by

Corona

Tadi aku kikuk Mas Dino. Ada Ita. Aku gak leluasa — ujarnya. Tak lama kemudian Chay tanpa malu merebahkan kepalanya di bahuku. Ia tak peduli orang-orang di cafe melihatnya.

Aku kangen Mas Dino. Tiga puluh tahun aku menunggu kesempatan ini — ungkapnya. Aku biarkan saja gelendotannya. Bau harum parfum Baccarat Maison France menyeruak hidungku. Wanginya lembut tapi menggairahkan.

Kenapa tadi waktu ada Ita, Chay kelihatan kikuk? — tanyaku.

Aku bingung mas. Aku telah mengambil keputusan yang besar — ujar Chay.

Apa itu? Aku kaget luar biasa.

Aku terkena corona virus. Tapi aku tak peduli. Karena aku ingin mati tersengat corona — kata Chay sambil mengelus tanganku. Ekspresinya datar. Tenang.

Aku udah positif Corona, Mas Dino. Pegang dadaku. Sudah mulai hangat kan? — ungkap Chay tenang sambil menuntun tanganku agar menyentuh dadanya.

Chay jangan begitu? Ujarku. Aku kaget bukan main.

Ya Mas. Aku lebih baik mati dari pada hidup tak menentu seperti sekarang. Kalau aku mati aku bisa menikah dengn Mas Dino di alam sana. Terus aku mau reinkarnasi di masa datang dengan bersuamikan Mas Dino. Kalau sekarang kan gak mungkin.

Chay, jangan mengada-ada — sergahku.

Aku serius Mas Dino — ujarnya.

Madu Baduy (https://www.tokopedia.com/madubaduy)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA