Pagelaran 'Sastra Kita-Kita' Dorong Pembaruan Indonesia
KOPI, Bagaimana ketika sastrawan dan politisi berkumpul dalam satu pagelaran bersama, yang bebas menumpahkan 'uneg-uneg' kegelisahan intelektual dalam kreatifitas seni dan sastra? Tentunya akan menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, pagelaran sastra budaya tersebut juga dihadiri oleh sastrawan dunia Leonowens SP dan mantan presenter cantik Sandrina Malakiano.
'Sastra Kita-Kita' adalah nama pagelaran yang diselenggarakan pada tanggal 10 Oktober 2011 di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan. Diprakarsai oleh Heri Latief, Jodhi Yudono, Amin Kamil, dan penyair Slamet Widodo sebagai penyandang dana. "Mulanya saya, Jodhi, dan Amin ngobrol di Bulungan. Hasil obrolan itu adalah bikin acara 'Sastra Kita-Kita,'" ungkap Heri Latief.
Pagelaran 'Sastra Kita-Kita' juga diisi dengan pembacaan puisi oleh Amin Kamil, Sihar Simatupang, Teguh "Ali Topan" Esha, Toga Tambunan, Thendra BP, Anto Baret, Stanley Sumampouw, dan Eep Saefulloh Fatah. Tanka, Haiku, dan Haibun karya Mira Kusuma turut dibacakan oleh Heri Latief.
Jodhi Yudono serta Mas Klobot dkk, mempertunjukkan musikalisasi puisi. Penyair Slamet Widodo membawakan puisi berjudul 'Anjrit' dan 'Kentut'. Irmansyah membacakan puisinya sembari meniup saluang (alat musik Minangkabau).
Pagelaran yang dipadati oleh para pengunjung tersebut, juga dihadiri oleh Data Brainata dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Witaryono dari Forum Anak Bangsa. Mahasiswa dari Yogyakarta dan dari beberapa daerah lain di Indonesia turut hadir. "Acara ini dapat dibilang sukses dan memberi kontribusi besar bagi perkembangan sejarah sastra Indonesia," ujar Wiwik salah seorang pengunjung.
Orasi budaya Leonowens SP berjudul 'Mungkin Tuhan Ada Dalam Debu Kota Ini', menjadi daya tarik tersendiri di mata penonton. Selain sebagai sastrawan dunia, pagelaran ini merupakan kemunculan pertama Leonowens SP di ranah publik. "Membangun kembali nilai budaya dengan mediasi yang bebas serta terbebas dari bentuk pembodohan umat manusia, meniscayakan praksis kejujuran bagi pelurusan sejarah itu sendiri terhadap sebab akibatnya," demikian petikan orasi budaya Leonowens SP.
Dengan diselenggarakannya pagelaran 'Sastra Kita-Kita', Heri Latief menyatakan "sajak 'yang berlawan' sebagai alat anti penindasan. 'Kemandirian' sastra internet yang telah merakyat!" Lanjut Heri Latief, "Semoga para penyair sastra internet tetap semangat membela hak rakyat!" (Mar/Eds)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Topeng Banjet Karawang Upaya Mempertahankan Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
- Asosiasi Persahabatan Maroko-Indonesia Adakan Rapat Umum Perdana
- Anjungan DKI Jakarta TMII Gelar Teater Tradisional Betawi
- Acara “Babantai” Tradisi Masyarakat Muara Panco Menyambut Bulan Suci Ramadhan
- "Musuh Politik", Pementasan Karya Perdana Produksi Teater Pohon
- Indonesia Raih The Best Performance Award di Ajang The Sixth Sabah International Folklore Festival
- Rumah Puisi Undang Penyair Muda dan Dosen Sastra
- Gogo Alai Gamuk, Keras adalah Keterbukaan dan Lembut adalah Ketulusan
- Kenangan Masa Lalu Memperindah Masa Depanmu Pramuka
- Di Kampung kami Tak Ada Orang Arab
- BASIBA Traditional Costume
- Survei Terbaru: Tata Nilai, Impian, Cita-Cita – Pemuda Muslim di Asia Tenggara
- Amnesia Kolektif
- Kesenian Gandang Tambua Tasa akan Tetap Eksis
- Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam


























