Menyongsong Era Globalisasi Pondok Pesantren
KOPI - Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak diharapkan mampu menjadi figure agamawan yang tangguh dan mempu memainkan peran dan membiaskan peran propetiknya pada masyarakat secara umum. Artinya, akselerasi mobilitas vertical dengan penjejalan materi-materi keagamaan menjadi priotitas. Untuk tidak mengatakan satu-satunya priorias dalam pendidikan pesantren. Akibatnya, pemberian ruang yang demikian besar pada ilmu-ilmu keagamaan telah menciptakan penghalang mental untuk melakukan perubahan di tubuhnya sendiri.
Padahal, ditengah gegap gempita dan kompetisi sistem pendidikan yang ada, pesantren –sebagai lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan hingga kini-, tentu saja harus sadar bahwa penggiatan diri melulu pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Pesantren dituntut untuk senantiasa apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan.
Pragmatisme budaya yang kian menggejala sejatinya bisa dijadikan pertimbangan lain bagaimana seharusnya pesantren mensiasati fenomena tersebut. Bukanya malah menutup diri, pesantren sejatinya membuka sekaligus menjajaki perubahan dan pada saat yang sama, pesantren harus proaktif dan memberikan ruang bagi pembenahan.
Meskipun demikian, kecurigaan pesantren terhadapan ancaman lembaga pendidikan colonial tidak selalu berwujud penolakan yang a priori. Karena, di balik penolakannya, ternyata diam-diam pesantren melirik metode yang digunakannya untuk kemudian mencontohnya. Fenomena “menolak sambil mencontoh”, demikian Karel Steenbrink (1994) mengistilahkannya, tampak dalam perkembangan pesantren di Jawa. Ini terlihat, misalnya, dengan diajarkannya pengetahuan umum semisal bahasa Melayu dan Belanda, sejarah, ilmu hitung, ilmu bumi, dan sebagainya. Pada tahun 1934, KH. Wahid Hasyim atas restu ayahnya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, mendirikan madrasah Nidhomiyah di mana pengajaran pengetahuan umum mencapai 70 persen dari keseluruhan kurikulum yang diajarkan (Dhafier, 1994). Ini merupakan salah satu respons pesantren dalam mensiasati tuntutan zaman yang tujuannya bukan mengurangi keunikan pesantren itu sendiri, melainkan justru melengkapi dan memperluas cakupan keilmuannya.
Dalam konteks inilah pesantren di samping mempertahankan kurikulum yang berbasis agama, juga melengkapinya dengan kurikulum yang menyentuh dan berkaiterat dengan persoalan dan kebutuhan kekinian umat. Perlu ditegaskan di sini bahwa modifikasi dan improvisasi yang dilakukan pesantren semestinya hanya terbatas pada aspek teknis operasional-nya, bukan substasi pendidikan pesantren itu sendiri. Karena, apabila improvisasi itu menyangkut substansi pendidikan, maka pesantren yang mengakar ratusan tahun lamanya akan tercerabut dan kehilangan elan vital sebagai penopang moral pesantren.
Teknis operasional yang dimaksud bisa berwujud perencanaan pendidikan yang rasional, pembenahan kurikulum pesantren dalam pola yang mudah dicernakan, dan tentu saja adalah skala prioritas dalam pendidikan. Dengan pola perencanaan yang matang, terstruktur sembari mempetimbangkan skala prioritas dan pembentukan kurikulum yang efektif dan efisien dapat dipastikan pesantren mampu terus menancapkan pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat yang belakangan tampakmulai apatis, untuk tidak mengatakan alergi dengan sistem pendidikan pesantren.
Era Globalisasi Pesantren
Indonesia sebagai negara satu-satunya didunia yang memiliki system pendidikan pesantren, seharusnya mampu menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang bergensi dan mampu bersaing dengan pendidikan formal lainnya di luar negeri. Selama ini, masyarakat lebih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan akan lembaga pendidikan formal yang bergensi. Bila mendengar nama pesantren maka yang timbul adalah sikap apatis dan berusaha menjauhkan keluarganya dari lingkungan pesantren.
Padahal pesantren telah terbukti dan mampu memberikan pembinaan dan pendidikan bagi para santri untuk menyadari sepenuhnya atas kedudukannya sebagai mansuia, mahluk itama yang harus menguasai alam sekelilingnya. Hasiol pembinaan pondok pesantren juga membuktikan bahwa para santri menerima pendidikan untuk memiliki nilai-nilai kemasyarakatan selain akademis keberhasilan pondok pesantren dalam bidang pembinaan bangsa ini.
Sikap apatisme masyarakat terhadap lembaga pendidikan tertua di tanah air ini seharusnya dijawab para pimpinan pesantren dengan sebuah aksi damai. Aksi tersebut bisa dengan kampanye di masyarakat luas bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang bukan melahirkan orang-orang bermental rusak, bertype khianat dan mencoreng citra agama. Tetapi pesantren adalah lembaga pendidikan yang mampu mencetak kader-kader bangsa menguasai ilmu dunia dan ilmu agama (tafaqquh fi al ddin) secara mendalam serta menghayati dan mengamalkan dengan ikhlas. “Pesantren adalah tempat mencetak para manusia yang mengenal agama secara kaffa dan menguasai ilmu dunia untuk bekal karir duniawinya,” kata Drs.KH. Ma’rus Amien Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Group.
Dalam era globali sekarang ini, seharusnya semua pimpinan pondok pesantren mampu untuk menjalin komunikasi secara priodik guna menciptakan langkah kongkrit dalam memberikan image positif.
Yang terpenting dari itu semua adalah adanya sebuah kerjasama yang kongkrit antar pondok pesantren satu dengan yang lainnya. Disadari atau tidak, pesantren adalah lembaga pendidikan yang salah satunya bersifat konsumtif. Lihatlah bagaimana pengasuh pesantren harus mempersiapkan kebutuhan konsumsi bagi para santrinya tanpa bisa berbuat lebih banyak lagi selain mendapat pasokan dari luar pesantren.
Hal itu seharusnya dapat terpecahkan apabila sesama pesantren mampu untuk bersikap mandiri dengan mengandalkan kerjasama bidang ekonomi. Cara yang paling mudah adalah menjadikan sebuah pesantren yang mampu memasok sebuah kebutuhan ke pesantren lainnya.
Sebagai contoh misalnya, pesantren A memproduksi beras yang akan di distribusikan ke masing-masing pesantren yang masuk dalam sindikasi perkumpulan pesantren. Maka, semua pesantren yang masuk dalam lembaga itu, hanya akan membeli beras dari pesantren A. Begitu pula, misalkan, pesantren B memasok kebutuhan sayur-sayuran, maka semua anggota sindikasi hanya akan membeli sayuran dari pesantren B. Belum kebutuhan seragam,kebutuhan perlengkapan santri, ikan, daging, buah-buahan dan sebagainya.
Setiap pesantren hanya dimungkinkan memasok satu item kebutuhan pesantren. Apabila system itu bisa dijalankan, maka diyakini ekonomi pesantren akan menjadi mandiri, sebab roda perputaran uang hanya akan terjadi di pesantren saja. Margin yang akan diraih dari masing-masing anggota sindikasi juga akan dapat dipergunakan untuk memperluas jaringan masing-masing pesantren. Itu dari segi ekonomi.
Kerjasama dengan lembaga diluar pesantren juga seharusnya sudah mulai dilirik para pengasuh pondok pesantren. Selama ini ditelinga kita akrab dengan agenda pertukaran pelajar (exchange students) antar negara. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa selama ini kita tidak pernah mendengar program pertukaran santri antar Negara? Kalaupun ada jumlahnya masih kalah jauh dengan program yang sama untuk pendidikan umum. Inilah problem yang harus kita pecahkan bersama.
Betul selama ini negara seperti Amerika Serikat telah berhasil menggaet santri dari beberapa pondok pesantren mengikuti program exchange students tapi itu hanya bersifat temporer. Yang menyedihkan, program yang ditawarkan pun adalah program pendidikan yang bersifat umum seperti latihan dasar kepemimpinan, pengenalan budaya dan sebatas diskusi. Waktunya sangat terbatas hanya beberapa minggu.
Yang elegan adalah, exchange students itu dilakukan dengan menekankan penambahan ilmu dari lembaga yang sejalan. Katakanlah exchange students santri ke Al Azhar atau universitas Islam yang ada dibeberapa negara. Tidak hanya berhenti pada program itu, exchange teacher juga patut untuk direalisasikan.
Peluang-peluang menjadikan pesantren go public internasional sebenarnya terbuka lebar, kuncinya adalah kerjasama yang saling menguntungkan antar lembaga pondok pesantren. Tidak berhenti disitu, semua pimpinan pesantren harus melepaskan ego sentriknya demi kemajuan bersama. Dengan duduk bersama, membuat program, merealisasikan program dengan tujuan membesarkan pesantren didunia internasional, tidak mustahil, lembaga pendidikan ini akan menjadi salah satu pendidikan yang disegani di dunia. Ingat, hanya di Indonesia yang memiliki lembaga pendidikan pondok pesantren.
(Penulis adalah Sekum Global Pesantren Network)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Muammar Khadafi Banci Taman Lawang
- Safari Penguasa dan Pejabat di Bulan Ramadhan
- “Sandiwara” Nazar Dimulai
- Pengguguran, Tabu atau Kesehatan?
- Uji Kendaraan Sarana Mewujudkan Cinta Lingkungan
- Halo SBY, Kapan Kasus Rudy Arifin, Gubernur Kalsel Jadi Perhatianmu?
- Pejabat Miskin
- Benang Merah Persatuan Dipersembahkan Pramuka untuk Persatuan Indonesia
- Rakyat Butuh Hiburan, Tak Butuh Bualan
- Kenapa Sih Cilegon Makin Panas?
- Membangun Tenaga Nuklir Llistrik untuk Rakyat
- Mengangkat Kerarifan Lokal Sebagai Basis Pengelolaan Hutan Lestari
- Kehilangan “Pakde Kita”
- Menciptakan Cinta Gerakan Pramuka di Kalangan Generasi Muda
- Pancasila dalam Genggaman Penguasa Gelap


























