by

In Memoriam Prof. Dr. Hardjono Sastrohamidjojo: Cengkeh yang Lebih Mahal dari Emas

Loading…

KOPI, Jakarta – Jumat siang itu, Oktober 1984, udara Yogya menyengat. Kampus MIPA UGM yang bercat kusam, seakan sedang mengolok-olok aku. “Kau Simon, nanti skripsimu akan dikuliti Dr. Hardjono. Kau akan sulit menjawab,” suara batinku mengingatkan. Aku membuat skripsi dengan judul sederhana: Kandungan Pestisida Diazinon di Persawahan Sleman.”

Jam yang kutunggu berdentang. Pukul 10 siang. Aku masuk ruangan ujian skripsi di sebelah Laboratorium Kimia Organik. Tiba-tiba Pak Chairil Anwar memberitahu, Pak Hardjono berhalangan hadir menguji skripsi Simon. Pengujinya tinggal dua orang, Pak Chairil Anwar dan Syahirul Alim.

Byar….hatiku langsung padang. Dosen yang teliti dan sering menguliti skripsi kimia organik dari mahasiswa MIPA Kimia UGM, tak datang. Seuuneeng aku. Apalagi dua penguji yang tersisa, Pak Chairil Anwar dan Pak Saharlim (Emy Fatmi Budhya, gadis cantik dari Bandung saat itu kalau menyebut Sahirul Alim, menyingkatnya dengan nama Saharlim. Halo Emy!) – keduanya dekat denganku. Chairil adalah pembina HMI di MIPA dan Saharlim adalah penceramah top markotop di Yogya saat itu. Dugaanku benar. Dua dosen penguji ini akan memudahkan aku lulus ujian skripsi.

“Ril, ini hari Jumat. Saya mau khotbah di masjid Kauman. Sudahi saja ujian untuk Simon Templar,” kata Pak Saharlim. Pak Chairil – yang nota bene dosen muda dan sama-sama dari Madura – tak bisa protes. Ujian pun hanya berlangsung 25 menit (dengan pertanyaan yang bersifat filosofis dari Pak Saharlim). Padahal biasanya satu jam lebih. Aku pun lulus. Nilainya B Plus (kok nggak A Plus ya)

Pak Sahirul Alim kalau bertemu denganku selalu menyebut Simon Templar. Mungkin Pak Alim adalah pengagum tokoh “Simon Templar” dalam novel fiksi The Saint karya Leslie Charteris (1928). Fiksi ini kemudian dibuat film oleh Hollywood dan laris manis. Mungkin Saharlim terkesan dengan Simon Templar dan menumpahkan kekangenannya kepadaku. Kata orang sih, emang Simon Templar mirip denganku bro! Ha..ha..ha…

Kembali kepada almarhum Pak Hardjono. Beliau adalah peneliti yang serius. Jika saja UGM menjadi universitas riset, Pak Hardjono adalah orang yang pantas untuk menjadi rektornya.

Kenapa? Hardjono adalah kimiawan yang haus riset dan obsesif terhadap petani kecil, khususnya petani cengkeh di sekitar Yogya. Dan ia melakukan penelitian di laboratorium Kimia Organik tanpa lelah untuk mencari senyawa paling mahal di pohon cengkeh; lalu berusaha memishkannya. Sebuah kerja yang serius dan tidak mudah untuk mengektraksi salah satu komponen minyak atsiri dari cengkeh (yang biasanya terdiri dari puluhan, bahkan ratusan komponen kimia).

Hardjono tidak lelah. Perhatiannya terus menerus terfokus untuk mengambil “emas dan berlian” dari bunga, daun, dan ranting pohon cengkeh tersebut. Bagi Hardjono, cengkeh adalah tanaman istimewa yang menyebabkan orang-orang Portugis, Belanda, dan Inggris “rebutan” menjajah nusantara. Di abad ke 18, misalnya, Belanda berperang dengan Portugis hanya untuk memonopoli rempah-rempah dari Maluku, di antaranya yang jadi primadona adalah pala dan cengkeh. Saat itu, harga pala dan cengkeh jauh lebih mahal dari harga emas di Eropa.

Salah satu kisah menarik dari mahalnya rempah-rempah Maluku adalah kesepakatan tukar guling antara Pulau Run di Maluku milik Inggris dengan Pulau Nieuw Netherland di Amerika, milik Belanda. Tiga setengah abad lalu, Pulau Run adalah pulau emas: kaya akan pohon pala, cengkeh, dan rempah-rempah lain yang sangat mahal di Eropa. Keharuman Pulau Run — pulau dengan panjang 3 km dan lebar kurang 1 km – saat itu, tak sebanding dengan Nieuw Netherland, pulau kecil di sebelah selatan ujung Sungai Hudson di benua Amerika, yang dikuasai Belanda pada tahun 1624. Saat itu Pulau Run dikuasai Inggris. Belanda dengan VOC-nya yang ingin memonopoli rempah-rempah di Kepulauan Banda, tidak suka dengan penguasaan Inggris atas Pulau Run. Mereka pun berperang sampai akhirnya berdamai dengan menandatangani Traktat Breda. Isi Traktat Breda itu adalah Belanda dan Inggris sepakat melakukan tukar guling. Belanda bersedia melepas Nieuw Netherland di Amerika dan menyerahkan kepada Inggris. Sedangkan Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda. Penguasa Inggris kemudian mengubah nama Nieuw Netherland menjadi Manhattan, sebuah kawasan bisnis di Kota New York saat ini. Entah Pulau Run bagaimana sekarang!

Kilas balik sejarah tentang mahalnya minyak atsiri asal Maluku itulah tampaknya yang membuat Hardjono yakin, rakyat Indonesia akan makmur bila mau mengembangkan industri minyak atsiri. Di hampir seluruh wilayah Indonesia yang bertanah vulkanik, pohon-pohon yang menghasilkan minyak atsiri tumbuh subur. Mulai cengkeh, pala, sereh, jahe, akar wangi, dan lain-lain. Jumlahnya ratusan jenis. Dan banyak di antaranya tumbuhan endemik Indonesia.

Dari latar belakang itulah, Prof. Hardjono berpikir jauh ke depan. Aku pernah diceramahi Pak Hardjono, bahwa seharusnya Indonesialah yang jadi pusat parfum dunia. Bukan Perancis. Indonesia punya segalanya untuk membuat parfum berkualitas tinggi. Karena hampir semua jenis minyak atsiri ada di Indonesia. Komponen-kompoen minyak atsiri tersebut adalah bahan utama parfum mahal di Paris.

Pak Hardjono pernah bilang, hanya dengan sepuluh pohon cengkeh di Pekarangan, sebetulnya petani bisa makmur. Lo kenapa? Petani bisa mengekstraksi minyak atsiri dari daun cengkeh yang rontok. Dari ranting yang jatuh. Puncaknya dari bunga cengkeh itu sendiri. Seandainya petani kecil dapat bimbingan teknis untuk membuat minyak atsiri, jelas Hardjono, niscaya ekonomi rakyat akan terkerek.

Cengkeh adalah pohon berharga mahal. Sekujur tubuh pohon, mengandung minyak. Dari daun, ranting, kulit pohon, dan akarnya – semuanya mengandung minyak atsiri. Dan minyak atsiri cengkeh, mengandung zat kimia yang sangat mahal, antara lain, eugenol. Eugenol ini, bila direkayasa, dengan menambah reagen tertentu, bisa menghasilkan zat kimia (derivatif) yang harganya sangat mahal. Untuk obat-obatan, kecantikan, dan parfum kelas premium. Sayangnya, banyak orang yang belum tahu manfaat pohon cengkeh tersebut. Dan Pak Hardjono sangat peduli dengan hal-hal yang nyaris “terlupakan” itu.

Sekadar info: Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil. Nama kimianya 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol. Ia dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak. Sumber alaminya dari minyak cengkeh.

Selamat Jalan Prof. Hardjono. Bangsa Indonesia telah kehilangan ilmuwan (29/07/019) yang tak pernah berhenti meneliti minyak atsiri untuk menjadikan negeri ini sebagai tuan rumah industri parfum, kosmetika, dan obat-obatan terhebat di dunia. Insya Allah, perjuangan Prof. Hardjono Sastrohamidjojo akan diteruskan kimiawan generasi muda Indonesia. Kami yakin, jasa-jasa Prof. Hardjono menjadikan Tuhan tersenyum melihat kedatangannya di sorga.

Rest In Peace, Profesor. We love you!

Penulis: Syaefudin Simon, Alumnus MIPA UGM

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

BACA JUGA...