by

Meriahnya Kota Banjir Jakarta Berulang Tahun

Loading…

Oleh Dr. Ir. Nyoto Santoso (Dosen Fakultas Kehutanan/Kepala Pusat Kajian Biodiversitas dan Rehabilitasi Hutan Tropika IPB Bogor)

KOPI, Jakarta – Hari ini, 22 Juni, Jakarta gemerlap meriah. Inilah ulang tahun Jakarta pertama di Era Gubernur Anies Baswedan. Tapi sayang, di hari ulang tahunnya yang ke-492, Kota Jakarta makin semrawut: jauh dari kesan kota asri berwawasan lingkungan. Musim hujan tahun 2019, misalnya, Jakarta makin “tenggelam”. Di mana-mana banjir. Air dari langit dan air dari Bogor menghambur ke Jakarta. Lalu menenggelamkan berbagai kawasan ibu kota.

Di musim hujan – Nopember 2018 — Mei 2019 saja, tercatat banjir menggenangi kawasan bisnis dan strategis yang seharusnya tidak boleh terjadi. Di Jakarta Barat, ada enam lokasi rawan banjir dan genangan terdiri dari Letjend S Parman depan Apartemen Slipi (tiga kali), Meruya Selatan pertigaan pos polisi (dua kali), Arjuna Selatan (tiga kali) dan Patra Raya (lima kali). Genangan juga terjadi di Letjend S Parman depan Universitas Trisakti atau Citraland (tiga kali), dan Jalan PTB Angke (tujuh kali). Sementara di wilayah Jaksel, misalnya, ada 13 lokasi rawan banjir dan genangan. Lokasi itu di antaranya, Jalan H Ipin (empat kali), Kelurahan Pejaten Timur RW. 07 (dua kali), Kemang Raya depan Kemchick (enam kali), Kemang Utara IX depan Pasar Jagal (empat kali), Iskandar Muda depan Gandaria City (enam kali), serta Kelurahan Pondok Labu RW 01, RW 03, RW 07, RW 09, dan RW 10.

Selanjutnya, Jalan MT Haryono di bawah flyover Pancoran (dua kali), terowongan kereta rel listrik (KRL) Stasiun Cawang bawah Jalan MT Haryoni (lima kali), kawasan Kelurahan Petogogan Wijaya Timur Raya (lima kali) dan Sultan Hasanudin kawasan Mabel Polri (tiga kali). Kemudian, Jalan Jenderal Gatot Subroto depan Balai Kartini (tiga kali), Jalan Jenderal Sudirman depan Atmajaya (tiga kali) dan Perempatan ITC Fatmawati (dua kali).

Di wilayah Jakarta Timur ada empat lokasi rawan genangan dan banjir. Seperti di Komodor Halim Perdanakusuma (dua kali), Kelurahan Cibubur (RW 02, RW 03, RW 10, RW 12) (enam kali), Kelurahan Cipinang Melayu (RW 03, RW 04, RW 12) (10 kali), dan Kelurahan Kampung Melayu (RW 04, RW 05, RW 07, RW 08) (enam kali).

Selain itu, wilayah Jakarta Pusat lokasi yang rawan genangan dan banjir antara lain depan RS AL Mintoharjo, Jalan Cempaka Putih Tengah 26, Underpass Kemayoran, dan Jalan Industri 1 (tiga kali). Sementara di wilayah Jakarta Utara terdiri dari Boulevard Barat Raya (lima kali), Yos Sudarso (lima kali), dan Gaya Motor Raya (empat kali).

Sementara, ada 111 lokasi yang mengalami genangan selama 2018. Rekapitulasi kejadian genangan dari Januari hingga Juni 2018 yaitu paling banyak di Jakarta Barat dengan 28 kejadian genangan dengan tinggi lima sampai 50 sentimeter.

Kemudian berikutnya Jakarta Selatan dengan 27 kejadian genangan dengan tinggi lima sampai 300 sentimeter. Jakarta Utara sebanyak 24 kali dengan ketinggian 10 sampai 50 sentimeter. Jakarta Pusat sejumlah 17 kali dengan ketinggian 5-30 sentimeter. Jaktim sejumlah 15 kali dengan ketinggian 5-300 sentimeter.

Betul, banjir adalah masalah laten Jakarta. Tapi itu tidak berarti, banjir tak bisa diatasi. Ada beberapa permasalahan yang harus segera diperbaiki dan direkosntruksi ulang untuk mengatasi banjir yang kian parah dari tahun ke tahun ini.

Pertama, mengatasi problem penurunan permukaan tanah (yang memperluas kawasan banjir). Dari catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jakarta mengalami penurunan muka tanah 5-12 cm per tahun. Jika laju penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung, Jakarta akan semakin rentan tergenang air pasang dan banjir. Dampaknya, ada peningkatan risiko kerusakan pada infrastruktur jalan dan jembatan, lalu terjadi degradasi bangunan. Bila hal itu dibiarkan, bangunan-bangunan penting di ibu kota akan ambruk.

Ada tiga hal penyebab turunnya permukaan tanah. Yaitu beban bangunan gedung, pemadatan tanah, dan pengambilan air tanah yang berlebihan. Khusus untuk Jakarta, penurunan tanah lebih banyak disebabkan oleh beban berat bangunan (gedung-gedung bertingkat) dan pengambilan air tanah yang berlebihan.

Masalah di atas, bisa diatasi. Antara lain, mencegah pengambilan air tanah secara ketat. Lalu membuat sumur resapan (dengan kedalaman minimum 6 meter dan garis tengah satu meter, bukan sekadar biopori) sebanyak mungkin di kawasan yang sering dilanda banjir. Di samping sumur resapan, sangat penting dibuat danau buatan yang jumlahnya signifikan untuk mengurangi banjir sekaligus menambah jumlah air tanah. Kota-kota besar di Jepang, misalnya, telah melakukan pemecahan seperti itu.

Hasilnya luar biasa. Permukaan tanah stabil (nyaris tak ada penurunan), air dalam tanah bertambah, dan banjir pun bisa diatasi. Kota Bangkok yang dulu sering dilanda banjir, juga menggunakan cara tersebut, untuk mengatasi limpahan air hujan.

Jakarta sendiri, sebetulnya mempunyai danau atau rawa (situ) alami yang jumlahnya cukup banyak. Letak Jakarta di dataran rendah yang menjadi penampungan limpahan air dari Bogor yang berada di dataran tinggi, menjadikan Batavia secara alami menjadi “kota rawa”. Rawa-rawa ini berfungsi untuk menampung limpahan air dari Bogor yang curah hujannya amat tinggi. Bisa dikatakan, rawa-rawa ini merupakan “penangkal banjir alami” Jakarta yang bertetangga dengan Bogor yang curah hujannya amat tinggi, antara 20-30 mm.

Dulu ada ratusan rawa di Jakarta yang berfunsgi sebagai penampungan luapan air dari Bogor. Pada tahun 2014, misalnya, tercatat tinggal 25 rawa saja. Itu pun kondisinya memprihatinkan. Sebagian dijajah sampah dan beberapa di antaranya nyaris hilang karena diurug untuk perumahan. Jika Pemprov Jakarta merevitalisasi semua rawa yang ada di Jakarta, minimal separuhnya saja, niscaya dampaknya sangat besar untuk mengurangi skala banjir.

Dari catatan sejarah geografi Betawi, sekitar satu abad lalu, rawa di Jakarta membentang dengan luas tak kurang dari 20.000 hektar. Saat itu, luas kota Jakarta hanya sekitar 150 km2. Sekarang, dengan luas 700 km2, rawa di Jakarta ternyata hanya tersisa kurang dari 2000 hektar. Ini artinya, mengacu pada kondisi sekarang, jumlah luasan rawa di Jakarta tinggal dua persen saja dari kondisi aslinya pada abad lalu. Jelas kondisi ini amat memprihatinkan. Karena itu, untuk mengatasi banjir, mau tidak mau Pemprov DKI harus merevitalisaasi rawa yang sudah ada dan sekaligus membuat rawa-rawa baru yang jumlahnya signifikan untuk mengurangi banjir sekaligus menampung air hujan.

Langkah, berikutnya, pinjam istilah Gubernur Anies Baswedan, Pemprov DKI harus “menaturalisasi” sungai. Maksud menaturalisasi sungai jelas sangat luas. Yaitu mengkondisikan sungai agar airnya jernih, tidak ada lumpur yang mendangkalkan sungai, tidak ada sampah, memperluas sempadan sungai, dan lain-lain. Bahkan bila perlu, tak hanya menaturalisasi sungai, tapi juga membuat sungai-sungai baru untuk mengalirkan genangan air yang membanjiri ibu kota. Bila saat ini ada 13 sungai yang mengalir di wilayah DKI, ke depan, harusnya ada sedikitnya 5 kali lipat jumlah sungai dari kondisi sekarang. Ini sebagai perimbangan dari hilangnya rawa yang mencapai 98 persen dari kondisi satu abad lalu.

Di samping itu, penghijauan di DKI harus dilakukan secara massif dan terstruktur. Antara lain dengan memperluas taman hijau, hutan kota, dan menanam pohon di tiap jengkal tanah kosong. Penghijauan Jakarta ini penting, bukan hanya sekadar mengurangi potensi banjir, tapi juga mengademkan suhu kota Jakarta yang makin panas.
Selamat Ulang Tahun ke-492 Kota Jakarta. Semoga kota metropolitan ini makin hijau dan indah!

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

BACA JUGA...