“Sandiwara” Nazar Dimulai
KOPI, Kembalinya si anak buron Muhammad Nazaruddin yang ditangkap aparat Interpol di Cartagena, Kolombia Minggu (7/8) lalu, membuat lega banyak pihak, tapi ada juga pihak yang ketar-ketir dengan tertangkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) itu. Proses yang begitu cepat pemulangan dan ongkos yang mahal memulangkan koruptor Nazaruddin, ternyata membuat beberapa pihak merasa tidak puas dan menaruh curiga. Bayangkan, untuk seorang Nazaruddin, KPK bersedia menggelontorkan dana Rp. 4 milyar untuk carter pesawat. Tidak sampai disitu, waktu tempuh yang lama, 36 jam, juga banyak dipertanyakan kebenarannya. Sebab, penerbangan komersial dengan trip yang sama hanya ditempuh 16 jam, bayangkan ada selisih waktu hingga 20 jam. Pertanyaannya public, kemana saja waktu 20 jam yang dihabiskan oleh tim.
“Ini bukan perjalanan biasa, semuanya dipersiapkan secara mendadak. Tp syukurlah kami tiba dengan selamat,” kata Brigadir Jenderal (Pol) Anas Yusuf kepada pers di KPK Sabtu 13 Agustus 2011 lalu. Bagi saya, keterlambatan tersebut masih bisa dimaklumi karena untuk mendapatkan ijin melintasi udara negara lain memerlukan ijin yang tak mudah didapat. Belum lagi pengisian bahan bakar, pengadaan stock konsumsi penumpang dan crew yang menguras waktu. Faktor kesehatan pilot dan co pilot juga patut dipertimbangkan.
Tetapi menyangkut soal harga sewa, nampaknya tidak masuk akal. Bila dihitung secara cermat, harga sewa jet charter untuk perjalanan internasional sangat bervariasi tergantung jarak dan ukuran dan jenis pesawatnya. Untuk kategori jet kecil kisaran sewa $3.500 perjam dan jet besar bisa mencapai $4.500 perjam. Harga tersebut sudah include dengan Aircraft Crew Maintenance Insurance (ACMI) dan fuel alias bahan bakar. Tapi harga itu diluar overnight fee, landing fee dan catering. Harga disetiap airport untuk landing fee bervariasi tergantung kelas airportnya. Namun pada umumnya antara $1,2 sampai $1.7 perpoun pesawat. Sedangkan waktu tempuh Kolombia – Halim normalnya adalah 28 jam. Jadi, bila dibulatkan menjadi 30 jam, maka harga sewa 4 milyar itu sangat irasional.
Coba hitung. 30 jam X $3.500 = $105.000 maksimum $135.000. Katakanlah selama perjalanan menghabiskan $10.000 untuk catering dan $10.000 biaya landing fee pesawat Gulfstream G550. Totalnya baru mencapai $155.000 dengan memakai kurs per dollarnya Rp.8.500 maka biaya yang dikeluarkan hanya Rp. 1.317.500.000. seandainyapun harus membayar dua kali lipat karena pulangnya pesawat dalam keadaan kosong, maka dana yang dibutuhkan hanya Rp. 2.635.000.000. Lha kenapa anggarannya mencapai Rp. 4 milyar???
Nazar Membongkar atau Membisu?
Dibanyak Negara yang pemerintahannya kotor, orang yang mengetahui seluk beluk kebobrokan pemerintahannya akan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, bisa jadi kematian akan menjemputnya dengan cepat. Tetapi, dinegara yang menganut system hukum yang kuat, orang semacam itu akan menjadi whistle blower untuk membongkar praktek kejahatan yang dilakukan secara sistematik yang melibatkan kelompok atau orang yang dikenalnya.
Sosok whistle blower sendiri bukanlah orang sembarangan, ia merupakan bagian dari sindikat criminal yang terlibat didalamnya. Maka tak heran, dibeberapa Negara maju seperti Amerika dan Eropa menjadikan sosok whistle blower sebagai personal yang istimewa. Lantas bagaimana dengan di Indonesia?
Kasus Komjen (Pol) Susno Duaji bisa menjadi contoh. Dia diungkit dosa-dosa lamanya lalu diadili, sementara ungkapan-ungkapannya tak pernah ditindaklanjuti. Bagaimana Susno yang semula berniat membersihkan institusinya dari praktek dugaan pat gulipat ditubuh korpsnya, malah berbalik menyerangnya. Susno harus menginap di sel untuk jangka waktu lama akibat ocehannya membongkar borok lembaganya sendiri. Bagaimana dengan Nazaruddin?
Sudah bertahun-tahun publik berada dalam suasana penuh ketidakpercayaan kepada pemerintah maupun penegak hukum, dan menduga kuat betapa berbagai kasus korupsi dan kejahatan atas keuangan negara telah direkayasa habis-habisan. Tak lain karena kekuatan korup dan penyalahguna kekuasaan justru telah bersarang di tubuh kekuasaan, sebagai hasil kerja mekanisme rekrutmen politik dan kekuasaan yang bersendikan politik uang.
Hingga dua hari sejak kedatangannya di Jakarta, public masih meragukan kredibilitas dan keberanian KPK untuk mengungkap secara total kasus yang melandanya. Seperti diketahui, selama buron, Nazar berkoar-koar banyak koleganya di Partai Demokrat dan elite di parlemen yang ikut terlibat dalam praktek mafia anggaran. Nah, public saat ini masih menyakini keterangannya Nazar adalah benar walaupun bukti hukum untuk belum ada.
Disinilah tugas utama KPK membuktikan keterangan Nazar itu benar atau tidak dengan mengungkap dan membeberkan fakta-fakta hukum ke public, bukan hanya sebagai konsumsi internal penegak hukum belaka. Kekuatiran paling menonjol dari masyarakat, apakah kasus tudingan-tudingan mantan Bendahara Partai Demokrat itu, akan diselesaikan dalam suatu rekayasa untuk melokalisir persoalan sehingga tak menyentuh terlalu jauh ke dalam pusat kekuasaan?
Masyarakat memiliki sejumlah trauma, betapa sejumlah whistle blower maupun mereka yang mungkin termasuk dalam deretan the men who knew too much, telah dibungkam dengan berbagai cara, mulai dari sekedar negosiasi biasa, gertakan, dijebloskan dalam penjara, dicederai dan bahkan mungkin dihilangkan nyawanya. Aktivis HAM Munir, mati diracun. Antasari Azhar dijebloskan dalam penjara melalui tuduhan pembunuhan dan peradilan rekayasa.
Kasus Gayus Tambunan berputar-putar di seputar bagian kasus yang remeh temeh, penyalahgunaan paspor, jalan-jalan keluar bui, sedangkan kasus intinya, jauh dari pengembangan. Siapa pengusaha-pengusaha yang memberi fee besar-besaran dalam praktek mafia perpajakan tak pernah ditelusuri sampai tuntas. Kasus Bank Century diperlambat proses hukumnya, sehingga mantan Menkeu Sri Mulyani tersudut pada posisi marginal sebagai semacam kambing hitam sementara tabir permainan sesungguhnya di balik itu tak pernah dibuka.
Bagaimana dengan Nazaruddin, apakah akan senasib dengan yang lain, mengalir tanpa arah? (Hans Wijaya)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Pengguguran, Tabu atau Kesehatan?
- Uji Kendaraan Sarana Mewujudkan Cinta Lingkungan
- Halo SBY, Kapan Kasus Rudy Arifin, Gubernur Kalsel Jadi Perhatianmu?
- Pejabat Miskin
- Benang Merah Persatuan Dipersembahkan Pramuka untuk Persatuan Indonesia
- Rakyat Butuh Hiburan, Tak Butuh Bualan
- Kenapa Sih Cilegon Makin Panas?
- Membangun Tenaga Nuklir Llistrik untuk Rakyat
- Mengangkat Kerarifan Lokal Sebagai Basis Pengelolaan Hutan Lestari
- Kehilangan “Pakde Kita”
- Menciptakan Cinta Gerakan Pramuka di Kalangan Generasi Muda
- Pancasila dalam Genggaman Penguasa Gelap
- Pendidikan di Mata Indonesia
- DPR Tidak Berfungsi, Apa Sih Kerjanya DPR?
- Pancasila Menuju Syariat Islam, Sandiwara Apalagi Ini?


























