BASIBA Traditional Costume
KOPI, Identitas rang gadih Minang terlihat dari keelokan pakaiannya, pakaian yang tidak mengubar aurat, dan pakaian yang selalu menjaga pandangan masyarakat, tidak berbau pornografi. Semoga saja Padang Panjang menjadi icon daerah di Sumatera Barat untuk mengharumkan kebiasaan bundo kanduang dalam berpakaian. Bukan kebaya dalam mennyambut hari kartini namun basiba tak kalah cantiknya dalam mengharumkan jiwa pejuang di ranah bundo.
Pulang ke kampung halaman merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para perantau dimanapun berada, walaupun terlahir di luar daerah Sumatera Barat namun hatinya tetap tertaut dengan budaya Minangkabau, budaya yang terkenal dengan “adaik basandi sara’, sara’ basandi kitabullah” daerah yang memiliki banyak bahasa, budaya dan kebiasaan. Serta terkenal dengan ke-elokan berbahasa, bertatakrama, dan berpakaian, yang diuraikan di sini adalah pada keadaan zaman dahulu, dan tidak kemungkinan untuk niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama, orang tua kita yang masih hidup semenjak zaman penjajahan sampai sekarang, diantara mereka masih mempertahankan kebiasaan mereka sampai sekarang; makan sugi, pakai baju guntiang cino jo guntiang basiba.
Baju basiba akhir-akhir ini identik dengan pakaian masyarakat Malaysia, pakaian yang sempat diklaim hak ciptanya oleh negeri jiran tersebut. Jika di baca lagi sejarah tentang budaya alam Minangkabau, ternyata baju basiba merupakan baju khas budaya Minangkabau, konon cerita yang sempat terdengar dari niniak mamak yang pernah ke Malaysia, baju basiba sampai di negeri tetangga berawal dari zaman pejuangan dahulu, banyak para pejuang Minang yang di asingkan oleh pemerintahan setempat karena ada beberapa ketidak patuhan rakyat pada aturan penjajahan, maka saat itu pula kerajaan Pagaruyung mengutus beberapa alim ulama, cadiak pandai, dan pesuruh Bundo kanduang untuk berpencar dan mendirikan satu kelompok pejuang nagari, dengan tujuan agar budaya Minang ini tidak punah seiring punahnya penjajahan di bumi Bundo Kanduang ini.
Ber-aneka ragaman budaya di daerah Minangkabau tidak terlepas dari peran serta budaya yang datang dengan silih berganti, mulai dari zaman penjajahan diranah minang sampai pada kedatangan para pedagang seantero dunia. Terlihatnya corak warna yang rupawan pada baju khas Minangkabau, yang membuat mata sejuk memandang. Baju Kurung atau baju kuruang basiba merupakan pakaian kaum perempuan Minangkabau yang sudah dikenal identitasnya dan menjadi identitas perempuan Minang. Baju kuruang adalah pakaian Bundo Kanduang sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, keistimewaan baju kuruang basiba adalah longgar dipakai, sehingga tidak membentuk lekuk tubuh. Sebagai wanita Minang yang menjunjung Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabulah (ABS-SBK), tentunya pakaian ini sangat mendukung. Berbagai motif dan corak melalui sulaman tangan adalah ciri khas bahan dasar baju kurung yang dikerjakan di rumah oleh perempuan dan gadis-gadis Panampuang di Ampek Angkek.
Defenisi Baju Basiba
Cemoohan sering berpihak kepada setiap ada yang memakai baju basiba di minang ini, mengingat sebagai baju “rang sisuak” juga tidak modis dan tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh, kurang mempesona, dan kurang sedap di pandang mata, ungkapan uni selalu terlontar dari mulut yang belum memahami secara baik keberadaannya sebagai gadis minang.
Kata Basiba berasal dari tiga tanda jahitan yang berawal dari ujung ketiak wanita yang di kasih pita (bis) yang sesuai dengan warna baju, dan di tambah lagi dengan lipatan yang indah sebagai penghiyas baju di bagian pasangan baju (rok), tak banyak literatur tentang keberadaan baju basiba pada muasalnya di ranah minang ini, banyak sekali perbedaan yang terlihat dari baju kurung yang ada di minang ini, baju basiba juga termasuk kedalam daftar baju kurung yang longgar, tidak bersaku, dan panjang baju di bawah lutut. Pembuatan baju basiba di perkirakan dalam ukuran 4 samapi 8 cm. Tanpa kopnat, dan tanpa sempit.
Pakaian basiba, sama-sama kita lihat masih di pertahankan oleh daerah Padang Panjang, pakaian ini hampir semua sekolah-sekolah, pesantren, masyarakat yang memakainya. Ternyata di balik longgarnya baju basiba telah memberikan makna yang luar biasa sekali, selain tidak mengubar aurat, juga sangat terlihat sopan, anggun, cantik, mempesona, dan banyak rahasia yang tersimpan dalam ke-eksotisan baju peninggalan bundo kanduang itu. Dan apakah keterasingan di negeri sendiri akan berbuah manis?
Padang Panjang merupakan daerah yang masih mempertahankan warisan budaya, daerah yang masyarakatnya sering memakai baju basiba keseharian. Di sepanjang jalan terlihatlah wanita yang elok dengan baju yang indah lagi longgar. Terpancarlah identitas gadis minang yang selama ini masyarakat luas selalu mengatakan nagari Minangkabau telah tiada yang ada hanya reingkarnasi, dengan hal ini jika di telik dengan seksama berkunjunglah ke ranah bundo yang berada di Padang Panjang sekitarnya, ada suguhan yang mempesona kekecewaan akan berubah menjadi kerinduan teramat dalam. Keuntungan memakai baju basiba pertama dijauhkan dosa, tidak terkena kanker serviks, mengingat semakin sering memakai baju ketat beresiko buruk bagi wanita, di hargai, tampilan yang anggun, di hormati dan tentu mendapatkan perlindungan langsung bagi mata jahil memandang.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Survei Terbaru: Tata Nilai, Impian, Cita-Cita – Pemuda Muslim di Asia Tenggara
- Amnesia Kolektif
- Kesenian Gandang Tambua Tasa akan Tetap Eksis
- Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam
- Mahasiswa Katolik Pontianak Gelar Pentas Seni
- Petang Puisi FIB-UI HarKitNas 2011 Bareng Sastrawan Taufiq Ismail
- LAM Kepri Anugrahkan Gelar Datuk Setia Amanah kepada Gubernur HM Sani
- Cangkurileung Meriahkan Asian African Women Youth Gathering
- Fauzi Bowo Hadiri Customer Gathering “Gempita Emas 50 Tahun Bank DKI”
- Karyawan dan Keluarga Besar Bank DKI Ikuti Kegiatan Family Gathering
- Limapuluh Penyair Manca Negara Ikuti Perhelatan Tarung Penyair
- Nasib Tari Topeng Menor Subang Kian Memprihatinkan
- Ingatlah Saudara Kita yang Belum Beruntung
- Acara Bedah Novel RKS Dapat Apresiasi dari Peserta
- Pernak-pernik di Tiap Hari Jadi Daerah


























