by

Corona

Kisah wabah pes dan problematikanya ditulis GM dengan sangat menarik dan filosofis. Di akhir capingnya, GM menulis: Ilmu dan agama memang mengklaim, “Akulah jawabannya.” Tapi mereka lupa apa pertanyaannya. Mereka lupa Entah.

Seperti biasa, caping Tempo gubahan sastrawan GM selalu menggelitik otakku. Sejak mahasiswa di Yogya aku selalu baca Caping Tempo. Bahasanya yang enak dan narasinya yang filosofis membuatku asyik sendiri. Kadang lupa dengan sekelilingku.

Hai Mas Dino — seseorang memanggilku. Aku terkejut. Wow! Ternyata Ita dan Chay. Aku langsung merangkul Ita.

Kau sudah gede. Cantik lagi. Padahal dulu hitam dan jelek — candaku pada Ita. Ita tertawa ngakak sambil menggandeng tanganku.

Ya yailah. Dulu kan aku masih SMP kelas satu. Tiap hari latihan basket di sekolah. Panas-panasan. Tersengat matahari. Jadinya item — ujarnya.

Ita adalah adik bungsu Chay. Ketika aku masih pacaran dengan kakaknya, Ita sering ngledek aku. Ita bilang, Mas Dino orang kampung. Tak bisa main gitar. Tak bisa main basket. Kelebihan Mas Dino hanya satu. Lumayan ganteng. Hingga kakakku Chay mau jadi pacar Mas Dino.

Kulihat Chay tak berani mendekatiku. Kelihatan canggung. Aku pun urung memeluknya. Gantinya aku memeluk Ita. Sambil kuelus rambutnya. Maklum, 30 tahun lebih aku baru sekali itu bertemu si centil Ita.

Wah Mas Dino seneng dong bertemu Kak Chay. Aku lihat mata Mas Dino berbinar-binar — ledek Ita padaku. Aku pun tertawa.

Aku dan Ita duduk bersebelahan di depan meja panjang cafe Bengawan Solo di lantai dua mall Giant, Bumi Serpong Damai (BSD). Sedangkan Chay duduk berhadapan denganku. Ia memakai kaos pink pas badan. Bayangan tubuhnya terlihat mengikuti alur kaosnya. Dengan celana hitam ketat model pensil dan sepatu cats putih, Chay terlihat masih muda dan seksi. Meski usianya sudah 54 tahun.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA