Hamidi: Mendustai Hati Penyakit Tergawat
KOPI, PADANG PANJANG - Manusia membutuhkan sahabat. Namun, tidak sembarang orang bisa dijadikan sahabat. Ada banyak pertimbangan yang mesti dilakukan. Salah dalam memilih sahabat, dikhawatirkan justru akan dapat mendatangkan mudarat. Di sisi lain, penyakit tergawat dalam kehidupan manusia sebenarnya adalah mendustai hati nurani.
“Islam mengajarkan, manusia butuh sahabat dalam hidupnya. Imam Gazali memesankan, ada lima pertimbangan penting yang mesti diperhatikan. Di antaranya cerdas, pandai dan berilmu dalam dirinya,” kata mantan Ketua DPRD Kota Padang Panjang, H. Hamidi Labai Sati, dalam pesan singkatnya yang disampaikan kepada Singgalang dan pewarta-indonesia.com, kemarin, di Padang Panjang.
Dijelaskan, selain faktor cerdas, orang yang akan dijadikan sahabat mestilah mereka berakhlak mulia dalam pergaulannya, bertaqwa kepada Allah dimana pun dia berada, zuhud dan rendah hati dalam kehidupannya, serta jujur dan punya hati nurani.
Lima kriteria sahabat yang mesti dijadikan pertimbangan itu, menurut Hamidi, mestilah dijadikan pakaian hidup. Sebab, jelasnya, sahabat yang memenuhi standar Islam pasti akan memberi dampak positif terhadap kehidupan, sementara sahabat di luar standar tersebut, jelas akan membawa ke kemudharatan.
Di sisi lain, ketua Nasdem Kota Padang Panjang itu melihat, agar manusia bisa berharga dalam hidupnya, terdapat pula beberapa pedoman yang mesti dijadikan acuan, yakni memiliki kejujuran dan komitmen dalam hidup, rendah hati, dan suka menolong sesama.
“Penyakit manusia yang paling gawat hari ini adalah mendustai hati nurani, atau kongsi antara mulut dan hati pecah. Menurut Hamka, hati manusia akan bisa terdidik dengan cara selalu membaca Alquran, paham akan isinya, dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Menurut Hamidi, tatanan kehidupan masyarakat yang baik, hanya bisa terbentuk bila dipimpin oleh pemimpin yang baik pula. Mengutip pendapat KH. Mas Mansur, dia menyebut, pemimpin yang baik adalah mereka bertaqwa kepada Allah sebagai benteng untuk menjauhi maksit dalam kehidupan.
Seterusnya, pemimpin harus selalu menepati janji, tetap berkata benar, rahmah dan santun kepada sesama, adil dalam menunaikan tugas-tugas kepemimpinan, serta memimpin dengan baik, sesuai norma-norma yang berlaku.(*)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Pemerintah Aceh Resmikan Balai Pengajian Ulama dan Umara Aceh Timur
- Calon Jamaah Haji Kabupaten Aceh Timur Ikuti Pemantapan Manasik Haji
- Dubes RI untuk Maroko adakan Open House dengan Kalangan Diplomatik dan Mitra Kerja
- Imam Masjid Istiqlal Berikan Tausiah di Maroko
- Tips Sukses Ramadhan
- Puasa Melahirkan Pancaran Jiwa
- Bahaya Ibadah Tanpa Ilmu
- Fikih Puasa
- Welcome to Ramadhan
- Trend Bergama yang Aneh (2)
- Ramadhan Penuh Berkah
- LDII Bersilaturrahmi dengan Ulama
- Sifat-Sifat Tak Terpuji: Ananiyah (Bag.1)
- 8 Tanda-tanda Allah Mencintai Hamba-Nya
- Waisak dan Keselarasan Alam


























