Saluang Kini Sudah Ber-laptop
Pementasan Saluang Kini Sudah Berlaptop
KIOPI, TANAH DATAR – Pernahkah Anda mempertanyakan, kenapa setiap akan memulai penampilannya, kelompok saluang dari luhak manapun di Sumbar, selalu mengawalinya dengan dendang bertajuk Singgalang?
“Ada pendapat yang mengatakan, kalau di daerah pesisir Minangkabau berkembang rabab, maka di daerak, yang populer itu adalah saluang. Sejarahnya panjang. Untuk kelestariannya perlu dilakukan penelitian mendalam. Namun ada yang berpendapat, saluang pertamakali dikenal dan dikembangkan masyarakat Singgalang, sebuah nagari yang terletak di lereng Gunung Singgalang,” ujar MBA Majoindo, salah seorang pengamat seni budaya Minangkabau, Rabu (19/1) malam di sela-sela pertunjukan Saluang Samalam Suntuak yang diadakan Rumah Budaya Fadli Zon, Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto.
Menurut dia, kelompok-kelompok saluang hingga kini masih berkembang pesat, terutama di Tanah Datar, Payakumbuh, Limapuluh Kota dan beberapa tempat lainnya. Di tengah kian derasnya serangan terhadap seni budaya lokal, Majoindo berharap, pemerintah bisa meningkatkan perhatiannya sehingga selain bisa lestari, seni tradisioonal ini bisa bertumbuh pesat.
“Hampir setiap malam pasti ada pertunjukan saluang di perkampungan Sumbar. Kian larut, irama dan dendangannya makin menyayat hati. Kalau perantau yang mendengarkan di rantau orang, alamat akan menitik air mata mereka. Saluang punya penyampai pesan yang menarik. Ratok para pendendang diiringi irama saluang, menggambarkan betapa duka lara melanda,” katanya.
Berdasarkan penelusuran referensi yang dilakukan, terutama melalui blog palantaminang, dapat diketahui, saluang sesungguhnya adalah seruling panjang yang menjadi pengiring dendang dan ratok dalam sebuah pertunjukan yang dinamakan dengan saluang jo dendang. Selain ditampilkan pada acara perayaan-perayaan di kampung dan acarfa keluarga, saluang juga kerap ditampilkan pada malam bagurau.
Kendati alat musik sudah demikian berkembang, terutama terkait dengan kian beragamnya alat-alat musik tradisional, namun posisi saluang tak bisa digantikan oleh alat musik serba elektronik tersebut. Hingga kini, saluang masih saja terbuat dari bambu berukuran panjang 65 cm dengan diameter 2,5 cm. Saluang hanya memiliki empat lobang.
Umumnya, lagu-lagu yang didendangkan pada pertunjukan saluang sangat menghanyutkan emosi. Menariknya, lagu-lagu saluang selalu diiringi dengan penyebutan nama-nama daerah, misalnya Ratok Sabu, Kamang, Baso, Solok, Pasaman Ilia, dan sebagainya.
Di tengah upaya beberapa kalangan untuk mengembangkan saluang, terutama melalui upaya kolaborasi dengan alat-alat musik modern, sebuah kelompok saluang dari Payakumbuh terus konsisten untuk mengiringi dendang itu hanya dengan saluang. Kelompok ini telah melakukan penampilan di berbagai tempat di Indonesia dan mancanegara.
Kalau kelompok ini sedang melakukan pertunjukan, Katik Barau –sang peniup saluang—takkan berhenti mengiringi dendang dan ratok yang dilantunkan rekan-rekannya. Mendayu-dayu iramanya. Bukannya tukang tiup saluang yang kelelahan, tukang dendang malah yang kewalahan. Dalam tiga empat jam pertunjukan, Katik Barau santai saja mengiringi dendang Sawir St. Mudo, Sri, Ernawati (si E) dan Chatib Rajo Mangkuto.
Meski lebih suka tampil tanpa peralatan modern, misalnya diiringi alat-alat musik mopdcern, namun bukan berarti kelompok ini adalah orang-orang kuno dan tak terjamah modernisasi. Kelompok ini selalu melengkapi penampilannya dengan menggunakan laptop. Lagu-lagu yang didendangkan, tersimpan rapi dalam file-file yang ada di memori laptop tersebut.
“Kembali ke laptop. Ada syair yang lupa-lupa ingat. Kami memanfaatkan laptop ini untuk menyimpan dendang-dendang yang dilantunkan. Sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan, kita tinggal membuka file-nya,” terang Mangkuto.
Fadli Zon, salah seorang pencinta seni tradisional Minangkabau mengakui, di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat diminta untuk tidak meninggalkan kekayaan seni budaya nenek moyang mereka. Saluang, bagi Fadli, memiliki makna dan fungsi yang luar biasa, terutama dalam hal kedalaman rasa dan kehalusan budi.
“Semua orang yang punya kaitan dengan Minangkabau, punya tanggungjawab dan kewajiban yang sama untuk melestarikan saluang. Pemerintah memiliki tanggung jawab lebih untuk ini, karena posisinya sbagai pemimpin masyarakat,” katanya singkat.(Musriadi Musanif)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Anggota DPD-RI, Elnino Sponsori Lagu "Andai Aku Gayus"
- Persiapan Malam Tahun Baru di Alun-Alun Pati
- INDOSAT AWARD, Apresiasi Bagi Insan Musik Indonesia
- Cinta Itu Gila
- Nagaswara Siap Gelar "Nagaswara Music Awards 2010"
- TDC for Kids Rampungkan 8 Buah Lagu
- Artis Sinetron Shiren Sungkar Launching Single Terbaru
- The Adlys dan Treeji Rilis Album Baru
- T2 Luncurkan Album “Kupunya Pacar”
- Penggemar Sepak Bola Piala Dunia 2010 Mencret di Kepala Orang
- HUMOR: Main Bola di Udara
- HUMOR: Main Bola
- HUMOR: Lihat Bola Vs Bantu Istri
- Pacific Place Selenggarakan The Night of Indonesian Superstars
- Rifka & D’Crackers Siap Ramaikan Musik Indonesia


























