by

Datang Tuk Kembali

Cerpen Esai oleh M. Abdurrasyid

KOPI, Banjarnegara – Awal bulan Maret 2020, Indonesia resmi mendeklarasikan kasus pertama Covid 19.1 Saat itu di lingkungan kerjaku belumlah teramat peduli. Bahkan masih kerap terdengar lelucon tentang virus dari Wuhan itu.

“Tenang, Covid bisa dikalahkan hanya dengan nasi kucing”. Kelakar teman satu bagianku yang mengutip kata pejabat tinggi negara.

Aku hanya bisa diam disertai senyum getir. Meski terdengar terlalu satir, namun nasi kucing adalah pengganjal perut harian kami ketika keluar dari pabrik.

Pertengahan bulan Maret, lelucon kami seolah menjadi bumerang. Berdasarkan informasi resmi dari Pemerintah, klaster penyintas Covid 19 semakin bervariasi. 2 Apalagi saat kami semakin paham pola dan tingkat penyebarannya, jantung dilanda dag dig dug der.

Apalah dikata. Atasan kami kerap dinas ke luar negeri. Dalam sebulan kadang sampai dua atau tiga Kali. Terahir, aku dengar beliau baru saja diajak bos besar pergi  ke Korea, Hongkong, Dan Singapura.

Bumerang itu seolah berubah menjadi bogem mentah. Akhir kerja di penghujung bulan Maret seolah menjadi horor April mop bagi kami. Pimpinan divonis menjadi PDP. Kami mulai merasa terancam. Bukan soal menjadi status ODP saja, tapi kinerja perusahaan juga mulai batuk-batuk.

Saat itu, aku mulai berpikir. Bagaimana jika nanti aku terdampak. Kena PHK sebelum masa kontrakku berakhir, dua bulan menjelang.

Berdasarkan pengamatanku di lini masa, banyak perusahaan terpaksa merumahkan karyawan di saat pandemi. Termasuk perusahaan komunikasi langgananku yang lebih bonafide dari pabrik tempatku mengais rejeki.3

Sebagai perantau pemula, aku dilanda dilema. Bertahan tanpa sanak saudara hanya mengandalkan sisa tabungan,  atau mudik prematur seraya memutus urat malu.

Demi kebaikan bersama, Aku coba hubungi ibu dan keluargaku di kampung halaman. Sekadar meminta pertimbangan.

Mereka sepakat, sementara waktu lebih baik aku bertahan semampuku. Memperbanyak istighfar dan lebih giat lagi dalam menegakkan shalat lima waktu. Apalagi lockdown wilayah sudah berlaku di daerah bahkan merambah sampai ke level kampung.4

Aku hanya membisu dilanda kebimbangan.

Pertengahan April, pasca serangkaian shalat istikharah, tekadku untuk mudik semakin bulat. Dua carik kertas dokumen penunjang sudah aku kantongi. Surat pemecatan yang tidak dapat digugat Karena alasan force majeure, 5 dan surat dari instansi terkait bahwa aku negatif Covid 19.

Tidak lebih dari sepuluh hari. Bulan agung Ramadhan segera datang. Anganku dalam menjamunya diperantauan seolah sirna. Berganti dengan berbagai rencana saat kumpul keluarga. Dan yang terpenting bisa menunaikan janji pada saudara.

Sekali lagi, aku hubungi ibuku guna meminta restu. Mudik lebih awal meski hanya mengantongi sedikit bekal.

“Bu, bukane Wawan bade melawan. Tapi kayake menjamu Ramadhan teng perantauan bakalan ewed. Masjid dilockdown sedanten. Pareng, tho Wawan wangsul rumien?.” 6

Le, masjid neng kampung wae isone mung go jamaah Ra ono jumah. Kayake Ramadhan siki bakalan sepi. Takmir sepakat manut MUI”. 7Jawab ibu dengan suaranya penuh kasih.

Tapi, terserah kowe. Sing penting jaga awakmu lan ojo lali pesen bapakmu.” 8 Lanjut ibu sebelum akhirnya menutup panggilan teleponku.

Ooo

Dua hari aku mengurung diri di kontrakan. Mengikuti anjuran pemerintah seraya berkontemplasi.   Himbauan pemerintah dan MUI melawan doktrin almarhum bapak  saling beradu. Berkecamuk  hebat di benakku laksana perang semesta.

 “Siapa tahu ini Ramadhan terakhir kita. Jamulah ia dengan tombo ati terbaik jika kamu menganggapnya sebagai tamu spesial.”

Itulah pesan tahunan jika Ramadhan datang. Bagi kami sekeluarga, bapak adalah sosok teladan hidup. Totalitas ibadah di bulan puasa termanfestasi nyata. Soal tombo ati yang lima itu merupakan laku tirakat tak berjeda. Sejak Ramadhan datang, pergi, datang lagi. Tapi kata beliau, jika ingin konsisten paling mudah dimulai saat Ramadan tiba.

Kembali aku mencoba menganalisis keadaan. Di satu sisi aku menghormati jika nantinya muncul fatwa haram mudik MUI. 9 Di sisi lain pundi- pundi hasil keringatku mulai terkuras. Sedangkan mencari kerja saat pandemi, sama saja seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Simalakama semuanya.

Dalam kegalauan yang semakin membuncah, entah mengapa aroma Ramadhan terakhir semakin mempesona.

Aku ingin melakukan tombo ati itu sepenuh hati. Lebih dari biasanya.

Memang, Ramadhan adalah tamu yang datang tuk kembali pergi. Kala umur masih tersisa, laku tombo ati selalu datang mengiringi.

Selama di perantauan sebagai kuli, jujur aku kurang peduli dengan tombo ati. Ramadhan tahun lalu saja kerap kali aku bangun kesiangan dan juga bolong-bolong mengaji Quran. Jangankan dekat dengan ulama, tubuhku terasa remuk saat terbuai dalam hibernasi. Maklumlah, hidupku terpacu dengan target dan lembur tak kenal waktu.

Mungkin inilah jalan kembali mendekat  pada Tuhan. Tahun ini, Covid 19 seakan menjadi cambuk. Perantauan dan kampung halaman sedang menghadapi situasi yang sama. Kampanye kerja dari rumah dan tetap di rumah aja tak kunjung reda.

“Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa tahu ini adalah panggilan Ilahi rabbi.” Pekik batinku menyimpulkan.

Ooo

Tepat seminggu sudah aku menganggur. Gadget di tangan tak kuasa lagi menjadi pelipur. Aku hanya sibukkan diri dengan berkemas dan mengaplikasikan tombo ati.

Sore harinya, aku mencoba peruntungan pesan tiket secara online. Gagal dan gagal lagi. Semua armada incaranku full book sampai awal puasa.

Kesal dan caci maki di dada berbalas dengan lantunan istighfar bertubi-tubi.

Belum genap rasa frustasiku sirna, tak sengaja aku baca running teks di layar kaca. Emosiku tersengat hebat. Presiden secara resmi melarang mudik. Berlaku tepat di awal bulan puasa.10

Sontak Aku bergegas menuju terminal. Berjuang lebih ekstra dalam kalut yang terbakar. Bayangan memori pahit mudik tahun lalu pun kembali hinggap. Saat itu aku harus rela naik bus selaksa omprengan. Ditipu calo, dan diturunkan sebelum terminal akhir tujuan.

Syukurnya, terminal tidaklah terlihat laksana musim mudik. Antrian juga tidak begitu mengular di berbagai konter penjualan karcis.  Termasuk agen bis destinasi ke kampung halamanku. Aku malah sempat berkhayal. Mungkin memang benar kata pemerintah, perantau bengal sepertiku hanyalah berjumlah 24% semata.11

Tiket bus abal-abal akhirnya berada di genggaman tangan. Besok, aku resmi menanggalkan statusku sebagai perantau. Meniti hari kembali ke asal.

Dalam perjalan pulang menuju kontrakan, hand phone di saku bergetar. Aku segera hentikan laju kuda besiku.

Le, opo kowe sido Bali?“12 Samar-samar suara ibu tersela oleh bising truk container over load yang lewat.

Njih, bu. Insyaallah mbinjing.” 13 Jawabku dengan penuh hormat.

Ibu Akhirnya mempersilahkan, apalagi beliau tahu bahwa aku punya janji dengan saudaraku sejak setahun yang lalu.

Malam belum terlampau larut. Aku sempatkan diri mereka-reka rencana kegiatanku di kampung. Seperti biasa, harus tercatat rapi di buku agenda.

Ooo

Di atas bus AKAP, hand phone di saku beberapa kali bergetar. Kali ini giliran saudaraku menyapa lewat video call.

Mas, njenengan Bali-bali siap tho, Dadi ODP? Gak enak lho.” 14 Celetuk saudaraku mengingatkan.

Aku njaluk ngapuro, le. Tapi insyaallah aku datang tuk kembali, kok.” 15 Jawabku seraya menggigit bibir.

Ra popo mas, aku yo wae Wis sui Dadi ODP. Ora due penghasilan.” 16 Kelakar saudaraku.

Aku tertawa lepas. Membayangkan janjiku padanya tertunaikan tuntas. Mudik Kali ini, insyaallah  semuanya bisa terpenuhi. Meski dikampung sudah pasti aku menyandang dua gelar ODP.

Aku terus berdzikir berbarengan dengan bus  yang melaju cukup kencang. Meninggalkan kota satelit ibukota tanpa hambatan.

Di tengah perjalanan, pesan gambar dan video masuk ke media sosialku. Gambar spanduk selamat datang di kampung cukup membuatku merinding. Dari ancaman isolasi di rumah angker, dijemput ambulance, sampai memampang foto di buku yasinan.

Namun semua itu sedikit reda dengan adanya video ucapan selamat menjamu bulan puasa dari ibu. Beliau juga kembali menegaskan untuk selalu menjalankan pesan bapak. Sembari menyelipkan kalimat penyemangat. “Tenang, insyaallah innallaha ma’anaa“.

Njih, Sami-sami. Suwun.” 17 Dua jawaban teks singkatku secara berturut-turut.

Hand phone aku buat dalam mode pesawat. Tombo ati aku lakukan kembali. Sebelum akhirnya terlelap dibuai lagu kenangan dari dekat ruang kemudi.

Menjelang subuh, Suara dentuman keras disertai goncangan hebat membangunkan tidurku. Sontak aku istighfar Dan bertahlil. Tapi kepalaku terasa berat, pandanganku tiba-tiba kabur.

Gelap…

Ooo

Mas, janjine njenengan durung pungkas lho.” 18 Celetuk saudaraku kembali mengingatkan.

 Bukan hanya sekadar deretan kandang galvanum  lengkap dengan isinya saja. Tapi Ada sesuatu yang kami sama-sama tunggu. Berbekal restu dari ibu.

Belum sempat aku menjelaskan panjang lebar, lantunan adzan membuatku langsung bergegas. Meninggalkan kandang karena sudah kerap telat datang ke masjid.

Inilah janji kedua pada saudaraku. Membentuk pribadi yang dapat dipercaya. Terbebas dari dusta dan mudah menjalankan amanah. Mengikut jejak rasulullah.

Kepercayaan itu berat, susah di dapat. Tapi, dalam hidupku ia selalu mendekat. Qodarullah, semuanya bisa tepat sesuai harapan.

Mungkin itu karena didikan bapak dulu. Menjamu Ramadhan tanpa kehilangan takbiratul ikhram imam di tiap solat lima waktu. Ditambah sepuluh hari di awal bulan syawal. 19

Lewat laku empat puluh hari itu, aku ingin mengulanginya bersama dengan saudaraku. Saling mengingatkan dan menguatkan.

Soal beternak Kelinci, dia lebih jago. Itu pasti.

Tapi soal negosiasi, sifat humoris kebablasan membuatnya jadi kurang bertaji.

Ramadhan kali ini, janjiku harus terpenuhi. Tapi entah mengapa, aku sendiri gagal hari demi hari.

Shalat berjamaah yang indah dengan shaf penuh berjajar rapi. Hanya menyisakan ruang sempit untukku di barisan belakang. Aku jadi semakin malu pada saudaraku.

Bingung aku dibuatnya. Kini justru malah saudaraku laksana guru. Mengajarkan beternak kelinci dan selalu mengingatkan solat Lima waktu.

Waktu bergulir begitu cepat. Keutamaan Ramadhan begitu sulit aku dapat. Iktikaf bersama ustadz dan kerabat juga ikut minggat.

Aku tak kuasa menahan tangis. Mudikku gagal total sampai sahut menyahut takbir menggema.

“Le, siki riaya. Ibu njaluk ngapura”. 20 Sayup-sayup suara ibu terdengar.

Lelehan panas air mataku masih terasa basah. Kepalaku masih cukup berat. Aku belum kuasa membuka mata.

“Ya, Rabbi. Untuk inikah aku mesti kembali?”

Banjarnegara, 1 Ramadhan 1441H

Footnote:

1. Pemerintah resmi mengumumkan pasien positif Covid 19 dari daerah Depok. https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/kasus-covid-19-pertama-masyarakat-jangan-panik

2. Kluster Covid pertama di Indonesia beragam, mulai dari komunitas maupun kasus imported. https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/11/193000565/mengetahui-sejumlah-klaster-awal-penyebaran-virus-corona-di-indonesia?page=all

3. Meskipun dengan alasan reorganisasi, saat pandemi Covid PHK tetap berjalan. https://bisnis.tempo.co/read/1326893/phk-677-karyawan-indosat-92-persen-telah-terima-kompensasi

https://www.wartaekonomi.co.id/read279518/dampak-corona-9-perusahaan-ini-phk-ribuan-karyawan-no-8-anak-usaha-garuda-indonesia

4. Lock down  wilayah terjadi di mana-man tanpa persetujuan dari pemerintah pusat. https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/30/105141365/update-5-wilayah-di-indonesia-yang-berlakukan-karantina-terbatas-hingga?page=all

https://www.suara.com/news/2020/03/27/115134/cegah-perantau-jabotabek-mudik-jadi-dalih-pemdes-purwonegoro-lockdown-desa

5. Pasal 156 UU Ketenagakerjaan, keterangan lebih bisa dibaca di https://bplawyers.co.id/2020/04/01/dapatkah-perusahaan-melakukan-phk-karena-kerugian-akibat-pandemi-covid-19/

6. “Bu, bukannya Wawan hendak melawan. Tapi sepertinya menjamu Ramadhan di perantauan bakal susah. Masjid dilockdown semua. Boleh, kan. Wawan pulang duluan?.”

7. “Nak, masjid di kampung saja bisanya hanya until solat berjamaah, tidak Ada sholat jumat. Sepertinya Ramadhan akan sepi. Takmir sepakat mengikuti MUI.

MUI mengeluarkan fatwa memperbolehkan mengganti sholat jumat dengan sholat dhuhur berjamaah di rumah. Hal ini menurunkan fatwa lanjutan di tingkat kabupaten Dan Kota. https://mui.or.id/berita/27674/fatwa-penyelenggaraan-ibadah-dalam-situasi-terjadi-wabah-covid-19/

8. “Tapi, terserah Kamu. Yang penting jaga dirimu Dan jangan lupa pesan bapakmu”

9. Sejauh ini, fatwa tidak terbit. Namun ada sebagian pejabat negara yang menyetujuinya. https://hot.liputan6.com/read/4219289/mui-akan-haramkan-mudik-di-tengah-pandemi-corona-covid-19-ini-6-faktanya

10. Larangan resmi dilonarkan langsung oleh presiden Jokowi, https://nasional.okezone.com/read/2020/04/21/337/2202407/presiden-jokowi-resmi-larang-mudik-untuk-semua-warga

11. Sesuai perkiraan pemerintah pusat, https://bisnis.tempo.co/read/1333897/jokowi-larang-mudik-luhut-efektif-mulai-jumat-dan-ada-sanksinya/full?view=ok

12. “Nak, Kamu jadi pulang?”

13. “Iya, bu. Insyaallah, besok.”

14. “Mas. Kamu pulang siap jadi ODP, Kan? Tidak enak rasanya.”

15. “Aku minta maaf, saudaraku. Tapi insyaallah aku datang untuk kembali.”

16. “Tidak mengapa, mas. Aku juga sudah lama menjadi ODP. Tidak punya penghasilan.”

17. “Ita, sama-sama.  Terimakasih.”

18. “Mas, janjimu belum selesai.”

19. Hadis nabi mengenai sholat arba’in yang dapat membebaskan pelakunya dari sifat munafik Dan jilatan api neraka. HR. al-Bukhari no.636 dan Muslim no. 154, dan ini adalah lafazh al-Bukhari. Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/22613-inilah-shalat-arbain-yang-dianjurkan-nabi.html

20. “Nak, sekarang Hari Raya. Ibu minta maaf.”

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA