by

Corona

Mas Dino, dengan posisi duduk seperti ini, Mas Dino pun sudah tertular coronaku — bisik Chay kalem. Kita meninggal sama-sama Mas. Ini bukti cinta kita. Kita pergi bersama. Aku tak mau pergi sendirian. Bukankah Mas Dino di WA berkali-kali mengungkapkan rasa cinta abadi kepadaku?

Tapi tidak dengan cara seperti ini Chay kita membuktikan keabadian cinta. Ada cara lain yang lebih elegan — sergahku.

Tetiba, Chay mengambil kertas dari tasnya. Ia menyuruhku membaca tulusan di kertas itu.

Aku makin kaget setelah baca tulisannya. Ternyata, Chay menulis sebuah permintaan kepada Tuhan agar kalau meninggal dinikahkan dengan aku di alam sana.

Ini surat apaan Chay — tanyaku makin penasaran. Aku memang mencintaimu. Tapi tidak seperti ini caranya agar kita menikah.

Tidak Mas. Ini sudah jadi pilihan hidupku. Chay tetap dengan keputusannya.

Suasana temaram cafe makin mistis. Tapi dadaku bergolak keras. Miris membaca surat permintaan Chay kepada Tuhan.

Kurasakan Chay makin keras memeluk pinggangku. Suhu tubuhnya makin panas. Batinku berkata, serangan corona tambah kuat pada Chay.

Aku pun segera membawa Chay ke rumah sakit terdekat. Siloam Hospital BSD. Dokter segera menempatkan Chay di kamar isolasi setelah aku ceritakan riwayat hidup Chay dan panas tubuhnya yang meningkat tajam.

Malam itu, pukul 23. 00 aku pulang ke Cikini. Aku segera masuk kamar apartemen. Lelah. Ngantuk. Tapi ternyata kegundahanku membuat tidurku tak bisa nyenyak.

Tepat pukul 01 dini hari, saat aku tertidur layap-layap, terdengar lagu Melati Dari Jaya Giri. Sesosok wanita cantik berbaju putih mendekatiku sambil menyanyi lagu Bimbo itu.

Madu Baduy (https://www.tokopedia.com/madubaduy)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA