Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Indonesia-Maroko Sufisme dan Penanggulangan Ekstrimisme Agama: Belajar dari Maroko (574/M)
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Sufisme dan Penanggulangan Ekstrimisme Agama: Belajar dari Maroko (574/M)

KOPI, Ekstrimisme agama kini seolah telah menjadi pemandangan yang biasa di Indonesia. Betapa tidak, di negeri yang multireligi ini kita kerap disuguhi oleh aksi ekstrimisme agama, baik dalam bentuk terorisme maupun radikalisme agama. Sebut saja misalnya penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, kerusuhan dan perusakan gereja di Temangggung, Jawa Tengah, penyerangan terhadap pondok pesantren yang diduga beraliran Syiah di Pasuruan, Jawa Timur, teror “bom buku” yang ditujukan kepada sejumlah tokoh, dan “bom Jum’at” di masjid Mapolres Cirebon, Jawa Barat.

Berbagai upaya militer memang telah banyak dilakukan oleh pemerintah, namun ekstrimisme agama tetap saja marak di republik pluralis ini. Kita harus akui bahwa bukan perkara yang mudah untuk membasmi ekstrimisme agama. Pasalnya, ekstrimisme agama bukanlah fenomena sosial semata-mata, namun ia merupakan sebuah keyakinan atau ideologi. Ideologi tidak akan pernah bisa mati hanya karena senjati api. Kendatipun aparat keamanan telah sukses meringkus dan banyak menembak mati ekstrimis, namun realitasnya ideologi ekstrimisme agama masih tetap tumbuh subur di negeri ini. Karena itu, penanganan ekstrimisme agama jangan hanya menggunakan pendekatan keamanan/militer semata, namun juga harus menggunakan pendekatan-pendekatan lain dan melibatkan semua pihak.

Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk membendung ekstrimisme agama adalah pendekatan sufisme. Pendekatan ini telah dipraktikkan oleh Kerajaan Maroko. Bahkan, negeri seribu benteng ini secara resmi telah menjadikan ajaran dan majelis sufi sebagai solusi mengatasi ekstrimisme agama. Pihak Kerajaan Maroko meyakini bahwa ajaran tasawuf yang berpangkal kepada cinta dan kasih sayang dapat menjadikan pengikutnya lebih moderat dan toleran dalam beragama. Apa yang dilakukan Kerajaan Maroko dengan menjadikan sufisme sebagai solusi mengatasi ekstrimisme agama memang cukup beralasan dan merupakan langkah yang tepat. Sebab, sufisme merupakan tradisi mistik Islam yang mengajarkan cinta-kasih, perdamaian, dan toleransi yang bersifat universal. Spirit cinta-kasih, perdamaian, dan toleransi tersebut tampak kentara dalam doktrin tasawuf, yaitu mahabbah yang menekankan dan mengajarkan cinta- kasih. Cinta-kasih dalam konteks ini bukan hanya sebatas cinta kasih kepada Sang Khalik saja, namun juga cinta-kasih kepada seluruh ciptaan-Nya, tak terkecuali kepada sesama manusia.

Ajaran sufisme melampaui sekat-sekat agama, bangsa, etnik, politik, ideologi, dan sekat-sekat primordial lainnya. Karena itu, tidak berlebihan bila guru besar Ilmu Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah, Kautsar Azhari Noer (2009) pernah mengatakan bahwa sufisme merupakan salah satu jalan mistikal yang bisa dijadikan jembatan dialog antariman (interfaith dialogue). Dalam panggung sejarah Islam, para sufi terbukti mampu menampilkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bukti historis tersebut antara lain dapat ditilik dalam sejarah Walisongo, yang dikenal sebagai sembilan sufi terkemuka di Indonesia, yang mengajarkan Islam dengan semangat penuh toleransi tentang persamaan manusia (human equaility) pada masyarakat Indonesia yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya. Dengan dakwah kulturalnya yang sarat spirit toleransi, Walisongo tidak saja mampu membuat masyarakat terpikat dengan Islam dan karenanya berbondong-bondong masuk Islam, lebih dari itu, Walisongo juga mampu menampilkan wajah Islam yang ramah, santun, dan damai di bumi nusantara.

Namun sayangnya, ajaran Walisongo tersebut telah banyak dilupakan oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Alih-alih mengajarkan toleransi dan perdamaian, tidak sedikit masyarakat Muslim di negeri ini yang justru bangga memamerkan cara-cara kekerasan dan teror untuk mendakwahkan Islam. Demi “membela Tuhan” dan mendapatkan tiket ke surga, mereka dengan keji menyakiti dan membunuh orang-orang yang tak berdosa. Di benak mereka sepertinya tidak ada jalan lain yang lebih “islami” untuk mendapatkan tiket surga selain dengan cara kekerasan dan menebar ketakutan. Harga surga seakan-seakan demikian murah diobral oleh mereka.

Untuk membendung derasnya arus ekstrimisme agama di bumi pertiwi ini, ada baiknya kita melirik dan menggali kembali khasanah sufisme yang kaya dengan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Bangsa Indonesia dapat belajar banyak dari Kerajaan Maroko yang telah menjadikan sufisme sebagai solusi mengatasi ekstrimisme agama. Menurut hemat penulis, menjadikan sufisme sebagai salah satu ikhtiar deradikalisasi agama merupakan langkah yang strategis. Pasalnya, sama halnya seperti di Maroko, sufisme telah mengakar kuat di hati masyarakat Indonesia. Praktik sufisme dan kelompok-kelompok tarekat (baca: tasawuf) banyak tumbuh subur di negeri ini. Mereka memiliki pengikut yang sangat banyak dan militan. Karenanya, kita dapat merangkul mereka untuk mendakwahkan Islam yang inklusif dan toleran kepada masyarakat luas.

Para pemangku kepentingan (stakeholders), terutama Kementerian Agama dapat merumuskan kebijakan atau langkah yang tepat guna merealisasikan pendekatan sufisme untuk menanggulangi ekstremisme agama di Indonesia. Jika perlu, para stakeholders dapat melakukan semacam studi banding ke negara Maroko untuk mendalami bagaimana kebijakan/langkah pemerintah Kerajaan Maroko terkait penggunaan pendekatan sufisme sebagai solusi mengatasi ekstrimisme beragama. Menurut penulis bukan perkara yang sulit bagi Indonesia untuk mencontoh langkah Kerajaan Maroko tersebut. Sebab, secara teo-kultural, aliran tasawuf di negeri tempat kelahiran Ibnu Batutah tersebut tidak jauh berbeda dengan aliran tasawuf di Indonesia. Bilamana pendekatan sufisme (dan pendekatan-pendekatan lainnya) dapat disinergikan dan diimplementasikan dengan baik, penulis yakin ekstremisme agama tidak akan bisa berkembang di bumi nusantara ini.

Referensi:

1. Kautsar Azhari Noer, “Jembatan Mistikal untuk Dialog Antaragama”. Makalah disampaikan pada bedah buku When Mystics Mater Meet: Paradigma Baru Relasi Umat Kristiani-Muslim karya Syafa’atun Al-Mirzanah, yang diselenggarakan oleh Religious Issues Forum (Relief), Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 19 Februari 2009.

2. http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/14630/Warta/Pemerintah_Maroko_Jadikan_Ajaran_Sufi_Solusi_Ekstrimisme_Beragama.html. Diakses pada 29 Juni 2011.

3. http://www.uin-alauddin.ac.id/index.php?module=detailberita&id=204. Diakses pada 29 Juni 2011.

 

Biodata Penulis

Nama : Ahmad Asroni

Tempat, Tanggal Lahir : Jepara, 6 Desember 1981

Nama Universitas : Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Alamat Universitas : Jalan Marsda Adisucipto Yogyakarta

Alamat Rumah : Wisma Box, Jl. Petung, Gang Ori I No. 15 B, Papringan, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281

Nomor HP : 081328426798/085640392128

Alamat E-mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Akun FB : Ahmad Asroni ( This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it )


Artikel Lainnya:

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.