by

Sepetak Kebun Radiasi di Serpong

Berbeda dengan logam berat. Jika masuk dalam tubuh, akan mengendap. Tak akan keluar lagi. Ia akan terakumulasi dalam tubuh. Seperti kasus logam berat merkuri yang termakan ikan di Teluk Minamata, Jepang. Ikannya dimakan orang. Merkurinya mengendap di tubuh orang tersebut. Dampaknya: manusia keracunan merkuri dan menderita berbagai macam penyakit. Tremor, alzemir, kanker, dan lain- lain.

Radioisotop — seperti Cs-137 — yang tertelan manusia (melalui rantai makanan atau air yang tercemar radiasi) — juga berbahaya. Meski tubuh yang terlewati radiasi tinggi hanya sesaat, tapi reaksinya dahsyat. Banyak organ manusia yang akan rusak. Bahkan radiasi itu bisa menyebabkan mutasi pada sel-sel darah.

Menakutkan. Betul, radiasi tinggi yang tak terkendali, sangat menakutkan. Apalagi radiasi tinggi dari Plutonium — bahan bakar bom atom. Amat sangat berbahaya.

Mungkin ada orang bertanya: Apakah radiasi itu menakutkan? Saya balik bertanya, “Siapa yang bisa menghindarkan diri dari radiasi?” Dalam kehidupan sehari hari, manusia sudah terpapar radiasi alam. Seperti radiasi kosmik dari matahari.

Dalam setahun, rata rata tubuh manusia menerima paparan radiasi kosmik dari matahari sekitar 0,4 mSv. Menonton TV, misalnya, juga bisa terkena paparan radiasi 0,005 mSv/jam. Naik pesawat terbang, manusia terpapar radiasi jauh lebih besar dibandingkan dengan berada di bumi. Di kapal terbang paparan radiasinya 0,39 mSv/jam perjam.

Dari makanan, radiasinya sekitar 0,4 mSv/tahun. Dari bahan bangunan atau dinding, sekitar 0,5 mSv per tahun. Malah, PLTN hanya memaparkan 0,0002 mSv/tahun. Ini berarti hanya 1/2000 dari paparan radiasi makanan pertahunnya. Kecil sekali.

Makanya di Jepang, pada kondisi operasi reaktor nuklir yang normal, hanya sekitar 100 meter dari PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir), sudah ramai dengan penduduk dan kegiatan ekonomi. Orang Jepang yang berpikir saintifik tidak takut PLTN. Kenapa? Karena radiasi dari PLTN rendah sekali. Lebih rendah dari radiasi kulit bumi.

Madu Baduy (https://www.tokopedia.com/madubaduy)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA