau Isi Otak

Cerpen Esai oleh Kusmiati

KOPI, Magetan – Sedari tadi kuamati suamiku yang tengah duduk di depan meja kerjanya, nampak laptop yang terus menyala seharian dan HP yang tak pernah berheti berdering.

“Sibuk sekali bang?” tanyaku.

“Iya, berdasarkan instruksi Bu Kamad, dalam menyikapi libur sekolah ini aku harus menyiapkan tugas belajar untuk siswa yang akan dikerjakan selama libur sekolah. Dan hal ini telah aku share kepada siswa dan orang tua melalui pesan di WA,” jawabya (1)

“O….. online gitu bang?” tanyaku lagi memperjelas.

“Iya karena dengan diliburkannya aktivitas KBM di madrasah jangan sampai dimanfaatkan untuk berjalan-jalan atau pergi keramaian lainnya. Selama libur ini diharapkan orang tua membimbing anak-anaknya dalam mengerjakan tugas belajar yang telah diberikan dan melarang anaknya untuk pergi ke tempat-tempat keramaian yang rentan akan resiko penyebaran virus tersebut,” terang suamiku. (1)

Pantas saja, sudah hampir dua minggu ini bang Irham lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop, sesekali kudengar dia menggerutu karena jaringan yang lemah dan akhirnya percakapan degan muridnya terganggu. Alhasil sebagian murid tidak menyetorkan tugasnya dengan alasan signal susah.

“Ma…. susu ma….. susu ma….,” rengek anakku Hamizan berumur empat tahun memotong pembicaraan kami. Irham suamiku adalah seorang guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri di kabupaten Magetan. Dan aku sendiri, Zulaikah berusia 30 tahun seorang ibu rumah tangga. Kami menikah 5 tahun yang lalu di Kota Nganjuk, kota kelahiranku. Bang Irham adalah kakak tingkatku di kampus. Karena sama-sama aktif di organisasi, maka benih-benih cinta tumbuh di antara kami. Semenjak memiliki satu anak, bang Irham dipindahtugaskan ke kota ini. Di sini kami hanya bertiga, keluarga kecil kami bertahan hidup mengandalkan gaji suami. Dulu aku sempat bekerja namun karena anakku tidak ada yang mengasuh akhirnya kulepaskan pekerjaanku sebagai tenaga administrasi di sebuah rumah sakit swasta.

Sekali lagi kulihat bang Irham tampak menggerutu sambil memegang kepala, “Argh……”

“Ada apa lagi Bang?” tanyaku penasaran.

“Paketan habis ma, padahal ini sudah kali ketiga aku isi paket internet semenjak pengumuman belajar di rumah diumumkan. Pengeluaran kita jadi bertambah drastis ma,“ keluh suamiku.

Gaji seorang guru swasta yang dibilang pas-pasan, ditambah biaya paket internet yang semakin hari semakin membengkak tentu saja membuat kepala sebagian guru menjadi pusing. Bagi guru yang berada di lembaga besar, mereka difasilitasi paket internet yang dikirimkan ke masing-masing guru perbulannya. Namun bagi guru yang bekerja di lembaga kecil, harus menguras kantong pribadi agar proses belajar mengajar tetap berlangsung sesuai dengan himbauan menteri pendidikan.

000

Aku jadi teringat tentang cerita pak Awan minggu lalu, beliau adalah seorang guru di pedalaman. Dulu kami pernah tinggal satu komplek. Karena pindah, sekarang kami jarang sekali bertemu. Meskipun begitu, hubungan kami tidaklah renggang. Kami tetap saling bertukar kabar melalui telfon. Minggu lalu beliau menelfon kami.

“Assalammualaikum ya sahabatku….” sapanya setiap kali telfon. Beliau memang sangat ramah.

Bahkan ketika ditelfon sekalipun.

“Wa’alaikumsalam saudaraku……” jawab suamiku mengimbangi.

Lantas mereka mengobrol asyik hingga tak terasa hampir satu jam berlalu. Entah apa yang mereka obrolkan.

“Bagaimana kabar Pak Awan, Bang?” tanyaku sambil meraih bangku lalu duduk di sebelah bang Irham di ruang tamu.

“Baik,” jawabnya singkat. Bang Irham memang orang yang tak banyak bicara.

“Lantas??? Itu saja??” tanyaku penasaran.

“Tidak ma, dia banyak bercerita tentang pengalamannya mengajar selama masa pandemic ini,” jawabnya.

“Bagaimana Bang, bagaimana? Bagaimana cara dia menghemat biaya pengeluaran dsb?” bertubi-tubi pertanyaan ku lontarkan seakan tak memberi kesempatan Bang Irham untuk menjawab.

Lantas Bang Irhampun bercerita panjang lebar tentang kegiatan Pak Awan dalam menghadapi musim pandemic ini. Dia berkata bahwa tak jarang Pak Awan rela mendatangi muridnya satu persatu ke rumah agar pembelajaran tetap berlangsung. Hal ini dilakukan karena selain dapat menghemat biaya internet juga karena mayoritas anak didiknya, tidak memiliki gawai dan berada di pelosok desa. Tak jarang pula, pak awan harus menitipkan sepeda motornya, dan terpaksa berjalan kaki, di tengah pematang sawah, untuk mencapai rumah siswa, yang di pelosok desa. Situasi ini dilaluinya setiap hari, tanpa lelah. (2)

“Lantas?? Apa lagi pesannya?” tanyaku lagi.

“Hem…… Pak Awan bercerita bahwa suka duka pembelajaran online tak hanya dirasakan oleh seorang guru namun juga para wali murid. orangtua yang juga bertambah bebannya karena harus menjadi guru di rumah, mengajari membuat tugas-tugas, dan selalu memonitor. Bisa dibayangkan jika anak lebih dari satu dan masih perlu pendampingan dalam mengerjakan tugas. Belum lagi harus menyiapkan makanan dan pekerjaan rumah tangga lainnya,” jawab Bang Irham menerangkan.

“Itu saja?” tanyaku lagi.

Memang aku ini adalah orang yang terkenal kritis. Aku tak puas dengan satu dua jawaban saja.

“Sabar dong ma, biar aku minum dulu,” jawab Bang Irham sambil berlalu menuju kulkas dan mengambil air putih.

Bang Irham pun melanjutkan ceritanya. Kata Pak Awan, bagi orangtua yang bekerja dan juga sedang menjalankan pekerjaan dari rumah, tantangannya akan bertambah lagi karena selain mendampingi anak belajar, juga mempunyai tugas pekerjaan kantor yang harus diselesaikan.

000

Mendengar cerita bang Irham aku pun menghela nafas panjang dan berfikir sejenak. Dalam benak aku berfikir bahwa suka-duka selama proses home learning ini bermacam-macam. Sebagian orangtua lebih senang anak belajar di sekolah. Selain pulsa internet yang membengkak, salah satu keluhan orangtua adalah bertambahnya pengeluaran untuk konsumsi yang lebih besar dari uang saku anak tiap hari.

Namun, nilai positifnya adalah ada lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga dan mendekatkan hubungan emosional antara orangtua dan anak. Dan yang lebih penting adalah keluarga lebih terlindungi dari paparan virus korona. (3)

Bang Irham sepertinya sudah sangat lelah dan penat, dia tutup laptopnya dan bergabung bersamaku di depan layar televisi.

“Capek Bang? Sini aku pijit,” tanyaku mencoba menghibur.

“Iya ma, entah sampai kapan ini semua akan berlangsung,” keluhnya.

“Sudah istirahat kan otakmu Bang, tidurlah,“ ucapku menenangkan.

Tak lama berselang setelah Bang Irham tertidur, kudengar telefon pintarnya berdering tanda ada satu pesan masuk. Karena penasaran pesan dari group guru itu pun aku buka. Setelah kubaca setengah, langsung saja tangan ini dengan reflek memukul membangunkan Bang Irham.

“Bang bangun Bang, Bang… Bang Irham bangun Bang,” panggilku seperti orang yang baru saja dapat undian.

“Apa sih ma?” tanya nya jengkel.

“Baca ini bang, mulai Senin, 13 April 2020, Televisi Republik Indonesia (TVRI) akan menayangkan program baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertajuk Belajar dari Rumah. Program tayangan ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19.”

“Alhamdulillah Bang….. akhirnya bebanmu berkurang, termasuk bebanku juga,” terangku sambil menghela nafas panjang. (4)

Referensi

(1) Kamad MIN 1 Kota Bengkulu: Libur Sekolah Bukan Berarti Libur Belajar; https://bengkulu.kemenag.go.id/berita/512380-kamad-min-1-kota-bengkulu-libur-sekolah-bukan-berarti-libur-belajar.

(2) Keterbatasan Alat Komunikasi, Seorang Guru di Sumenep Rela Mengajar dari Rumah ke Rumah; https://www.kompas.tv/article/76972/keterbatasan-alat-komunikasi-seorang-guru-di-sumenep-rela-mengajar-dari-rumah-ke-rumah.

(3) Suka Duka Belajar di Rumah; https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/03/26/suka-duka-belajar-di-rumah/.

(4) Kemendikbud Hadirkan Program Tayangan “Belajar dari Rumah” di TVRI: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/04/kemendikbud-hadirkan-program-tayangan-belajar-dari-rumah-di-tvri.

Penulis: Kusmiati, Ibu Rumah Tangga warga Magetan, Jawa Timur

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA