by

Catatan Syaefudin Simon: Aku, RS, dan Dokter Andy

Loading…

KOPI, Bekasi – Hari ini aku masuk kantor. Di Senayan. Dua puluh hari aku di rumah. Rest total. Sakit karena kecapaian di luar ambang batas, sejak awal Oktober.

Ceritanya begini. Akhir September lalu ada demo besar-besaran di depan Gedung DPR. Stasiun KRL Palmerah belakang Gedung DPR diduduki demonstran. Di depan gedung penuh orang. Aku naik ojek dari Palmerah ke Slipi Jaya, 3 jam, untuk pulang ke Bekasi, dengan angkutan lain. Sampai rumah dini hari, 01.30. Tidur sebentar, pagi ke Senayan lagi. Maunya berkenalan dengan anggota DPR baru PPP. Apa yang terjadi? Semua lift penuh. Aku menunggu berjam-jam. Gak dapat dapat lift kosong. Penuh terus, berisi “rombongan keluarga” anggota DPR. Ada yang bawa istri dan keluarga, bahkan tiga istri dan keluarganya. Terbayangkan berjubelnya lift?

Aku putuskan naik tangga, jalan kaki ke lantai 15. Sampai lantai 8 sebetulnya, keringat sudah bercucuran, nyaris habis. Tapi tetap aku teruskan ke lantai 15. Sampai ruangan, nyaris pingsan. Aku rebahkan tubuh di kursi, kaki kujulurkan di kursi yang lain. Seperti tiduran. Aku pulang jam 20 dari kantor. sampai rumah pukul 24.

Entah bagaimana, pagi jam tujuh pagi, usai jalan kaki 15 menit (olah raga pagi), tiba-tiba badanku menggigil. Tubuh bergetar hebat. Pegang gelas pun jatuh. Aku kaget. Kenapa? Aku pun tak sadarkan diri. Langsung dibawa istriku ke RS Swasta AB di Bekasi Timur. Jaminannya, Kartu Sehat dari Pemkot Bekasi.

Di IGD aku diinfus. Juga dikasih oksigen. Pas lohor aku sadar. Rasanya, badan sudah enak. Tubuhku seperti pulih kembali. Andaikan aku pulang, mungkin sudah bisa. Tapi, RS tak membolehkannya. Orang dengan suhu 39 derajat Selsius, seperti bapak tadi waktu masuk IGD, pasti ada apa-apanya, kata dokter.

Aku pun dirontgent.

“Bapak sakit paru-paru?”

“Tidak.”

“Bapak sesak nafas?”

“Tidak.”

“Bapak pasti sakit paru-paru. Lihat hasil rontgennya, ada flek.”

“Oh ya, dulu tahun 1975, aku memang kena TBC, dok. Aku berobat sampai tuntas. Sampai dokter paru menyatakan aku sembuh total dan tak perlu minum pil lagi. Soalnya aku takut mati. Sebab waktu itu, banyak sekali orang kena TB di kampungku. Delapan temanku yang sakit TB, semuanya wafat karena berobatnya tak disiplin.”

“Baik, kalau gitu tolong tampung dahak bapak. Akan aku periksa,” kata dokter.

“Ada baksil TB di dahakku, dok?”
“Tidak ada.”

“Kenapa dokter tetap menduga aku kena infeksi TB?”

“Karena suhu tinggimu waktu datang ke IGD mengindikasikan kamu kena infeksi serius. Aku tetap menduga kena TBC.”

Aku pun diam. Perawat membawa pil antibiotik 500 mg yang harus aku minum tiga kali sehari. Ini pil dosis tinggi yang biasanya untuk mengobati orang terkena infeksi parah. Tapi ya sudahlah. Aku minum. Aku pun dikasih pil dan sirup untuk mengurangi sesak nafas. Padahal aku ya tidak sesak nafas. Tapi, mau apa lagi? Dokter adalah raja di RS.

Sore, doter berikutnya datang.

“Bapak lambungnya sakit?”

“Tidak dok. Ini cuma masuk angin.”

Perawat pun membawa pil untuk sakit lambung. Padahal, aku hapal karakter tubuhku. Kalau lambung diketuk bersuara “pung…pung…pung” biasanya masuk angin. Minum jamu tolak angin, langsung sembuh. Tapi dokter memberinya pil lagi.

“Bapak ada DM?”
“Ya dok. Tapi darah saya normal kok”
Perawat pun ambil darah. Tak lama kemudian, ia berkata. Gula darah bapak normal. Tapi menu bapak di RS pakai aturan orang DM.

Hari berikutnya, perawat minta air seniku diperiksa. Siangnya, dokter menyatakan, fungsi liverku menurun. Akupun harus minum pil lagi untuk meningkatkan fungsi liver.

Itung punya itung, aku harus minum 11 macam pil plus sirup pereda sesak nafas. Lalu, apa yang terjadi pada tubuhku? Badanku makin sakit. Di mana-mana nyeri. Dada sesak. Lambung sakit. Nafas sakit. Padahal, usai infus pertama badanku sudah enak. Rasanya normal. Kok malah sakit menjadi-jadi setelah minum seabreg pil. Why?

“Dok aku mau pulang saja. Dirawat di rumah. Besok, aku ada wawancara untuk kerja. Jadi minta izin besok pulang saja.”

Alasanku diterima. Padahal, kata dokter, seharusnya aku dirawat paling sedikit lima hari. Aku pun pulang. Dokter wanti-wanti, semua obat harus diminum habis. Obat habis, harus segera ke RS lagi untuk diperiksa.

Sampai rumah, ternyata sakitku makin parah. Badan capek semua. Makin minum obat, makin parah sakitnya. Pikiranku lalu melayang ke mana-mana, ingat orang-orang yang mati setelah berobat ke dokter.

Pertama, ingat ayahku sendiri. Pulang berobat dengan seabreg pil, wajah ayahku langsung pucat pasi. Beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir. Adik-adikku menuduh, ini gara-gara salah obat. Tapi gimana menggugatnya? Ya sudah. Hanya pasrah. Itulah takdir kematian ayahku.

Kedua, aku ingat putri Pak Edy Utoro, temanku, arsitek Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah. Hanya gara-gara operasi usus buntu di sebuah RS elit Jakarta Selatan, putrinya yang baru menikah sebulan, meninggal. Mosok sih hanya operasi usus buntu meninggal? Itulah pertanyaanku yang tak pernah mndapat jawaban sampai kini.

Kemudian, aku ingat temanku, almarhum Prof. Bambang Pranowo. Aku ingat betul, waktu masuk RS, Pak Bambang wajahnya masih segar. Coklat. RS menyatakan, Pak Bambang sakit dan harus operasi. Dua kali kontrol di RS, wajah Pak Bambang pucat pasi. Waktu aku menengok di rumahnya, aku membatin, wajah Pak Bambang sudah seperti mayat. Dugaanku benar. Tak sampai sebulan, Prof Bambang meninggal.

Akankah nasibku seperti ayahku, putri Pak Edy, dan Pak Bambang? No. Aku baru 60 tahun lbh sedikit. PM Mahathir usia 92 tahun masih sehat kok. Aku masih punya Bella, anak SD kelas dua. Usiaku mesti panjang karena masih memelihara titipan Tuhan.

Tiba-tiba, aku ingat teman akrabku. Dokter ahli penyakit dalam (internis). Namanya Andy. Ia, tak hanya lulusan penyakit dalam di Indonesia (UI), tapi juga Amerika dan Rusia. Andy pernah bilang, jangan percaya obat-obatan kimia dari dokter. Semuanya racun. Dalam berbagai pertemuan profesi, Andy berkata, bahwa obat kimia tak boleh dimakan orang sakit. Tubuh sudah punya mekanisme alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Jika pun harus pakai obat, carilah obat alami yang berfungsi menstimulasi penyembuhan alami tubuh itu sendiri.

“Halo Khidir?” ujarku “bercanda” kepada Andy di Malang, dokter unik yang mengaku berteman akrab dengan Nabi Khidir itu.

“Ada apa Rasul,” candanya. Andy menganggap aku salah seorang reinkarnasi 12 rasul pengikut setia Yesus.

Ha..ha..ha… kami ketawa

“Begini bro. Aku baru saja keluar dari RS. Tapi badanku makin lemah dan nyeri kalau minum obat dari RS.”

“Berapa macam pil yang harus kau minum dari RS?”

“Sekitar 11 pil dan satu sirup.”

“Kalau kau ingin sembuh dan tak mengalami nasib seperti Prof. Bambang, buang semua obat darti dokter di RS itu. Semuanya racun yang akan menyebabkan kau makin sakit. Orang berusia kepala enam, tak boleh minum obat chemical”

“Lalu, aku harus minum apa?”

“Banyak istirahat. Minum banyak air putih. Banyak makan buah dan sayuran. Tiga hari sekali minum jamu pahit-pahitan seperti bretawali atau sambiloto. Juga rajin minum kunyit, jahe, dan kencur. Cukup dua hari sekali.”

“Percaya aku Simon. Kau segera sembuh. Pegel-pegelmu akan segera hilang. Itu pengaruh racun obat dari RS. Kau akan berumur panjang. Jika pun meninggal karena proses alami. Oh ya jangan lupa tetap menulis atau bikin status di FB, meski sakit. Ingat, writing is healing. Menulis adalah obat mujarab untuk penyembuhan sakitmu.”

“Thanks bro. Tapi kenapa kata dokter fungsi liverku menurun?”

“La iya… wong tubuhmu lemah, ya fungsi liver pasti melemah. Itu alami. Nanti kalau sehat, fungsi livermu normal kembali. Sekarang istirahat saja. Banyak minum air. Makan buah. Sayur. Minum sambiloto, kunyit, jahe…itu saja. kau akan segera sembuh.”

Aku ikuti saran dokter Andy. Benar, makin lama, pegel dan nyeri tubuhku makin berkurang. Aku tak minum pil-pil chemical lagi. Aku banyak minum air putih. Jus tomat, wortel, strawberi. Tigahari sekali minum sambiloto. Dan alkhamdulillah hari ini, saya sudah bisa ke Senayan lagi.

Di zaman BPJS/KS, RS kadang mengada-ada, kata Andy. Orang tidak sakit pun, kalau datang ke RS akan “dibuat” sakit. Itulah “cara mempertahankan” bisnis RS.

Aku jadi teringat temanku yang bekerja di BPJS. Sebut saja namanya, XY. Aku pernah mampir dan ngobrol lama dengan XY di sebuah resto dekat kantor BPJS. Ia berbicara bagaimana korupsi itu sudah “menyistem” di dunia medis dan kesehatan.

“Anda pernah mendengar ada obat yang tak boleh dipakai di BPJS karena berbahaya menurut BPOM?” kata XY.

“Ya, pernah mendengar.”

“Sekarang obat itu dipakai lagi. Biasalah lobi-lobi tingkat tinggi,” ujarnya.

Kenapa BPJS jebol? XY menjelaskan, karena RS nakal dan dokter tak bisa menolak perintah RS nakal itu.

XY bercerita, ada sebuah RS swsata di sebuah kota besar beli instumen untuk operasi katarak yang canggih. Jelas, sebagai institusi bisnis, RS Swasta ingin segera modalnya kembali. Tiba-tiba, aneh bin ajaib, tiap hari ada truk membawa puluhan, bahkan ratusan pasen sakit mata dari desa yang harus dioperasi katarak. Gimana coba? Semuanya yang naggung biaya kan akhirnya BPJS, ujarnya.

Orang-orang kaya di Indonesia juga aneh. Kalau sakit kepala, hanya pening saja, berobat ke RS Mount Elizabeth, Singapura. Eh pas jantungnya sakit dan harus pasang ring, mereka datang ke RS membawa kartu BPJS. Ini kan tak adil. Padahal pasang ring kan biayanya mahal. Rata-rata yang pasang ring itu orang kaya — lanjut XY.

BPJS itu sudah baik sekali kepada RS. BPJS mempersilahkan RS hutang di bank kalau tak punya dana untuk mengobati pasien. Nanti utang di bank yang membayar BPJS dengan bunga lebih tinggi dari pasar. Sekarang ini, kata XY, banyak bank yang rebutan memberi pinjaman ke RS, karena BPJS pasti membayarnya dengan rate bunga yang lebih tingi. Lalu, apanya yang kurang dari BPJS? — ujar XY.

Aku sekarang baru nyadar, kenapa pmrintah — terutama Bu Sri Mulyani — geram dengan dana talangan untuk BPJS. Karena pasti Bu Sri tahu, BPJS sekarang jadi “sapi perah” RS-RS yang korup berkonspirasi dengan dokter-dokter korup tadi. Celakanya, yang disalahkan Jokowi. Bajigur tenan, Pret!

Adikku bercerita: waktu dia sakit dirawat di rumah sakit swasta di Cirebon, harus menandatangani formulir untuk tagihan ke BPJS.

“Kok infus yang tercatat 10 kantong? Bukankah yang dipakai hanya 5 kantong?” adikku protes. Tapi RS tetap memaksanya untuk tanda tangan. Itulah gelapnya dunia!

Pantas, waktu mengumumkan kabinet Indonesia Maju kemarin, Pak Jokowi wanti–wanti kepada menteri-menteri baru… awas, jangan korupsi. Jangan korupsi! Jangan korupsi!

Comment

Berita menarik lainnya...