Presiden dan Menteri Menghambat Pembangunan
KOPI - Jika anda ditanya, apakah enak menjadi Presiden atau Menteri ? Apa jawaban anda ? Seandainya Presiden Jawa nota bene Islam Ir. Soekarno, Jenderal Muhammad Suharto masih hidup tentunya jawabnya ENAK SEKALIPUN MENJADI PRESIDEN. Juga kalau ditanya Megawati Sukarno Putri, Dr. Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Presiden Jawa nota bene Islam tentu jawabnya adalah ENAK SEKALIPUN MENJADI PRESIDEN. KALAU BISA SEUMUR HIDUP DEH BIAR BISA BANGUN DINASTI N TUMPUK KEKAYAAN 7 TURUNAN. Itulah jawaban Presiden Jawa nota bene Islam Indonesia.
Seandainya George Washington Presiden pertama Amerika Serikat masih hidup. Juga almarhum lain masih hidup. Begitu juga yang masih hidup ditanya, apakah enak menjadi Presiden Amerika Serikat ? Tentu mereka semua akan menjawab, TIDAK ENAK MENJADI PRESIDEN. Juga sekutu Amerika Serikat jawabnya akan sama. Loh kok beda dengan di Indonesia ? ya iyalah. Amerika Serikat sebagai negara kampium demokrasi yang menghormati HAM, begitu juga sekutunya tentu menyadari akan memikul tanggung jawab besar. Harus mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Tapi di Indonesia hal seperti itu jangan diharap dapat terjadi. Presiden Jawa nota bene Islam nafsunya besar tapi sayang otaknya tidak mampu mewujudkan. Itulah resiko besar kalau memaksakan diri. Mengapa? Masalahnya masih menunggu evolusi genetik 1 juta tahun lagi.
Entah apa yang menggerakkan langkahku sehingga aku hadir di pameran agribisnis, pangan dan peternakan istilah kerennya Jakarta Food Security Summit yang berlangsung 7-9 Pebruari 2012 di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Tapi sesampainya aku disana kulihat kok orang begitu banyak berkumpul diluar. Ada apa gerangan? Kutanya mereka juga sekuriti. Oh Presiden SBY ada di dalam. Tapi inikan pameran dan terbuka untuk umum? Kembali aku memberi argumen. Mereka bertanya harus punya Id Card. Tapi ketika para pengunjung mengeluarkan Id Card seperti KTP, undangan, kartu jurnalis, kartu mahasiswa dll juga tidak diperbolehkan masuk ke dalam.
Tiba-tiba suasana semakin ramai. Kehadiran kira-kira seratus murid SD Cikini yang berbaris rapi melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Tapi sayang para murid SD ini tidak diperbolehkan masuk. Akhirnya pembimbing melakukan negosiasi dengan sekuriti. Siswa SD kelas 6 ini sudah pada kegerahan/kepanasan. Barisannya sudah pada bengkok seperti besi yang dibengkokkan si Limbat Burung Hantu. Hatinya mulai pada mengumpat. Kampret..... temanku di Facebook ngak pernah mengalami seperti ini. Biar Presiden Amerika Serikat atau Ratu Inggris sekalipun yang melakukan kunjungan ke pameran tidak akan pernah mempersulit rakyatnya. Iya tuh tiba-tiba ada yang nyeletuk. Waktu aku liburan dengan papi dan mami di Amerika dan Inggris aku berjabat tangan dengan Barack Obama dan Ratu Elizabeth II. Pengamanannya biasa-biasa aja. Wah ini namanya Presiden dan Ratu yang punya Iman. Bagaimana pemimpin Indonesia ? iya sih mulutnya rajin benar nyebut Allah tapi hatinya tidak mengenal Tuhan Allah. Bagaimana tidak, Tsunami yang sudah membunuh 800 ribu orang Aceh seharusnya sudah menjadi lampu merah agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundurkan diri. Tapi ya itutu demi gelar Presiden Bencana Alam masa bodoh aja. Masalahnya dinasti dan kekayaan 7 turunan. Indonesia... Indonesia dasar bernafas dalam lumpur kerbau.
Penantian yang sangat menyebalkan dan membosankan adalah suatu pekerjaan yang memuakkan. Perasaan seperti itulah yang dialami pengunjung selama 3-5 jam karena tidak diperbolehkan masuk ke ruang pameran. Kalau dihitung-hitung berapa sih kerusakan ekonomi yang terjadi. Mungkin bisa saja ratusan miliar atau puluhan triliun rupiah. Hitung aja sendiri biar pada pintar/cerdas. Para pengusaha baik dari dalam negeri dan luar negeri akan menambah waktu 1-2 hari bermalam di Jakarta. K arena sudah tidak keburu waktu lagi untuk pulang pergi pada hari itu.
Ada apakah didalam? Yuk sama-sama kita melihatnya. Menggetarkan hatikah? Bermanfaatkah untuk orang banyak? Atau pameran ini hanya pamer anggaran untuk dihabiskan buat uang perjalanan dinas Presiden, Menteri, Gubernur, Pejabat Eselon dll ?
Aku teringat dengan perkataan si ibu yang duduk didepanku. Bu wajah bayinya setiap pagi dijilatin biar kembali mulus. Maka satu persatu stan kusisir/kuperhatikan. Astaga naga... piye toh... piye toh.... uju buneh kata orang Betawi. Tidak satupun stan yang mempromosikan “Air Susu Ibu Katakan Tidak Pada Korupsi”. Departemen Pertanian yang kini menjadi Kementerian Pertanian, maklum untuk menutupi kegagalan dirubah namanya. Yaaa pencitraanlah hehe. Juga tidak menampilkan iklan tersebut. Ketik di google/Yahoo.... AIR SUSU IBU CIPRATANNYA DIHILANGKAN DENGAN AIR LIUR.
Lebih tragis lagi tidak ada daging babi anti teroris yang dipromosikan sebagai sumber protein hewani tokcer. Terbukti secara ilmiah daging babi bikin cerdas/pintar. Beternak babi bikin cepat kaya dan banyak uang. Bagaimana kelinci? juga tidak ada yang dipromosikan. Terbukti secara ilmiah bahwa kelinci adalah makanan sehat dan pas untuk kondisi sosial dan budaya Indonesia. Susah punya anak ? Rajin saja makan daging kelinci, entar ente pada dengarin oekh...oekh... oekh. Jadi jelaslah bahwa Jakarta Food Security Summit cermin Presiden dan Menteri menghambat Pembangunan. Turun... turun.
Penulis, Syarifuddin Simanjuntak adalah Presiden Lembaga Ilmu Pengetahuan Demokrasi dan Hak Azasi Manusia
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Wakil Rakyat Harus Merakyat
- Urgensi Pendidikan Anti Korupsi
- Subsidi BBM, Tidak Tepat Sasaran dan Pemborosan APBN
- Saat Angie Terjerat, Demokratpun Sekarat
- Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata
- Negeri Banyak Ritual
- Kontroversi Konsep Sukses Mario Teguh VS Bob Sadino
- Kerusakan Akibat Kejahatan Lidah
- You Are Special
- Karena Sistem Menghendakinya
- Banyaknya Orang Menganggur Disebabkan Orang Itu Sendiri
- Tenggelam dalam Dunia Maya
- Konsekwensi Kebijakan Penggunaan Tower Bersama
- Korupsi Menjamur, KPK Dikubur, Pejabat Makmur
- Persamaan dan Perbedaan Kiai


























