Kesenian Gandang Tambua Tasa akan Tetap Eksis
KOPI, PADANG PANJANG - Indonesia memiliki berbagai kesenian tradisi. Suatu bentuk warisan budaya yang tersebar diberbagai suku bangsa. Masing-masing memiliki keunikan dan kisah tersendiri yang menyokongnya. Namun banyak diantaranya yang tidak lagi kita temukan sekarang. Apa lagi pada zaman sekarang ketika budaya luar yang menyebar dengan mudahnya indonesia. Sebagian dari kita mengangap itu budaya modern kemudian meninggalakan kesenian yang kita miliki dengan titel “kuno”. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi masyrakat Pariaman.
Hal ini tarbukti atas masih eksisnya kesenian - kesenian tradisi mereka. Salah satunya kesenian Gandang Tambua Tasa. Kesenian ini sudah ada di Pariaman sejak bertahun tahuh lalu. Kesenian tradisi ini sangat mereka banggakan walaupun kesenian luar dapat keluar masuk dengan bebasnya. Menarik sekali untuk mengetahui apa saja yang dilakukan masyarakat pariaman untuk mempertahankan kesenian mereka.
Kesenian Gandang Tambua Tasa dibangun dari sejumlah alat musik pukul yaitu 6 (enam) Gandang Tambua dan 1 (satu) Gandang Tasa. Gandang Tambua berbentuk tabung dengan dua permukaan kulit yang disandang disalah satu bahu. Sedangkan Gandang Tasa berbentuk setengah bola dengan satu permukaan kulit. Gandang Tasa di kalungkan dileher. Kedua alat musik tersebut dimainkan dalam posisi berdiri. Penggarapan dinamik dan tempo mengadirkan suasana yang penuh semangat dan keceriaan. Memancing pemain dan penonton menari - nari mengikuti dentuman lagu.
Untuk mengobati penasaran akan hebatnya kesenian tersebut. Beberapa waktu lalu (14/5) saya bersama beberapa mahasiswa Institu Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang serta empat orang mahasiswa luar negeri yang mengikuti program Darmasiswa di ISI padang panjang menyaksikan langsung kesenian tersebut ke tempat tumbuh berkembangnya. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya kami mengunjungi salah satu grup tambua tasa di Desa Cubadak Aia Kota Pariaman yaitu Grup Tampuniak Saiyo, yang tepat pada saat itu sedang latihan. Dari situ kami tahu ternyata kesenian ini tidak hanya dimainkan oleh orang – orang dewasa saja. Tetapi juga dimainkan oleh remaja sampai anak tingkat sekolah dasar. Mereka terlihat sangat menikmati permainan tersebut. Sekarang tak heran lagi kenapa kesenian ini masih tetap eksis sampai sekarang. Kecintaan terhadap warisan budaya telah mereka tanamkan sejak usia dini.
Dan tak cuma itu, kami dikagetkan dengan banyak grup lagi. Selepas magrib kami meneruskan perjalanan ke Kelurahan/Desa Labuang Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman. Pada saptu malam tersebut Desa Labuang terpilih sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan latihan bersama group Gandang Tambua Tasa se Pariaman Utara. Acara ini mereka adakan dua minggu sekali. Pada acara tersebut hadir berbagai grup dari Pariaman Utara maupun dari luar Pariaman Utara, semuanya bebas bermain secara bergantian. Mulai dari group anak –anak hingga dewasa. Semuanya bisa unjuk kebolehan pada acara tersebut. Kegiatan ini pun tidak diselenggarakan oleh pemerintah atau instansi khusus. Kegiatan ini pun tanpa diimingi juara atau hadiah, melainkan bentuk kesadaran mereka saja. Kesadaran untuk menyemarakan kesenian yang telah lama tumbuh berakar didaerah mereka.
Sebagai kesenian tradisi yang mencerminkan karakter masyarakat setempat sudah selaknya kita sebagai pewaris ikut melestarikan dan mengembangkan kesenian kesenian tradisi kita. Mebawanya ke gerbang dunia dengan rasa bangga. Dan bukanlah suatu hal yang mustahil bila musik tradisi kita dapat memiliki banyak penikmat diluar sana layaknya kesenian dari luar yang masuk ke indonesia. Mahasiswa luar negeri yang tergabung rombongan ISI Padang Panjang pun ikut berjingkrak dan menari - ria menyaksikan pertunjukan tersebut. Untuk itu tidak ada salanya bahkan sudah sudah sewajarnya kita tanamkan rasa kecintaan terhadap kesenian tradisi mulai dari sekarang.(Albert Rahman Putra)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam
- Mahasiswa Katolik Pontianak Gelar Pentas Seni
- Petang Puisi FIB-UI HarKitNas 2011 Bareng Sastrawan Taufiq Ismail
- LAM Kepri Anugrahkan Gelar Datuk Setia Amanah kepada Gubernur HM Sani
- Cangkurileung Meriahkan Asian African Women Youth Gathering
- Fauzi Bowo Hadiri Customer Gathering “Gempita Emas 50 Tahun Bank DKI”
- Karyawan dan Keluarga Besar Bank DKI Ikuti Kegiatan Family Gathering
- Limapuluh Penyair Manca Negara Ikuti Perhelatan Tarung Penyair
- Nasib Tari Topeng Menor Subang Kian Memprihatinkan
- Ingatlah Saudara Kita yang Belum Beruntung
- Acara Bedah Novel RKS Dapat Apresiasi dari Peserta
- Pernak-pernik di Tiap Hari Jadi Daerah
- Pesta Laut Mappanretasi Digelar 1 April 2011
- Kisah Musafir "Ki Gondrong"
- Dekranasda Jawa Barat Selenggarakan Pameran Wayang Koleksi di Bandung


























