by

Greta dan Corona

Ya, bagi kaum antroposentris, tak ada entitas yang bisa menundukkan manusia. Karena manusia adalah spesies paling smart di muka bumi. Tapi kini kesombongan kaum antroposentris tengah dihajar spesies kecil mungil yang tak terlihat mata.

Kehadiran CoV menyadarkan manusia bahwa total economic value (TEV) atau nilai ekonomi keseluruhan dalam sebuah bisnis dan korporsi harus meliputi survivalitas alam. Jika tidak, nilai ekonomi itu akan minus. CoV yang bangkit dari puing-puing degradasi alam adalah contohnya. Fenomena meruyaknya CoV seakan menantang manusia untuk memilih: Membangun dengan bersahabat alam. Atau membangun dengan menghancurkan alam. Jika pilihan jatuh pada yang kedua, niscaya virus-virus ganas macam CoV akan makin meruyak. Lalu mengkremus manusia.

Kini, setelah munculnya CoV, manusia tersadar: parameter ekonomi (PE) harus direformasi total. PE seharusnya tidak hanya berbasis finansial. Tapi juga survivalitas natural. Selama ini, konsep nilai ekonomi hanya berbasis manfaat sesaat. Atau manfaat yang terprediksi manusia. Padahal, banyak hal yang muncul di alam, di luar prediksi manusia.

Penebangan hutan atas nama land clearing untuk tanaman industri, misalnya. Ternyata, land clearing bukan sekadar menghancurkan pepohonan — tapi juga spesies nonkayu. Hewan renik berupa serangga, bakteri, dan lainnya ikut terlindas. Padahal, di antara hewan-hewan itu, ternyata adalah inang virus-virus tertentu yang sangat berbahaya. Jika inangnya hancur, virus-birus pun akan segera mencari inang lain. Tragisnya, migrasi inang itu bisa mengarah ke manusia. Faktanya, kini banyak orang terkena CoV. Lebih mengerikan lagi, CoV dari manusia langsung bisa menerjang manusia lain.

Secara keseluruhan, bila menilai TEV, kita harus melihat berbagai kemungkinan yang terjadi dalam melakukan transaksi ekonomi SDA. Kini TEV berkembang lebih jauh ketika masyarakat internasional mulai merasakan timbulnya bahaya lingkungan akibat eksploitasi SDA secara berlebihan.

Pada akhir 1960-an, masyarakat internasional belum merasakan dampak kerusakan hutan yang begitu masif terhadap perubahan cuaca. Kondisi itu berubah drastis sejak 1970-an, di mana dunia internasional sudah mulai merasakan munculnya berbagai anomali siklus alam akibat kerusakan hutan dan lingkungan.

Anomali ini makin terasa di era 1980-an, ketika suhu bumi makin panas dan ritual iklim berubah. Dengan melihat kondisi itulah, pendekatan TEV dalam transaksi ekonomi SDA mulai menjadi perhatian pakar-pakar ekonomi dan lingkungan.

Madu Baduy (https://www.tokopedia.com/madubaduy)
______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@pewarta-indonesia.com. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA