by

Pelayanan RS Graha Kedoya Jakarta Barat Sangat Mengecewakan

Loading…

KOPI, Jakarta – Rumah Sakit (RS) Graha Kedoya Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat adalah RS yang boleh dibilang besar dan bagus, tetapi tidak sepadan dengan pelayanannya. Pasalnya, RS ini telah membuat salah satu pasiennya, Ganjar Sukoco Sukatan alias Ganjar Bukan Pranowo (GBP) sangat kecewa.

Pada Konferensi Pers bertempat di Ayam Tulang Lunak Karawaci Grenville, Kebon Jeruk, Kamis, 31 Oktober 2019, GBP menjelaskan kronologisnya kepada para awak media yang hadir terkait perlakuan RS Graha Kedoya terhadap dirinya yang sedang sakit.

Berawal dari kondisi dirinya yang merasakan limbung mau pingsan, susah untuk konsentrasi, lalu GBP mendatangi RS Graha Kedoya. GBP menjalani diagnosis, dan pihak RS menyatakan yang bersangkutan mengalami penurunan kadar natrium dalam tubuhnya. Lalu, GBP mulai menjalani rawat inap di RS tersebut dari 26 s/d 29 Oktober 2019.

GBP menjelaskan bahwa selama dirinya rawat inap di RS tersebut, sangat banyak menerima perlakuan yang tidak manusiawi, tidak profesional bahkan sangat mengecewakan sekali.

“Suster sangat tidak profesional, karena dari pagi sampai sore masalah bel kamar yang rusak tidak dapat diselesaikan. Mau panggil suster susah karena bel kamar rusak, sedangkan saya saat itu diinfus dengan mesin. Ketika sore hari teknisi datang dan ditanyakan kenapa dari pagi sampai sore tidak ada teknisi yang datang untuk memperbaiki? Lalu dijawab karena tidak ada laporan atau telepon yang masuk (ke bagian teknisi). Ketika saya meminta Kepala Teknisi untuk dipanggil, suster itu menolak. Lalu saya bilang akan menemui management, dan dijawab oleh suster itu management yang mana yang bapak mau temui? Dan saya katakan siapa saja, tetapi suster itu pergi begitu saja meninggalkan saya,” urai Ganjar dengan mimik yang serius dan sedih.

Dengan kesal dan sangat kecewa, akhirnya GBP mencoba membuka paksa mesin infus, tetapi tidak bisa. Akhirnya jarum infus yang ada di tanggannya dibuka dengan paksa hingga berdarah-darah dan bengkak.

“Selanjutnya saya ke bawah ke UGD, dan di sana ada dr. Ryan, dr. Suwandi, Suster Retno dan yang lainnya. Mereka mengkompres tangan saya yang berdarah-darah kemudian saya ditemui oleh Duty Managernya yaitu Adi Wiyogo. Seharusnya saya hari ini di-endoskopy dan Colonskopy. Tetapi karena kondisi saya seperti yang sudah saya jelaskan di atas, saya tidak percaya dengan Management RS Graha Kedoya Kebon Jeruk karena perlakuan yang tidak layak dalam melayani orang yang sedang sakit serta hal-hal seperti ini membuat orang tambah sakit dan membuat tekanan darah naik,” imbuh GBP.

Ketika keluar dari RS tersebut pun, obat-obat-obatan yang harus diminumnya untuk di rumah tidak disertakan. “Hasil laboratorium disertakan, tetapi hasil radiologi-nya tidak. Bahkan hasil pemeriksaan radiologi, Ultrasonografi (USG), X-Ray milik orang lain yang dikasih saya,” ujar GBP heran.

Menurutnya lagi, Management dari RS Graha Kedoya Kebon Jeruk ini sangat tidak profesional. “Saya sampaikan hal itu kepada Pak Deden dan suster Sherly yang datang ke rumah saya untuk mengantar obat-obatan dan hasil radiologinya pada 30 Oktober 2019 sekitar pukul 7 malam, kedatangan mereka berdua diutus oleh dr Hiskia Satrio Cahyadi,” kata Ganjar.

Dengan kejadian itu, GBP berharap agar hal serupa tidak terjadi lagi kepada pasien lain. Ia sangat berharap agar Management RS Graha Kedoya dapat bekerja profesional sesuai Standar Operational Prosedur (SOP), dibarengi dengan kontrol atau pengawasan manajemen kerja yang baik. (JNY/Red)

Comment

BACA JUGA...