by

Ragu Badan (Body Doubt)

-Opini-1,917 views

Dalam teologi Islam, bahkan juga di agama lain, khususnya agama Nasrani, ada perbedaan pendapat yang amat meruncing – sejak abad-abad pertama Islam – yang mungkin tak akan berhenti sampai akhir zaman – tentang apakah takdir Allah atau nasib manusia itu predeterministik (sudah ditetapkan Allah sejak azali) atau merupakan hasil ikhtiar manusia. Jabariyah bilang sepenuhnya predeterministik, Mu’tazilah sebaliknya yakin (nyaris) sepenuhnya merupakan hasil ikhtiar manusia.

Nah, kaum Mu’tazili amat percaya pada adanya hukum kausalitas yang rigid dan dapat diduga. Dan, dinyatakan atau tidak, mereka juga yakin manusia bisa memahami dan mengendalikan hukum kausalitas itu. Sebaliknya Jabariyah percaya bahwa manusia ini setiap saat dan di mana pun adalah pion Tuhan yang tak punya peran apa pun dalam menentukan nasibnya.

Manakah yang benar? WalLaah a’lam. Tapi kemudian muncul kelompok-kelompok pertengahan, seperti Asy’ariyah dan Syiah. Keduanya menawarkan jalan tengah. Asy’ariyah menawarkan jalan tengah dengan memperkenalkan konsep kasb (akuisisi/perolehan kemampuan), sama dengan Syiah memperkenalkan gagasan al-amr bayn al-amrayn (posisi/pendapat tertentu di antara dua posisi – ekstrem Jabariyah dan Mu’tazilah).

Dalam pandangan kedua kelompok ini, yang benar adalah bahwa ada (semacam) hukum kausalitas, tapi Allah tetap mencadangkan peran “veto” di dalam mekanisme kausalistik itu. Meski Asy’ariyah ditengarai lebih dekat ke jabariyah. Posisi Asy’ariyah antara lain diwakili dengan canggih oleh Imam Ghazali, Asy’ariyah memperkenalkan gagasan yang belakangan disebut sebagai okasionalisme. Bahwa sebetulnya tak ada apa yang disebut hukum kausalitas (yang rigid).

Seperti nanti dikembangkan oleh David Hume, Imam Ghazali memberi contoh begini. Jika kapas terbakar oleh api, itu bukanlah kapas yang terbakar akibat api (yang melahapnya) – bukan operasi kausalitas – melainkan kapas terbakar setelah terkena api – jadi hanya berupa peristiwa yang susul-menyusul. Karena, tidak mesti bahwa kapas – atau apa saja – yang terkena api itu terbakar. Kapas terbakar setelah terkena api itu terjadi karena Allah memberikan kemampuan (kasb) kepada api untuk bisa membakar.

Dalam kasus Nabi Ibrahim, misalnya, api yang menelan Nabi Ibrahim gagal membakar beliau as karena Allah tak memberinya kemampuan membakar. Malah Allah memerintahkan api itu untuk jadi dingin dan tak mengganggu Nabi Ibrahim. (Seperti saya singgung di atas, Syiah memiliki pandangan pertengahan juga, tapi pemaparannya lebih filosofis sehingga berada di luar jangkauan tulisan pendek ini).

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA