by

Rektor Asing dan Universitas Kelas Dunia

Loading…

KOPI, Jakarta – Wacana mendatangkan rektor asing terus bergulir. Awalnya rektor asing akan didatangkan untuk memperbaiki perolehan ranking PTN (Perguruan Tinggi Negeri) kita. Tapi apa yang terjadi kemudian? Kita lihat gebrakan Menristek Dikti.

Tak mudah memang mendatangkan Rektor asing berkualitas top internasional. Ini karena PT kita memiliki statuta masing-masing yang diputuskan oleh senat dan disahkan oleh menteri.

Sampai hari ini, perlu dicatat, tidak satu pun PTN di Indonesia yang membolehkan rektor asing meminpinnya. Salah satu penghalangnya adalah statuta PTN itu sendiri.

Untuk menempatkan rektor asing di sebuah PTN, harus ada perubahan statuta. Sejauh ini statuta PTN-BH (Badan Hukum) berupa Peraturan Pemerintah yang ada, tidak mudah diubah. Jika harus diubah, akan muncul berdebatan yang panjang di senat akademik. Apakah rektor asing itu mutlak dibutuhkan atau tidak.

Beberapa pihak meyakini rektor asing dapat meningkatkan peringkat PT di level internasional. Tapi banyak juga dari kalangan perguruan tinggi meragukan hal tersebut.

Kenapa? Karena tuntutan ranking perguruan tinggi adalah sangat terkait dengan kualitas riset. Sedikitnya sebesar 60 % dari keseluruhan riset tersebut. Dan kita tahu. soal kulitas riset, bukan soal siapa rektornya.

Riset dan hasil riset sangat ditentukan oleh suasana akademik yang ada di perguruan tinggi tersebut. Siapa yang “menjadi bara” ditengah-tengah pengembangan ilmu dan pembelajarannya.

Siapa yang menggerakkan kelompok kelompok riset produktif itu. Siapa yang meriset dan mengontrol kualitas riset tersebur. Sejauh mana kolaborasinya dengan riset-riset internasional yang qualufied? Bagaimana pengakuan dari para pepunden riset kelas dunia. Jadi, pengakuan itu bukan soal siapa rektor PT tersebut. Rektor hanyalah manager. Ia dministrator. Bukan “malaikat” yang mendatangkan kualitas tinggi sebuah PT.

Lalu apa yang menjadi crusial point untuk menentukan kualitas PT? Jawabnya: Riset. Jadi risetlah yang harus dibangun di PT-PT kita. Termasuk sitasi dari karya ilmiah dosennnya. Bukan rektor asing.

Riset adalah energi kegairahan para begawan di pedepokan pusat riset dan laboratorium. Kelompok-kelompok inilah yang perlu mendapat perhatian serius.

Ketika peralatan untuk mengungkap rahasia keilmuan itu tak lengkap maka rendahlah nilai temuan dalam riset tersebut. Begitu pula penelitinya. Jika kualitasnya tidak super, jangan harap hasil penelitiannya diakui dunia.

Salah satu Pemeringkat Universitas Dunia adalah QS-WUR (Quacquarelli Symonds-Worlf University Rankings). QS-WUR ini mencatat dan menelaah publikasi ilmiah para dosen universitas di seluruh dunia untuk menentukan peringkt PT terkait secara internasional. Institusi ini melaksanakan metodologi yang sangat konsisten dalam menentukan peringkat kualitas PT. Metodologi pemeringkatannya disusun oleh QS dengan menggunakan enam metrik kriteria. Enam kriteria inilah yang menilai kinerja universitas. Apakah berkualitas atau tidak.

Kriteria penilaian QS- WUR tersebut sebagai berikut.

  1. Reputasi Akademik (40 %)
  2. Reputasi Pemberi Kerja (10 %)
  3. Rasio Dosen / Mahasiswa (20%)
  4. Dari seluruh karya dan riset ilmiah dosennya sudah 20% dikutip (jadi referensi ilmiah) di dunia ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kualitas sitasinya diakui ilmuan.
  5. Rasio Dosen Internasional di PT (5%)
  6. Rasio Mahasiswa Internasional (5%)

Saya sedikit kaget saja, rektor asing pertama di Indonesia itu adalah rektor yang akan memimpin Universitas Siber Asia. Universitas ini berafiliasi dengan Universitas Nasional Jakarta, kerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies Korea.

Banyak akademisi kaget. Katanya Rektor asing dibutuhkan untuk meningkatkan ranking PT di WUR (World University Rankings). Kok begini gebrakannya?

Kalau hanya Universitas Siber Asia yang masih bau kencur dan berafiliasi dengan Univetsitas yg reputasinya belum menginternasional — ya.. hanya akan dilirik dengan sebelah mata oleh para akademisi yang punya reputasi handal. Hanya sebegitu? Tak sepadan dengan gembar gembornya.

Ibarat seseorang mengumumkan akan membuat komputer canggih untuk masa depan…. eh yang muncul cuma komputer sekelas laptop dengan CPU dan software yang dijual di Pasar Glodok.

Sekarang patokan universitas kelas dunia itu basisnya adalah riset dan karya ilmiah. Juga aplikasi riset tersebut untuk kemajuan dunia masa depan. Bukan kepada reputasi rektornya.

Mereka berpatokan pada reputasi 60 % dari kualitas riset termasuk sitasi. Dengan melihat basis kriteria WUR tersebut, akademisi dunia — bahkan akademisi lokal — bisa menilai bahwa rektor asing pertama itu tak akan berdampak apa apa pada penilaian WUR.

Universitas Siber Asia itu universitas sangat baru. Belum banyak riset dan karya ilmiahnya. Bagaimana WUR menilainya? Catat, tak ada jalan pintas untuk lompatan kuantum soal reputasi riset.

Selain itu di Indonesia sudah ada Universitas Terbuka (UT) yang sangat berpengaruh dan diakui dunia dalam kualitas pengajaran jarak jauh. UT kini telah menggunakan teknolgi canggih untuk proses belajar mengajarnya yg secara internasional diakui kehebatannya oleh WUR. Dengan kata lain, UT sudah diakui sebagai cyber university yang berkualitas tinggi di dunia internasional.

Dan sayapun ingin melihat bagaimana Universitas Siber Asia dibawah pimpinan Rektor Jang Youn Cho PhD, dalam waktu singkat menyaingi UT. Kita tunggu.

Penulis: Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA (Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, Semarang)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

Leave a Reply

BACA JUGA...