Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

 

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Opini “Mensucikan” Kembali Bulan Ramadhan
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

“Mensucikan” Kembali Bulan Ramadhan

Pewarta-Indonesia, Ibarat embun pagi yang terprangkap dalam daun yang lusuh, kedatangan bulan suci kali ini menjadikan kesucian yang  amat riskan. Secara individu kepulangan kita pada bulan Ramadhan bisa saja menjadikan individu-individu yang suci layaknya embun pagi, namun berbeda dengan relung sosial dan Negara kita yang masih direcoki kebiadaban.

Menjelang datang bulan suci, gundukan sampah korupsi, hingga kebiadapan teroris masih mewarnai dibenak kita. Belum lagi masalah moral bangsa kita yang belum lama ini menjadi berita yang sangat memanas. Dengan tersebarnya  vidio porno artis papan atas di dunia maya.

Menelik fenomena mutakhir saat ini, Ramadhan masih menjadikan teka-teki, akankah melahirkan individu dan negara yang dalam kedaan suci ataukah sebaliknya, berbelit dalam lumpur kenistaan. Atau hanya sebatas siklus waktu yang datang dan pergi saja tanpa meniggalkan setetes kejernihan.

Dalam situasi demikian, (meminjam bahasa Yudi Latif) kesucian Ramadhan bukanlah sesuatu yang harus diterima secara taken for granted. Kita tidak cukup menjadi suci (secara pribadi), tetapi yang lebih penting bagaimana kesucian itu bisa dipakai untuk menyucikan (negara). Seperti kata Aristoteles, ”Manusia baik belum tentu menjadi warga negara yang baik. Manusia baik hanya bisa menjadi warga negara yang baik bilamana negaranya juga baik. Sebab, di dalam negara yang buruk, manusia yang baik bisa saja menjadi warga negara yang buruk”.

Di suatu sisi kita akan merasa pesimis bila mengamati negara kita. Negara justru terlihat apatis mengingat penodaan Ramadhan sangat kentara. Ramadhan kali ini datang seolah-olah sudah dihilangkan nilai kesakralanya. Hal tersebut tak lain disebabkan karena nilai-nilai sakral Ramadhan telah ’diperkosa’ logika kapitalisme yang mencuri momentum untuk mengeruk kekayaan, dan yang mampu melaksanakan misi tersebut adalah televisi.

Komersialisasi Ramadhan

Televisi sekarang telah ditlusupi ’gen kapitalsime’ yang mempunyai anak kandung berupa komersialisasi. Sesuai dengan prinsipnya, kapitalisme telah memanfaatkannya sebagai momentum untuk memompa konsumerisme publik melalui berbagai cara. Salah satunya adalah upaya memersualisasi publik melalui tayangan berbagai hiburan di televisi. Dalam konteks ini, kapitalisme telah menciptakan kultur Ramadan dalam logika komersial. Semua acara dikemas demi menghibur publik. Baik melalui tayangan dagelan konyol, sinetron, kuis maupun musik. Tayangan acara-acara itu sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai spiritual atau nilai lain yang memberikan pencerahan kepada publik.

Seperti yang ditandaskan budayawan, Indra Tranggono. Artis sekarang telah disulap menjadi komoditas pasar. Kehadiran Ramadhan kali ini para artis tak mau ketinggalan meliwati momentum  ini. Maka wajar meraka berubah dengan instan. Saat ini selebritas/penghibur perempuan tampil lumayan santun, tidak berkostum terbuka seperti biasa (seksi), Banyak artis yang mendadak menggunakan asesoris yang Islami (jilbab, peci, sarung, baju koko, dan lainnya). Simbol-simbol Islami itu tak lebih dari ‘siasat simbolik’ untuk menangguk keuntungan material.

Mengamati fenomena tersebut, posisi agama saat ini berada dalam sadium sangat akut. Simbol-simbol Islami telah bergeser dari posisi yang mulia menjadi barang dagang. Seorang artis sepertinya tak merasa berdosa, sebelum memasuki bulan Ramadhan menampilkan aksi panggung yang sensual dan menggunakan pakaian terbuka. Dengan enjoynya menggunkan pakaian simbol-simbol Islami naasnya lagi hanaya dipakai selama bulan Ramadan atau selama dalam panggung hiburan.

Sadisme Klompok Radikal

Dalam suasana Ramadhan seperti ini kita juga masih diributkan onggokan tindakan sadis yang dilakukan oleh klompak-klompok Islam radikal. Kelompok-kelompok radikal dalam Islam selalu beralasan bahwa aksi anarkistis yang dilakukan di tempat-tempat yang potensial menjadi sumber perbuatan maksiat merupakan rangkaian dari tugas amar makruf nahi mungkar.

Padahal tindakan tersebut seringkali mendatangkan kericuhan bahkan mengarah pada kekerasan. Apalagi tindakan tersebut bertepatan dengan berlangsungnya bulan Ramadhan yang dimana rahmat dan magfirohnya ditebarkan kepada seluruh hamba-Nya. Pintu-pintu surga dibuka dengan selebar-lebarnya. Tindakan sadisme tersebut mengindikasikan bahwa respek ataupun esensi  terhadap Ramadhan telah tercrabut.

Seperti yang ditegaskan pengamat sosial keagamaan, Dr Biyanto, MAg, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya. Umat Islam sudah seharusnya menghormati Ramadan karena bulan ini menjanjikan nilai-nilai yang berbeda daripada bulan lain. Misalnya, dikatakan bahwa pahala orang yang beribadah pada Ramadan akan dilipatgandakan oleh Allah. Allah juga menjanjikan ampunan bagi mereka yang mau bertobat dengan sepenuh hati.

Jalaluddin al-Suyuthi, ulama besar dan mujadid Islam, menyatakan bahwa tidak semua orang dapat menyuruh pada yang makruf (apa saja yang dipandang baik dan diperintahkan syara') dan melarang yang mungkar (apa saja yang dipandang buruk, diharamkan, dan dibenci syara'). Dikatakannya, hanya ulama dan penguasa yang dapat melakukan tugas amar makruf nahi mungkar. Dikatakan pula memerangi kemungkaran dengan kemungkaran berarti melahirkan kemungkaran baru.

Meminjam kembali krangka pikir Aristoteles, situasi demikian negara merupakan ujung tombak yang memunyai andil yang sangat besar untuk membersihkan gundukan sampah kebiadapan. Mulai dari jajaran penegak hukum sampai birokrasi mempunyai posisi setrategis untuk membersihkan noda Ramadhan.

*) Luthfi Zainal Muttaqin, penggiat forum kajian Ramadhan Fil Ma’had (RFM) dan aktivis LP2M  Nurul Ummah Yogyakarta

BIODATA

Luthfi Zainal Muttaqin lebih akrab dengan nama pena Luthfi ZM, aktif di berbagai organisasi sosial dan keagamaan seerti LP2M, LKiS. Di sela-sela belajar di kampus tercinta, Universitas Gadjah Mada dan mengemban amanah beberapa jabatan organisasi juga menyempatkan diri belajar menulis. Beberapa artikel sempat dimuat di Kedaulatan Rakyat ,Koran Jakarta, Banjarmasin Post, BERNAS, Pewarta Indonesia dan beberapa koran lokal lainnya. Alamat: PP Nurul Ummah, Jl R Ronggo KG II/ 982 Kotagede Yogyakarta 55172

Sumber image di sini

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.