by

Catatan Ilham Bintang: Oleh-oleh dari Turki, Menginap Semalam di Kamar Dalam Goa

Loading…

KOPI, Jakarta – Cappadocia tak ubahnya sebuah dunia lain. Kota ini dikelilingi bukit-bukit berbatu berwarna putih abu-abu, serta goa-goa yang terbentuk dari letusan gunung berapi yang terjadi 20 juta tahun lalu.

Lahar dari gunung berapi Erciyes ke timur dan Hasan ke barat menutupi wilayah tersebut membentuk apa yang sekarang dikenal dengan Cappadocia. Nama Cappadocia sendiri diambil dari bahasa Persia “Katpaktuya”, yang artinya “Land of the Beautiful Horses”.

Sejarah Cappadocia dimulai dengan kedatangan manusia setelah lahar mendingin lebih dari 10 ribu tahun lalu.

Di kota berpanorama indah itulah kami menginap semalam. Dari Istanbul terbang satu jam lima belas menit untuk mencapai Bandara Keyseri di Cappodocia. Tiba Selasa (14/11) siang dan kembali ke Istanbul (15/11) malam. Walau hanya semalam, tapi Bayram guide dari Al Bilad bisa mengatur waktu yang efektif hingga kami bisa menikmati tempat-tempat wisata favorit.

Seperti menikmati sore di taman Goreme. Puncak bukit ini mengcover keindahan alam sekelingnya. Cuaca pun sejuk lima belas derajat celcius. Sore itu, ratusan turis menanti sunset sambil menikmati kopi dan teh di kafe-kafe yang berjejer di sana. Bahkan ada sepasang pengantin baru, Mustafa dan Saidah membuat foto session ketika kami di sana. Satu jam perjalanan darat mencapai tempat ini dari Bandara Keyseri.

Dulu Goreme tempat perlindungan orang-orang Kristen dari serangan orang-orang Arab. Tempat ini kemudian dinamai Goremi yang berarti “Anda tidak bisa melihat tempat ini”.

Kota di Bawah Tanah

Kota bawah tanah Derinkuyu merupakan salah satu tujuan wisata populer untuk menarik ribuan turis setiap harinya. Kota bawah tanah ini ditemukan secara kebetulan dan akhirnya dibuka untuk umum oleh Direktorat Purbakala dan Museum pada tahun 1965.

Diketahui orang Het, orang Romawi, Bizantium dan bahkan orang-orang Proto-Het pernah tinggal di kota bawah tanah itu, yang dianggap sebagai keajaiban kesembilan dunia kuno oleh para pengunjung.

Kota bawah tanah itu empat lantai ke bawah. Lantai satu dan dua kita masih bisa menuruni dengan berdiri normal. Lantai tiga dan empat mencapainya dengan membungkuk, melewati jalan berliku seukuran badan orang dewasa. Kami masuk sampai ke ruang tidur mereka. Tiap ruangan punya pintu batu.

Kota bawah tanah juga memiliki tempat penyimpanan makanan, tak heran jika penduduknya di zaman dulu bisa tinggal satu dua bulan di dalam.

Menginap di Kamar Dalam Goa

Travel Al Bilad yang mengatur trip kami selama di Turki memberi kejutan. Mereka memberi kesempatan menginap di Hotel Museum, letaknya di puncak bukit, namun kamar-kamar tidurnya berada dalam gua. Gua asli yang telah dimodifikasi.

Luas kamarnya sekitar 50 meter persegi. Aslinya kamar ini adalah rumah penduduk yang tinggal dalam gua. Kamar itu dilengkapi dapur, juga dapur asli yang dimodifikasi. Di samping dapur ada dua lubang menganga yang berfungsi sebagai jendela menghadap lembah. Dari dapur itu kita bisa melihat pemandangan lembah dan deretan perkampungan penduduk di bukit seberang.

Hotel Museum yang luasnya lima hektare hanya memiliki 30 kamar. Kontur arealnya berbukit. Ada kolam renang di puncak bukit yang dikeliling taman untuk para tamu hotel bersantai menikmati sunset maupun sinar matahari pagi. Kami check in di hotel itu menjelang Magrib.  Saat menikmati udara segar taman sore itu azan Magrib pun berkumandang.

Untuk sarapan dan makan malamnya restoran menyajikan aneka kuliner Turki.

Cappadocio satu-satunya tempat yang menyediakan wisata balon udara di Turki. Setiap pagi ratusan balon menghias kota ini. Balon udara tak cuma menjadi ikon Cappdocia, tetapi sekaligus ikon pariwisata Turki yang mampu menyedot 25 juta wisatawan setiap tahun.

Menjelang tinggalkan Cappadocia, sebuah pesan masuk di WA. “Tidak ada perasaan takut menginap di gua?” tanya seorang kawan yang membaca status di wall FB kami.

“Tidak ada tuh. Kan kamarnya dipakai salat,” jawab saya.

“Apakah tidak ada penampakan?”

”Tidak ada,” jawab saya lagi.

Untung saja pertanyaan itu diajukan setelah kami menginap. Terus terang, andaikata pertanyaan itu diajukan sebelum menginap, mungkin jadi pikiran juga. Ah, saya kira yang benar: tidak jadi pikiran (maksudnya soal penampakan itu) karena salat juga didirikan dalam kamar itu. (*)

Dikutip dari buku “Jalan-Jalan Ala Ilham Bintang” yang terbit Februari 2018.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

BACA JUGA...