by

Ketika Sampah Menjadi Sumber Penghasilan Masyarakat

KOPI, Lubuklinggau – Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (KemenPUPR) memang bertujuan untuk mendorong terciptanya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

Namun siapa sangka, dengan kehadiran Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) justru turut memberikan manfaat lain, yakni mendorong terciptanya sektor-sektor produktif yang bernilai ekonomi.

Contohnya seperti TPS3R di Kota Lubuklinggau, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)  LIBERTEG Sumber Agung mampu mendukung kegiatan usaha pertanian warga. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dijadikan pupuk organik.

Bahkan sampah anorganik dapat diolah menjadi kerajinan tangan yang cantik dengan sentuhan kreativitas seperti tas dan pot tanaman yang bernilai. Hasil kerajinan tersebut juga dapat dilihat di pameran atau secara langsung di Rumah Kreatif Nusantara.

Selain menciptakan suatu bisnis, kegiatan penglolaan sampah di TPS3R ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Ada sebagian pengelola sampah yang merupakan pemuda yang dulunya pengangguran.

“Anak muda dan masyarakat sekitar, kami libatkan dalam pengelolaan sampah ini. Tadinya mereka adalah pekerja serabutan, sekarang baru ada 6 orang tenaga kerja yang ikut serta dalam pengelolaan sampah di LSM kami, dan sudah menghasilkan 5 ton sampai 10 ton pupuk organik, yang sudah siap antar. Sedangkan sebagai bahan baku pupuk yang kita hasilkan saat ini yaitu limbah Nasi basi, Gula, jamur, dan sampak organik lainnya,” ungkap Eriyanto selaku ketua KSM.

Bahkan sejak ada program Sanimas, warga Kelurahan Sumber Agung tidak ada lagi yang terkena wabah demam berdarah. Sebab, desa menjadi lebih bersih, bebas dari genangan limbah air, dan tentunya bebas aroma yang tidak sedap.

Sampah organik hasil pemilahan akan melewati proses pengomposan berkisar 2 minggu, dengan memanfaatkan bioteknologi yang berbasis mikroba diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.

Pupuk organik yang dihasilkan merupakan hasil dari teknologi kompos bioaktif yang bisa kita lakukan dilingkungan kita sendiri, bentuk fisis pupuk organik kering dan lapukbila diremas mudah hancurtidak berbau menyengat dan tidak berwujud limbah kotoran lagi.

“Kami berusaha untuk terus menjalin kemitraan dengan pemerintah Kota Lubuklinggau. Nah beberapa yang sudah terlaksana dan sekarang kami sudah bisa pasarkan hasil pupuk organik kami ke pengusaha perkebunan dan pertanian sehingga menjadi nilai ekonomis,” ujar Eriyanto.

Selain itu, KSM LIBERTEG akan terus berinovasi dalam mengelola sampah anorganik yang dibuat menjadi paving block dari plastik.

“Kami ingin menghadirkan satu wilayah pengelolaan sampah yang tidak terkesan kumuh karena selama ini masyarakat memiliki image bahwa pengelolaan sampah pasti kumuh, bau. Kami ingin menolak itu. Harapan kami yang datang kesini tidak hanya having fun, tetapi ada satu edukasi yang dibawa pulang dan dapat diaplikasikan dalam sebuah tindakan nyata terhadap gerakan di rumah,” katanya.

Bukti sampah membawa berkah terlihat dari potret kesuksesan masyarakat dalam mengelolanya dengan baik. Siklus perputaran ekonomi pun berjalan dengan baik hanya bermodalkan sampah dan pengelolaan air limbah. Hal tersebut juga menjadi hasil nyata PUPR dan BLH Kota Lubuklinggau dalam menciptakan lingkungan yang tak hanya sehat dan bersih, tapi masyarakatnya juga maju serta sejahtera.

“Jika ada, yang mau bekerjasama atau pun memesan pupuk kepada kami bisa langsung menghubungi via telpon 0813 7347 6278 dengan saudara ERIK,” pungkas ketua KSM LIBERTEG. (Vhio)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA