by

Iran, Trump, dan Khan

Loading…

KOPI, Jakarta – Donald Trump, Presiden AS, makin bengis. Juga tambah rasis. Tindakannya makin semena-mena, sehingga membuat dunia internasional cemas. Kebengisannya, ia tunjukkan dengan memusuhi Iran sejadi-jadinya. Seakan Iran itu monster dan tidak pernah menunjukkan penyebab armagedon dan tidak punya itikad baik.

Jumat (21/6), misalnya, AS nyaris menyerang Iran. Untung serangan tersebut batal. Sepuluh menit sebelum pesawat tempur AS mebombardir Iran, Trump membatalkannya. Alasannya serangan tersebut tak sepadan dengan jatuhnya pesawat nirawak (drone) mata-mata AS yang ditembak Iran Kamis (20/6) lalu. Jika AS saat itu menyerang Iran, maka yang tewas mencapai paling sedikit 150 orang.

Sedangkan saat Iran menembak drone, tak ada satu pun korban tewas. Maklumlah, drone itu nirawak. Kenapa Iran menembak jatuh drone AS? Menurut Iran, karena drone tersebut melanggar wilayah udara Teheran. Jelas, alasan Iran kuat. Karena tak ada satu pun negara di dunia yang membiarkan wilayah udaranya dimasuki pesawat asing. Apalagi pesawat tersebut mata-mata.

Meski alasan Iran kuat, DT — demikian biasa media menyingkat nama Presiden AS itu, tetap tidak mau terima. Ia berusaha membalasnya. Batalnya serangan AS ke Iran di atas, akan diganti dengan sanksi yang lebih besar terhadap Iran. Terutama sanksi ekonomi sehingga Iran jatuh muskin. Trump akan melarang negara-negara mitranya di Eropa Barat dan Asia (Jepang, Singapura, Taiwan, dan lain-lain) untuk mengimpor minyak Iran. Padahal, 50 persen ekonomi Iran bergantung pada ekspor minyak dan gas bumi. Jika minyak dan gas Iran diboikot, ekonomi Iran akan bermasalah besar. Dan bukan tidak mungkin, ketika ekonomi Iran bermasalah, AS akan menyerang Iran.

Gaya politik preman Trump tidak bisa diduga. Ia akan melakukan tindakan-tindakan membahayakan seenaknya tanpa memikirkan dampaknya terhadap keamanan dan perekonomian dunia. Sekarang saja, konflik dagang AS-China yang diinisiasi Trump telah mengacaukan perekonomian dunia.

Sungguh tak terbayangkan akibat yang terjadi jika pertempuran antara AS dan Iran meletus. Teluk dan Timur Tengah akan membara. Iran tak akan membiarkan Saudi Arabia yang selama ini berada di belakang AS melenggang kangkung. Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Israel niscaya akan jadi sasaran rudal-rudal Iran. Selat Hormuz yang menjadi lalu lintas pengapalan minyak dan gas paling sibuk di dunia tidak akan aman lagi. Ia akan menjadi selat yang membara.

Kita tahu, Selat Hormuz memisahkan Iran dengan UEA. Selat ini terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Lebar Selat Hormuz hanya mencapai 54 km. Selat ini merupakan satu-satunya jalur laut terpendek untuk mengirim minyak keluar dari Teluk Persia. Menurut US Energy Information Center, setiap hari 15 kapal tanker yang membawa 16.5 hingga 17 juta barel minyak bumi melewati selat ini. Jika Selat Hormuz ditutup Iran, niscaya harga minyak akan melejit. Dunia pun akan dilanda krisis energi yang parah.

Sebelumnya, Mei 2018, Presiden DT keluar dari kesepakatan nonproliferasi nuklir Iran yang ditandatangani Iran, negara-negara Eropa Barat (Inggris, Perancis, Jerman), Rusia, China, dan AS (Presiden Obama) tahun 2015. Trump menyebut kesepakatan nuklir Iran pada 2015 itu sebagai bencana dan memalukan bagi AS.

Aksi sepihak Trump ini jelas mengejutkan dunia. Eropa Barat, Rusia, dan Cina sangat kecewa. Karena untuk mencapai kesepakatan nonproliferasi nuklir itu membutuhkan waktu yang panjang dan sulit. Setelah tercapai, dibatalkan begitu saja oleh Presiden Adidaya AS. Celakanya, di pihak lain, setelah AS membantu Israel memproduksi senjata nuklir, kini Trump tengah membantu Arab Saudi untuk membangun senjata nuklir. Padahal, Arab Saudi adalah musuh bebuyutan Iran. Akankah AS akan melumatkan Iran dan mengangkangi Teluk dan Timur Tengah?

Trump tak hanya membuat kegaduhan di Iran yang dampaknya akan menyulut api peperangan di Teluk Persia. Ia juga terlibat “perang urat syaraf” dengan Walikota London Sadeq Khan. Trump baru-baru ini membuat pernyataan pedas: “Walikota Kota London Sadiq Khan adalah bencana dan perlu diganti.”

Kenapa Trump benci Khan? Gara-garanya, tentu saja, karena Khan beragama Islam. Ketika terjadi peristiwa berdarah penembakan San Bernardino, California, Desember 2015, Trump yang saat itu belum jadi presiden AS, berkomentar bahwa sebagian “London sangat teradikalisasi, dan polisi takut dengan keselamatan nyawanya”. Khan menilai komentar Trump sangat “memecah belah dan kasar”. Khan saat itu juga bereaksi atas rencana Trump melarang orang-orang muslim untuk masuk ke AS. Khan mengatakan, sebagaimana dilansir The Guardian, “Pandangan Trump tentang muslim adalah pandangan yang bodoh”. Merespon Khan, Presiden AS ini menantang politisi London itu untuk tes IQ.

“Saya akan selalu ingat pernyataan itu. Itu adalah pernyataan yang sangat menjijikan,” kata Trump. Awal Juni 2019, Khan menulis di koran Obsever Inggris yang isinya menyamakan Trump dengan tokoh-tokoh fasis Abad 20.

“Presiden Donald Trump hanya satu dari contoh paling mengerikan dari ancaman global. Kaum aliran kanan (rasis) sedang naik daun di seluruh dunia, mengancam kemenangan-kemenangan yang telah kita raih dengan susah payah — yakni hak, kebebasan, dan nilai-nilai yang membentuk masyarakat liberal demokratis selama 70 tahun terakhir,” tulis Khan.
Menanggapi tulisan Khan, Trump pun mentwit, “Khan adalah pecundang sejati dan sangat bodoh. Atas pernyataan itu, Khan menuding Trump “kekanak-kanakan”.

Tak lama kemudian, Trump merespon tudingan Khan. “London butuh seorang walikota baru sesegera mungkin. Khan adalah sebuah bencana. Ia hanya akan menjadi lebih buruk!” cuit Trump.

Dari gambaran tersebut, apa yang dikatakan Barack Obama bahwa kehadiran DT di Gedung Putih memalukan Amerika benar adanya. Tapi sayang konstitusi Amerika yang sudah mapan, tak mungkin menurunkan Trump di tengah jalan. Satu-satunya cara untuk menjatuhkan Trump adalah mendorong rakyat Amerika untuk tidak lagi memilih Donald Trump pada Pilpres 2020 mendatang. (SMS/Red)

Penulis: Dr. KH Amidhan Shaberah (Ketua MUI 1995-2015/Komas HAM 2002-2007)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

BACA JUGA...