Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin Banten

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Statistik
Anggota : 6385
Isi : 10415
Content View Hits : 4766096
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Sosial & Budaya Sekali Lagi Tentang Yogyakarta
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Merayakan Paskah bagi semua saudara sebangsa Indonesia yang merayakannya. Semoga keselamatan dan kedamaian di antara sesama sebangsa-senegara Indonesia akan senantiasa dicurahkan ke segenap penjuru nusantara dan dunia... Amin...

Sekali Lagi Tentang Yogyakarta

KOPI, Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat, mendengar nama itu pikiran kita akan langsung tertuju kepada sebuah daerah yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa yaitu Yogyakarta. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini, kota yang terkenal dengan ramah tamah penduduknya, halus perangai, tingkah dan tutur kata warganya menjadikan kota ini dicintai oleh seluruh umat manusia yang datang untuk menyambanginya. Banyak gelar yang disandang oleh kota ini diantaranya Kota Gudeg, Kota Pelajar, Kota Keraton, Kota Revolusi dan diawal bulan Januari ini Sri Sultan Hamengku Buwono X mendeklarasikan kota Yogyakarta sebagai Kota Republik.

Yogyakarta pertama kali terbentuk karena adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Kerajaan Mataram yang sudah dalam keadaan lemah waktu itu, akhirnya melahirkan dua "bayi" dari rahimnya, "bayi" itu kemudian diberi nama Surakarta dan Yogyakarta. Mereka dicatat dalam perjalanan sejarah yang penuh dinamika dan lika-liku, pada akhirnya mereka mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalankan kehidupannya masing-masing, jauh sebelum Republik Indonesia ini berdiri.

Diantara kedua "bayi" itu, ada satu yang membuat saya tertarik untuk saya rangkai dalam sebuah kata-kata, yaitu Yogyakarta. Saya tertarik pada Yogyakarta karena intensitas kunjungan saya ke Yogyakarta bisa dikatakan lebih banyak dari pada kunjungan saya ke Surakarta, oleh karena itu akan saya bahas beberapa hasil pengamatan saya tentang Yogyakarta ini.

Yogyakarta, beberapa bulan yang lalu daerah ini sedang menghadapi cobaan dari Allah SWT, setidaknya ada dua kejadian besar yang melanda Yogyakarta ini, yaitu:

1. Berupa kejadian alam yaitu Erupsi Gunung Merapi

2. Berupa kejadian politik yaitu pro kontra tentang status Keistimewaan Yogyakarta

Dua kejadian ini berimbas pada kehidupan masyarakatnya, dahulu warga Yogyakarta tenang, adem ayem, sekarang mereka seolah-olah dibangunkan dari tidurnya. Kejadian alam memang kehendak Allah SWT, masyarakat Yogyakarta tidak bisa menghindar dari kehendak Allah SWT ini, dan alhamdulillah..mereka bisa menghadapinya dengan tabah, dan selalu tersenyum walaupun nasib di depan mereka menanti tanpa arah dan tujuan. Saya melihat fenomena ini sangat luar biasa, ketika saya berada di dalam pengungsian, mereka benar-benar pasrah akan kehendak Allah SWT, semua menyerahkan kembali kepada Sang Pencipta, trauma yang melanda dicoba untuk dihilangkan dan bangkit dari keterpurukan.

Kejadian tentang politik, bagi saya kejadian ini benar-benar membuat Yogyakarta menjadi geger, bagaimana tidak, ketika warga dilanda bencana yang belum usai, warga Yogyakarta harus dihadapkan dengan pernyataan Presiden SBY yang menyatakan bahwa dalam NKRI tidak mungkin ada nilai-nilai monarki yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Sontak ramai-ramai warga Yogyakarta turun ke jalan, untuk mempertahankan harkat dan martabat nagari Yogyakarta. Protes warga Yogyakarta dilayangkan dalam berbagai tindakan, diantaranya:

1. Walikota Yogyakarta menurunkan bendera setengah tiang.

2. Demonstrasi damai diselingi atraksi kesenian depan kantor DPRD, Alun-alun Utara, Gedung Agung.

3. Kirab budaya

Ya, itulah cara warga Yogyakarta dalam menyampaikan aspirasi dan bentuk protesnya, benar-benar santun dan sangat mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Dalam pikiran saya, begitu berhasilnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII dalam mendidik warganya sehingga mereka tidak anarkis dan tetap ramah. Mengutip ucapan ayah saya: "rakyat itu tergantung pemimpin, pemimpin baik maka rakyatnya juga baik, pemimpin buruk maka rakyatnya pun tidak akan jauh berbeda dengan pemimpinnya". Ucapan ayah saya ini memang sangat bisa saya rasakan, bagaimana carut marutnya generasi muda sekarang karena pemimpinnya tidak ada yang bisa dijadikan suri tauladan.

Kembali kepada Yogyakarta, pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX langsung mengikrarkan bahwa Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat berada di belakang Republik pada tanggal 5 september 1945, artinya menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia yang baru saja lahir. Ini artinya Yogyakarta yang dulu merupakan sebuah negara berdaulat menyatakan bergabung dengan negara baru, perlu diketahui bahwa Sri Susuhunan Paku Buwono XII dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyampaikan maklumatnya pada pemerintah RI tanggal 1 September 1945.

Subhanallah..sungguh benar-benar luar biasa pengorbanan Sri Sultan HB IX, beliau seorang raja, seorang manusia yang hidup dengan nuansa feodalisme tapi sangat menjiwai rasa nasionalisme, kecintaan beliau pada negara yang baru lahir ini sangat besar, tidak tanggung-tanggung seluruh harta keraton dan bahkan nyawa beliau pun dipertaruhkan untuk keberlangsungan bayi Republik. Tindakan Sri Sultan ini sebenarnya diamini pula oleh kerajaan-kerajaan yang ada seluruh wilayah Indonesia waktu itu seperti Paku Alaman, Surakarta, Mangkunegaran, Pontianak, dll.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah itulah, warga Yogyakarta bangun dari tidurnya kemudian bangkitlah Yogyakarta sekarang. mmmm...marahnya warga Yogyakarta bukanlah tipe marah yang meledak-ledak, marahnya warganya Yogyakarta bukanlah tipe marah yang mengeluarkan seluruh hawa nafsunya, marah mereka adalah marah dengan kedamaian, marah dengan cara-cara beradab, marah dengan senyuman, marah dengan cara-cara yang santun.

Itulah tulisan saya mengenai Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat. "Bayi" yang kemudian menjadi seorang "ibu" dari sebuah negara yang bernama Republik Indonesia dan membimbingnya sehingga ia mampu lepas dari cengkraman penjajah.

Yogyakarta, Negeri yang sekarang tenang kembali, negeri dengan cuaca yang panas namun membuat hati selalu dingin, negeri yang penuh dengan inspirasi dan membuka imajinasi anda, negeri yang penuh keramahan dalam menyambut setiap pendatang.

Oh Yogyakarta..kembalilah tersenyum..karena disanalah letak keistimewaanmu...

Di akhir tulisan ini saya menyampaikan permohonan maaf apabila ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya.

Mengutip tulisan Bung Karno ketika beliau akan meninggalkan Ibu Kota Revolusi Yogyakarta untuk kembali ke Ibu Kota Republik Indonesia Serikat Jakarta:

"Yogyakarta menjadi termasyur karena jiwa kemerdekaannya.Terus gelorakan semangat jiwa kemerdekaan itu".

 

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.