Menulis Sebagai Keterampilan
KOPI - Kesalahan yang telah menjadi kaprah adalah anggapan bahwa kemampuan menulis sebagai sebuah bakat. Sehingga orang enggan untuk berlatih menulis karena merasa bahwa dirinya memang tak berbakat untuk menulis.
Padahal, kemampuan menulis harusnya dipahami sebagai sebuah keterampilan. Sebagaimana kemampuan bicara, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan membaca.
Jika kemampuan menulis dianggap sebagai sebuah keterampilan, maka semua orang pasti bisa menjadi penulis. Tanpa memandang keberbakatan yang memang susah diukur. Yang terpenting bagi seorang calon penulis hanya dua hal. Pertama, dia harus memiliki niat yang besar untuk menjadi penulis. Tanpa niat, tak mungkin ia berupaya yang bersemangat. Tanpa niat, orang akan asal-aslan dalam menulis.
Hal kedua yang sangat penting dilakukan calon penulis adalah kemauannya untuk berlatih. Tak akan ada muncul penulis hebat tanpa keberterusmenerusannya untuk berlatih. betul. Tanpa latihan, tak akan muncul seorang penulis andal.
Penulis hebat bukan penulis yang tahu-tahu sudah menjadi hebat. Penulis hebat justru mereka yang berpuluh kali pernah ditolak oleh surat kabar. Tapi mereka tak pernah memperdulikan penolakan itu. Setiap penolakan justru menjadi pemicu semangatnya berlatih, berlatih, dan berlatih.
Banyak membaca karya orang akan menjadi sebuah pembelajaran kepenulisan. Telitilah secara cermat. Maka akan tertemukan ciri khas setiap penulis. Satu tema akan beda saat digarap oleh dua penulis yang sama. Ini juga yang menjadikan banyak tulisan tentang tema yang sama tapi disajikan dalam tulisan yang tetap menarik.
Sudut pandang sangat penting dalam menulis sebuah tulisan. Baik tulisan fiksi maupun yang nonfiksi. Yang dimaksud sudut pandang adalah posisi penulis dalam tulisannya. Misalnya dalam sebuah fiksi, penulis bisa menjadi tokoh utama, tokoh figuran, atau hanya sebagai pencerita saja. Dalam tulisan nonfiksi, penulis juga bisa berada di mana saja. Terlibat langsung atau hanya sebagai pengamat sja.
Yang jelas, kemampuan menulis sudah bukan saatnya untuk dianggap sebagai sebuah bakat. Karena semua orang pasti bisa menulis. Hanya ketajaman sebuah tulisan berbeda antara penulis andal dengan penulis pemula. Jam terbang terkadang sangat mempengaruhi ketajaman sebuah tulisan. Jam terbang yang dimaksud adalah kemauan berlatih menulis.
Sekali lagi saya tekankan. Bahwa kemampuan menulis bergantung pada kemauan berlatih menulis. Karena kemampuan menulis adalah sebuah keterampilan.
Mari mulai menulis. Sekarang juga. Tentang apa saja.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Pon Riau, Akankah Membuka Peluang Ekonomi?
- Lawanlah Buku dengan Buku: Kritik atas Tindakan Gramedia Membakar Buku
- 'Sayonara' Kedaulatan Tata Kelola Migas Indonesia
- Meneropong Masa Depan Sektor Perikanan Indonesia
- Pancasila (Indonesia Born in Man)
- Nasib Para Wamen Pasca Putusan MK
- Pentingnya Ikut Berorganisasi di Kampus
- Pendidikan? Untuk Siapa??
- Belajar dari Kontroversi Konser Lady Gaga (L)
- Kemudbaziran Jabatan Wamen
- Pendidikan Sastra Membentuk Jati Diri Bangsa
- Pendidikan Menjadi Manusia Juara dan Bahagia
- Duka Mendalam untuk Para Korban Sukhoi
- Imlementasi Standar Kompetensi Guru sebagai Wujud Terbentuknya Pendidikan Berkarakter
- Obat Generik Berlogo: Solusi Sehat yang Cerdas


























