by

Mencari Ikon Wisata di Palangka Raya

Loading…

KOPI, Palangka Raya – Suasana kota yang sumpeg, macet, penuh asap dan banyak pengemis di lampu merah tidak akan kita rasakan di Kota Palangka Raya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota kecil dengan luas wilayah 2.853,52 kilometer persegi dan berpenduduk 275.667 jiwa ini memang terus berbenah, terutama peningkatan  infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan hajat rakyat.

Sejumlah pendatang di kota bermotto ‘CANTIK’ ini mengakui penataan Kota Palangka Raya cukup baik. Antara kawasan pemukiman penduduk, perkantoran dan lembaga pendidikan tidak campur aduk, sehingga tidak terkesan kumuh.

Di banding kota-kota lain, mungkin hanya Kota Palangka Raya yang penamaan jalannya spesifik. Misalnya, di kawasan Kelurahan Panarung nama-nama jalannya adalah kelompok kayu, seperti Jalan Ulin, Jalan Madang, Jalan Pilau, Jalan Meranti, dan lain-lain. Kawasan Bukit Hindu dapat diidentifikasi dengan nama-nama gunung, seperti Jalan Kinibalu, Jalan Rinjani, Jalan Sangga Buana, dan lain-lain. Kemudian, sebagian wilayah Kelurahan Bukit Tunggal menggunakan nama ikan dan nama burung. Berikutnya, sebagian wilayah Kelurahan Pahandut menggunakan nama-nama pulau dan nama buah.

Belakangan, penamaan jalan ini memang agar rancu, terutama di pemukiman baru seperti perumahan KPR yang letaknya berhimpitan dengan permukiman lama. Contohnya Kelurahan Panarung yang selama ini nama jalannya berbau kayu, saat ini ada pula nama sayuran dipergunakan sebagai nama jalan, seperti Jalan Wortel dan Jalan Brokoli. Menariknya, tak sedikit pula beberapa jalan diberi nama orang tua atau kakeknya karena dianggap telah berjasa mengembangkan suatu kawasan.

Meskipun telah berdiri sejak 1957, hingga saat ini Kota Palangka Raya belum dapat memberikan kesan wisata yang melekat di hati para pelancong. Ini disebabkan karena terbatasnya wilayah yang dapat dikategorikan kawasan wisata di daerah ini. Sebagai warga lokal, saya juga sering bingung ingin berwisata kemana. Paling banter hanya duduk-duduk di bawahan Jembatan Kahayan sambil memandang riak air Sungai Kahayan yang kadang keruh karena aktivitas pertambangan rakyat.

Wisata kuliner sebenarnya sudah ada, namun tidak spesifik dan unik bagi pelancong. Misalnya sajian ikan bakar dan lalapan, menu jenis ini hampir semua suku dan provinsi memilikinya. Apalagi makanan ‘import’ seperi gulai, rendang, soto, masak merah, siomay dan sejenisnya mungkin tak begitu menggugah selera wisatawan dalam negeri. Di kampungnya sendiri sudah sering menikmati menu tersebut.

Setiap akan pulang dari Kota Palangka Raya, orang mungkin bingung akan membawa oleh-oleh apa untuk keluarganya. Salah satu pilihan mungkin hanya penganan kerupuk amplang dari ikan pipih. Atau lempok durian, bila kebetulan lagi musim durian. Oleh-oleh dan souvenir bisa didapatkan di pertokoan souvenir Jalan Batam, Palangka Raya.

Dibandingkan dengan daerah lain, secara kebetulan Kota Palangka Raya memang tidak dianugerahi keindahan alam seperti air terjun alami, apalagi pantai dengan deburan ombak yang indah. Dengan keterbatasan itu, yang dapat dilakukan adalah mengembangkan inovasi wisata alam buatan. Sungai Kahayan yang membelah Kota Palangka Raya akan menjadi daya tarik wisatawan bila dikelola dengan baik, misalnya mengadopsi penataan sungai di Negeri Belanda dan Venesia.

Untuk menggairahkan kegiatan wisata, sejak beberapa tahun lalu Pemerintah Kota Palangka Raya telah menata kawasan Flamboyan Bawah menjadi dermaga wisata. Di tempat ini telah dibangun rumah makan terapung di Sungai Kahayan. Sementara itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggandeng pihak swasta mengelola wisata susur sungai menggunakan kapal yang didesain khusus untuk wisatawan.

Meskipun minim promosi, wisata susur sungai tampaknya mulai banyak diminati wisatawan. Sejumlah warga setempat juga melayani jasa susur sungai menggunakan perahu bermesin (kelotok) dengan penumpang 6-8 orang. Termasuk jasa antar jemput wisatawan yang ingin memancing di sekitar Sungai Kahayan.

Bagi yang gemar berpetualang di rawa gambut, wisatawan dapat mengunjungi Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau. Kawasan yang terletak sekitar 10 Km di selatan Kota Palangka Raya itu terdapat hamparan danau yang cukup luas. Struktur tanah di daerah ini adalah rawa gambut sehingga air yang berwarna merah terlihat hitam dari kejauhan. Beberapa warga setempat mengusahakan persewaan perahu bagi wisatawan yang ingin bercengkrama mengarungi danau. Pemandangan hutan tropis dan tanaman purun (mendong) yang tumbuh liar menjadi daya tarik tersendiri di kawasan relatif datar itu. Pengunjung juga dapat melakukan swafoto  dengan latar belakang danau yang berkabut di kaki langit.

Walaupun bisa dikatakan tanpa ikon wisata, saat berkunjung ke Kota Palangka Raya wisatawan masih dapat melakukan refreshing melupakan rutinitas. Paling tidak, dapat sedikit terhibur dengan wisata kuliner sederhana. Menikmati suguhan ikan bakar segar yang disediakan beberapa rumah makan di daerah ini pasti menjadi kenangan yang menyenangkan. Menu ikannya beragam, ada Patin, Baung, Haruan, Nila hingga ikan Mas. Soal harga jangan khawatir, dijamin kita enggak bakal ‘kerampokan’. Satu porsi kisarannya antara Rp. 35.000,-  hingga Rp. 50.000,- saja.

Gonjang-ganjing mencuatnya kembali wacana pemindahan ibukota negara membuat Palangka Raya kian jadi perbincangan. Banyak warga yang menyambut baik rencana tersebut. Asa yang sempat memudar kembali meningkat tensinya. Alasannya, pemindahan ibukota negara ke daerah ini akan berdampak pada kemajuan daerah. Selain itu, lapangan kerja juga akan terbuka lebih luas.

Sementara warga lain berpendapat, saat ini hidup di Kota Palangka Raya sudah cukup nyaman. Tidak macet, aman  dan jauh dari hiruk-pikuk aktivitas sosial dan politik. Kalaupun ada ruas jalan yang macet biasanya hanya insidentil. Bisa karena ada iring-iringan pawai, kegiatan pemerintah di Bundaran Besar, atau konvoi mengiringi kendaraan jenazah ke lokasi pemakaman.

Sebagai kawasan terbuka, Kota Palangka Raya ‘bak Indonesia mini karena warganya plural. Semua suku di Indonesia ada di sini, dari ujung timur hingga belahan barat nusantara. Mereka berinteraksi dengan baik dengan Suku Dayak, penduduk asli di kota ini. Perbedaan suku dan keyakinan pada Sang Pencipta tidak mendistorsi keharmonisan kehidupan penduduknya.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

BACA JUGA...