by

”Diklat Jurnalistik Corona”, sebuah Oase di Pandemi Virus Covid-19

KOPI, Jakarta – Layaknya sumber mata air di tengah padang pasir, Diklat Jurnalistik Corona memberikan kesegaran di tengah kehausan “stayhome”.

Hari kedua Diklat Jurnalistik Corona, PPWI, tanggal 12 April 2020, dilaksanakan dengan penuh antusias. Diklat yang diselenggarakan dengan fasilitas whatsapp group bernama Diklat Corana Pagi, telah marak komentar sebelum jam pembelajaran. Pembelajaran dimulai pukul 09.30 –12.00 WIB, namun peserta telah mulai “on” di group sebelum diklat dimulai.

Tulisan celetukan ringan minta duduk di depan, kopi sudah tersedia, dan hadir paling depan, mewarnai komentar di group whatsapp. Laksana oase yang memberikan kesejukan, Diklat Jurnalistik mampu menyatukan peserta seolah-olah dalam satu kelas klasikal.

Diklat Jurnalistik hari pertama membahas materi pelajaran: bahasa Indonesia, cara praktis menulis berita; dan di Hari kedua ini tentang penyuntingan. Materi diberikan oleh Wilson Lalengke, sebagai narasumber.

Materi Bahasa Indonesia diberikan dengan latihan membedah kasus berita yang telah ditayangkan di salah satu media. Peserta diminta untuk memberikan “editing “ terhadap tulisan tersebut. Di sela-sela mengerjakan tugas, peserta dapat mengajukan pertanyaan kepada narasumber melalui whatsapp.

“Saya bertanya penulisan yang benar itu 5kg atau 5 kg?” tanya Mang Karni. Pertanyaan ini juga langsung dijawab oleh narasumber, “5 kg atau ditulis lengkap saja 5 kilogram”.

Peserta yang telah selesai melakukan tugas yang diberikan dapat langsung mengirimkananya. Hasil tulisan tersebut langsung mendapatkan komentar dari narasumber berupa tulisan atau rekaman suara dari narasumber.

Pembelajaran dalam Diklat Jurnalistik ini sangat menarik. Komunikasi dua arah antara narasumber dan peserta terjalin dengan baik. Narasumber memonitor keaktifan para peserta dan sesekali menanyakan keaktifan peserta.

“Mana siswi kita satu lagi neh?? Masih monitor??“ sapa narasumber. Peserta akan menjawab, “Hadir.“ tulis Neneng.

Guyonan ringan juga mewarnai aktivitas belajar secara on line. “Gak kelihatan, duduknya dimana yaa.. Belakang Bang Harry?” tanya Bang Shonny. “Di belakang biar gampang nyontek,“ timpal Yustrisna. Komentar-komentar dari peserta dan narasumber menjadikan suasana kelas menjadi hidup.

Meskipun waktu untuk diklat ini sangat sedikit, narasumber juga memberikan referensi untuk dibaca oleh peserta. Referensi ini bertujuan agar peseta lebih mudah dalam mempelajari kaidah-kaidah penulisan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar melalui link Ruang Bahasa Indonesia.

Sesi pembelajaran hari kedua ditutup dengan memberikan tugas kepada para peserta untuk membuat artikel atau berita tentang kegitan Diklat Jurnalistik Corona hari kedua. Tugas dikumpulkan paling lambat pukul 15.00 WIB, dan dikirimkan secara japri kepada narasumber. (Tyas)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA