Menjejaki Keterpurukan, Menginspirasi Grade Pemimpin Bangsa, Demi Songsong Indonesiaku Jaya (42/S)
KOPI - Perkembangan Indonesia yang setiap tahunnya mengalami perubahan. Baik mulai dari perubahan yang menguntungkan negara sendiri ataupun yang merugikan negara sendiri. Tak semuanya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah (Presiden) membawa ke perubahan lebih baik. Wajah bangsa penuh konflik di mana-mana. Menghantarkan Indonesia dalam keterpurukan. Sungguh, Indonesia membutuhkan bukti bukan hanya sebuah kebijakan saja!
Pertama. Untuk tahun lalu bangsa kita begitu terpuruk, banyaknya kasus korupsi yang menjadikan Indonesia buruk di mata negara lain. Jika pada masa mendatang kebijakan Presiden tak diubah, Indonesia akan tertinggal dengan negara-negara lainnya. Indonesia butuh sosok presiden yang benar-benar bisa menjadikan bangsanya bisa bersaing dengan negara lain, bisa mengungguli negara lain.
Kedua. Di sisi lain, kesehatan di Indonesia belum disejahterakan. Buktinya masih banyak penduduk yang sakit-sakitan, penyebaran air bersih yang tidak merata, gizi buruk,. Pengurusan kesehatan untuk warga miskin yang makin dipersulit, kebersihan lingkungan yang tak terjaga, banyaknya penggunaan bahan-bahan kimia yang tak baik untuk tubuh, dan masih banyak lagi hal yang menyangkut kesehatan warganya.
Jika semua warganya sadar akan hal itu Indonesia akan terlihat lebih bersih dan banjir dapat teratasi. Jika ada uang maka pelayanan baru akan diberikan. Itulah Indonesia, dalam hal kesehatan pun masih dipersulit. Banyak yang menderita dari penyebaran air bersih yang tidak merata, seperti diare dan gatal-gatal. Pengurusan kesehatan untuk warga miskin yang menurut kebijakan Presiden tidak dipungut biaya sepeser pun, hanya menggunakan kartu ASKES saja ternyata pada realitanya masih dipungut biaya.
Mereka pada dasarnya memiliki presiden namun mereka merasa mereka tidak memiliki presiden. Presiden kita sekarang terlalu banyak mengeluarkan kebijakan namun tak ada yang bisa memperbaiki keadaan bangsanya. Semua seolah sia-sia. Presiden masa depan, tidak seharusnya seperti kasus di atas. Presiden masa depan adalah presiden tangguh membina pola hidup masyarakat, mengayomi dan menjamin kesehatan masyarakat, dan harus berani come back to hidup dalam kealamiaan dan peduli lingkungan.
Ketiga. Pendidikan di Indonesia masih begitu rendah. Wajib belajar yang diterapkan selama 9 tahun ternyata tidak membuahkan hasil. Masih banyak penduduk yang buta huruf, tingginya angka anak yang putus sekolah, tak banyak anak yang bisa lulus sampai kelas 9, mungkin hanya sampai kelas 8.
Bagaimana Indonesia akan cerdas jika pengelolaan pendidikan seperti ini. Dana APBN untuk pendidikan sebesar 20 %, dana itu dianggap kurang mencukupi. Mungkin presiden bisa menetapkan wajib belajar 12 tahun, walaupun pemerintah sudah memprogramkan sekolah gratis, tapi kenyataannya masih saja ada pungutan biaya yang diminta. Setiap program yang diberikan, dalam kebijaknnya dikatakan “gratis” namun setelah diterapkan menjadi ada “pungutan”. Indonesia selalu memikirkan keuntungan yang harus diperoleh, kesejahteraan masyarakatnya masih kurang diperhatikan. Sementara, minimnya pengajar untuk daerah pelosok juga merupakan penyebab rendahnya pendidikan Indonesia.
Presiden, pemimpin bangsa, masa depan harusnya punya grade tinggi dan berkompetensi mapan terkait dengan perpektif pendidikan Indonesia ke depan. Tidak membiarkan program pendidikan hanya menguap pada janji dan bualan. Menempatkan setiap personal kenegaraan sesuai bidang dan keahlian. Janganlah para intertaimen justeru ditempatkan pada porsi pendidikan. Akankah semua anak didik ini diorbitkan jadi pemain laga intertainer saja? Akankah anak didik selalu dibawa dalam dunia sinetron yang penuh sandiwara, angan-angan, serta jauh dari realita?
Keempat. Di samping itu, politik Indonesia masih jauh dari harapan. Pemerintah belum bisa mengalokasikan dana APBN, masih banyak pinjam dari negara lain, sehingga hutang di mana-mana menumpuk. Banyak negara yang mengakui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan SDA-nya. Akan tetapi karena minimnya IPTEK SDM mereka tidak bisa mengelola SDA. Yang ada SDA itu dikuasai oleh investor asing, lambat laun SDA Indonesia akan habis diserap oleh penjarahan alam.
Presiden yang berkualitas hendaknya membaca dengan cerdas semua potensi yang ada di alam raya Indonesia. Cerdaskan anak-anak bangsa. Kerahkan mereka untuk mengolah kekayaan negeri ini. Jangan jadikan rakyat ini buruh di negeri sendiri, bahkan buruh di negeri asing. Karena semua sistem pengeloaan SDA sudah dibeli dan dikuasai orang asing.
Kelima. Ekonomi di Indonesia masih banyak yang perlu dibenahi lagi. Jika pemerintah dan masyarakat mudah diajak bekerja sama untuk memajukan perekonomian Indonesia mungkin Indonesia akan bisa membaik. Dan juga pemerintahnya bisa menerima aspirasi rakyatnya tidak mengandalkan kebijakannya sendiri. Seperti berita yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. “pemerintah akan memberlakukan penarikan pajak kepada warteg sebesar 10%”.
Secara spontan para pengusaha warteg ini menolak kebijakan yang diberlakukan itu. Apa presiden dan para jajarannya tidak melihat akibat yang ditimbulkan. Para pengusaha akan mendapatkan upah darimana lagi jika harga makanannya dinaikkan, para pelanggan mereka akan pergi begitu saja.
Presiden masa depan harusnya tidak picik seperti itu, Pemberlakuan pajak harusnya berbasis toleransi dan penuh kebajikan. Mengapa pengelolaan pajak tidak dikiblatkan saja pada pola pengelolaan zakat harta? Ini akan lebih adil dan memakmurkan.
Keenam. Sekali lagi, Politik Indonesia pun masih banyak yang harus diperbaiki. Para pejabat sekarang banyak yang melakukan kasus korupsi, kasus suap menyuap, dan berbagai kasus lainnya. Kalau pemerintahannya bisa berpikir dua kali mengapa mereka harus melakukan korupsi? Tak ada untungnya juga untuk mereka. Yang ada hanya akan menimbulkan banyak kerugian di berbagai pihak.
Nama baik negara pun ikut tercemar. Jika seperti ini terus yang dilakukan oleh pemerintah tak akan Indonesia bisa maju, tak akan bisa menata negaranya menjadi lebih baik. Bisa dilihat jika para pejabat di negara ini melakukan tindak kejahatan pasti mereka akan mendapatkan keringanan, hukum di Indonesia pun masih pandang status, penegakan keadilan hukum belum bisa diterapkan di Indonesia.
Berita yang teraktual adalah perenovasian ruang kinerja DPR yang akan menghabiskan 5 milyar dan produk-produk itu akan diganti dengan produk dalam negeri. Jika bahan baku saja mereka harus megimport sama saja itu bukan hasil barang dalam negeri. Para penguasa negara dengan seenaknya mengeluarkan dana yang tidak penting, ruangan yang masih bisa dipakai mengapa harus direnovasi? Di mana orientasi kesejahteraan rakyat? Presiden masa depan, harus lebih berorintasi pada kesejahteraan rakyat.
Ketujuh. Yang tidak kalah menghebohkan, masih banyak orang yang tinggal di lingkungan kumuh. Rumah susun tak mengatasi masalah itu. Yang ada rumah susun menjadikan pemandangan tak sedap. Karena bangunan yang menjulang tinggi itu, tampak kumuh dan kotor.
Presiden masa depan seharusnya bisa memberi kesejahteraan pada rakyatnya. Mereka mampu merenovasi ruang kerja DPR, tapi mengapa membangunkan tempat tinggal yang layak untuk rakyat, tidak bisa? Mau jadi apa bangsa ini?
Kedelapan. Indonesia masih saja mudah dibodohi oleh negara lain. Sudah 66 tahun merdeka tapi tetap saja ada penjajahan. Walau tidak dengan menggunakan kekerasan/senjata. Tapi negara kita dikelabuhi dengan IPTEK yang semakin maju. Indonesia memliki banyak sumber kekayaan alam, orang luar ingin ke Indonesia namun mengapa orang dalam negeri ingin ke luar negeri? Orang luar saja mengakui keindahan Indonesia, mengapa warga negaranya sendiri tak bisa menghargainya. Justeru yang mempromosikan keindahan alam Indonesia orang luar, betapa malunya kita. Kita bisa dibilang sebagai negara tertinggal.
Presiden masa depan seharusnya bisa menjadikan menteri pariwisata lebih meningkatkan kinerja, agar mereka mempromosikan keindahan alam Indonesia. Dan orang Indonesia akan menyesal jika mereka harus menghabiskan uang puluhan juta untuk pergi ke luar negeri. Menteri itu seharusnya lebih digembleng, tidak lambat dalam bertindak. Jika ada kekayaan biota laut rusak para menteri, akan angkat bicara. Mengapa semua harus ditindaklanjuti setelah tejadi?
Kesembilan. Untuk dunia entertaiment, banyak film yang diproduksikan sekarang tak layak tonton, tak ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Mental anak sekarang sudah rusak karena pengaruh dari tontonan yang mereka lihat. Apalagi untuk anak di bawah umur begitu cepat menangkap tontonan itu. Untuk FTV, cerita yang diangkat di FTV hanya tentang cinta saja. Tak pernah mengangkat wajah Indonesia, sosok yang patut diteladani. Itulah yang menyebabkan moral anak sekarang rusak, ditambah kurang adanya pengawasan orang tua.
Jika perfilman Indonesia mengangkat tema yang berbobot masyarakatnya akan menilai itu sebagai hal yang positif. Bisa memberikan pesan moral kepada para penonton. Masyarakat bisa berfikir menjadi lebih dewasa, tidak hanya cinta yang mereka pikirkan.
Indonesia butuh sosok presiden yang amanah, jujur, adil, tegas, tidak hanya janji yang diucapnya, professional dalam bekerja, bisa mempertimbangankan akibat dari kebijaknnya, bijaksana.
Kesepuluh. Mental keluarga pengemis. Pengemis di Indonesia bisa dikatakan melebihi rata-rata. Banyak orang terlantar yang hanya duduk di pinggiran jalan dengan tangan meminta-minta. Padahal, mereka bisa bekerja walaupun hanya dengan menjadi seorang pembantu, namun pekerjaan itu halal. Hanya saja para pengemis itu malas untuk mencari pekerjaan.
Mereka mengemis dengan membawa anak bayi agar orang yang melihat menjadi iba. Padahal, pendapatan mereka lebih banyak. Orang tua para pengemis tak memikirkan pendidikan anak mereka. Hampir anak yang seharusnya bersekolah menjadi buta huruf. Bagaimana bangsa ini akan bangkit? Sementara orang tak pernah memikirkan pendidikan sang anak.
Seorang presiden sejati semestinya bisa mengatasi masalah itu. Di luar negeri orang yang meminta-minta justru akan mendapatkan jaminan pekerjaan (modal) dari pemerintah. Sudah tidak dilihat lagi para peminta-peminta jalanan. Kota mereka bersih dari “sampah masyarakat”. Namun di Indonesia masalah seperti ini masih diabaikan.
Kesebelas. Kasus bayi dibuang atau dijual. Hal seperti inilah yang masih menjadi wajah Indonesia. Banyak bayi yang dibuang/dijual. Apa ibu bayi itu tidak berfikir, melahirkan tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Mereka harus berjuang antara hidup dan mati. Namun ironisnya, setelah anak mereka lahir, mereka membuangnya begitu saja, bahkan menjualnya hanya demi mendapatkan kekayaan duniawai semata.
Presiden passing grade tinggi seharusnya bisa memberikan kebijakan tegas mengenai tindakan pembuangan/penjualan bayi. Jika kita lirik negara tetangga, mungkin maslah seperti ini tidak mewabah seperti di Indonesia. Memang negara Indonesia memiliki pertumbuhan penduduk di atas rata-rata. Namun, membuang/menjual bayi itu bukan cara yang benar untuk mengurangi kepadatan penduduk. Tak heran jika nama Indonesia semakin tercoreng, maslah seperti ini saja masih membumbung tinggi. Presiden harus membuat kebijakan yang benar-benar bisa mengatasi maslah tersebut, agar Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Keduabelas. Adanya sindikat eskploitasi pelacuran remaja (blue grey). Bericara tentang remaja zaman sekarang, sangat memprihatinkan. Banyak yang terjerumus dalam pergaulan bebas. Hampir anak putra dan putri pernah melakukan hubungan di luar nikah yang seharusnya hal itu tak pantas mereka lakukan! Remaja putri banyak yang “menjajakan” diri mereka, menjual harga diri mereka. Waktu yang seharusnya mereka buat untuk melakukan hal yang bermanfaat yaitu menuntut ilmu, mereka gunakan untuk hal yang “tak bermoral”. Para pelajar banyak yang telah melakukan aborsi untuk menggugurkan kandungan mereka. Peraulan bebas di Indonesia seperti tidak dianggap tabu lagi.mereka tidak memikirkan dampak aborsi seperti apa, mereka juga tidak mungkin mendapatkan uang jutaan rpiah, mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan apa yang seharusnya belum pantas untuk mereka lakukan.
Presiden yang perspektif selayaknya lebih menegaskan peraturan tentang “pergaulan bebas” agar tidak semakin banyak yang terjerumus ke dalamnya. Di Indonesia oknum-oknum yang menjadi otak pelaku belum tertangkap sampai ke akarnya, sehingga hal itu semakin menjalar saja. Sanksi yang diberikan pun kurang tegas, pengurusan masalah masih diperlambat, terkadang juga semakin dibesar-besarkan. Wajah Indonesia kian tercemar dengan rusaknya moral anak bangsa.
Indonesiaku, perspektif ke depan, hendaknya memiliki presiden yang yang multi cerdas dan peduli. Belajar dari segala keterpurukan. Membangun visi lahiriah dan batiniah dengan membentangkan benang merah penyambung segala lini/bidang. Sehingga, akan terwujud Indonesiaku jaya, sentosa, serta mempesona.
IDENTITAS DIRI :
Nama : Wahidah Nur Rahmahidayah
Tempat tanggal lahir : Malang, 16 Desember 1996
Nama sekolah : MTsN Malang 1
Alamat sekolah : Jalan Bandung No 7 Malang
Alamat rumah : Jalan Bulutangkis No 127 Malang
Nomor telepon : 085790861290, (0341) 409414
Alamat e-mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
Akun twitter : @rahmaa16
Akun facebook : wahidah rahma
| < Prev | Next > |
|---|
- Kriteria Calon Presiden Indonesia Masa Depan (41/S)
- Kiat-kiat Memilih Calon Presiden Indonesia Masa Depan (40/M)
- Berkaca dari History (39/S)
- Presiden Impian Negara Indonesia (38/M)
- Sosok Soeharto sebagai Agent of Change Indonesia untuk Masa Depan (37/M)
- Kriteria Pemimpin Indonesia Ke Depan (36/M)
- Presiden Harapan Bangsa Garuda (35/M)
- Presiden yang Mencintai Rakyat (34/M)
- Menanti Sang Presiden Pembangun Puing-Puing Bangunan yang Rusak (33/U)
- Ksatria untuk Negeriku (32/M)
- Presiden Dambaanku (31/M)
- Pemimpin Idaman (30/U)
- Antara Mimpi, Umar, dan Bung Karno (29/S)
- 12 Kriteria Presiden Indonesia Masa Depan (28/S)
- Presiden Harapan Bangsa Indonesia yang Bersignal JOAR (Jujur, Organisatoris, Adil, dan Respect) (27/M)


























