Keadaan Terburukku karena Tuduhan Itu
Di keheningan malam, langit tanpa bintang, udara yang begitu dingin membuatku termenung dalam kesendirianku.
“benar-benar menyakitkan,” gumamku.
Ku duduk di teras rumahku mengingat masa laluku yang begitu menyedihkan.ku pangkukan daguku diatas tanganku yang kuletakkan diatas kedua lututku. Ku tatap langit hitam.
“aisyah…..aisyah…..,” suara kepanikan itu masih terngiang di telingaku.
Sore itu aku dan teman-temanku mengikuti gotong royong bersama di lingkungan pesantren tempat ku bersekolah. Semangatku untuk bekerja sangatlah tinggi,sehingga setelah shalat ashar bejama’ah di mesjid, ku langsung mengganti mukenaku dengan pakaian bergotong royong.
“dimana cangkul?” tanyaku sambil mencari-cari
“mungkin di gudang ai,” sahut Fitri temanku
Ku segera berlari menuju ke gudang.
“o….iya di gudang,” desisku tersenyum
Lingkungan pesantren sangatlah rebut dengan suara pukulan-pukulan sabit,cangkul,dan alat gotong royong lainnya. Semua teman-temanku sangat bersemangat membersihkan pekarangan pesantren,begitu juga dengan diriku.
Seketika di saat bekerja, aku dan temanku juga asyik mengobrol.
“ai……kamu ngak takut buat besok?” tanya Fitri
“apa Fit?” tanyaku tidak mendengarnya
“kamu ngak deg-deg kan buat ngadepin hari besok?” ulangnya kembali dengan suara yang lebih tinggi
“ooo……” ku berhenti mencangkul
“jangan di tanya lagi Fit, bukan deg-deg kan lagi,tapi takut banget tau Fit,” kataku
“apa yang kamu takutin sih ai?kamu kan ngak pelanggar kayak aku Ai,jadi kamu pasti naik murni Ai,” kata Fitri
“kamu Fit…..ada-ada aja,” balasku
“ya…..kita liat aja besok,”
Kembali ku mancangkul. Walaupun perasaan sangatlah tidak enak, aku takut sekali menghadapi hari esok, karena besok adalah hari penentuan bagiku dan tema-temanku naik atau tidak ke kelas 6. Besok aku dan teman-temanku yang lain akan di panggil ke sebuah ruangan, dan disana kami akan di bagikan sebuah amplop yang berisikan beberapa kertas. Dan juga amplop itu akan di serahkan oleh pimpinan pesantren kami, yaitu Ustadz.H.Nazir.
Perasaanku benar-benar tidak karuan. Aku takut sekali, jika aku termasuk ke dalam kelompok naik bersyarat. Walaupun semua teman-temanku banyak yang mangatakan, dahwa aku tidak akan masuk ke dalam kelompok naik bersyarat, tapi aku tetap saja merasa takut.
“astaghfirullah…….aduh,”
“kenapa ai…….?” Fitri mendekatiku
“astaghfirullah ai, kaki kamu berdarah, ayo duduk dulu ke sana,” ucap Fitri sambil membimbingku berjalan menuju depan asrama.
“ya Allah ……,” desisku sakit
“kenapa sih ai?” kata Fitri sambil mengahapus darah yang mengalir di kakiku.
“ngak tau fit,tadi aku ngelamun,” kataku dengan suara mendesis kesakitan.
“makannya ai,kalau kerja ya kerja saja, jangan mikirin yang laen,gini kan jadinya,”
Tiba-tiba teman-temanku yang datang menghampiriku. Mereka semua terlihat sangat panic.
“aisyah…..”
“ngak kenapa-napa kok,kalian semua ngak usah khawatir gitu,”kataku
“ngak keanapa-napa gimana ai, liat tu kakimu lukanya lumayan gede’,”sahut temanku Emil
“duh…jangan terlalu kuat fit, perih banget ni,” keluhku
Semua teman-temanku masihberjejer berdiri di depanku. Mereka terlihat sangat panik dengan luka di kakiku. Sesaat ku tersenyum dalan batinku. Mengucap beribu terima kasih kepada allah, karena aku masih di hadirkan orang-orang yang sangat menyayangiku.
Sejenak ku tersenyum dalam lamunanku.
Tiba-tiba……..
“aisyah…aisyah…,” teriak bunda dari dalam rumah
Ku tersentak dari lamunanku.
“iya bun,” sahutku
“makan dulu nak,kamu ngapain di sini?ngak dingin apa?” kata bunda yang sudah berdiri di pintu
“iya bun,bentar lagi ya bun, ai masih menikmati udara malam ni bun,ya bun,” bujukku manja
“aneh-anek saja kamu ai,” bunda menggelengkankepalanya
“he…he…he…,”
“ya sudah lah kalau begitu,tapi jangan lama-lama ya ai,ntar sakit lho,”
“siiiiiip boss,” kataku mengacungkan jempolku
Kembali ku tatap langit yang mulai di hiasi dengan terbangan kelelawar yang sudah mulai beraksi. Tidak di sangka lamunanku tersambng kembali.
“lebih baik kamu istirahat dulu aja deh ai,” suruh Fitri
“ngak lah fit,ngak enak kalau ngak kerja,aku kerja lagi aja ya,”
“kamu ni aneh-aneh saja ya ai,kaki sakit gini mau di bawa kerja,ngak ada,sana istirahat,” kata Fitri menunjukkan perhatiannya padaku
Ku hanya bisa mengikuti permintaan mereka.
“iya….iya….,tapi,”
‘ngak ada tapi-tapian ai,sana ke kamar,”
Benar-benar tidak ada alasan lagi bagiku untuk melanjutkan gotong royong bersama teman-temanku. Tanpa berpikir panjang lagi, ku segera melangkahkan kaki menuju kamarku yang terletak di lantai 2 asrama. Setiba di kamar ku langsung rebahkan tubuhku di atas tumpukan kasur yang tersusun rapi di tengah-tengah kamar itu. Tidak sengaja ku melihat fotoku dan teman-teman yang tertemprldi dinding kamar itu.
“akankah kita bersama selalu?” gumamku
Sesaat kemudian, akhirnya ku tertidur menikmati empuknya kasur-kasuryang tertumpuk. Ku terbawa oleh nikmatnya alam bawah sadarku.
Ku kembali tersenyum dalam lamunanku.
“semuanya sudah berakhir,”gumamku
“apanya yang sudah berakhir ai?” tiba-tiba bunda menghampiriku lagi
“eh bunda….,”
“kamu lagi ngapain sih ai?asyik banget kayaknya,makan dulu gih,” suruh bunda
“iya bun,bentar lagi ya bun….ai lagi asyik ni nglamunnya,” bujukkukembali
“kamu ngelamunin apa sih ai?” tanya bunda penasaran
“ada aja…….” Kataku genit
“ai ke kamar dulu ya bun,mau ganti suasana,”kataku sambil berlari menunggalkan bunda yang masih berdiri di depan pintu depan.
“hmmmmm……aneh-aneh saja anak remaja sekarang,”ucap bunda kebingungan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya
Aku malu jika bunda menanyakan lagi,apa yang sedang aku lamunkan, karnaitu ku segera meninggalkan bunda denga kebingungan. Saat ku berjalan menuju kamar….
“jangan banyak-banyak mgelamun…,ntar kesambet lagi lho,he…he…he…,” sindir kakakku
“huu……sirik aja,” kataku sebel
Setiba di kamar, tanganku tergerak untuk mengambil sebuah album yang ku namakan dengan “me and friend”. Banyak sekali foto-fotoku dan teman-temanku di dalamnya.tidak kusadari, mataku berkaca-kaca. Aku merindukan akan kebersamaan dengan mereka semua.
Setitik butiran bening itu akhirnya jatuh juga, segara ku hapus agar pipiku tidak di banjiri olehnya.
Kembali kuingat kejadian itu……
Hari ini adalah hari yang sngat menegangkan bagiku dan teman-temanku, karena hariini adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu. Hari yang bisa di katakana hari penentuan bagi kami.
Pagi-pagi sekali, aku dan teman-teman berdo’a bersama agar hasil yang akan kami terima nanti adalah hasil yang memuaskan bagi kami.
“amiiiiiinnn,” ucap kami bersamaan setelah salah satu teman kami memimpin do’a
“assalamu’alaikum,”
“wa’alaikumsalam,” jawab kami bersamaan
“eh ustazah,silahkan duduk dulu ustazah,”
Kami semua heran dengan kedatangan ustazah Mila kekamar kami.
“begini,barusan ustadz Ali menelfon ustazah,kalau pemanggilan tidak jadi pagi ini, karena ustadz Nazi ada urusan lain yang harus di selesaikan pagi ini, jadi pemanggilan di undur nanti sore,” jelas ustazah Mila dengan lembut
“yaaaaaaaaaahhhh…….,” ucap kami tidak menerima
“langsung siap-siap ya nanti setelah shalat ashar,”
“iya ustazah,” jawab kami datar
Ustazah Mila pun langsung keluar dari kamar kami.
“kenapa harus di undur sih,”ucap Emil kesal
“iya nih….kitakan udah ngak sabaran lagi,”sambungku juga ikut-ikutan kesal
“huft….”
Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, selain hanya berdo’a kepada Allah. Aku merasa sebuah keburukan akan datang kepada diriku, aku merasa surat keputusan itu akan membuatku remuk. Tapi aku berusaha untuk tidak panic, aku berusah untuk tenagn dalammenghadapi ini semua.
Ku sibukkan diriku dengan pekerjaan, agar diriku tidak terlarut dalam kepanikan dan kekhawatiran. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain, mereka mencari kesibukan masing-masing.
Sejenak ku lirik jarum jam yamg berdentang sesuai dengan arahnya.
“huft….masih 7 jam lagi,” desisku
Ingin saja rasanya memutar jarum jam lebih cepat agar sore juga lebih cepat datang menghampiri kami semua. Tapi itu semua hanyalah khayalan yang tidak mungkin terjadi.
Sembari menunggu waktu yang 7 jam lagi,aku dan tema-teman bercengkrama membuat lingkaran.
“kira-kira aku masuk golongan apa ya?” kata Emil
“kamu kayaknya aman-aman aja deh mil, aku yang ngak aman ni mil,” balasku
“aman kamu bilang ai?ai…ai…pelanggar gini kamu bilang aman?yang ada kamu kali ai yang aman,”
“iya ai,betul apa yang di bilang emil,kamu pasti aman,nagk ada keraguan lagi deh pokoknya ai,” sambung Fitri “aku heran banget deh ama kalian semua, kenapa sih kalian selalu bilang kalau akun tu aman?” kataku
“kamu kan ngak pelanggar ai, jadi wajar dong kalau kami bilang kamu aman,” kata Emil
“aaaahhh…….terserah kalian ja deh, kita liat aja nanti keputusannya,” ujarku
Kami semua terdiam cemas. Kami hanya bisa berandai-andai.
Aku tidak percaya dengan apa yang di katakana oleh teman-temanku tentangku, bahwa aku akan naik murni. Karena kalimat bersyarat itu selalumenghantui setiap langkahku.
“apa sebenarnya hasil rapat guru-guru itu?” gumamku cemas
“aisyah…….,”
“astaghfirullah mil….,”
Emil memecahkan lamunanku.
“nglamun aja buk,” ujar Emil dengan kekocakannya
“kamu mil,bikin aku kaget aja,aku ngak nglamunin apa-apa kok,” ujarku mengelak
“nagk apanya……,ai…ai…..udah jelas ngelamun masih aja di dilang ngak ngelamun,”
Tidak tersa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Itu pertanda pemanggilan akan segera di adakan. Usai shalat ashar berjama’ah di mesjid, aku dan teman-teman bersegera menuju kamr dan mengganti pakaian kami dengan seragam resmi, yaitu baju putih, rok abu-abu, dan jilbab putih. Kami semua bergegas. Termasuk aku yang tidak sabaran lagi. Setelah berpakaian rapi, aku langsung menuju depan asrama.
“kamu ngak pakai sepatu ai?”
“ngak fit,kaki aku masih sakit,”
“ooo…..iya aku lupa,” ujar Fitri sambil mengikatkan tali sepatunya
“yok ai,” ajak Fitri menarik tanganku
Dengan menahan rasa sakit kakiku yang lukanya masih belum kering, ku berjalan dengan kencang, tanpa menghiraukan rasa sakit itu.
Setiba ku , Fitri, dan sebagian temanku yang sudah berada di depan ruangan yang telah ditentukan oleh ustadz Nazir. Terlihat oleh kami ustadz Nazir telah duduk di atas kursi yang terlatak di sudut kanan ruangan itu. Wajah beliau terlihat sangat serius, dan juga terlihat beliau sedang memegang beberapa buah amplop putih yang akan di bagikan kepada kami. Hatiku semakin tidak bisa di control lagi.
“ya Allah….tenangkanlah hatiku ini,” gumamku memohon
Ternyata ustadz Nazir tidak sendirian, beliau juga ditemani dengan ustadz Ali, yaitu ketua kurikulum pesantren tempat ku bersekolah.
Sebelum memasuki ruangan itu, kami terlebih dahulu berbaris, agar terlihat rapi ketika memasuki ruangan nanti. Setelah kami masuk ke dalam ruangan itu, ternyata tempat duduk kami juga di beda-bedakan menjadi 3 kelompok. Satu kelompoknya ada yang 11 orang, 8 orang, dan 9 orang. Aku masuk ke dalam kelompok yang 9 orang.
“apakah arti dari posisi ku ini?” gumamku takut
Aku hanya bisa pasrah, tidak ada gunanya lagi untukku melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkanku. Keputusan itu sudah di rapatkan aku dan teman-teman yang lain harus menerimanya denga lapang dada. Apapun hasilnya, aku yakin itu adalah yang terbaik untukku.
“assalamu’alaikum wr.wb,” ustadz Ali membuka perkumpulan itu
“wa’alaikumsalam wr.wb,” jawab kami bersamaan
Mulailah ustadz Ali menjelaskan langkah-langkah berjalannya perkumpulan itu. Setelah beberapa menit ustadz Ali memberikan penjelasan, akhirnya amplop putih itu di bagikan kepada kami menurut golongan kelompok kami masing-masing.
Tanganku menggigil, jantungku berdetak sangat kencang. Aku benar-benar seperti kehilangan tenaga. Amplop itu belum boleh di buka sebelum ada perintah dari ustadz Nazir.
“kalian harus terima apapun keputusan yang tertulis di dalam surant itu,” ujar ustadz Nazir
Suasana ruanganpun hening. Ku tatapi amplop itu, masih bersih, hanya ada tulisan namaku.
“silahkan buka amplop itu,” suruh ustadz Nazir
Tanpa ada keraguan lagi, ku segera buka amplop putih itu.
“bismillahirrahmaanirrahiim,” ucapku
Perlahan ku keluarkan kertas yang ada di dalam amplop itu, ku buka lipatan demi lipatannya. Setelah lipatan itu sudah terbuka, dengan ketelitian yang sangat tinggi ku baca kata demi kata dan kalimat demi kalimat.
“innalillah…….!!!!?????” aku terkejut
Ku seolah dilemparkan pada setumpuk batu-batu tajam yang akan menghancurkan ku. Ku merasa ada pisau tajam yang baru menyayat-nyayat hatiku.
Ternyata kecemasanku selama ini benar-benar kenyataan,ketakutanku benar-benar terjadi. Semua yang dikatakan teman-temanku itu salah. Prasangka mereka tentang ku 100% salah.
Tanganku semakin menggigil, aku belum bisa menerima semua ini.kenyataan ini sungguh sulit untuk ku terima.di kala ku membaca kalimat “ananda akan naik kelas jika orang tua ananda menghadap kepada pimpinan pesantren”. Hati ku benar-benar hancur, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Pikiran ku benar-benar kacau, tidak karuan. Sulit bagiku menahan tangis yang sudah mendesak untuk di lepaskan, tapi aku berusaha untuk menahannya, aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
Tetapi aku masih menaruh pertanyaan kepada kenyataan ini.
“apa salahku?”
Aku tidak berani melihat teman-temanku, yang ku lakukan hanya menundukkan kepala. Aku malu!aku malu!!
Ingin rasanya ku berlari meninggalkan ruangan itu agar rasa malu ini bisa kuhilangkan, ingin juga rasanya ku berteriak sekeras-kerasnya untuk mengobati rasa sakit ini. Tapi mustahil untukku melakukan itu semua.
Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Mataku mulai berkaca-kaca.
“jangan keluar!” teriak batinku yang memerintahkan air mata ini agar tidak keluar membanjiri pipiku
“setelah ini kalian boleh keluar dan segera pergi ke kamar,”ujar ustadz Ali
Ku coba mengangkat kepalaku perlahan. Terlihat macam-acam ekspresi yang di keluarkan oleh teman-temanku. Ada yang menangis, ada yang menyesali semua yang terjadi, bahkan ada yang tersenyum senang dengan keberhasilan yang mereka dapatkan. Tetapi ada juga di antara mereka yang menatapku prihatin. Mereka yang selalu mengatakan bahwa aku akan naik murni, kini kepala mereka penuh denga tanda tanya. Mereka tidak percaya dengan posisiku yang duduk di kelompok orang yang bermasalah. Dan yang membuat mereka lebih tidak percaya lagi, karena aku mendapatkan surat peringatan tingkat 3, yaitu surat peringatan yang paling atas. Mereka menaruhkan keheranan yang sangat mendalam pada diriku.termasuk Fitri dan Emil.
“assalamu’alaikum wr.wb,” ustadz Ali pun menutup perkumpulan itu.
Tak sanggup tubuh ini bergerak, tak kuat kaki ini berdiri. Semua tenagaku seolah sudah di rampas oleh keganasan takdir.
“ayo ke kamar ai,” ajak Fitri yang ikut prihatin dengan keadaanku
Ku tatap matanya penuh pengharapan. Inginrasanya memeluk dirinya erat-erat. Tapi aku sudah tidak berdaya lagi. Aku ingin ketenangan. Aku butuh ketenangan.
Fitri menyunggingkan senyum prihatinnya padaku. Aku merasakan ada sebuah perlindungan yang di kirimkan Allah pada dirinya. Ku paksa kakiku untuk berdiri, ku paksa tangan ku untuk bergerak. Tangiskupun lepas, ku peluk dirinya erat-erat, ku rasaka kehangatan seorang sahabat yang mempunyai perlindungan atas diriku.
“ini adalah keadaan terburukku fit,” ujarku terbatah-batah karena menangis
Fitri mengelus pundakku.
“ini semua adalah kenyataan yang harus kamu terima ai, kita ngak bisa ganggu atau protes keputusan guru-guru ini,”
“aku malu banget fit,aku malu……..,”
“kamu tidak usah malu ai, kamu harus kuat,aisyah yang aku kenal ngak kayak gini,” ujar Fitri berusaha menenangkanku
Tangisku semakin meledak.tidak berani ku tampakkan wajahku pada dunia, seolah dunia ini telah membenciku.
Kembali ku tersentak dalam lamunan panjangku. Tidak kusadari, ternyata kedua pipiku sudah di banjiri oleh beningnya air mataku. Aku sedih, aku terharu mengingat kejadian itu semua. Kejadian itu benar-benar tidak bisa aku lupakan.
“tok…tok…tok…,” ada yang mengetuk pintu kamarku
Segera ku hapus air mataku.
“nak…….,” itu suara ayah
“iya yah,tunggu sebentar,”sahutku
Kulihat mataku ke kaca, ternyata mataku sudah memerah, ku berusaha agar tidak ketahuan oleh ayah.
Lalu segera kubukakan pintu untuk ayah.
“iya yah,” kataku membukakan pintu kamar
Ayah menatap mataku, ayah curiga.
“kamu habis nangis?” tanya ayah
“ngak kok yah, tadi ai liat-liat album ai ma temen-temen waktu di pesantren dulu,” ujarku mengelak
“beneran?ngak lagi ada masalah kan ai?” tanya ayah kembali
“ngak kok ayah,” jataku berusaha meyakinkan ayah
“ya sudah,sekarang kamu makan gih!bunda udah masakin makanan kesukaan kamu lho,”
“iya yah,bentar lagi aja,ai masih kenyang yah,tadi kan ai makan roti yang ayah belitadi,”
“tapi ini udah jam 8 lho ai,”
“ngak papa kok ayah, perut ai masih tahan kok, ntar pasty ai makan,”
“huft…….susah ya suruh kamu tu makan,” ujar ayah mengelus kepalaku
Ku hanya bisa tersenyum. Akhirnya ayah percaya juga dengan alasanku. Setelah ayah pergi dari kamarku, kembali ku lihat isi album yang lembar demi lembarnya ku bolak-balikkan.
Kembali ku lamunkan pikiranku dengan kisah yang tidak bisa ku lupakan itu.
Setiba ku di kamar terlihat teman-temanku bahagia yang sangat memuaskan bagi mereka. Ada yang tertawa senang dan banyak lagi yang lainnya. Aku merasa tersisih. Aku merasa mereka lupa dengan kenyataan pahit yang baru saja aku terima. Tapi aku heran, mengapa tidak terlihat teman-temanku yang lain yang juga masuk kedalam golongan yang sama denganku. Ku segera mencari mereka, setiba di depan asrama, ku lihat temanku Tia sedang menatap langit biru dari bangunan lantai 2 depan mesjid kami. Segera ku berlari menghampirinya. Ternyata tidak hanya dia yang ada yang ada di sana, masih banyak lagi temanku yang lainnya. Ada yang sedang menyesali kenyataan ini, ada yang menangis histeris, dan ada juga yang termenung dalam kesendiriannya. Akupun terbawa suasana, tangisku juga tidak bisa di pendam lagi. Ku hampiri Tia, ku hapus air mataku, agar Tia juga tidak ikut menangis. Ku genggam tangannya erat.
“ini benar-benar kenyataan pahit yang aku terima ai, ini benar-benar memalukan ai,” desisnya
Tangisku tidak bisa di tahan lagi, ku menangis kembali.
“tidak tia……tidak……..” ucapku sambil terisak-isak
Kamipun langsung berpelukan. Tia yang awalnya tidak menangis, tidak bisa lagi menahannya. Nasib kami sangat sama, ortu kami di panggil. Saat itu aku berfikir, apa yang harus aku katakana kepada ortuku tentang pemanggilan ini. Aku takut sekali jikalau mereka marah besar dengan keadaan ini. Akhirnya aku berpikir, sebelum kedua ortu mengetahui pemanggilan ini, aku harus mencari tahu apa penyebab dari semua ini.
Saat malam datang ku cari usatazah yang bisa ku dapati informasi darinya. Aku sangat penasaran sekali. Aku bersyukur sekali bisa mendapatkan informasi dari beliau, yaitu ustazah Salsa. Setelah ku mengetahui semuanya. Hatiku sangatlah sakit, sedih, aku tidak percaya ini semua bisa di tuduhkan kepadaku. Ku kepalkan kedua tanganku, amarahku sulit untuk di pendam.
“aku di fitnah,” gumamku
Ustazah Salsa juga mengatakan kepadaku, bahwa banyak guru-guru yang tidak percaya dengan tuduhan yang di berikan kepadaku, tapi guruku yang member tuduhan kepadaku mempunyai bukti itu semua, sehingga semua guru-guru yang menghadiri rapat juga ikut percaya dengan tuduhan itu.
Aku menangis, langsung kurebahkan tubuhku di atas kasur dalam kamarku, semua temanku yang melihat heran, bingung, dan khawatir dengan keadaanku yang lemah.
“kenapa aisyah?” tanya salah seorang temanku kepada yang lainnya
Aku hanya diam.
Saat itu juga kondisiku ngedrop, aku tidak tahu lagi dengan kondisi ini. Aku di tuduh berfoto berduaan dengan lawan jenisku. Ini benar-benar menyakitkan hatiku. Hatiku benar-benar terluka.
Teman-temanku khawatir dengan keadan ku yang hanya diam, di tanyai diam. Temanku takut terjadi apa-apa kepadaku.
“aisyah….aisyah……aisyah…..,”suara kepanikan itu terdengar di telingaku
Aku tidak sadar lagi dengan keadaan yang seperti ini. Aku telah di fitnah oleh guruku sendiri. guru yang selama ini ku bangga-banggakan di pesantren, ternyata beliau menusukku dari belakang. Dia menuduhku tanpa ada bukti yang jelas tentang ini semua.
“aku tidak melakukannya…….akun tidak melakukannya………” teriakku memberontak
Teman-temanku semakin takut dan khawatir. Akhirnya mereka memanggil ustadz Ali yang menurut mereka bisa mengatasi semua ini.
Sudah bisa di tebak, ustadz Ali langsung mengatakan kepada semua yang ada di kamar, “aisyah positive depresi,”
Semuan teman-temanku kaget, iba, bahkan ada juga yang menangis. Ustadz Ali mencoba untuk menrukiyyahku tapi tidak berhasil.
Keadaanku sangat tidak karuan, aku tidak mengenal siapa-siapa lagi, yang ku lakukan hanya diam. Dan satu hal yang pling ku benci, yaitu “laki-laki”, karena aku merasa laki-laki itu lah yang membuatku seperti ini. setiap ada pembicaraan tentang laki-laki aku selalu memberontak. Aku marah, aku sangat marah pada laki-laki, aku benci !!!!!!!!!!!!
Dengan keadaanku yang semakin hari semakin tidak baik, akhirnya pihak pesantren memberitahukan tentang keadaanku kepada kedua ortuku. Termasuk tuduhan yang di jatuhkan kepadaku dan termasuk juga dengan masalah kenaikan bersyaratku. Saat melihat keadaanku yang sangat memprihatinkan, ortu ku menangis. Bahkan aku tidak mengenal ortu ku sendiri. ini benar-benar menyedihkan!
Orang tuaku membawaku pulang ke rumah, karena pihak sekolah dan orang tuaku berpikir bisa kembali memulihkan keadaanku.
1 minngu lamanya ku di rumah, tapi tidak ada perkembangan sedikitpun dengan keadaanku, bahkan keadaanku semakin memburuk. Aku lupa akan shalat, ortuku, kakak-kakakku, dan aku membenci keponakan dan kakak iparku sendiri. aku benar-benar membenci laki-laki termasuk itu ayahku sendri.
Yang ku lakukan hanya diam saja di rumah, duduk didepan TV, bermenung seolah-olah mengerti dengan apa yang ku lihat di TV. Setiap malam bunda dan kakakku tidak pernah berhenti dari tangis mereka. Mereka sangat marah dengan tuduhan pesantren kepadaku, yang sebenarnya aku tidak melakukannya. Tidak ada cara lain lagi, kedua ortuku membawaku ke psikiater. Mereka menjelaskan semuanya yang terjadi pada diriku.
“pemulihannya sangat lama ini buk, pak,”ujar psikiater yang di datangi ortuku
Ortuku kaget, kemarahan mereka kepada pesantren semakin besar. Tapi ortuku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, ini semua sudah terjadi. Psikolog itupun memberikan saran agar aku di pindahkan dari pesantren itu, agar keadaan ku yang seperti ini tidak kembali lagi setelah sembuh nanti.
Setiba di rumah, ortuku berpikir panjang dengan saran yang di berikan psikiater tadi. Ortu ku mengajak semua keluargaku untuk membicarakan maslah ini. Semuanya setuju dengan saran psikiater itu, karena mereka juga mengkhawatirkan hal yang sama denga psikiater itu.
2 minggu lamanya kujalani kedepresianku ini, Alhamdulillah keadaanku sedikit memulih dengan di datangkannya teman-temanku ke rumah untuk menghiburku. Aku sudah mulai berinteraksi dengan keluargaku, dan teman-temanku. Akupun sudah mulai tertawa. Ortuku, kakakku, teman-temanku sangat senag denga perubahan yang ku dapatkan setelah menjalani beberapa kali teraphy di Rumah Sakit. Tapi satu yang mash tidak bisa ku hilangkan dari diriku, perasaan benciku kepada laki-laki tidak bisa di hilangkan, walaupun kakakku sudah menasehatiku, tapi sulit bagiku untuk menghilangkan perasaan ini. Walaupun begitu, semua keluargaku sangat bersyukur dengan keadaanku yang sudah mulai membaik ini.
Setelah keadaanku sangat baik. Ortuku mengajakku membicarakan tentang sekolahku.
“jadi kapan ni ai bisa balik ke pondok lagi?kan udah mulai belajar di pondok,” tanya bunda iseng
Raut wajahku langsung berubah.
“ai ngak mau lagi pergi k yang namanya pesantren bun,yah,” ujarku tegas
“ai yakin dengan keputusan ini?” tanya ayah meyakinkanku
“ai rela kok yah kalau seandainya nanti ai ngak sekolah lagi,” kataku juga meyakinkan ayah dam bunda
Ayah dan bunda terdiam sejenak.
Karena ayah dan bunda belum yakin dengan masalah kepindahan ini, ayah dan bundapun mendatangkan hypnoteraphy ke rumahku. Yang mana aku di hypnotis secara baik-baik. Dan aku di tanyai tentang keinginanku yang sebenarnya. Ternyata di alam bawah sadarku pu berkeinginan untuk mencari suasana lain lagi, yaitu intinya aku inigin pindah dari pesantren itu.
Setelah mengetahui itu semua, ortu ku di sibukkan dengan pengurusan surat-surat pindah dsn jugs mencarikan sekolah baru untukku. 2 hari setelah pengurusan surat-surat pindah itu, kupamit dengan semua teman-temanku dan guru-guruku. Dan juga sekaligus mengambil barang-barangku yang masih tertinggal di pesabtren. Itu adalah perpisahan yang sangat menedihkan bagiku. Pertemanan yang sudah berjalan 5 tahun lamanya, akn terpisah begitu saja. Tangisan, berontak, protes keluar dari mulut teman-temanku. Mereka tidak terima dengan kepindahanku. Mereka berusaha untuk menahanku, tapi itu semua percuma, karena aku sudah terlanjur sakit.
“aku bkal tetap merindukan kalian semua,” ujarku terisak-isak
“aisyah……….,” suara pengaharapan itu terdengar di telingaku
“selamat tinggal teman-temanku semua,” desisku
Ku lenyapkan lamunanku akan kepahitan dan kesedihan yang ku alami saat itu. Ku hapus air mataku yang kembali membasahi kedua pipiku.
“ini semua kenangan pahit yang tidak bisa ku lupakan,” desisku
“selamt tinggal teman-temanku, aku akan selalu merindukan kebersaan dengan kalian semua,”
Aku sangat berharap, di sekolah baru ini, aku akan menjadi yang terbaik untuk sekolahku, ortuku, keluargaku, dan diriku sendiri. Walaupun rasa benci ku pada laki-laki masih menyelinap dalam hatiku, tetapi aku selalu berusaha untuk menghilangkannya dan selalu berfikir positive dengan laki-laki, karena tidak semua laki-laki yang seperti itu.
Ku buka lembaran baru dengan teman-teman baru ku, dengan harapan kebahagiaan selalu mendampingi langkahku.
Aku juga berharap di sekolah baru ini, aku bisa membuktikan kepada semua orang bahwa aku bisa menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Amiiiiiiiiiiiiinnnn…………
Penulis adalah mahasiswi STAIN Dj.Djambek
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Cinta Satu Malam
- D' True Love
- D' True Love
- D' True Love
- D' True Love
- Anugerah Pelestarian Lingkungan Hidup
- Mencari Cinta Kasih di Belakang Balok
- Tiga Cincin di Liang Lahat (03)
- Tiga Cincin di Liang Lahat (02)
- Tiga Cincin di Liang Lahat (01)
- Batanggang
- Batanggang
- Batanggang
- Batanggang
- Batanggang


























