Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDATiga Pilar "Gowes Bareng" Bersama Masyar.....
01/08/2015 | Joe R Manalu

KOPI - Cengkareng - Sabtu pagi (01/08) kegiatan tiga Pilar "Gowes bareng" bersama dengan masyarakat ± 200 yang di hadiri Kapten inf Ober Purba (Danramil 04/Ckr) beserta jajarannya , Kompol Aji Sutarj [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Wilson Lalengke Menggugat Kesaktian Pancasila

Menggugat Kesaktian Pancasila

Hakekatnya, Pancasila dipandang dan diletakkan sebagai suatu idealisme atau sesuatu keadaan ideal bagi sebuah tatanan kemasyarakatan bangsa Indonesia. Ia kemudian diadopsi menjadi sebuah ideologi negara yang secara kontekstual akan menjadi acuan ideologis bagi setiap elemen penyelenggara negara, yakni pemerintah dengan semua perangkat-perangkatnya yang tergabung dalam eksekutif, yudikatif, dan legislatif; dan juga elemen masyarakat seluruhnya. Dalam bahasa lain, Pancasila biasanya disebut sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, yang lebih berkonotasi sebagai pandangan dan pegangan hidup berbangsa dan bernegara. Sampai pada titik ini, hampir tidak ada persoalan yang ditemukan pada Pancasila.

Masalah kemudian muncul ketika kita menganalisa secara mendalam tentang apa itu falsafah dan apakah Pancasila cukup pantas untuk dikategorikan sebagai sebuah falsafah hidup? Secara singkat, falsafah adalah hasil berfilsafat atau berpikir atau kontemplasi. Menurut asal katanya, filsafat berarti mencintai dan pencinta kebijaksanaan (Bahasa Yunani, phílos: teman atau pencinta, dan sophía: kebijaksanaan). Dari pengertian ini kemudian orang memberikan julukan kepada para filosof sebagai “orang bijak”, yang selalu berpikir “bagaimana sebaiknya” sebelum mereka melakukan sesuatu tindakan.

Terdapat empat bidang yang menjadi fokus filsafat. Pertama disebut ilmu etika, yakni bidang ilmu filsafat yang mempelajari tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap dan bertingkah laku. Kedua adalah ilmu metafisika yang mempelajari tentang esensi alam dan segala isinya, termasuk hukum-hukum alam yang ada di dalamnya. Ketiga, epistemologi yang biasa disebut juga teori ilmu pengetahuan. Cabang ilmu filsafat ini berhubungan dengan kebenaran dan keyakinan yang menjadi dasar penerimaan sesuatu yang disebut pengetahuan. Keempat adalah ilmu logika, yang fokus kajiannya menyangkut logis tidaknya sebuah alasan dari sebuah tindakan atau fenomena.

Pendapat para ahli boleh saja berbeda antara ahli yang satu dengan yang lainnya tentang falsafah atau hasil kongkrit dari filsafat yang baik dan sempurna. Namun umumnya dipahami bahwa sebuah falsafah yang ideal semestinya merupakan perpaduan dari keempat sub elemen dari filsafat seperti disebutkan di atas. Sebagai contoh, Deontologi-nya Immanuel Kant (1724-1804) mengajarkan tentang “perbuatlah kepada orang lain apa yang anda inginkan orang lain perbuat terhadap anda” sebagai dasar ia bersikap dan berbuat sesuatu. Ini jelas sebuah ajaran etika dalam filsafat Barat, yang karena esensi alamiah setiap manusia adalah sama derajatnya maka perlakuan terhadap orang lain juga mesti sebanding dengan apa yang kita harapkan dari orang lain perbuat terhadap kita; dan ini adalah alur berpikir yang logis. Kebenaran dari pernyataan itu hampir tidak dapat terbantahkan, dan ketika ajaran itu diyakini oleh seseorang, maka ia kemudian menjadi ilmu pengetahuan.

Kembali kepada Pancasila; sebagai sebuah hasil berpikir mendalam, maka ia dapat dikatakan sebagai falsafah bagi komunitas yang membenarkan dan meyakininya. Namun pada tataran nilai per nilai di dalam Pancasila, perlu dilakukan kajian dan analisis yang lebih dari sekedar pemenuhan selera politis negara untuk mengklaim Pancasila sebagai suatu falsafah. Apalagi untuk mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi tanpa cacat yang harus diadopsi dan diyakini secara buta bagi warga negaranya.

Sebagai contoh, Sila pertama dari Pancasila berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Bicara ketuhanan, langsung atau tidak, pasti akan bersentuhan dengan yang namanya kepercayaan dan agama. Benar ada filsafat agama, namun pada titik kajian tentang eksistensi “Tuhan” dan “kekuasaan-Nya” yang bekerja mengatur alam semesta menjadi sumir dan tidak mendapatkan jalan keluar yang memuaskan secara logika. Akhirnya, pada setiap diskursus agama yang terbentur pada tembok besar “siapa tuhan?”, setiap orang berargumen bahwa ketuhanan sesuai dengan “ajaran agama” yang harus diyakini tanpa perlu bertanya “mengapa?” Contoh lain, Sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Esensi yang dikandung pada sila ini dapat dipahami sebagai suatu idealisme persatuan dan kesatuan semua unsur, manusia, tanah, laut, kekayaan alam, dan segalanya, yang ada di nusantara dari Merauke di Timur hingga ke Sabang di sebelah Barat. Keadaan “satu Indonesia” itu hampir tidak bermakna apa-apa secara filosofis, karena bilapun ada rasa saling menghormati antar sesama suku, antar masyarakat di Indonesia, dan kerjasama di antara mereka, hal tersebut bukan semata-mata dilakukan karena sila ketiga itu.

Berdasarkan pemikiran tersebut, Pancasila sebagai sebuah kesatuan antar sila-silanya pada titik tertentu memiliki kelemahan filsafati untuk disebut sebagai falsafah karena tidak seluruhnya mencerminkan kriteria filsafat secara teoritis maupun praktis. Namun pada sila-sila tertentu, seperti Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tetap mengandung nilai falsafah yang tinggi dan dapat diterima di setiap komunitas manusia di manapun berada. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia juga merupakan unsur falsafah yang perlu dijadikan pedoman berbangsa dan bernegara.

Terlepas dari benar tidaknya, diterima atau ditolaknya argumen di atas, yang paling penting bagi kita adalah memahami secara baik sebuah konsep nilai sebagai ilmu filsafat. Ketika konsep nilai itu tidak memenuhi standar keilmuan, yang salah satunya adalah memenuhi standar logika, maka konsep tersebut kurang tepat dikatakan sebagai falsafah. Ia hanya sebuah konsep keyakinan belaka yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya secara logika, sebagaimana halnya konsep agama dan aliran-aliran kepercayaan.

Kita ibaratkan Pancasila dapat dikategorikan sebagai sebuah falsafah hidup. Dalam kondisi ini, Pancasila semestinya juga dapat menjadi dasar pengembangan teori-teori filsafat selanjutnya sebagai “turunan” dari Pancasila itu sendiri. Sebagai contoh, teori keadilan-nya John Rawls (1921-2002) yang banyak jadi rujukan bagi kebijakan politik di negara-negara maju merupakan elaborasi lebih lanjut dari teori Utilitarianisme-nya Jeremy Bentham (1748-1832 ) dan John Stuart Mill (1806-1873). A theory of Justice (teori keadilan) hasil pemikiran filsuf Amerika, John Rawls, ini kemudian dijadikan landasan berpikir oleh pemikir lainnya untuk memunculkan idealisme “turunan” selanjutnya seperti Global Distributive of Justice (distribusi keadilan global) yang dikemukakan oleh salah satunya Prof. Goran Collste, seorang filsuf berkebangsaan Swedia.

Dalam konteks ini, Utilitarianisme sebagai sebuah falsafah hidup telah berperan aktif dalam mengatur tata nilai sebuah masyarakat, umumnya masyarakat Barat, dan falsafah tersebut dalam perjalanan sejarahnya mengalami pengembangan sesuai kebutuhan jaman dan kemajuan berpikir masyarakatnya. Dengan argumen ini, ingin ditegaskan bahwa bila memang Pancasila adalah sebuah falsafah hidup bagi sebuah bangsa bernama Indonesia, maka seharusnya konsep nilai tersebut dapat dijadikan landasan berpijak bagi menghasilkan “falsafah-falsafah turunan” selanjutnya sesuai dengan keadaan kekinian masyarakat Indonesia. Bila ia tidak mampu menjembatani kebutuhan pengembangan filsafat ke masa depan, maka Pancasila tidak lebih dari sebuah doktrin mati yang tidak bernyawa, yang justru tidak dapat dijadikan pandangan hidup berbangsa dan apalagi bernegara dalam jangka waktu yang lama.

Keberadaan Pancasila sebagai sebuah falsafah hidup mengundang tanda tanya besar ketika 1 Oktober dijadikan sebagai hari Kesaktian Pancasila. Sebagian orang memandang keinginan untuk mempertahankan peninggalan kebijakan orde baru itu justru melemahkan esensi Pancasila sebagai falsafah, penuntun manusia untuk hidup sebagai layaknya manusia beradab. Betapa tidak, bila Kesaktian Pancasila itu lahir atas dasar peristiwa berdarah, yang merupakan lembaran hitam bangsa ini. Logika mana yang dapat membenarkan bahwa Pancasila dianggap sakti ketika militer dan rakyat berhasil “menyelamatkannya” dengan melenyapkan jutaan nyawa manusia Indonesia yang notabene mengakui Pancasila sebagai miliknya juga? Jikapun yang dibunuh itu adalah kaum komunis, adakah Pancasila menuntun bangsa ini untuk menghabisi nyawa mereka?

Bukan hasrat ingin mengecilkan arti gugurnya beberapa jenderal di Lubang Buaya, namun apakah Pancasila mengajarkan untuk membunuhi orang lain (baca: rakyat) sebagai bayaran bagi tujuh jenderal itu? Tidaklah salah jika ada kalangan yang berpandangan bahwa pembunuhan besar-besaran pasca peristiwa 30 September 1965 itu bukan atas arahan atau tuntunan Pancasila, tetapi dilakukan oleh “oknum” pemerintah transisi saat itu. Artinya, Pancasila tidak harus menjadi kambing hitam sebagai “terdakwa” dalam diskursus ini. Jika logika tersebut boleh kita adopsi bersama sebagai sebuah kebenaran, maka sesungguhnya yang sakti itu bukan Pancasila, tetapi “oknum” pemerintah transisi masa itu alias pemerintah orde baru. Jadi seharusnya bukan hari Kesaktian Pancasila, tetapi hari Kesaktian Orde Baru.***

___________
Penulis Wilson Lalengke adalah alumnus program pascasarjana bidang studi Global Ethics (Inggris) dan Applied Ethics (Belanda, Swedia). Sumber awal: KabarIndonesia.Com, 30 September 2007, yang kemudian disadur-ulang oleh uncen.wordpress.com on December 6, 2007.

 

Deputi IV Staf Presiden Hadiri Pelantikan Suroto sebagai Ketua DPW Permata Riau
Minggu, 30 April 2017

KOPI, Pekanbaru- Tatang B . Tama Deputi IV kantor Staff kepresidenan membidani lahirnya Permata (Perkumpulan Masyarakat Transmigrasi ) . Permata relawan pasangan Jokowi- Jusuf Kalla saat Pilpres tahun 2014 kemaren. Ketua Umum DPP Permata Yana Achbarie melantik pengurus DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Propinsi Riau yakni Suroto, ST, MT sebagai ketua DPW Permata Riau, Sekretaris Dalimin. Dalam sambutanya Yana mengatakan “ Program Permata... Baca selengkapnya...

YAPMI Gandeng PPWI Selenggarakan Pemilihan Top Model Junior Indonesia 2017
Sabtu, 29 April 2017

KOPI, JAKARTA - Berdasarkan hasil konsultasi dan pertemuan PPWI Nasional dengan perwakilan dari Yayasan Pembina Model Indonesia (YAPMI), kedua pihak bersepakat untuk saling mendukung dan bekerjasama dalam penyelenggaraan event pemilihan Top Model Junior Indonesia tahun 2017, yang grand finalnya akan diadakan di Jakarta pada September 2017. "Kegiatan audisi pemilihan calon Top Model Junior di daerah-daerah akan berlangsung di bulan Mei s/d... Baca selengkapnya...

Komedi Senyum Lakukan Kunjungan Sosial ke Panti Asuhan Maria Immaculata
Kamis, 27 April 2017

KOPI, Jakarta - Seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi yang masuk dalam kehidupan kita saat ini, termasuk serangan pengaruh budaya barat yang begitu sedemikian dahsyatnya menerpa generasi muda kita, yang dampaknya tidaknya di kota metropolitan saja, namun sudah sampai ke daerah-daerah nusantara pelosok, yang sudah tidak mampu lagi dibendung oleh pemerintah kita yang menyebabkan, perubahan yang sangat mendasar pada tatanan kehidupan... Baca selengkapnya...

Alamak... Cantik Kali, Supir Uber Taksi Filipina
Rabu, 26 April 2017

KOPI, Filipina - Pemerintah kota Pekanbaru kurang kreatif, bila supir Trans Metro atau Bus Way pengemudinya seorang wanita cantik dan seksi , pasti banyak orang menaiki bus Trans Metro khususnya pria dari berbagai latar belakang profesi dan suku.   Bus Trans Metro milik Pemkot (Pemerintah kota Pekanbaru) pengemudinya pria.Pengelola bus Trans Metro tidak kreatif, inovatif mencari gebrakan baru agar masyarakat pergi kekantor menaiki bus... Baca selengkapnya...

Pansus I DPRD Padang Panjang Kulap ke PDAM
Minggu, 23 April 2017

KOPI, PADANG PANJANG - Meskipun pelanggan Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang Panjang 8000 pelanggan, namun PDAM masih tetap mengalami kerugian investasi. Hal ini dikatakan oleh Plt Direktur PDAM Padang Panjang, Jevie C Eka Putra. Menurutnya, kondisi ini terjadi dikarenakan terjadinya kebocoran pipa air yang sudah tidak layak pakai.   "Saat ini kita baru mampu mengganti pipa sepanjang 1,2 km dengan pipa paralon. Karena tahun 1989... Baca selengkapnya...

SDN 18 Sungai Pandahan Rehab Taman Kota
Jumat, 21 April 2017

KOPI, Pasaman - Yulinar, S.Pd kepala SDN 18 Sungai Pandahan Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman bersama majelis guru melaksanakan perehaban taman kota Lubuk Sikaping. Saat media ini turun ke lokasi kepala sekolah menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan atas anjuran dari pemerintah daerah, (20/04). "Pemerintah daerah menghimbau kepada seluruh instansi untuk membuat taman bunga masing-masing di wilayah Kecamatan Lubuk Sikaping," tutur... Baca selengkapnya...

Peringati HUT TMII, Bupati Pasaman Lepas Rombongan Seni Budaya ke Jakarta
Jumat, 21 April 2017

Bupati Yusuf Lubis saat menyalami rombongan menjelang keberangkatan ke Jakarta. KOPI,  Pasaman - Puluhan rombongan seni budaya dari Group Sanggar Pasaman Saiyo dilepas Bupati Pasaman Yusuf Lubis menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis 20 April 2017. Pelapasan rombongan tersebut dalam rangka ulang tahun TMII di Jakarta. “Di samping HUT TMII, pihak panitia juga menggelar pegelaran budaya di Jakarta. Jadi, kesempatan kita dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALMenjijikkan, Ditemukan Kotoran Manusia d.....
30/03/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Lisburn – Di kutip dari The Guardian, ditemukan kotoran manusia dalam kaleng minuman berkarbonasi yakni Coca Cola. Kotoran manusia ditemukan  [ ... ]



NASIONALSudut Pandang PPWI Terhadap Jurnalisme.....
18/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

KOPI, Solok - Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA., yang merupakan lulusan PPRA Lemhannas tahun 20 [ ... ]



EKONOMIMother & Baby Fair 2017 Digelar 2 Kali d.....
27/04/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Menginjak tahun ke-10, untuk pertama kalinya Mother & Baby Fair Jakarta diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Periode pertama digelar  [ ... ]



HANKAMBazar HUT Kostrad ke-56, Obral Sembako M.....
08/03/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam rangka memeriahkan HUT ke-56, Kostrad menyelenggarakan “Bazar Murah Prajurit Kostrad & Insan Media”, Rabu (8/03/2017) berte [ ... ]



PARIWISATAPesona Wisata Sampuran Sorosah Kabupaten.....
24/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

Pesona Wisata Sampuran Sorosah April 24, 2017 KOPI, Pasaman : Satu lagi Destinasi Wisata Air Terjun yang tersembunyi di Alam Pasaman. Air Te [ ... ]



POLITIKKades Pelalawan : "Kami Ucapkan Salam Te.....
14/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Kepala Desa (Kades) merupakan perpanjangan pemerintahan pusat ke daerah. Semasa pemerintah Gubernur Riau (Gubri) yang terdahulu y [ ... ]



OPINIPenelitian Tindakan, Mengapa Begitu Pent.....
11/04/2017 | Nova Indra

Cara yang digunakan untuk mengeksplorasi informasi untuk memperoleh variasi perbaikan alternatif atas dasar aspek praktis; dalam hal ini adalah memp [ ... ]



PROFILBrigadir David Gusmanto Bhabinkamtibmas .....
30/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Taratakbuluh- Brigadir David Gusmanto , Bhabinkamtibmas desa Teratak buluh, Polsek Siak Hulu, kabupaten Kampar, propinsi Riau berdayakan pemuda [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAEksistensi dan Peran RT - RW Harus Diper.....
25/02/2017 | Redaksi KOPI

KOPI, Makassar - Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Pewarta Warga Indonesia - Sulsel, (DPD PPWI Sulsel Ir. Imansyah Rukka mengatakan peran rukun te [ ... ]



ROHANIShalat Pengisi Ruang Hati Dihadapan Alla.....
17/05/2016 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI,Jakarta, Dalam sehari semalam kita diwajibkan untuk shalat sebanyak lima kali. Setelah itu juga dianjurkan memperbanyak shalat-shalat sunat lainn [ ... ]



RESENSIMARS, Film Kisah Perjuangan Meraih Mimpi.....
03/05/2016 | Zohiri Kadir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Bertempat di XXI, Palaza Senayan, Jakara, Senin 92/5/2016) dan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2016 , Multi Buana K [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIRinduku Terkubur di Kampung Lansek.....
21/02/2016 | Nova Indra

siang ini
riak Tabek Kaluai masih sama
saat hatiku bicara tentangmu
tentang cinta, tentang rindu kita

hingga kini
terngiang gelak tawa
dua pecinta ber [ ... ]



CURAHAN HATIWaspadalah… Modus Penipuan Menjual Nam.....
06/04/2017 | Didi Ronaldo
article thumbnail

KOPI, Siak Hulu, Waspadalah Gerombolan begal beraksi wilayah Siak Hulu, kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Kami memantau gerak-gerik gerombolan Begal te [ ... ]



SERBA-SERBIKetua Bhayangkari Riau Milawati Kagum.....
30/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pelalawan – Kagum dengan keindahan batik tulis bono Pelalawan, Ketua Bhayangkari Daerah Riau Ibu Milawati Zulkarnain beserta rombongan  melak [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.