Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin Banten

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Statistik
Anggota : 6396
Isi : 10447
Content View Hits : 4805407
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Opini Menciptakan Cinta Gerakan Pramuka di Kalangan Generasi Muda
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Merayakan Paskah bagi semua saudara sebangsa Indonesia yang merayakannya. Semoga keselamatan dan kedamaian di antara sesama sebangsa-senegara Indonesia akan senantiasa dicurahkan ke segenap penjuru nusantara dan dunia... Amin...

Menciptakan Cinta Gerakan Pramuka di Kalangan Generasi Muda

KOPI, “Generasi muda adalah tulang punggung Bangsa dan Negara”. Pernyataan tersebut merupakan istilah yang sering kita dengar sehari-hari. Karena itu, perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial saat ini memerlukan peran ganda dari generasi bangsa untuk dapat membawa masyarakat kita ke arah yang lebih baik. Terlebih lagi di era reformasi ini, generasi muda dituntut untuk lebih berpartisipasi dalam membangun masyarakat Indonesia.

 

Disisi lain, masyarakat modern yang serba kompleks, sebagai produk dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi, memunculkan banyak masalah sosial. Maka adaptasi atau penyesuaian diri terhadap kehidupan modern yang hyperkomplesks itu tidak mudah. Karena itu, Kartini Kartono (2009) dalam bukunya Patologi Sosial, mengidentifikasikan bahwa kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebigungan, kecemasan dan konflik-konflik, baik terbuka dan eksternal sifatnya, maupun yang tersembunyi dan internal dalam batin sendiri, sehingga banyak orang mengembangkan pola tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum, terutama bagi generasi muda yang lagi memproses diri untuk menemukan jadi diri mereka.

Perjalanan waktu yang begitu cepat, sekali lagi menyadarkan kita akan pentingnya sebuah wadah yang memiliki fungsi ganda, baik sebagai wadah tempat perlindungan, wadah sebagai tempat proses belajar, beradaptasi dengan kehidupan modern yang hyperkompleks. Sekaligus sebagai wadah untuk menciptakan kader bangsa yang multitalenta, siap menjadi pemimpin, siap menjadi bawahan dan siap untuk selalu bekerjasama.

Dari sinilah, menurut penulis rakyat Indonesia masih sangat membutuhkan gerakan pramuka. Karena berbagai proses pendidikan yang ada dalam pramuka, diharapkan mampu untuk menggali sumber daya manusia diantaranya adalah potensi kepemimpinan, kepekaan (sensitivity), semangat, nasionalisme dan rasa memiliki. Kita mungkin masih ingat, disaat membuka Konferensi Kepanduan Sedunia ke-38 (38th World Scout Conference) yang berlangsung di Jeju Convention Center, Perdana Menteri Korsel, Han Seung-soo mengatakan bahwa “Gerakan Kepanduan (Pramuka) mempunyai peranan penting dalam mempromosikan jiwa kepemimpinan di kalangan kaum muda. Dan terbukti memberikan sumbangan besar untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia”.

Yang jelas, Indonesia sekali lagi sangat membutuhkan generasi muda yang tangguh sebagai mana yang diharapkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka khususnya dalam Bab II Pasal 4, tertulis :

“Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup”

Namun, secara kekinian, gerakan pramuka juga dihadapkan dengan kondisi lunturnya semangat generasi muda untuk mengikuti pendidikan kepramukaan. Hari ini Pramuka seperti masa lalu, romantisme bagi sebagian orang. Anak muda lebih senang dengan kegiatan ekstra kurikuler yang lain dari pada ber-Pramuka. Pramuka hanya menjadi romantisme saja. Buktinya 275.000 gugus depan hanya ada namanya saja, tidak ada denyut aktivitas pramuka disana. Maka sangat wajar sebagian masyarakat Indonesia mulai lupa dengan pramuka, mereka hanya ingat pramuka disaat bulan Agustus dan pada moment kegiatan pramuka dalam skala nasional saja.

Menumbuhkan Cinta Gerakan Pramuka

Diakui Gerakan Pramuka dewasa ini sudah tidak lagi popular, banyak hal yang melatarbelakangi hal tersebut. Bila ingin dibagi ada 2 (dua) faktor utama, yaitu; faktor intern (dalam) dan faktor eksternal (luar). Faktor Internal meliputi rutinitas kegiatan dan pembelajaran yang ada dalam pramuka yang terkesan kuno, hanya bersenang-senang dan sekedar bertepuk tangan. Serta adanya kesan mempertahankan serta pengulangan tradisi lama yang sudah tidak relevan untuk era persaingan seperti saat ini. Sementara itu gerakan pramuka juga dihadapkan dengan faktor eksternal, era globalisasi yang seakan-akan memposisikan gerakan pramuka dibawah bayang-bayangan dari bermacam jenis lembaga remaja yang muncul dan memamerkan rangsangan kehidupan yang nampak lebih indah, berciri global dan membawa nilai baru yang modern dan mendunia.

Bila kelesuan Gerakan Pramuka ini terus terjadi secara berkepanjangan, tentu akan merugikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa depan. Maka sangat diperlukan usaha untuk melakukan perbaikan dan kata kuncinya adalah revitalisasi Gerakan Pramuka secara menyeluruh dan kontiniu. Patut disyukuti pemerintah saat ini menyadari akan kondisi tersebut, sehingga lahirlah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Pada prinsipnya Undang-Undang ini merupakan revitalisasi Gerakan Pramuka yang dicadangkan pemerintah dan hal ini sering disampaikan pada berbagai kesempatan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng.

Undang-Undang ini adalah peluang bagi kita masyarakat Indonesia untuk kembali menggairahkan gerakan pramuka. Pendapat-pendapat dari tokoh pramuka dan orang yang peduli terhadap pramuka seyogyanya menjadi referensi pemerintah untuk memajukan kembali pramuka, jangan sampai terulang masa titik nadir organisasi kegiatan ekstrakurikuler ini seperti yang terjadi di era 1990-an hingga 2010, fakta yang dapat dihadirkan adalah minimnya jumlah anggota pramuka, mulai dari tingkat SD maupun Perguruan Tinggi dan jarang sekali ada kegiatan pramuka di setiap gugus depan (275 ribu) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sangat tepat kiranya untuk menjadikan Undang-Undang Gerakan Pramuka sebagai alat untuk mengikat setiap warga negara Indonesia yang berusia 7 sampai dengan 25 tahun untuk mengikuti serta sebagai peserta didik dalam pendidikan kepramukaan. Namun, tidak bisa menafikan faktor lain dalam kerangka menumbuhkan cinta gerakan pramuka, yaitu faktor motivasi dari orang tua, guru dan orang-orang terdekat bahwa pramuka itu penting untuk dirinya, negara dan bangsanya. Dari sinilah perlunya perbaikan kurikulum pendidikan kepramukaan yang modis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Anggota pramuka hendaknya diajarkan keterampilan hidup (life skill), disamping tetap diberikan pendidikan cinta tanah air, cinta lingkungan, dan cinta sesama dalam bentuk (versi) yang baru.

Disamping itu, untuk menumbuhkan kecintaan pada gerakan pramuka perlu adanya peningkatkan kualitas dan kuantitas pembina maupun pelatih, serta bantuan peralatan di setiap Gugus Depan. Kedepan diharapkan, anggota pramuka tidak hanya pandai menggunakan tongkat kayu dan tali, tetapi juga cakap menggunakan computer dan internet. Yang tak kalah penting langkah perikutnya adalah adanya sebuah keistimewaan yang diberikan bagi setiap anggota pramuka yang memiliki prestasi selama mengikuti pendidikan kepramukaan, misalnya saja untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau memperoleh beasiswa atau pekerjaan. Langkah-langkah seperti ini sangat diperlukan sebagai rangsangan.

Jadi, revitalisasi Gerakan Pramuka harus dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, perbaikan bentuk dan isi gerakan pramuka yang semakin modis, elegan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Yang kedua, rangsangan (reward) bagi setiap warga negara yang berusia 7 sampai 25 tahun untuk menjadi anggota pramuka. Intinya, ketika seseorang menjadi anggota pramuka mereka tidak saja mampu berbuat banyak bagi masyarakat dan negara mereka, tetapi mereka sendiri juga diperhatikan oleh negara dan diberi kemudahan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, seperti pendidikan, beasiswa dan pekerjaan.

Peringatan Tahun Emas “50 Tahun Gerakan Pramuka” pada bulan Agustus 2011 dengan tema “Satu Pramuka Untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia”. Sangat tepat sebagai langkah lanjutan guna mengembalikan kecintaan pada gerakan pramuka dikalangan generasi muda khususnya. Ini saat yang tepat bagi kita semua untuk kembali memajukan Pramuka. Tentu saja Pramuka dalam bentuk baru yang bisa menyesuaikan diri dengan semangat era globalisasi, perkembangan teknologi dan kemajuan zaman. Sehingga nantinya, anak-anak muda yang dihasilkan adalah anak muda yang suka berkarya, bisa beradaptasi dan berkreatifitas menyambut zaman baru. Semoga…

Penulis adalah Jurnalis PPWI Aceh, tinggal di Kota Lhokseumawe


Artikel Lainnya:
Artikel Lainnya:

 

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.