by

70 Tahun UGM, Aku Rindu

KOPI, Bekasi – Selain kebanggaan almamater, bagiku UGM adalah rindu.

Rindu makan di pojok Terban yang bayarnya hanya catatan di buku tulis yang lusuh. Semoga Mbah Karyo diberi kekayaan oleh Gusti Allah lantaran membantu mahasiswa kere sepertiku.

Rindu dosen agama Noor Matdawam DBSR yang memberi nilai E gara-gara Rasyid tak melaporkan bahwa aku sudah membayar diktatnya! Padahal, pelajaran agama Islam itulah keunggulanku. La, wong ngaji quran dan kitab kuning sejak kecil kok, dikasih nilai E. Blas gak syar’i banget. Semoga Allah memaafkan Pak Noor.

Rindu berjalan kaki dari Kota Baru ke kampus MIPA yang mistis di ujung Jalan Simanjuntak. Kampus MIPA kini pindah ke Sekip. Tak mistis lagi.

Rindu dosen-dosen killer Kalkulus dan Fisika Dasar. Semoga Pak Wardiman dan Pak Dimsiki Hadi hidup bahagia setelah melihat mantan mahasiswanya kini tersenyum. Lucu!

Rindu dosen cantik matematika yang berjalan tegap dan anggun. Semoga Bu Retno Wikan mendapat sorga yang indah di alam keabadian.

Madu Baduy

Rindu laboratorium kimia yang wangi ketika mahasiswi FKG praktikum. Bau reagen kimia terkalahkan wanginya parfum mahasiswi FKG! Aku suka kalau jadi asisten lab mahasiswi FKG. Ruangan lab jadi harum. Banyak parfum hidup!

Rindu mahasiswi Kimia 198”X” yang cantik dari Jawa Timur (aku gak mau sebut tahun dan kotanya, nanti ada yang tahu). He..he.. 30 tahun kemudian, rindu itu terbayar klimaks di Jakarta. Indah sekali. Kau telah menginspirasiku untuk membuat cerpen-cerpen romantis and mistis.

Rindu puisi-puisinya Ikhsan Haryono, mahasiswa jenius matematika yang tergila-gila WS Rendra. Ikhsan kini jadi spiritualis pengagum Muhammad dan Sidharta Gautama di Purworejo.

Rindu Ahmad Syahirul Alim, dosen kimia MIPA, yang ceramah-ceramahnya tentang sains dan quran memukau. Penulis buku-buku tusawuf yang genial, Agus Mustofa dari Surabaya mengaku memahami Islam secara kaffah setelah rajin mengikuti ceramah Pak Alim. Pun aku.

Rindu Pak Damardjati Supadjar, guru besar filsafat, yang selalu menerima kedatanganku tanpa keluh di tengah malam, dan melayani ngobrol denganku sampai dini hari. Pak Damar bercerita pancaran sperma orang-orang sufi itu seperti hembusan angin. Ssssttt. Tidak cair…. Dan wanita pasti kelojotan. Saking nikmatnya!

Rindu Pak Chairil Anwar, dosen kimia FMIPA yang tak pernah tua. Jamu Madura mana yang diminum sehingga awet muda sampai kini. Semoga panjang umur!

Madu Baduy

Rindu Jalan Cik Ditiro 19A, rumah KH AR Fachrudin, di mana aku pernah tinggal selama dua tahun. Rumah kuno peninggalan Belanda milik persyarikatan itu, kini berubah menjadi kantor PP Muhammadiyah. Kenanganku akan rumah itu, hilang. Sayang sekali. Padahal di rumah itulah aku pertama kali mengetahui bahwa Muhammadiyah itu baik. Baik sekali. Sebelumnya, waktu masih di Cirebon, yang aku tahu Muhammadiyah itu sesat. Dan bukan Islam.

Rindu tulisan-tulisanku yang selalu dimuat di koran Kedaulatan Rakyat hampir tiap minggu. Aku hidup di Yogya dari honor menulis di KR dan amplop tahlilan di rumah orang-orang kaya yang meninggal di Yogya. NU banget!

Rindu teman-teman asrama Yasma Putra, terutama Farid Mustofa, yang kini “nyufi” – padahal masa mudanya slengekan dan gak karu-karuan. Aku suka Farid, kini dosen filsafat UGM, karena slengekannya yang filosofis.

Rindu Lilik Sulistiyono, mahasiswa kimia MIPA, kini pemilik hotel di Depok Yogya, yang waktu mahasiswa sangat kocak. Ia pernah membelikan jamu hamil muda untuk temannya yang sakit perut. Kebayang gimana rasanya lelaki minum jamu hamil muda!

Bawang Tunggal Madu

Rindu kepada gadis-gadis yang menolak cintaku dan kutolak cintanya. Banyak sekali karena aku suka ceramah dan khotbah. Kini aku muslim liberal yang, kata teman-teman Syuhada, menyimpang dari khittah! Mereka tak tahu kalau aku adalah “murid” Jalaludin Rumi.

Ah masih banyak sekali rinduku pada UGM yang kini berusia 70 tahun. Banyak kenangan manis di sana. Semoga UGM tetap menjadi kampus yang ngangeni alumninya! Ramah, njawani, dan rukun kabeh.

(Sayang, selama kuliah aku tak kenal Jokowi dan Anies. Kalau saja kenal, Jokowi tek elus-elus. Aku akan bilang, “Ngger, kowe ojo kalah ama mafia migas dan koruptor. Labrak terus. Sedangkan Anies akan kubisiki… banjir di Jakarta itu tak bisa diatasi dengan membuat lubang di tanah. Jangan bawa-bawa Nabi Nuh dalam soal banjir kalau kau tak bisa mengatasinya. Banjir zaman Nuh itu global. Sedunyo kelem kabeh. Kalau banjir Jakarta, lokal. Tinggal memperdalam selokan dan sungai, mengeruk lendut di rawa, dan membuat danau buatan di Monas dan Kebon Sirih, di kantormu. Kantormu pindah ke Marunda yang masih kosong. Beres!)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA