by

Denny JA: Tetaplah Menyebar Positivity ke Sekitarmu

Kembali ke tahun 2008. Saat itu Denny sudah mulai dikenal sebagai konsultan politik nomor 1 di Indonesia. Tradisi diskusi yang sudah terbentuk di masa 80-an rupanya tak bisa menghilang begitu saja. Ia pun kembali menyelenggarakan beberapa forum diskusi yang disokong penuh olehnya. Ciputat School adalah salah satu forum diskusi sebulan sekali yang disokongnya. Ada banyak topik yang kita bicarakan, juga ada banyak hal yang telah dilakukan bersama hingga sekarang.

Yang paling saya syukuri adalah ada diskusi soal fenomena media sosial yang mulai marak di tahun-tahun sebelum 2010. Jadi saat itu saya tetap bisa mengikuti perkembangan dunia IT dan bagaimana memanfaatkannya bersama Denny dan teman-teman lainnya. Kira-kira di tahun 2008 Denny mulai memanfaatkan media sosial seperti BBM, Facebook, Twitter, Blog dan lain-lain untuk komunikasi dalam pekerjaan. Saya ingat, salah seorang teman, Jonminofri Nazir mendorong agar Denny memanfaatkan Twitter untuk menebarkan berbagai opininya. Saya pun ikut memperdalam skill saya dalam digital marketing saat bersama Denny di berbagai forum itu.

Ada banyak kerja bareng yang membuat nama Denny semakin besar. Kerja itu dibuat dengan mengajak antara lain teman-teman lama. Puisi esai pun dibuat melalui diskusi-diskusi dengan banyak teman. Tentu saja ide dasar atau awalnya dari Denny, namun kemudian teman-teman mewarnainya dengan berbagai hal sehingga lahir lah satu buku yang berisi 5 puisi esai Denny JA yang kemudian menjadi fenomenal. Lalu banyak di antara teman-teman yang terdorong untuk menulis puisi esai untuk mengikuti jejak Denny. Saya termasuk salah satu yang ikut terdorong untuk menulis puisi esai dengan judul “Sanih Kamu Tidak Perawan”. Buku puisi ini diberi kata pengantar oleh seorang aktivis perempuan senior Nursyahbani Katjasungkana. Buku saya ini berbicara tentang nasib perempuan Indonesia yang derajatnya direndahkan oleh tradisi yang sudah berurat berakar. Sayang buku ini menimbulkan kontroversi sehingga menimbulkan rasa kurang nyaman pada saya.

Salah satu diskusi yang hingga sekarang paling saya syukuri adalah diskusi neuroscience yang dibawakan oleh Dr. Ryu Hasan, seorang ahli otak yang kebetulan juga teman dari NU. Diskusi ini mendorong saya untuk mulai mendalami neuroscience sejak tahun 2013. Dalam presentasinya Ryu menyebut antara lain, psikopat dan LGBT memiliki otak yang berbeda sejak masih dalam rahim. Jadi orientasi sex itu menurut neuroscience adalah “anugrah” alam. Psikopat juga bisa dideteksi sejak masih dalam rahim, sehingga bisa dilakukan persiapan yang seperlunya. Setelah saya mulai mempelajari neuroscience, saya menemukan bahwa fungsi otak saya bisa dimaksimalkan melalui cara yang relatif mudah. Bahkan neuroscience juga menunjukkan bahwa kebajikan bisa didorong dengan menggunakan cara neuroscience.

Madu Baduy (https://www.tokopedia.com/madubaduy)
______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@pewarta-indonesia.com. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA