by

Muhammad yang Smart dan Pinter Membaca

Catatan dari Takziyah bersama Buya Syakur

KOPI, Bekasi – Takziyah di rumah duka almarhum KH Ma’mur Nur, Tegalgubug, Cirebon, Senin lalu, mendapat ganjaran yg luar biasa. Salah satunya bertemu dengan Buya Syakur, seorang ulama yang lagi moncer di Pantura.

Buya Syakur adalah seorang ulama paket komplit. Masa mudanya mesantren di Ponpes Babakan Ciwaringin Cirebon, lalu ke Krapyak, Yogya, terus mondok di Lirboyo (Kediri); lanjut ke Mekah, Mesir, Libya, dan Tunisia. Ia mendalami fikih, tarikh (sejarah Nabi), filologi, linguistik, dan tasawuf. Itulah sebabnya Buya Syakur piawai menulusuri bahasa Arab kuno dan perubahan maknanya di masa kini.

Buya Syakur berpndapat bahwa banyak sekali sejarah Nabi yang diselewengkan. Orang Arab itu dari dulu memang terkenal bikin cerita fiksi dan mengada ada. Itulah sebabnya Quran menyindir orang Arab itu asyaddu kufron wa nifaak (sangat mbalelo dan munafik).

Salah satunya adalah penyebaran kebohongan bahwa nabi itu seorang ummi. Buta huruf. Tak bisa baca tulis. Lucunya cerita Nabi yang ummi itu dibenarkan hadist shahih lagi. Ya, ya, hadist memang banyak hasil ciptaan orang Arab yang suka ngarang tadi.

Buya memberi contoh, definisi sahbat yang kemudian dapat lisensi membuat hadist. Apa itu sahabat Rasul? Orang yang pernah berjihad bersama Rasul, pernah mengikuti Rasul, pernah bergaul dengan Rasul, dan pernah melihat Rasul. Jadi, seseorang yang hanya kenal Rasul sehari, kategorinya sudah sahabat. Dampaknya dahsyat, karena sahabat Rasul — menurut sebuah hadist — selamat dari api neraka.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA