by

The Gospel of Wealth dan Sorga

Loading…

KOPI, Bekasi – Andrew Carnegie (1835-1919) adalah salah seorang terkaya pada zamannya. Seperti Bill Gates dan Warren Buffet saat ini.

Apa yang menarik dari Carnegie? Ia sangat dermawan dan memberikan perspektif baru pada kedemawanan saat itu. Pada bulan Juni 1889, Carnegie menulis artikel berjudul Gospel of Wealth di majalah North American Review.

Menurut Carnegie, kekayaan yang diperoleh siapa pun – pertama-tama — harus digunakan sebanyak-banyaknya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Kekayaan yang diwariskan hanya kepada anak cucunya adalah tindakan yang salah besar. Sebuah dosa tak terampuni.

Menjadi kaya, tulis Carnegie dalam Gospel of Wealth, adalah hak semua orang. Dan itu baik. Tapi jika anda meninggal hanya sebagai orang kaya, anda sangat hina. Jika anda ingin terhormat, meninggallah dalam kondisi harta anda sudah disalurkan untuk membantu orang banyak, yaitu orang-orang-orang yang membutuhkan.

Kedua, derma atau sedekah harus diberikan dengan cara efektif dan strategis. Penerima derma nantinya harus bisa menolong dirinya sendiri. Jangan memberikan derma yang membuat penerima akan bergantung seumur hidup. Dalam narasi sekarang: berilah mereka pancing, bukan hanya ikan. Bantu mereka pandai memancing sehingga nanti bisa mencari ikan sendiri.

Ketiga, menurut Carnegie, derma terbaik untuk membantu masyarakat adalah membantu pendidikan. Dengan pendidikan harkat individu dan masyarakat akan terangkat. Pendidikan tidak haya menjadi pancing ikan, tapi juga kesetaraan dan kehormatan manusia.

Itulah intisasi dari Gospel of Wealth. Carnegie sendiri menghibahkan 90% kekayaannya untuk infak sosial. Keluarga yang ditinggakan tak boleh menerima lebih dari 10%.

“Adalah sebuah keburukan,” tulis Carnegie dalam Gospel of Wealth, “Jika kita melimpahi anak-anak dengan begitu banyak kekayaan yang bukan hasil keringatnya sendiri.

Atas revolusi berpikiranya yang dituangkan dalam Gospel of Wealth, Andrew Carnegie mendapat gelar The Father of Modern Charity. Buku suci kekayaan karya Andrew Carnegie ini kemudian menjadi panduan badan-badan amal di seluruh dunia.

Terinspirasi Kitab Suci Kekayaan itu, Bill Gates bersama Warren Buffet mendirikan The Giving Pledge (TGP) tahun 2000. TGP membujuk orang-orang kaya di dunia untuk mendermakan hartanya minimal 50%. Pada tahun 2012, misalnya, sudah 139 orang superkaya bergabung dalam TGP dengan aset total mereka mencapai 339 Milyar USD. Atau 40.000 Triliun rupiah. Mereka yang tergabung dalam TGP, antara lain, Mark Zuckerberg (pendiri facebook, AS), Bloomberg (bisnis finansial, saham, AS), Elon Musk (penemu, industrialis AS), David Rockefeller (bankir AS, meninggal 20 Maret 2017, cucu raja minyak Rockefeller, AS ), Ted Turner (raja media), dan Dato Sri Tahir (satu-satunya orang Indonesia, pendiri perusahaan Mayapada Group).

Gates seperti halnya Carnegie hanya mewariskan kepada ketiga anaknya, masing-masing 10 juta USD, kurang dari 0,5% dari kekayaanya. Sisanya untuk badan amal. Kenapa demikian kecil ia wariskan untuk anak-anaknya? Kata Gates: aku kaya bukan dari warisan orang tua. Pengaruhnya akan buruk bila anak-anak mendapat harta warisan yang bukan hasil kerja kerasnya. Gates menggunakan hartanya untuk membantu kesehatan, pertumbuhan masyarakat, dan mempengaruhi kebijakan publik agar prorakyat miskin di dunia (lihat buku “Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah” atau BIMDI, Denny JA, 2017).

Kenapa Gates, Buffet, Zuckerberg, Rockefeller, Turner, Tahir mau melakukan semua itu? Because, Giving Makes You Happy. Berderma memberikan kebahagiaan dan makna hidup yang sangat besar kepada manusia yang melakukannya. Apa pun agamanya, bahkan bagi orang atheis sekalipun. Rupanya dalam tubuh manusia ada semacam gen yang mensupport kebahagaiaan – dengan bahasa ilmiah, menambah hormon endorfin — bila orang berderma dan membahagiakan orang lain.

Sebuah riset di AS dilakukan kepada dua kelompok mahasiswa. Masing-masing kelompok diberi uang 50 USD. Kelompok pertama, diminta membelanjakan uang 50 USD-nya untuk dirinya sendiri. Kelompok kedua, diminta untuk memberikan uang 50 USD-nya kepada orang lain, baik dalam bentuk tunai maupun hadiah barang. Hasilnya, melalui uji statistik, kelompok kedua membuat respondennya lebih bahagia. Hormon endorfinnya bertambah. Riset serupa dilakuan di berbagai universitas di AS. Hasilnya secara empiris sama. Berderma itu membahagiakan.

Riset tentang korelasi kebahagiaan dan pemberian (sedekah, infak) seperti dipaparkan di atas secara ilmiah empiris bisa dibuktikan. Artinya, siapa pun – tak pandang agamanya, bahkan orang atheis sekali pun – jika berderma akan bahagia. Karena itu, saat ini “berderma” sudah menjadi insutrumen terapi psikis bagi orang yang stres, depresi, dan tidak bahagia hidupnya. Ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi kebenaran terapi tersebut.

Orang beriman percaya bahwa Tuhan sangat menyukai para dermawan dan berjanji akan menambah harta para dermawan itu di dunia. Sorga adalah imbalannya di kehidupan setelah mati (akhirat).

Nabi Muhammad menyatakan, orang tidak akan miskin bila berinfak. Sebaliknya, dengan berinfak Allah akan makin menambah kekayaannya. Apalagi jika infak itu berupa harta yang kita cintai. Allah berfirman: Bukanlah sebuah kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai (Ali Imran 92). Al-Quran memperumpamakan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah (ikhlas) seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; dan pada setiap tangkai ada seratus biji (Al-Baqarah 261). Ini artinya, di dunia saja, para demawan akan makin kaya. Apalagi di akhirat.

Lantas, apakah kita harus memberikan infak yang besar seperti Carnegie, Gates, dan Buffet untuk menjadi bahagia? Kalau bisa bagus. Tapi kalau tidak bisa, berdermalah semampunya, asal tulus. Bahkan memberikan nasihat, senyuman, keramahan, dan menyingkirkan paku di jalan untuk menghindari kecelakaan adalah sebuah bentuk derma kebaikan. Maka dari itu, bila kita ingin bahagia, bahagiakanlah orang lain. Kebahagiaan itu niscaya akan kembali kepada kita.

“Jika anda berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri,” tegas Allah dalam Al-Quran Surat Bani Israil 7.

Ada satu hal penting lagi. Dermawan tak mungkin berfikir sempit. Dermawan tak melihat manusia dari identitas agama atau kelompoknya. Karena bagi seorang dermawan — pinjam istilah sufi Jalaludin Rumi — selalu melihat Tuhan dalam wajah manusia. Karenya, ia akan selalu menyintai manusia. Slogan para dermawan bukan fillah – tapi finnas. Bukan Islam United. Chritian United. Tapi Human United. Tauhid adalah Kesaan Manusia!

Konon, sufi Ibrahim bin Adam, di tengah malam ketika sedang berzikir, kedatanga tamu: malaikat pencatat para kekasih Allah.

“Wahai Malaikat, adakah nama saya tercatat sebagai orang yang dicintai Allah?,” tanya Ibrahim bin Adam.

“Tidak ada, Tuan!”

Ibrahim kaget. Padahal ia ahli ibadah.
“Baik, malaikat. Catatlah di kitabmu, saya pecinta manusia.”
Tujuh hari kemudian malaikat yang sama datang. Ibrahim bertanya lagi. “Adakah nama saya tercatat sebagai kekasih Allah?”

“Ada. Di urutan pertama.”

Seketika itu juga Ibrahim bin Adam sadar. Tuhan sangat menyayangi manusia.

“Pantas, ada ayat yang menyatakan, siapa orang yang membunuh manusia tanpa alasan yang benar, dosanya sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Dan sebaliknya,” batinnya. Sejak saat itu, Ibrahim pun menjadi “pelayan” manusia.

Saat ini, di kalangan tertentu muncul dan bertebaran kredo fillah. Kredo fillah inilah yang membuat Ibnu Muljam, seorang penghapal Quran (hafiz), menusuk Ali hingga tewas. Kredo fillah adalah cikal bakal kredo kelompok hakimiyah. Kelompk Hawarij. Kredonya, la hukma illallah. Di masa sakaratul mautnya, Ali berkata: Hati-hatilah dengan orang yang mengusung slogan fillah, la hukma illallah. Mereka setan yang berbaju islam yang hendak menghancurkan Islam.

Kesesatan-kesesatan kredo macam inilah yang kini berkembang di tanah air. Kita pernah mendengar, alih-alih derma yang dikumpulkan dari umat Islam Indonesia diberikan kepada orang yang sangat membutuhkan, yang terjadi sebaliknya — diberikan kepada Kelompok ISIS di Suriah. Sebagian penceramah islam bukannya menyejukkan hati umat, malah membuat umat bergejolak. Menyebar kebencian. Nauzubillah min dzalik.

Dari gambaran di atas, ayo kita hijrah untuk berderma. Berinfak harta benda untuk manusia yang sangat membutuhkannya. Tanpa melihat identitas, suku, dan agama. Bila setetes air untuk anjing yang kehausan dapat menghapus dosa pelacur sebesar gunung Uhud di hadapan Allah, apalagi sesuap nasi bagi orang kelaparan.

Tapi harap catat: sebuah harapan ahli ibadah yang mempertanyakan, di mana sorganya kepada Allah, dapat melenyapkan seluruh amal ibadahnya. Ingat: sorga itu hak prerogatif Allah. Hanya keikhlasan amal ibadahmu yang tanpa pamrih apapun, yang membuat Sang Khalik ridha terhadapmu. Dan memberinya surga. Tanpa keikhlasan dan cinta – mustahil kau mendapat ridha Allah. Jika tak ada ridha Allah, mustahil kau temukan sorga di sana. Hidup ini hakkatnya hanya mencari ridha Allah. Titik.

Comment

BACA JUGA...