by

PENGAJARAN KRISTEN: Hati yang Luka (Bacaan: Mazmur 147:1-20)

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka,” Mazmur 147:3

KOPI, Jakarta – Di hari terakhir bulan Juni ini, bagaimana suasana hati Saudara? Apakah hati kita secerah mentari yang selalu setia menyapa kita di kala pagi? Ataukah hati kita seperti awan gelap yang dihiasi oleh petir yang siap menyambar oleh karena terluka?

Tak bisa dipungkiri, hampir semua orang pernah mengalami apa yang dinamakan luka hati, dan banyak faktor yang menjadi penyebabnya: disakiti, dikhianati, digosipkan, difitnah atau diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain. Apabila luka hati tersebut tidak secara cepat diatasi akan menimbulkan masalah yang lebih serius dalam diri orang bersangkutan: dendam, kepahitan, frustasi, mengasihani diri sendiri secara berlebihan, dan akhirnya citra diri pun rusak karena menganggap diri tak berharga.

Luka hati adalah suatu keadaan dalam batin seseorang yang menimbulkan perasaan marah, benci, kecewa dan pahit yang begitu mendalam sebagai akibat dari penolakan atau perlakuan semena-mena dari orang lain. Namun pada dasarnya luka hati ini diperparah bukan karena perbuatan orang lain yang menyakiti, tetapi justru pada respons kita atau sikap hati kita terhadap perbuatan orang tersebut.

Yusuf, salah satu tokoh dalam Perjanjian Lama (baca Kejadian 37, 39, 40), adalah orang yang sesunggunnya punya alasan kuat untuk terluka hati karena peristiwa-peristiwa pahit yang dialaminya: dibenci, dimusuhi, diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya sendiri, dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah oleh isteri Potifar, dan dilupakan begitu saja oleh juru minum raja yang telah ditolongnya. Meski demikian, Yusuf tidak membiarkan dirinya larut dalam kekecewaan, pemberontakan, keputusasaan, pahit hati, benci atau pun dendam. Ini terjadi karena Yusuf memilih untuk merespons secara positif masalah yang menimpanya dan menyerahkan semua pergumulannya itu kepada Tuhan.

Saudara sedang terluka? Segeralah datang kepada Tuhan dan akuilah dengan jujur di hadapan Tuhan. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat dilepaskan dan dibebaskan dari luka hati karena Dia adalah sumber damai sejahtera kita.

Jika tahu bahwa luka hati tidak medatangkan kebaikan, mengapa harus dipelihara? Kita akan rugi sendiri.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” Yesaya 43:4

Jangan pernah berkata bahwa luka-luka hati kita tak mungkin disembuhkan! Atau bahkan ada di antara kita yang sudah hopeless dengan berkata, “Hidupku sudah tidak ada artinya lagi, tidak ada harapan dan masa depan. Hidupku sudah hancur!”

Di dalam Tuhan selalu ada masa depan dan harapan. Pemazmur berkata, “Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” (Mazmur 9:19).

Jadi, bagi orang percaya“…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Ayat nas hari ini juga menegaskan bahwa kita ini berharga di mata Tuhan: “…Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” (Yesaya 43:1) dan Tuhan memiliki rencana yang indah atas hidup kita.

Bagaimana caranya supaya luka-luka hati kita disembuhkan? Satu-satunya jalan adalah datang kepada Tuhan Yesus, merendahkan diri di hadapanNya, mengakuinya dengan jujur dan memohon pengampunan dariNya, Dia pasti akan memulihkan hati kita. Inilah janji Tuhan, “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan,” (Yehezkiel 34:16).

Pemazmur berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19).

Bangun kembali hubungan yang karib dengan Tuhan melalui doa setiap hari, baca firman Tuhan dan tetaplah mengucap syukur kepadaNya. Kita juga harus melepaskan pengampunan kepada orang lain yang telah menyakiti kita, memperlakukan tidak adil dan yang telah membuat kita menderita. Itu adalah syarat untuk kita bisa diampuni oleh Tuhan. Ini memang tidak mudah, tapi percayalah dengan pertolongan Roh kudus kita pasti akan dimampukan.

Milikilah tekad seperti Paulus, “…tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,” (Filipi 3:13). Yang lalu biarlah berlalu, arahkan pandangan ke depan dan tatap hari esok bersama dengan Tuhan!

Jangan biarkan luka-luka hati kita ini menjadi penghalang untuk mengalami berkat dan kemenangan yang Tuhan sediakan!

Kunjungi juga website kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JANGAN LEWATKAN...