Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Wilson Lalengke

Wilson Lalengke

Kredo Wilson Lalengke: Persekusi

KOPI - Persekusi jadi kata favorit saat ini. Kata tersebut muncul tiba-tiba, menyeruak di belantara pemberitaan di seantero negeri. Kata yang terkesan…
 

Kredo Wilson Lalengke: Katakan Cinta dengan Bunga

KOPI - Bunga-bunga bertebaran di Balai Kota Jakarta hari-hari ini. Bahkan, karena begitu banyaknya rangkaian bunga yang hadir ke pusat pemerintahan ib…
 

Kredo Alternatif Wilson Lalengke – KEMERDEKAAN: Antara Ada dan Tiada

KOPI - Merdeka dan kemerdekaan. Dua kata ini secara berkala akan jadi agenda penghuni telinga kita di bulan Agustus setiap tahun. Sebab utamanya adalah karena ada rutinitas peringatan hari keramat yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni saat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia lebih enam puluh tahun silam, dan sejak itu Indonesia merasa lepas dari penguasaan bangsa lain. Indonesia kemudian berdiri sebagai sebuah negara baru terhitung sejak tanggal 17 Agustus 1945. Persoalan yang kemudian hampir selalu mengemuka disaat momentum itu tiba adalah ketika banyak orang dari bangsa ini mencoba melakukan kontemplasi atau perenungan atas apa itu merdeka dan kemerdekaan. Secara real-nya, pertanyaan ini senantiasa muncul adakah kita benar-benar merdeka? Benarkah kemerdekaan itu menjadi milik bangsa ini sejak masa proklamasi kemerdekaan itu dikumandangkan?

 

Menelaah sebuah kemerdekaan, tentu saja kita sedang berusaha memaknai atau tepatnya mencari makna atas apa yang dinamakan merdeka dan kemerdekaan. Secara harfiah banyak orang memahami kemerdekaan sebagai suatu keadaan bebas dari tekanan dan perintah orang lain. Bagi sebagian orang lagi, kemerdekaan lebih dilihat dari sisi kebebasan berbuat untuk menghidupi diri sendiri tanpa harus diatur oleh sesiapapun. Dalam konstelasi kebangsaan (sekumpulan orang), kemerdekaan dimengerti sebagai kebebasan untuk mengatur kehidupan kebangsaan bangsanya sendiri alias tidak diperintah oleh bangsa lain.

Selanjutnya, ketika suatu bangsa telah memulai mengatur kumpulannya sendiri, dengan membentuk badan-badan atau organisasi yang difungsikan sebagai pengatur atau pemerintah bagi kawanannya sendiri, sekaligus juga menciptakan berbagai aturan yang harus ditaati oleh anggota bangsa itu, maka jadilah bangsa dimaksud sebagai sebuah negara. Matt Rosenberg mengklasifikasi negara bangsa (nation state) sebagai sebuah negara yang terdiri dari satu bangsa saja. Jadi, ketika sebuah negara terdiri dari beberapa bangsa di dalamnya, negara tersebut diistilahkan sebagai “State” (negara) saja, atau negara multi bangsa. Menggunakan teori ini, maka kita dapat beranggapan bahwa Indonesia bukan negara bangsa. Kenyataan inilah yang menyebabkan adanya gerakan-gerakan "memerdekakan bangsa" di berbagai daerah di tanah air.

Kembali ke persoalan makna kemerdekaan tadi. Pengertiannya akan lebih dipahami secara komprehensif hanya dengan mengelaborasinya melalui pembandingan dengan pengertian-pengertian yang dianut oleh orang lain (bangsa lain). Secara umum, masyarakat dunia menterjemahkan kata merdeka menjadi “independent” dan kemerdekaan sebagai “independence”. Dari banyak kamus yang menjadi rujukan, kata independent ini didefinisikan sebagai “self-governing” yang artinya kira-kira memiliki pemerintahan sendiri terlepas dari campur tangan kekuasaan bangsa atau negara lain.

Dari pengertian tersebut di atas, adalah keliru jika kita menanyakan kepada rakyat, terutama rakyat yang sengsara, apakah mereka sudah merasa merdeka atau belum. Kebanyakan rakyat akan menjawab: belum. Terutama karena himpitan persoalan hidupnya yang mengekang kebebasan-nya dari ikatan kemelaratan dan tekanan-tekanan hidup yang parah. Dikatakan keliru, karena sesungguhnya, kemerdekaan itu lebih bersangkut-paut dengan persoalan pemerintahan, yang notabene berada pada rana kenegaraan. Indonesia sudah merdeka berarti negara ini tidak lagi diperintah oleh bangsa atau negara lain. Jadi, kemerdekaan itu tidak secara otomatis berarti bahwa rakyat akan merasa terbebas dari sebuah kungkungan pemerintahan yang tidak diinginkannya. Bagi rakyat, hakekatnya kemerdekaan itu tidak bermakna sama sekali.

Jaman penjajahan dahulu, baik oleh Belanda, Inggris, maupun oleh Jepang, rakyat diperintah oleh sebuah institusi pemerintahan. Sekarang ini, rakyat juga dibawah kendali perintah dari sebuah institusi pemerintahan. Bedanya, dulu oleh bangsa lain yang biasanya kita sebut pemerintahan asing, sekarang oleh bangsanya sendiri. Keadaannya tidak berbeda. dijaman pemerintahan asing sebagian rakyat menikmati hidup dengan baik, sebagian lagi menderita hidup melarat. Jaman pemerintahan sendiri sebagian rakyat bernasib baik menikmati hidup sejahtera, sebagian lagi hidup merana. Kesimpulannya, kemerdekaan hanya punya makna untuk bangsa Indonesia, tapi tidak untuk rakyat Indonesia. Dalam konteks ini, keikutsertaan rakyat dalam setiap perayaan kemerdekaan sesungguhnya adalah sesuatu yang sia-sia, kalau tidak dapat disebut pengelabuian manusia Indonesia oleh teman sebangsanya sendiri. Perayaan kemerdekaan oleh rakyat ibarat kegirangan dipanas terik melihat air di kejauhan padahal itu hanyalah fatamorgana belaka.

Namun demikian, optimisme rakyat terhadap sebuah kemerdekaan yang dimiliki bangsanya sesungguhnya perlu dibangun tidak melalui apa arti merdeka, tapi melalui pemahaman akan apa arti self-governance atau pemerintahan sendiri. Ada dua hal utama yang perlu dimaknai secara benar atas apa yang kita maksudkan dengan pemerintahan sendiri. Pertama, bahwa dengan adanya pemerintahan sendiri dalam suatu negara, itu berarti bahwa bangsa ini harus benar-benar terbebas dari kendali pemerintahan atau kekuatan asing. Independensi negara dari kekuatan negara lain berlaku di segala sisi kehidupan kenegaraan, baik ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan-keamanan, dan lain-lain. Bercermin pada ketentuan “pengertian pemerintahan sendiri” seperti ini, maka dapat dibenarkan jika sebagian orang beranggapan bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah isapan jempol belaka. Indonesia belum merdeka.

Bukti ketidak-merdekaan itu terlalu banyak untuk disebutkan. Kasus PT. Freeport di Papua yang sudah menelan korban jiwa rakyat adalah borok busuk “pemerintahan sendiri” yang dikendalikan oleh asing hingga kini. Berkeliarannya pelaku terorisme, pengedar narkotika, laskar-laskar “preman berjubah”, dan jaringan kejahatan lainnya yang tidak terselesaikan di Indonesia dan tak akan pernah berakhir, adalah bagian dari konspirasi kekuatan asing yang “memerintah” bangsa ini. Tujuan utama pemerintah asing itu adalah agar bangsa Indonesia makin lemah dan dapat didikte sepanjang masa. Belum lagi persoalan koruptor yang kabur membawa jarahan uang rakyat ke negara kecil Singapura yang tidak mampu diselesaikan “pemerintahan sendiri” akibat ketakutan bangsa ini terhadap negeri “cilik” itu. Daftar panjang bukti empiris lainnya masih menunggu untuk disebutkan, tapi hingga berbusa mulut menyebutkan satu per satu seakan tidak ada habis-habisnya.

Hal kedua adalah, bahwa dengan adanya pemerintahan sendiri dalam suatu negara, seharusnya tujuan hidup berbangsa (boleh dibaca bernegara) semestinya dapat terealisasi dengan pasti setahap demi setahap. Bukankah pembentukan pemerintahan sendiri bermakna ingin menggantikan pemerintahan asing yang gagal mewujudkan tujuan hidup berbangsa Indonesia? Bila keadaan hidup rakyat sebagai anggota masyarakat pembentuk bangsa Indonesia tidak berbeda dengan kondisi saat diperintah oleh asing, dus apa arti perjuangan memperoleh kemerdekaan itu? Bukankah usaha itu hanyalah kesia-siaan alias kemubaziran yang oleh rekan-rekan muslim dipercaya sebagai teman-nya setan?

Tujuan hidup berbangsa amat jelas tertuang dalam 5 tujuan pokok bangsa ini merdeka, yakni: melindungi segenap bangsa Indonesia, melindungi seluruh wilayah tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa, dan ikut berpartisipasi menertibkan dunia. Hal-hal ini jelas tercantum dalam aturan dasar kenegaraan Indonesia yang disebut UUD. Tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan itu amat terang-benderang, dan memang itulah yang akan menjadi penanda jika benar negara ini telah merdeka. Negara merdeka yang memiliki pemerintahan sendiri dengan tugas pokok mengarahkan gerak langkah bangsanya menuju tercapainya suatu keadaan dimana segenap bangsa terlindungi, setiap jengkal wilayah tanah air terjaga, rakyat sejahtera, rakyat cerdas-trampil, dan pada level internasional kita punya posisi kuat untuk menjaga ketertiban dunia.

Melihat kenyataan di lapangan, bagaimana kita mampu berkata bahwa negara ini sudah merdeka sekian puluh tahun? Fenomena kesurupan masal di banyak sekolah di berbagai daerah adalah satu indikasi bahwa begitu banyak murid sekolah yang menderita stress oleh situasi dan kondisi bersekolah di tanah airnya yang amat menyengsarakan. Mulai dari pembelian buku beratusan ribu bahkan jutaan rupiah, pakaian seragam sekolah yang mahalnya ampun-ampunan, sampai pada ketidak-mampuan bayar uang sekolah dan menghasilkan banyak tubuh siswa bergelantungan, mati muda sia-sia.

Penjagaan wilayah? Dua-tiga pulau di perbatasan hilang satu demi satu dicaplok oleh negara lain. Pelebaran daratan Singapura menggunakan pasir “halal & haram” dari wilayah perairan Riau secara berkala akan menggeser batas territorial perairan di antara Indonesia dengan Singapura yang pinggiran pantainya semakin jauh ke arah negara kita. Penangkapan ikan oleh kapal-kapal asing, bahkan hingga membakar dan membunuhi pelaut-pelaut tradisonal Indonesia di wilayah perairan nusantara adalah contoh kasus lainnya dari ketidak-mampuan “pemerintahan sendiri” mewujudkan tujuan negara ini merdeka. Apa arti kemerdekaan yang diperoleh di tahun 1945 itu jika kita hanya memiliki pemerintahan sendiri yang lemah syahwat, dan hanya menjalankan peran sebagai pemerintahan boneka bagi pihak asing?

Berbicara tentang pemerintahan sendiri tidak terlepas dari autonomous government (pemerintahan otonom). Yang oleh karena itu, kita mestinya juga melihat hal ini sebagai permasalahan bertingkat. Pada level dunia, Indonesia telah mencoba, walau belum sempurna, membentuk pemerintahan sendiri terlepas dari kekuasaan negara lain, dalam hal ini dari pemerintah kerajaan Belanda. Di tingkat nasional, setiap masyarakat di daerah-daerah menginginkan adanya pemerintahan otonom di wilayahnya. Selanjutnya, di tingkat wilayah propinsi, bertaburan suara masyarakat yang mendambakan pemerintahan otonom bagi daerahnya, semisal pembentukan propinsi baru, kabupaten baru, kecamatan baru, hingga ke pembentukan desa/kelurahan baru. Setiap kelompok masyarakat di mana-mana mengharapkan kemerdekaan bagi komunitas di wilayahnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ternyata kemerdekaan itu sejatinya merupakan kebutuhan hakiki manusia hingga ke kelompok terkecil.

Berdasarkan hal tersebut, jika dirunut hingga ke lingkup yang paling kecil lagi, yakni kemerdekaan setiap individu rakyat, diperlukan sebuah keiklasan untuk memampukan setiap orang melakukan “pemerintahan diri sendiri” atau yang disebut otonomi individu. Pada tingkat ini, kebebasan atau dalam istilah asing disebut freedom, menjadi pandu dalam setiap sikap dan pola laku masing-masing individu rakyat. Freedom sebagai implementasi kemerdekaan bagi setiap orang perlu dihargai, dihormati, dan penerapannya wajib diakomodasi oleh negara merdeka. Setiap orang diberi hak untuk bebas berpendapat, bebas berekspresi, bebas berusaha memperbaiki tingkat ekonominya, bahkan bebas untuk menentukan patron pendidikan yang dikehendakinya. Hanya dengan cara membebaskan rakyat dari keterikatannya dengan berbagai aturan paternalistik yang membelenggu kreativitas dan potensi dirinya, mereka akan tumbuh menjadi individu-individu yang mandiri, pribadi yang merdeka (independent).

Kemandirian masing-masing warga negara yang terbangun dan meningkat pada akhirnya secara kumulatif kebangsaan akan memampukan setiap kelompok masyarakat atau setiap daerah otonom untuk bisa menggerakkan roda kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Hal ini disadari amat sukar bagi sebuah bangsa dengan kharakteristik Indonesia yang lebih banyak kurang menguntungkan antara lain sifat SMS (Senang Melihat-orang Susah, dan Susah Melihat-orang Senang). Sifat ini kemudian melahirkan sifat turunan lainnya, yakni rasa iri, dengki, sombong, sikut-sana sikut-sini, jilat-atas injak-bawah, dan seterusnya. Di jajaran birokrasi pemegang otoritas pemerintahan, muncul sifat tamak, kegemaran melakukan korupsi yang parah, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah, suka merampok harta milik rakyat berupa lahan untuk hidup (hutan, pertambangan, dan lain-lain), dan bahkan doyan membunuhi rakyatnya sendiri.

Banyak ilmuwan mulai percaya bahwa sifat bangsa Indonesia itu merupakan bawaan lahir alias sifat genetik bangsa yang tidak mungkin dihapus dalam pergantian dua-tiga generasi. Perlu beratus tahun untuk melenyapkan sifat “biadab” itu dari diri bangsa ini. Dalam kondisi itu, pada akhirnya kita boleh berpikir realistis bahwa kemerdekaan bagi rakyat Indonesia tidak lebih dari sebuah utopia belaka. Selamat menanti hari kemerdekaan rakyat Indonesia, beratus tahun lagi…***

Artikel ini ditulis pada awal 2008 dan ditayangkan pertama kali di www.kabarindonesia.com, di-republikasi di media ini untuk menjadi referensi publik. Terima kasih - penulis

 

Kredo Alternatif Wilson Lalengke – PARTAI POLITIK MAYA: Mungkinkah?

Artikel ini ditulis pada awal 2008 dan ditayangkan pertama kali di www.kabarindonesia.com, di-republikasi di media ini untuk menjadi referensi publik. Terima kasih - penulis

KOPI - Dunia begerak. Dunia berubah. Dunia berkembang. Dunia meninggalkan zaman lama menuju zaman baru. Dunia masa lalu berbeda dengan masa kini, seperti juga dapat dipastikan bahwa dunia masa depan akan berbeda dengan hari ini. Setiap periode zaman memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Dalam semua hal nyaris tidak ada satupun yang tidak bergerak tidak berubah. Perubahan itu kadang lambat, kadang normal, tidak jarang juga berlari begitu cepat. Manusia selalu berpacu dalam waspada, menyesuaikan diri dengan perubahan dan pergerakan itu. Karena memang begitulah alaminya manusia. Bila tidak, ia akan tergilas dan dimatikan oleh sejarah kebekuan dirinya sendiri.

Hiruk pikuk tanah air Indonesia mengalir dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, bahkan dari menit ke menit. Sejak guliran reformasi yang melahirkan euforia “kemerdekaan” melanda negeri, bertumbuhanlah gerak langkah tegap para kawula bangsa menyusun kelompok-kelompok masing untuk menggapai keinginan yang dulu terkekang oleh tirani Suharto bersama ABRI-nya. Inilah masa keemasan bagi tumbuh kembangnya partai politik (parpol) di tanah Ibu Pertiwi. Pada pemilihan umum (Pemilu) 1999, tidak kurang dari 48 parpol yang meramaikan bursa pencalonan wakil-wakilnya untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pada pemilu lima tahun berikutnya, tercatat tinggal 24 perwakilan partai politik yang diloloskan untuk bertarung di Pemilu 2004. Beberapa parpol harus tumbang karena tidak memperoleh jumlah suara “standar” yang dipersyaratkan untuk bisa bertarung lagi di pemilu berikutnya, 2009. Untuk menggantikannya, kita lihat kemunculan parpol baru pada beberapa waktu terakhir. Sebut saja Partai Hanura pimpinan Wiranto dan Partai Pepernas yang disinyalir beraliran kiri oleh sebagian orang, sekedar sebagai contoh.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada satu-dua partai politik nasional yang terlihat konsisten terhadap pembangunan bangsa, namun alangkah meruginya kita ketika melihat janji memajukan bangsa yang ditebar oleh para pemimpin partai dimasa kampanye ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan bagi perbaikan negeri ini. Kerugian itu akan berusia panjang jika rakyat tetap membiarkan diri terlena dalam ketololan “dikencingi” oleh para wakilnya yang hanya sibuk dengan kegiatan per-selir-an, wisata dewan, komputer jinjing, dan sebagainya. Mungkin persoalan kesengsaraan di Papua terlalu jauh dari Senayan, tempat berkantornya para wakil rakyat, namun lihatlah korban lumpur Lapindo-pun yang datang mengemis di depan tangga masuk rumah Dewan, tiada juga kunjung diselesaikan. Jumlah penduduk miskin makin bertambah, daya negosiasi masyarakat terhadap akses pendidikan dan kesehatan makin rendah, hingga kepada keselamatan nyawa tiap orang terancam setiap saat oleh berbagai bencana, kecelakaan angkutan, kriminalitas, dan bahkan pembunuhan menggunakan bedil negara oleh aparat negara (TNI/Polri). Daftar contoh realitas akan menggunung melampaui Mahameru jika kita kumpulkan dan sebutkan satu persatu.

Disadari atau tidak, disukai atau tidak, manusia akan selalu mengikuti naluriah alaminya. Ketika laku berbeda dengan kata, maka kepercayaan lambat laun akan lenyap ditelan bumi. Ketika hari kemarin rakyat terjatuh ke pelukan anggota dewan yang korup, pembohong, dan hanya memikirkan periuk nasi keluarga dan kelompoknya sendiri, tentunya ia akan berpikir berkali-kali untuk tidak terjatuh pada kesulitan yang sama pada Pemilu berikutnya. Meski dia sadar bahwa berpindah kelain hati belum tentu akan membebaskan DPR baru dari kasus penyelewengan dana non bujeter DKP, atau dana kementrian lainnya, namun yang pasti perubahan pikiran dan pilihan akan terjadi. Ibarat pepatah mengatakan, sebodoh-bodohnya keledai dia tidak akan terjatuh ke lubang yang sama. Jika senyatanya, bangsa Indonesia harus terus-menerus jatuh hati pada pemimpin dan anggota perwakilan yang korupsi dan korupsi dan korupsi disetiap periode, kita jadi ragu, mungkinkah dibutuhkan suntikan gen keledai untuk "imunisasi" di setiap tubuh warga negara Indonesia?

Hadirnya Gubernur Aceh yang baru, Irwandi Yusuf, yang merupakan pemimpin usungan non-partai dan wacana pengusulan calon gubernur DKI Jakarta dari wakil independen merupakan fenomena menarik penanda adanya perubahan paradigma kehidupan perpolitikan di tanah air. Kemunculan Irwandi yang memupuskan harapan kandidat lain dukungan parpol adalah sukses besar dari gerak perubahan itu. Sebaliknya, ribut-ribut calon independen di Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini adalah tipe politik petak umpet ala Abunawas. Wacana calon independen itu baru bergema kuat pada penghujung waktu menjelang pendaftaran kandidat. Sebenarnya para calon, terutama yang memiliki nama besar, sejak awal berharap banyak pada kebaikan hati para parpol. Namun, menjelang hari-hari akhir disadari tiada satu sampan-pun yang bisa ditumpangi untuk menyebrang; maka secara terburu-buru mereka membuat “rakit” calon independen menuju Pilkada dengan mengerahkan massa berdemonstrasi. Kasian rakyat yang kemudian hanya jadi kuda tunggangan politisi Abunawas.

Banyak pengamat mengartikan fenomena calon independen itu sebagai indikasi turunnya kepercayaan masyarakat kepada keberadaan partai politik. Bahkan lebih jauh sudah mulai terdengar ada juga rakyat yang menginginkan negara tanpa parpol. Ini hal yang logis. Karena kegunaan parpol bagi mereka seakan tidak lebih sebagai agen penglaris-manis uang rakyat saja, alias dana negara habis namun kepentingan rakyat diabaikan. Dalam cuaca demokrasi seperti sekarang, banyak aspirasi dan kehendak rakyat yang ternyata tidak terakomodasi oleh wadah-wadah partai politik yang ada. Saluran politik rakyat akhirnya harus kandas akibat kebuntuan itu. Jika sebagian lagi mencoba tetap bertahan pada koridor aturan yang ada, bersuara lewat parpol, hal ini lebih disebabkan oleh ketiadaan pilihan lain. Kepatuhan itu akan lebih besar, penuh keterpaksaan ketika negara melalui Mahkama Konstitusi sudah mengeluarkan fatwa bahwa semua harus berjalan sesuai undang-undang Pilkada dan aturan lain yang ada, betapapun UU itu bertentangan dengan isi hati sang rakyat. Masyarakat Jakarta yang sangat menggantungkan nasibnya dari kondisi kota yang stabil dan aman tentunya tidak ingin mengambil resiko untuk memberontak hanya demi menggolkan aspirasinya. Toh, calon independen “Abunawas” itu nanti belum tentu akan memperhatikan nasib mereka.

Di satu sisi, mungkin sebuah pilihan yang pintar jika rakyat Indonesia bersikap diam saja, seperti para bijak mengatakan “silent is gold”, diam adalah emas atas semua perkara kebangsaan dan kenegaraan. Sebaliknya, jika bukan rakyat ini yang berbuat, lalu kita menunggu siapa lagi yang akan datang merubah nasib negeri yang sudah semakin tenggelam akibat ulah para pemimpin dan politisi negara? Sudah jamak dimana-mana negara bahwa pendorong perubahan kearah perbaikan bangsa dan negara adalah rakyat negara itu sendiri. Oleh sebab itu, rakyat pada hakekatnya memiliki tanggung jawab berpartisipasi aktif dalam menggerakkan roda perjalanan bangsanya. Segala hal yang dipandang tidak mendukung perbaikan, unsur-unsur penyebab kemandegan pembangunan bangsa, dan apalagi terhadap berbagai faktor pembawa kemunduran, perlu dipangkas habis.

Berkaitan dengan kewajiban penyaluran aspirasi rakyat yang harus melalui partai politik sesuai dengan berbagai perundangan terkait, maka perlu suatu pemikiran mendalam dan meluas bagi pembentukan partai politik alternatif. Organisasi partai yang dipandang bisa memberikan warna baru bagi pengembangan demokrasi dan penyaluran aspirasi rakyat secara efisien dan efektif. Langkah ini juga dapat dipandang sebagai pengejawantahan keinginan untuk menyuarakan kehendak setiap warga negara secara mandiri, independen, dan bertanggung jawab. Partai politik model ini dapat disebut sebagai Partai Politik Maya atau Parpol Maya. Parpol yang menjalankan aktivitas keorganisasiannya berbasis utama pada internet dan varian media pendukungnya.

Pemikiran aneh ini tentu saja akan mengundang pertanyaan: mungkinkah hal ini dilakukan? Jawabannya: bisa "ya, sangat mungkin"; dan bisa juga "tidak, hal itu mustahil dilakukan di ranah perpolitikan." Bagi mereka yang skeptis dengan ide ini, tentu tidak ada argumen lanjutan kecuali diam saja, dan tetap bersandar pada keadaan sistem kepartaian “normal” yang sudah ada. Sebaliknya, bagi mereka yang melihat hal ini sebagai salah satu jalan keluar yang memiliki peluang sukses, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana mengaktualisasikannya dalam konteks ketata-negaraan suatu negara seperti di Indonesia.

Sungguh bukan maksud tulisan ini akan menjelaskan secara detil apa dan bagaimana mengimplementasikan idealisme partai maya dimaksud. Hal tersebut akan lebih tepat menjadi pembicaraan, wacana, dan kajian bersama rakyat pada tataran praktis, seperti oleh para praktisi politik, praktisi hukum tata negara, praktisi teknologi informasi, dan lain sebagainya. Namun yang jelas, negara-negara di dunia sering berhadapan dengan eksisnya partai bawah tanah yang muncul sebagai wadah penyaluran kehendak sebagian masyarakatnya. Walau pada umumnya partai jenis ini dianggap destruktif, tapi ini sangat tergantung dari sudut pandang mana dan sudut penilaian siapa kita melihatnya. Nyata sekali bahwa pada level tertentu, partai bawah tanah, partai gerilya, partai bayangan, dan berbagai nama lain sejenisnya telah menjadi bagian sejarah peradaban manusia. Dengan dasar pemikiran dan analogi ini, maka kemungkinan partai maya sangat mungkin direalisasikan.

Sungguh juga bukan merupakan tujuan tulisan ini untuk memberikan peluang bagi sebuah penciptaan kelompok atau partai alternatif yang bersifat illegal yang hanya akan menjadi perongrong kewibawaan negara dan mungkin justu menjadi biang kerok masalah bangsa dikemudian hari. Oleh karenanya, usaha menemukan formula yang baik, benar, dan beradab sesuai dengan norma-norma yang berlaku di suatu negara perlu menjadi kajian bersama. Bila kita berkaca pada fenomena perkembangan di bidang lain, seperti media massa online, transaksi bisnis di internet, pasar-pasar dunia maya, bahkan sampai kepada pemenuhan kebutuhan pendidikan melalui pola “kampus maya”, maka tentu saja penerapan sistem kepartaian mayapun adalah sebuah keniscayaan. Benar bahwa sistem, formula, dan bentuknya pasti akan berbeda dengan bidang-bidang yang telah disebutkan tadi. Efektifitas kepartaian maya akan sangat ditentukan oleh seberapa serius dan akurat kita mengeksplorasi dan mendalami sistem yang tepat, dan kemudian mengkonstruksinya dengan benar pula.

Mungkin hari ini, pemikiran edan ini hanya terbaca dan dicampakkan oleh kita semua, namun tetap saja ada keyakinan bahwa suatu saat nanti, entah kapan, partai politik maya akan merajai kehidupan kenegaraan di bumi ini. Bila Indonesia bisa menangkap idenya, ia akan bikin sejarah besar bagi dunia, yang hanya ribut dengan nuklir, perang, dan penaklukan.***

 

Catatan Saya tentang Jusuf Randy, Hendak Dibunuh Gara-gara Nasi Bungkus!

KOPI - “Apa tujuan Abah sehingga kita perlu wawancara Pak Muladi?” tanya seseorang kepada lawan bicara yang dipanggilnya sebagai ayahnya pada suatu ha…
 

Menggugat Kesaktian Pancasila

KOPI - Daya tarik perbincangan tentang Pancasila bagi sebagian besar kalangan, terutama kaum intelektual, masih cukup besar. Walau pada dekade terakhir, Pancasila seakan kehilangan “trah”-nya, namun ia masih melekat kuat sebagai sesuatu yang bernilai untuk ditinggalkan begitu saja. Bahkan, bagi kita yang masih memiliki nasionalisme Indonesia yang kuat, mempertahankan Pancasila sebagai bagian dari eksistensi negara adalah harga mati. Penetapan dan peringatan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila adalah salah satu penanda bagi “lestari”-nya Pancasila di hati bangsa Indonesia. Namun, adalah hal yang wajar bila terbesit sebuah pertanyaan, benarkah Pancasila itu sakti? Apakah standar penetapan Pancasila sebagai sesuatu yang sakti dapat diterima secara nalar keilmuan dan moralitas? Perlukah kesaktian bagi sebuah ideologi seperti Pancasila? Dan seterusnya, dan lain sebagainya.

Baca selengkapnya...

 
Artikel Lainnya...

Keluarga Lintas Atjeh Buka Bareng "Bu Lam Oen"
Jumat, 23 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Loyalitas, Solidaritas, Soliditas Dan Jiwa Korsa terus dipupuk oleh keluarga besar Lintas Atjeh, moment kebersamaan dalam meningkatkan tali silaturahmi dengan Bukber. Ada hal menakjubkan yang dilakukan keluarga Lintas Atjeh bersama anggota PPWI Aceh Selatan pada saat berbuka puasa di rumah Rahmatillah di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (22/06/2017), yang menyajikan menu buka puasa... Baca selengkapnya...

PPWI Media Grup Aceh Selatan Bagi Takjil Gratis Kepada Pengguna Jalan
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Bulan Suci Ramadhan adalah penuh berkah, semua orang, organisasi atau komunitas berlomba - lomba memanfaatkan untuk berbuat kebajikan, tak terkecuali Komunitas Persatuan, Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DPC Aceh Selatan. Setelah sebelumnya media Lintas Atjeh dan PPWI Aceh Selatan melaksanakan buka puasa bersama dan menyantuni anak yatim piatu di Desa Lhok Ruekam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kali ini kembali... Baca selengkapnya...

Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa, Media Lintas Atjeh Santuni Dhuafa
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Dalam bulan puasa ini mari kita sucikan hati bersihkan jiwa, saling peduli dan mengasihi, masih banyak saudara kita yang butuh perhatian dan kasih sayang, terlebih kepada kaum dhuafa dan yatim piatu. Hal tersebut disampaikan oleh Pimred Lintas Aceh Ari Muzakki pada saat mengunjungi kediaman kaum dhuafa dan anak yatim piatu bersama rombongan dalam rangka buka puasa bersama dan menyantuni yatim piatu di Gampong Lhok Reukam,... Baca selengkapnya...

Cek Endra Beri Santunan Masyarakat Di Pasantren Miftahul Jannah
Selasa, 20 Juni 2017

  KOPI Sarolangun, Memberi santunan pada Anak yatim, orang tua Jompo serta masyarakat telah menjadi kebiasaan dimata publik dan semakin  melekat pada sosok Cek Endra yang kini juga menjabat sebagai Bupati Sarolangun. Pasalnya, Kegiatan Santunan tersebut kerab dilakukan Cek endra bukan hanya saat Bulan Ramadhan, akan tetapi telah menjadi kebiasaan, sebab berbagi dan bersodakoh adalah merupakan Amal yang Pahalanya terus mengalir. Kegiatan itu... Baca selengkapnya...

Presiden Joko Widodo Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Istana
Selasa, 20 Juni 2017

KOPI, Jakarta - Buka puasa dilaksanakan secara lesehan di Istana Negara, Senen (12/6-17). Presiden mengundang anak yatim piatu dan penyandang disabilitas berbuka bersama di istana. Sebelum berbuka di awali pembacaan pemenang lomba Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat anak-anak digelar tadi pagi (red. Senen). Acara dilanjutkan dengan mendengarkan kultum dan buka puasa bersama. Presiden Jokowi beserta anak yatim menunaikan Shalat Maghrib... Baca selengkapnya...

Kordias Resmi Jabat Wakil Ketua DPRD Riau Sisa Masa Jabatan 2014-2019
Selasa, 20 Juni 2017

KOPI, Pekanbaru - Rapat paripurna DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dipimpin oleh Ketua DPRD Riau Septina Primawati didampingi Wakil Ketua Sunaryo dan Noviwaldy Jusman bertempat di ruang paripurna gedung DPRD Riau ,Kamis (15/6-17 ) Ketua DPRD Riau Hj. Septina Primawati mengungkapkan, pelantikan dilakukan sesuai dengan SK Mendagri nomor 161.14-3247 Tahun 2017, perihal pemberhentian dengan hormat wakil ketua DPRD Riau atas nama Manahara... Baca selengkapnya...

Ketum PPWI Hadiri Undangan Buka Puasa Bersama di Kediaman Dubes Maroko
Minggu, 18 Juni 2017

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke, yang adalah juga Ketua Persaudaraan Indonesia-Sahara-Maroko (Persisma), berkesempatan menghadiri undangan Iftar (berbuka puasa) bersama di Kediaman Resmi Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, H.E. Mr. Oubadia Benadbellah, Kamis, 15 Juni 2017. Acara yang dimulai sejak pukul 17.30 Wib itu diawali dengan temu-ramah dengan Bapak Dubes Maroko, sekaligus sebagai ajang perkenalan karena beliau... Baca selengkapnya...

NASIONALDPD RI Cek Kesiapan Final Pelabuhan Tanj.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Tanjung Priuk - Wakil Ketua DPDRI Nono Sampono sambangi pelabuhan tanjung priuk dan terminal Pulogebang mengecek info kesiapan moda transportasi [ ... ]



DAERAHHari Raya Idul Fitri 1438 H, Yonif 115/M.....
24/06/2017 | Haes Hajuna

KOPI, ACEH SELATAN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, Yonif 115/ML beserta kompi-kompi jajaran Yonif 115/ML menyerahkan zakat fitra [ ... ]



PENDIDIKANObrolan Santai dengan Kepsek SMK I Sei K.....
19/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pelalawan - Pak Kepsek (Kepala Sekolah) saya dengar dulu Sekolah ini milik yayasan alias swasta, kini sudah negeri bagaimana ceritanya. Betul ,  [ ... ]



EKONOMIHari ke-14, Pengunjung Jakarta Fair Menc.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Malam muda-mudi yang diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota DKI Jakarta yang ke-490, berhasil digelar dengan meriah di  [ ... ]



HANKAMBeri Penyuhan Hukum, Yonif PR 502 Kostra.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Kalimantan Barat - Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI – Malaysia Yonif Para Raider 502 Kostrad yang dipimpin oleh Letkol In [ ... ]



OLAHRAGAIni Dia Para Pemenang Wrangler True Wand.....
21/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Sebuah petualangan besar tahun ini “Wrangler True Wanderer 2017” baru saja menemukan pemenangnya. Mereka telah menunjukan bahwa m [ ... ]



PARIWISATAJakarta Fair Kemayoran Tetap Buka di Har.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

  KOPI, Jakarta - Penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2017 kini telah memasuki hari ke-15. Sebanyak 2.700 perusahaan yang tergabung dalam 1 [ ... ]



HUKUM & KRIMINALWaspada !!.. Menaiki Roller Coaster, Men.....
24/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Pusat perbelanjaan Trans Mart  barusan diresmikan oleh pemiliknya Chairul Tanjung sebulan yang lalu telah memakan korban seorang  [ ... ]



OPINIPeran dan Komitmen Pemerintah dalam Upa.....
21/06/2017 | Harjoni Desky

Jaminan Kesehatan Nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan JKN, hadir dalam rangka memenuhi hak masyarakat dalam bidang kesehatan. Pemenuhan ha [ ... ]



PROFILObrolan Santai dengan Camat Sentajo Agus.....
11/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Kuantan Singingi - Obrolan santai dengan Camat Sentajo Raya Agus Iswanto, SSTP dengan wartawan Pewarta- Indonesia di ruangan kerjanya, hari Jum [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAYoesi Ariyani Lestarikan Tari Klasik Jaw.....
28/05/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam era globalisasi sekarang ini, nilai-nilai tradisi sudah mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat modern karena dianggap tidak s [ ... ]



ROHANIAl Quran dalam Seni Batik.....
13/06/2017 | Muladi Wibowo
article thumbnail

  KOPI -  Mengisi bulan dengan beragam amalan merupakan hal yang biasa dilakukan oleh kaum muslim dimana saja, hal yang berbeda terjadi di kawasa [ ... ]



RESENSIFilm Jailangkung: Dari Permainan, Beruba.....
15/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - PERMAINAN boneka jailangkung masih adakah yang memainkannya? Ada dan banyak. Ritual pemanggilan arwah sangat lumrah dilakukan. Apalagi [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATISeptember Nanti Tembilahan Tuan Rumah Wo.....
06/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru - Indragiri Hilir (Inhil) merupakan daerah penghasil Kopra terbesar di Asia, 432 ribu Hektare kebun Kelapa milik rakyat maupun milik  [ ... ]



SERBA-SERBIMalam Muda Mudi Meriahkan Perayaan HUT J.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Malam muda-mudi yang diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota DKI Jakarta yang ke-490, digelar dengan meriah. Pada dasarn [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.