RI-Maroko: Bersama Melawan Distorsi Terorisme (579/M)
KOPI, Peristiwa sekelompok orang yang membajak dan menabrakkan pesawat ke gedung WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001, merupakan simbol runtuhnya kekuatan dan pertahanan Amerika. Entah pihak mana yang kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan aksi teror kelompok di Afghanistan yang dimotori oleh Osama bin Laden, para fanatis agama yang selama ini menjadi musuh Amerika. Yang jelas sejak itu, istilah ‘terorisme’ merebak di masyarakat dunia.
Media massa di seluruh dunia kemudian memberitakan peristiwa WTC, atau yang lebih dikenal dengan 9/11 (versi Amerika) atau 11/9 (versi Indonesia), secara besar-besaran. Surat kabar memasangnya sebagai headline berhari-hari, televisi mengulang-ulang rekaman amatir momen jatuhnya pesawat ke gedung kebanggan Amerika itu. Sejak itu pula, seakan muncul stigma baru bahwa terorisme identik dengan perjuangan radikal atas nama agama, terutama Islam.
Tak ayal, masyarakat dunia memiliki musuh baru bernama terorisme, yang kerap disebut sebagai kekejaman tanpa nilai kemanusiaan. Tindakan para teroris dengan modus pengeboman, adalah tindakan biadab yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, perlu mawas diri jika tak ingin disebut sarang teroris serta menjadi target operasi negara-negara berbasis kekuatan militer.
Ideologi mengenai terorisme itu telah mendominasi dunia. Berkat kekuasaan yang sangat adidaya, masyarakat dunia telah terhegemoni. Menganggap wajar dan sudah hukum alam jika terorisme yang dilakukan kelompok muslim selayaknya kelopok militan Osama bin Laden, wajib dibumihanguskan. Dikepung, ditembak, dibom, bahkan sampai meninggal di tempat tanpa pernah diadili, adalah hukuman setimpal bagi mereka.
Penyebarluasan paham itu, tak lepas dari peran media massa yang terus membombardir masyarakat dengan liputan atau tayangan soal terorisme. Media dengan kekuatannya yang sangat dahsyat, seperti asumsi teori peluru dalam kajian ilmu komunikasi, dapat dimanfaatkan oleh kekuatan tertentu untuk menebarkan ideologi tertentu. Pesan dalam media massa sifatnya massif dan umum, dijadikan alat propaganda untuk memerangi terorisme.
Padahal hakikinya, definisi terorisme tidak melekat pada tindakan radikal umat muslim. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyebutkan arti terorisme adalah “penggunaan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik”. Secara internasional, pengertian terorisme untuk pertama kali dibahas dalam European Convention on the Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977. Dalam konvensi tersebut, terjadi perluasan paradigma arti dari crimes against state menjadi crimes against humanity. Crimes against humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan, dan masyarakat umum ada dalam suasana teror.
Dengan demikian, seperti kriminalitas, sesungguhnya terorisme telah ada seumur dengan peradaban manusia. Bukan sejak tragedi WTC di Amerika atau Bom Bali di Indonesia, juga bukan berarti selalu dilakukan umat muslim. Distorsi definisi terorisme yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk kepentingan tertentu, telah mendiskreditkan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.
Indonesia termasuk negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan celakanya juga termasuk negara yang seringkali menjadi tempat bermukim serta sasaran terorisme. Peristiwa Bom Bali, Bom Kuningan, Bom JW Marriott, bom di beberapa Kedutaan Besar serta masjid atau gereja, terjadi akibat ulah teroris. Bahkan bom buku, perampokan, sampai penembakan polisi, disebut terorisme.
Perkara kejadian itu menimbulkan kengerian publik, memang benar adanya, sehingga pelakunya disebut teroris. Namun penyebutan teroris, selalu merujuk pada kelompok Islam radikal, dengan penampilan berjenggot, bercelana di atas mata kaki, berkepribadian misterius dan seringkali berganti tempat tinggal. Dan sebaliknya, ketika pelaku suatu kejahatan adalah seseorang dengan ciri-ciri seperti itu, langsung disebut sebagai teroris.
Karena distorsi mengenai definisi terorisme itu telah mendunia, maka hal itu perlu segera disikapi dengan tidak hanya melibatkan kebijakan dalam negeri. Seharusnya, Indonesia memelopori gerakan bersatunya negara-negara Islam, yang kemudian membuktikan kepada mata dunia bahwa terorisme tidak identik dengan umat muslim. Hubungan baik yang telah terjalin bertahun-tahun antara Indonesia dengan Maroko dapat menjadi pijakan awal untuk cita-cita mulia itu.
Maroko dan Indonesia memiliki beberapa persamaan, meski itu bukan persamaan rumpun atau persamaan latar belakang seperti Indonesia dengan negara-negara Asean. Namun Maroko dan Indonesia seperti bersaudara. Ada persamaan agama yang dianut mayoritas penduduknya. Persamaan agraria yang menopang hidup masyarakatnya. Persamaan adat ketimuran bahwa anak gadis tidak baik diantar jemput oleh seorang lelaki meski itu kekasihnya.
Bahkan banyak mahasiswa Indonesia yang berada di Maroko, yang ketika masyarakat lokal mempertanyakan identitas dan disebut Indonesia, mereka akan berkata: “Mousleem? Mon frère, mon frère,” (Muslim? Saudaraku, saudaraku) sambil menjabat tangan dan menepuk pundak dengan akrab.
Hubungan baik Maroko dengan Indonesia bukan hanya terjalin akibat sesama saudara Islam, tetapi juga karena hubungan dekat Soekarno dengan Raja Mohammad V. Pada 1960, presiden pertama RI itu pernah berkunjung ke Maroko. Persahabatan antara kedua pemimpin itu membuat nama Soekarno diabadikan menjadi salah satu nama jalan di pusat Kota Rabat. “Rue Soekarno” nama jalan itu, dan letaknya berseberangan dengan jalan utama yang melintasi pusat pertokoan di Medina, “Avenue Mohammad V” dan “Boulevard Hassan II”.
Alangkah baiknya jika hubungan persahabatan itu terus turun temurun di antara masyarakat Maroko dan masyarakat Indonesia, hingga membuahkan sebuah peran yang cukup berarti di mata dunia internasional. Ketika Maroko dan Indonesia bisa bersama melawan distorsi definisi terorisme dengan membuktikan bahwa Islam tidak berarti teroris, artinya kedua negara yang bersaudara ini bukan hanya berperan untuk masing-masing negeri tetapi juga untuk agama dan negara-negara Islam lainnya.
Apalagi negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim seringkali diremehkan dunia internasional, dianggap sebagai negara ketiga yang belum semaju Barat. Apabila Maroko dan Indonesia berhasil mengambil peranan melawan distorsi terorisme, kedua negara itu juga akan mengangkat derajat negara-negara muslim di dunia. Meski kecil dan tampak sepele, peran itu seakan berteriak lantang seperti Soekarno: “Kami bukan lagi negara kecil yang dapat dieksploitasi baik secara ekonomi, politik, budaya, maupun agama oleh negara maju. Kami adalah negara yang bersaudara dan siap bersatu padu melawan segala hegemoni Barat!”.
Identitas Pengirim
Nama : Rizky Sekar Afrisia
TTL : Surabaya, 13 September 1987
Alamat Rumah : Jalan Rungkut Barata 18/ 4 Surabaya, 60293
No Telp Rumah : (031) 8700 700
No Handphone : 081 793 278 95
E-mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
Akun Facebook : icha afrisia
Kampus : Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya
Alamat Kampus : Jalan Nginden Intan Timur I/ 18, Surabaya
| < Prev | Next > |
|---|
- Matahari Terbenam di Mata Sang Garuda RI-Maroko (578/S)
- Pariwisata sebagai Kekuatan Silaturahmi RI-Maroko (577/S)
- Fatimah Mernissi dan Siti Musdah Mulia, Fenomena Feminist Islam Lintas Negara (576/M)
- Indonesia - Maroko, Dari Asia – Afrika untuk Dunia (575/M)
- Sufisme dan Penanggulangan Ekstrimisme Agama: Belajar dari Maroko (574/M)
- Epistemologi Maroko-RI (573/M)
- Persahabatan yang Tak Akan Pernah Luntur (571/M)
- Harmonisasi Dua Poros Bahari di Belahan yang Berbeda: RI-Maroko (572/M)
- The Fast and The Future (570/M)
- Hubungan Indonesia-Maroko: Dalam Sebuah Tanda Tanya, Masih Perlu Dilanjutkan Atau Tidak? (569/M)
- E-Laboration (Education Collaboration) sebagai Pondasi Hubungan RI-Maroko yang Berkelanjutan (567/M)
- Hubungan Indonesia – Maroko : Islam, Reformasi dan Proses Demokratisasi (568/M)
- Indonesia sebagai Model Proses Reformasi Maroko, Kenapa Tidak? (566/M)
- Aksi Indonesia - Maroko untuk Masa Depan (565/M)
- Pendidikan di Maroko (563/M)


























