by

Rektor Asing dan World Class University

KOPI, Jakarta – Ngebet punya universitas kelas dunia? Itulah yang hari-hari ini sedang dirasakan Menristekdikti Muhamad Nasir. Ia tampaknya obsesif benar agar Indonesia memiliki world class University. Ukurannya, punya peringkat dalam 100 besar universitas terbaik di dunia. Maklum saat ini, perguruan tinggi (PT) di Indonesia, peringkatnya masih tergolong rendah.

Bermula tahun tahun 2006, perguruan tinggi di Indonesia tersentak. Ternyata, PT-PT yang selama ini dianggap top seperti UGM, ITB, UI, dan IPB ternyata hanya masuk peringkat 500 besar ukuran dunia. Jauh di bawah PT-PT yang ada di Singapura dan Malaysia. Padahal, dua negeri jiran itu, dulunya belajar membangun PT bermutu dari Indonesia. Kok sekarang tertinggal jauh.

Bayangkan, Nanyang Technological University (NTU) Singapore yang berdiri tahun 1981, sudah masuk peringkat 50 besar dunia di tahun 2018. Sedangkan University of Malaya (UM), yang tahun 1970-an dosen-dosennya belajar di UGM dan UI, kini berada di peringkat 200 besar dunia. Jauh melampui PT terbaik di Indonesia.

Salah satu penyebab utama kenapa PT di Indonesia peringkatnya rendah, menurutn Nasir, karena rektornya kurang mumpuni dan tidak mempunyai jaringan luas secara internasional. Maka solusi termudah, PT Indonesia kudu mendatangkan rektor berkualifikasi internasional. Bila perlu – pinjam Prof. Dr. Muhamad Nur, ahli fisika plasma dari UNDIP — PT Indonesia mempunyai rektor berkualitas peraih noble sekelas Richard J Robert, nobelis ilmu fisiologi dari Harvard University, 1993. Robert pernah diundang ke UI, 2017, untuk memberikan presentasi tentang penelitiannya yang meraih hadiah noble tersebut. Harapannya, agar para mahasiswa, dosen, dan peneliti UI terpacu gairahnya untuk melakukan penelitian berkualitas internasional seperti Robert.

Nasir ingin meniru NTU. PT di Singapura ini, kata Nasir, langsung peringkatnya melejit di 50 besar terbaik dunia karena berani mendatangkan rektor berkualifikasi internasional. Itulah sebabnya, Nasir punya obsesi mendatangkan rektor asing bermutu tinggi. Di tahun 2020, kata Menristekdikti, akan ada satu rektor asing . Kemenristekdikti menargetkan tahun 2024 sudah ada lima PTN yang menpunyai rektor asing berkualifikasi internasional.

Pertanyaan yang muncul, benarkah ada korelasi antara peringkat PT terbaik dunia dengan rektor asingnya seperti terjadi di NTU? Sejumlah PT besar seperti UI, UGM, dan ITB meragukan korelasi linier antara rektor asing dan kemajuan sebuah PT. Prof. Hendra Gunawan, Guru Besar Matematika ITB, misalnya, menyatakan, kualitas PT tidak ditentukan rektor asing. Tapi oleh kualitas risetnya. Rektor hanya berfungsi manajerial. Sedangkan riset adalah roh universitas.

QS-WUR (Quacquarelli Symonds-World University Rankings), lembaga pemeringkat PT internasional di Inggris yang kredibel menyusun enam kriteria untuk menentukan, apakah sebuah PT layak mendapat peringkat tinggi atau tidak. Kriterianya: Pertama, reputasi akademik (40 %). Kedua, reputasi pemberi kerja (10 %). Ketiga, rasio dosen / mahasiswa (20%). Keempat, dari seluruh karya dan riset ilmiah dosennya sudah 20% dikutip (jadi referensi ilmiah atau sitasi) di dunia ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kualitas sitasinya diakui ilmuan dunia. Kelima rasio dosen internasional di PT (5%). Dan keenam rasio mahasiswa internasional (5%).

Dari kriteria QS-WUR tersebut, langkah Menristekdikti untuk menaikkan peringkat PT Indonesia agar menjadi world class university, tampaknya masih jauh. Dalam kriteria QS-WUR, rektor asing bukan suatu faktor determinan untuk mengerek peringkat PT ke skala dunia. Yang jadi ukuran terpenting ternyata reputasi akademik (pelayanan dan infrastruktur) dengan nilai (40%), rasio dosen/mahasiswa dan sitasi (20%).

Kita bandingkan PT di Indonesia dan PT di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Per 8 Februari 2012, tulis Prof Hendra Gunawan, jumlah publikasi yang dihasilkan oleh peneliti dari seluruh perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian di Indonesia yang tercatat di pangkalan data Scimago — di mana datanya berasal dari Scopus (http://www.scopus.com) — ternyata hanya 13.047 artikel. Bandingkan misalnya dengan Singapura yang 109.346 artikel; Thailand 59.332 artikel, dan Malaysia 55.211 artikel. Jauh sekali. Kita patut menduga, NTU mendapat peringkat 50 besar bukan karena faktor rektor asingnya, tapi jumlah artikel ilmiahnya.

Dari situlah, tampaknya obsesi Nasir untuk menaikkan peringkat PT Indonesia agar menjadi world class university dengan jalan mengimpor rektor asing adalah fatamorgana. Jika ingin mewujudkan ide Nasir menjadi fakta , yang paling prioritas adalah menaikkan dana riset, baik di PT maupun lembaga penelitian lain (non-PT). Meski keduanya secara kelembagaan terpisah, tapi esensi penelitiannya saling bertaut.

Nah, jika dilihat dari besarnya alokasi APBN untuk dana riset, Indonesia adalah negeri yang “kekuatan” penelitiannya sangat rendah. Mau lihat datanya?

Inilah: Dana penelitian dan pengembangan (litbang) di Indonesia dari tahun ke tahun masih berkutat di bawah 0,1% dari GDP. Sebagai perbandingan, negara-negara tetangga kita menyediakan dana litbang yang jauh lebih besar dari pada Indonesia. Menurut catatan Ristek (2009), dana litbang Singapura pada tahun 2006 sekitar 2,36% dari GDP. Malaysia 0,63%, Thailand 0,25%, dan Indonesia 0,06%.

Minimnya dana litbang ini jelas berkrelasi positif terhadap publikasi ilmiah berkualitas dan sitasinya. Singapura yang dana litbangnya 2,36 persen, langsung kualifikasi PT-nya melejit di peringkat 50 besar dunia. Indonesia? Lihat sendiri dampaknya pada kualitas PT-nya.

Tahun 2019 Presiden Jokowi menaikkan anggaran litbang hingga mencapai 0,3 persen dari GDP. Tapi tetap masih sangat rendah dibandingkan negara-negara maju. Bandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika yang mengalokasikan 2,7 persen GDP. Lalu Jerman 2,85 persen, Singapura dan Thailand 2,5 persen, Jepang 3,4 persen dan Taiwan 2,35 persen.

Jika Indonesia ingin litbangnya maju, sekaligus mengangkat PT-nya berkelas world university, maka mau tak mau pemerintah harus menaikkan anggarannya. Minimal sama dengan Singapura dan Thailand: 2,5 persen GDP. Dari situlah, ada harapan, Indonesia akan mempunyai world class university, masuk 100 besar dunia.

Tentu, semuanya melalui proses yang panjang seperti yang digambarkan QS-WUR. Tidak instan, seperti mendatangkan rektor asing. (*)

Penulis: Dr. HJ Reni Marlinawati Ketua Poksi Pendidikan Komisi X DPRRI

Comment

BACA JUGA...