Kenangan Masa Lalu Memperindah Masa Depanmu Pramuka
Api unggun terangilah kami
Api unggun terangilah kami
Sinarmu abadi..sinarmu abadi
Terangi nurani..terangi nurani……….
Demikianlah bunyi sebagian lirik lagu Api Unggun versi dari Pesantren Darul Arafah. Sudah tentu pembaca dari alumni Pesantren Darul Arafah sudah familiar dengan lagu ini. Lagu ini adalah lagu yang sangat dinanti-nanti oleh kami semua anak pramuka Pesantren Darul Arafah. Kehangatan api unggun menambah kemesraan diantara kami yang duduk rapat mengelilingi api unggun yang menyala-nyala, seakan menyapa kami dengan ramahnya.
Walaupun malam semakin larut tapi kami tetap bersemangat. Prosesi pembakaran api unggun yang diiringi dengan lirik lagu tersebut, merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pramuka yang kami lakukan saat itu. Masih ingat sekali, saat dimana aku dan teman-teman pramuka mulai dari anak-anak kelas 1 (satu) MTsS sampai kelas 3 (tiga) Mas Darularafah, semua berkumpul mengelilingi api unggun besar tentunya turut ditemani oleh para Ustadz dan ustadzah, yang menambah semangat kami untuk bernyanyi.
Sudah 13 tahun aku meninggalkan Pesantren Darul Arafah. Rasanya sudah cukup lama juga diri ini tidak aktif mengikuti kegiatan pramuka lagi. Tapi… lagu api unggun versi pondok Pesantren Darul Arafah walau tidak lengkap aku masih ingat dan sering aku nyanyikan sendiri bila rindu akan kegiatan pramuka dan rindu akan suasana pondok.
Beberapa tahun ini, khususnya disaat kantorku bersebelahan dengan Kantor Kwartir Cabang Kabupaten Aceh Utara. Rasa kerinduan akan kegiatan pramuka semakin menggebu-gebu. Namun…disisi lain ada perasaan sedih menghinggapi hatiku yang paling dalam. Sedih manakala melihat gerakan pramuka di kabupatenku kurang gaungnya. Walaupun kwartir cabang kabupaten Aceh Utara untuk Jambore Daerah (Jamda) 2011 terpilih mewakili Aceh untuk mengikuti even Jambore Nasional di Palembang, Sumatera Selatan, awal Juli yaitu tanggal 2 - 9 Juli 2011 ini.
Pada saat diskusi dengan teman-teman sekantor yang memiliki kepedulian dan kecintaan yang sama terhadap gerakan pramuka. Dari diskusi itu beberapa pendapat menarik mengemuka, diantara pendapat yang disampaikan oleh seorang teman, taruhlah namanya Bang Herri, beliau mengatakan, “Kurangnya semangat masyarakat untuk mengikuti gerakan pramuka, hal ini disebabkan oleh kurangnya semangat dari pengurus pramuka itu sendiri mulai dari tingkat gugus depan sampai kwartir cabang kabupaten/kota atau kwarda provinsi maupun nasional.”
Selanjutnya Bang Jufri menambahkan: “Banyak pengurus pramuka yang menjadi pengurus tak lain disebabkan sebagai sarana untuk dekat dengan pejabat pemerintah, untuk mencapai misi pribadi maupun golongannya. Karena itu, gerakan pramuka sudah tidak murni seperti dulu lagi,” ujarnya.
Bila melihat kenyataan dilapangan ada benarnya juga pendapat tersebut. Maka tidak heran, bila melihat Surat Keputusan (SK) Pengurus Kwartir Daerah maupun Kwartir Cabang ketuanya itu merupakan pimpinan daerah. Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa pimpinan daerah, memiliki kesibukan yang luar biasa dalam mengurus daerahnya. Sedikit banyak hal itu akan menganggu kemajuan terhadap gerakan pramuka itu sendiri. Sedikit sekali pimpinan daerah yang memiliki kepedulian dan prestasi di bidang pramuka seperti Wagub Aceh, Muhammad Nazar.
Lihat saja dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia hanya beberapa saja yang mendapat penghargaan di bidang pramuka. Tak lain hal itu disebabkan karena begitu banyaknya tanggung jawab yang diamanahkan kepada mereka. Maka bisa jadi jabatan ketua Kwartir Daerah untuk Gubernur dan Wakil Gubernur, maupun ketua Kwartir Cabang Kabupaten untuk Bupati dan Wakil Bupati hanya numpang nama saja, sunyi akan action. Maka pantaslah gerakan pramuka di daerah-daerah tinggal romantisme saja, hanya sebatas kenangan indah, dan mulai ditinggalkan peminat.
Demi kemajuan gerakan pramuka tercinta ini, kiranya, budaya latah dalam hal memilih atau mencantumkan/melibatkan pimpinan daerah (kepala daerah atau wakilnya) sebagai ketua sudah masanya untuk ditinggalkan. Pilihlah ketua yang memang fokus untuk gerakan pramuka. Jadi, jabatan ketua adalah kewajiban dan tanggung jawab satu-satunya yang diembankan kepada mereka, cukup pimpinan daerah sebagai pembina organisasi saja.
Selanjutnya, pendapat menarik lainnya yang mengemuka, apa yang disampaikan oleh bang Fakhri, “Gerakan pramuka sudah tidak ada lagi manisnya. Jadi sangat wajar meanologikan gerakan pramuka dengan semut yang tidak mau mengerumuni dan memperebutkannya lagi,” katanya singkat.
Pernyataan ini, rasa cukup menarik, bila ingin dikupas lebih dalam. Ada dua faktor yang kiranya harus dianalisa secara mendalam oleh setiap pengurus pramuka yaitu faktor internal pramuka dan eksternal pramuka. Untuk faktor eksternal meliputi pengaruh jatuhnya rezim orde baru dan pandangan negatif produk orde baru serta adanya pengaruh globalisasi dan teknologi informatika saat ini.
Semua itu sangat mempengaruhi proses pemudaran popularitas pramuka di mata generasi muda, diperparah lagi dengan bentuk-bentuk kegiatan yang terkesan itu-itu saja. Padahal generasi hari ini lebih menyukai pada hal yang baru-baru dan bernuansa trend masa kini. Generasi era globalisasi merasa tertandang dengan perubahan yang begitu cepat saat ini, sekaligus menghadirkan beberapa organisasi baru yang bercirikan global, menantang dan karena itu mereka merasa cocok sebagai tempat berorganisasi.
Sementara itu, gerakan pramuka juga berhadapan dengan kelemahan internal sendiri. Banyak kurikulum pendidikan pramuka yang belum mengalami modifikasi sehingga tidak peka terhadap pengaruh globalisasi, padahal itu sangat diharapkan oleh generasi hari ini. Disamping hal tersebut, keikutsertaan seseorang menjadi anggota pramuka acapkali sebagai sebuah kewajiban, sehingga tidak melahirkan “roh” kecintaan bagi para anggotanya. Sering dimaknai hari jumat yang merupakan hari untuk berbaju pramuka (hari pramuka,red), hari berbaris-baris, dan kegiatan lain yang rutin sebagai sebuah siksaan.
Solusinya, para pelatih pramuka harus mampu melahirkan roh kecintaan dihati para anggota pramuka. Seperti dokrin tentara terhadap atasannya dan negaranya. Seiring perlu juga untuk melahirkan kembali beberapa program apresiasi, seperti pemberian reward kepada para anggota pramuka yang berprestasi misalnya beasiswa, kemudahan melanjutkan studi yang lebih tinggi ataupun untuk mendapatkan pekerjaan.
Sangat tepat beberapa artikel yang menyinggung keberadaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, sebagai momentum kebangkitan pramuka di Indonesia. Namun, ada sesuatu yang harus digaris bawahi disini, bahwa undang-undang akan tetap menjadi sebuah undang-undang tanpa diikuti dengan keinginan dari semua elemen bangsa untuk mempopulerkan kembali gerakan pramuka di lapangan.
Komitmen adalah “sesuatu” yang harus dibenahi dari bangsa ini. Karena itu pasal-pasal dalam Undang-Undang No.12/2010 tentang Gerakan Pramuka, yang telah mengharuskan pemerintah untuk peduli dan ikut serta dalam memajukan gerakan pramuka harus secara konsisten dilaksanakan. Bila ingin pramuka populer lagi di Indonesia. Dan kehadirannya bukan sebatas gerakan pramuka dalam jas merah sejarah atau kenangan manis bagi anak cucu bangsa. Melainkan keberadaan pramuka pada masa lalu hendaknya memperindah keberadaan pramuka hari ini dan masa yang akan datang bagi Indonesia tercinta. Semoga….
Penulis adalah Jurnalis PPWI-Prov.Aceh, tinggal di Kota Lhokseumawe
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Di Kampung kami Tak Ada Orang Arab
- BASIBA Traditional Costume
- Survei Terbaru: Tata Nilai, Impian, Cita-Cita – Pemuda Muslim di Asia Tenggara
- Amnesia Kolektif
- Kesenian Gandang Tambua Tasa akan Tetap Eksis
- Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam
- Mahasiswa Katolik Pontianak Gelar Pentas Seni
- Petang Puisi FIB-UI HarKitNas 2011 Bareng Sastrawan Taufiq Ismail
- LAM Kepri Anugrahkan Gelar Datuk Setia Amanah kepada Gubernur HM Sani
- Cangkurileung Meriahkan Asian African Women Youth Gathering
- Fauzi Bowo Hadiri Customer Gathering “Gempita Emas 50 Tahun Bank DKI”
- Karyawan dan Keluarga Besar Bank DKI Ikuti Kegiatan Family Gathering
- Limapuluh Penyair Manca Negara Ikuti Perhelatan Tarung Penyair
- Nasib Tari Topeng Menor Subang Kian Memprihatinkan
- Ingatlah Saudara Kita yang Belum Beruntung


























