Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Cerpen & Cerbung Ketika Gunung Juga Punya Cara

Ketika Gunung Juga Punya Cara

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Pandanganku mengabur saat Gunung Kelud meletus. Bukan lontaran lahar merah membuncah yang melintas seketika di angan. Saat berita letusan Gunung Kelud menjadi diraja pemberitaan media massa di tanah air, justru bayangan Mak Jannah berkelebat sepesat angin di ruang hatiku. Bayangan perempuan berusia lanjut tersebut lebih perkasa menyita perhatianku ketimbang berita tentang abu vulkanik letusan Gunung Kelud yang beranjangsana hingga beberapa kota besar di tanah air.

Degup jantungku beranjak naik dan terus naik intensitasnya. Keringat menetes jauh lebih deras ketimbang titik-titik hujan yang menyiram genting kamar kontrakan. Meski udara dingin mengiringi hujan tanpa alpa, tubuhku memanas tembaga. Menggelisah karena Gunung Kelud yang berbicara.

Ingin rasa hati sesegera mungkin menelpon Mak Jannah di kaki Gunung Kelud. Menanya, bagaimana keadaannya? Apakah beliau baik-baik saja? Di manakah beliau sekarang?

Tetapi sebongkah lempeng batu raksasa seakan menyumbat muntahan lava tanyaku kepada Mak Jannah. Lempeng batu raksasa itu adalah rasa ragu karena jelas nomor yang akan kuhubungi adalah nomor ponsel milik Aisyah, perempuan yang membuatku jengkar dari kaki Gunung Kelud, mengembara kemana-mana hingga terdampar di tanah panas seperti Jakarta.

“Kau tidak berpamitan dulu dengan Makmu, Jannah, Le?”

Tak kujawab segera pertanyaan Bapak. Aku tunggu beliau mengepulkan asap rokok dari mulut udzurnya lebih dulu.

Sembari mengaduk sendiri kopinya dalam cangkir kaleng putih besarnya, Bapak mengulangi lagi pertanyaannya saat aku hendak berangkat, pergi menjauhi kaki Gunung Kelud dan Aisyah.

Mboten, Pak,”

Kowe segan nanti ketemu Aisyah?”

Kalimat Bapak seperti mata mesin keruk mengaduk-aduk pasir hati. Tas yang sudah kurapikan kulepaskan di dekat almari pakaianku. Tubuhku menghempas tanpa belulang di dipan kayu tanpa kasur tempatku menabur mimpi. Mimpi tentang masa depan, mimpi tentang Aisyah serta Mak Jannah disisinya.

“Aisyah itu cantik, Pak,”

Tanpa sadar mulutku menggumam. Suara tawa Bapak pecah. Kepingannya semburat memenuhi ruangan kamar. Beberapa keping tertinggal di dinding, tergantung di poster rocker luar negeri yang aku sendiri tak bisa menghafal namanya dengan benar, satu dua menempel di kaca spion yang biasa kugunakan mematut diri sejak sekolah dulu.

“Memang jodoh, rejeki, dan kematian itu rahasia Gusti Allah, Le, tapi kowe dan Aisyah tidak boleh membangun rumah tangga. Cukup manjing paseduluran saja, Le. Karena..”

“Mengapa Emak harus mati? Dan mengapa Bapak harus bertetangga dengan Mak Jannah?” potongku menuntut takdir.

“Ssssttt... Kowe wani sama Gusti Allah??!! Bapak juga ingin emakmu punya umur panjang dan masih bisa momong kowe, Le,” suara Bapak bergetar, aku juga menyesal telah membiarkan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Kulihat mata Bapak basah. Tapi tak ada setetes pun yang membulir-mengalir di lembah pipi tuanya. Aku cium tangan Bapak sebagai tanda maaf yang tak terkira. Ingin rasanya menelan kembali taklimat yang melukai hati Bapak dan melawan kehendak-Nya tersebut.

Kurasakan belaian lembut tangan Bapak memapar rambutku yang kubiarkan memanjang melewati krag baju. “Kowe mau kemana pergi kemana saja, doa Bapak selalu bersamamu, Le. Laki-laki memang harus panjang jangkahnya. Takdongakna, Le,”

Sedikit rasa sesal mengiringi ketika tetap kuputuskan untuk tidak mengucap pamit pada Mak Jannah, perempuan tua yang pernah merawatku di masa kecil. Tetapi, Mak Jannah pasti tahu. Bukan karena kurang baktiku kepada beliau, aku tidak berpamitan dan memohon doa restunya. Hal ini karena anak perempuannya, Aisyah, yang telah membuatku menjauhinya. Bahkan menjauhi tanah di kaki Gunung Kelud, selembar tanah-Nya yang kupijak kali pertama di dunia yang tidak abadi ini.

Langit mendung Jakarta tertawa di balik jendela kamar kontrakan. Seringainya mengejek kekalutanku. Aku melihat gigi-giginya sebesar genting rumah, kecoklatan tanpa sentuhan pasta gigi sama sekali. Aku memandangnya dengan kesal menumpuk.

*******

Sebelum aku bisa bijak memahami bahwa gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kedirianku. Sebelum aku dengan lapang dada mengerti tentang gunung yang memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Tentang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Aku putuskan untuk pulang.

Kereta yang kutumpangi harus berhenti di Madiun. Malam kian menguburkan terang di kota brem tersebut. Udaranya berat bersimbah abu vulkanik Gunung Kelud yang menyambutku ramah. Dalam lembut butiran-butirannya ku dapati kehangatan sayang Mak Jannah. Saat perempuan itu dulu memandikanku, menyuapiku, dan menemaniku tidur dengan dongeng-dongeng Mahesa Sura yang menggetarkan hati.

Aku biarkan butir-butir abu vulkanik tersebut rebah di rambut dan tubuhku. Aku merasakan hangat tangan Mak Jannah. Bagaimana keadaan perempuan tua itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Langkahku berhenti di depan sebuah warung kecil. Orang-orang di dalam warung kecil tersebut sama dengan orang-orang yang singgah di ruang pandangku sejak stasiun kereta tadi. Selembar masker menutupi alat nafas mereka. Aku yang hanya menangkupkan sapu tangan sekenanya di wajahku, mengambil tempat di antara mereka. Sebuah televisi yang menayangkan berita tentang situasi terkini dampak letusan Gunung Kelud menjadi pusat perhatian.

Kepalaku mengangguk saat si tukang warung memberi isyarat tanya tentang makanan dan minuman yang hendak kunikmati. Seperti orang-orang lainnya, tayangan berita dalam kotak layar kaca di dinding warung kecil itu juga menjadi perhatianku. Besar harapanku, ada berita terkini tentang kondisi di kaki Gunung Kelud. Besar pula harapanku, aku segera tahu bagaimana kondisi Mak Jannah dan keluargaku lainnya karena aku masih belum berani menghubungi nomor ponsel Aisyah yang kudapatkan setahun lalu dari sepupuku yang juga merantau ke Jakarta.

Sepupuku tersebut tadi pagi telah memberitahuku bahwa Bapakku dan beberapa anggota keluarga lainnya telah aman di pengungsian. Itu cukup melegakan. Namun, sepupuku itu belum juga dapat kabar tentang Mak Jannah dan Aisyah. Hal ini yang membuatku senantiasa memelihara irama tinggi degupan jantung sejak dari Jakarta pagi tadi. Semoga Mak Jannah, juga Aisyah, baik-baik saja. Doa sederhana itu pula yang tak henti mengumandang di antara titir jantungku.

Satu hal yang aku syukuri. Saat aku putuskan untuk pulang ke kaki Gunung Kelud, selembar tiket kereta api dengan mudah ku dapatkan karena ada seorang pemesan tiket yang membatalkan keberangkatan. Keberuntungan yang tidak berpihak kepada sepupuku pengabar warta tersebut, karena dia harus menunggu seminggu lagi. Ketika basa-basi kutawarkan padanya, dia hanya tertawa karena aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari wajahku tentang Mak Jannah dan Aisyah di pelataran stasiun pagi tadi.

“Tuhan itu tidak tidur, Li. Mungkin sekarang Beliau sedang menjalankan skenario-Nya melalui urun rembug-nya gunung,” seloroh sepupuku tersebut dengan membenamkan sebuah amplop coklat ke dalam saku dalam jaketku. Dia titip uang buat orang tuanya.

Jujur aku tidak memahami kemana arah pembicaraannya, aku hanya mengejeknya dengan kata-kata tentang waktu yang terlalu pagi berbicara tentang Tuhan, apalagi gunung. Tapi ejekanku justru membuat tawa sepupuku itu semakin lantang terdengar, kesal aku mendengarnya karena suaranya mirip sekali dengan tawa langit mendung Jakarta kemarin malam.

Dengan lahap, nasi sedikit bertabur abu vulkanik Gunung Kelud berpindah dari piring ke dalam perutku. Rasa lapar yang menyiksa sejak pagi tadi terusir tanpa duka, tanpa air mata. Lagi-lagi, aku merasakan kehangatan cinta Mak Jannah ketika menyuapiku dulu. Cerita tentang ayamku yang mati jika tak kuhabiskan nasi berlauk tempe kering di piring membuat bayangan Mak Jannah semakin perkasa di ruang khayalku. Sosok perempuan keibuan itu mampu menggantikan ibuku sendiri yang dipanggil Sang Khalik ketika melahirkanku. Tak pernah kudapati kedahagaan figur ibu karena keikhlasan hati Mak Jannah. Terlebih, Aisyah yang lahir hanya berselang hari denganku menjadi salah satu alasan beliau untuk sudi membagi ranjang kasih-sayangnya dengan seorang anak yatim bernama Ali ini.

Malam ini juga, aku akan melanjutkan langkahku ke kaki Gunung Kelud. Mak Jannah, Aisyah, aku datang.

*******

Tak bisa aku ingkari gunung memang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Aku hanya bisa mengangguk saat gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Memang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Seperti halnya hidayah di hati, sesuatu akan terbuka pada saatnya.

Tangan-tangan anggota kepolisian juga beberapa anggota Basarnas menghalangiku untuk mendekati kampungku di kaki Gunung Kelud. Wajah-wajah mereka yang pucat karena abu vulkanik tampak membara. Sepotong dua potong kalimat kasar memerahkan telinga. Kawasan bencana memang objek wisata, hanya aparat yang terkait dan awak media yang boleh memasukinya. Tapi kawasan bencana itu adalah tanah tumpah darahku. Ada orang-orang yang aku cintai tinggal di bawah langitnya.

“Cari di pengungsian, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi!!” bentak salah seorang dari mereka.

“Ini daerah rawan. Kami bisa kena masalah kalau masih ada warga yang blusukan,” mataku bergerak ke arah lelaki berjaket hijau loreng yang berbicara barusan.

“Ini bukan Jatim Park, Mas,” tak ku tahu siapa yang mengeluarkan kata-kata itu. Tapi kata-katanya membuatku tekanan darahku berlomba deburan lava panas di kubah kawah Gunung Kelud. Semakin meninggi.

Langkahku segera menuju ke sumber suara. Ingin rasanya memukul mulut yang memanaskan hati itu. Belum juga kesampaian, ponsel yang tersimpan di saku celanaku berbunyi. Suaranya mencuri perhatian siapa saja di dalam tenda komando itu. Suaranya juga menghentikan langkahku. Lelaki berjaket hijau loreng memberi isyarat kepadaku untuk mengangkat telpon dulu. Entah mengapa, aku segera saja mengiyakan isyaratnya. Seorang lelaki berkaos Basarnas dan berwajah tirus meninggalkan tenda komando, keliatannya dialah orang yang membuatku naik pitam barusan.

Mataku terbelalak melihat nama siapa yang muncul di layar ponselku. Aisyah. Dari mana dia mengetahui nomor ponselku? Mungkinkah sepupuku?

Aku tak segera memijit tombol bergambar tanda telpon hijau di papan kunci ponselku. Lagi-lagi, lelaki berjaket hijau loreng itu memberi isyarat agar aku segera menerima panggilan masuk mengagetkan itu. Sungguh, sesuatu yang tidak kubayangkan, perempuan pujaan yang membuatku jengkar dari kaki gunung ini sekarang menghubungiku. Andai segera kuterima, apa yang harus kuucapkan padanya.

Aku yang tidak enak segera meninggalkan tenda komando meninggalkan aparat keamanan dan satuan tanggap bencana di sana. Dua langkah dari tenda komando, aku beranikan diri untuk menerima panggilan masuk tersebut.

Assalamu’alaikum, Halo, Mas Ali..” aku terngungun, suara perempuan cantik putri perempuan yang penuh dengan kasih sayang merawatku dulu itu terdengar merdu sekali. Seperti ketakutanku sebelumnya, kata salam yang seharusnya segera kubalas pun berhenti di tenggorokan, “Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Mas Ali, Halo...”

Wa’alaikum... Salam...” terbata dan terputus-putus jawab salamku, berikutnya suara renyah di seberang sana. Aisyah mengabarkan bahwa dirinya dan Mak Jannah baik-baik saja. Katanya sepupuku baru saja menelepon dan memberitahukan bahwa aku sudah sampai, sehingga dia memberanikan diri untuk menelepon.

Kabar menggembirakan itu masih kubalas dengan kata-kata gagap. Hingga Aisyah mentertawakan keguguanku hingga tanpa sadar ternyata perempuan cantik itu telah berdiri tak jauh di dekatku. Subhanallah, aku menyebut nama-Nya dalam hati, Aisyah tampak semakin cantik dalam seragam awak kesehatan membalut tubuhnya.

Abu vulkanik yang memenuhi udara di kaki Gunung Kelud itu terasa tak menyiksa saat kupeluk tubuh udzur Mak Jannah di salah satu tenda pengungsian. “Mengapa Bapakmu atau kamu sendiri tak pernah menanyakan, apakah dulu dirimu juga menikmati air susuku, Le?” di dekatnya Aisyah tersenyum kecil malu-malu, senyum itu persis seperti saat pertama mengiyakan ajakanku melewatkan malam minggu di alun-alun Kediri setahun yang lalu.

Tampak raut bijak Mak Jannah mengetahui musabab kepergianku meninggalkan kaki Gunung Kelud. Beliau melepaskan pelukannya dan melepaskan lava yang mengganjal di kubah hatinya selama ini.

“Ketika bapakmu pergi kerja ke Surabaya, memang kamu kurawat seperti halnya Aisyah, Le. Tapi, kamu tidak pernah aku susui karena bukan aku pilih kasih. Hanya saja, cuma sebelah yang mengeluarkan air susu. Sementara Aisyah itu neteknya kuat dan suka rewel. Jadi, maafkan emak, Le. Kamu harus mengalah,” Mak Jannah tersenyum lega, “Jadi, jika kamu ingin menyunting Aisyah itu halal,”

Suara tawa lepas sanak-saudara, tetangga, dan kerabat yang lain terdengar mengiringi kata-kata Mak Jannah. Kulihat Bapak hanya garuk-garuk kepala seperti memohon maaf karena membuat simpulan sendiri tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Aisyah semakin menunduk dengan senyum malu-malu. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana warna raut wajahku. Hanya saja, gunung memiliki cara sendiri untuk urun rembug. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Alhamdulillah. Istimewa.

*******

Jombang, Pebruari-Maret 2014

 

 

Keluarga Lintas Atjeh Buka Bareng "Bu Lam Oen"
Jumat, 23 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Loyalitas, Solidaritas, Soliditas Dan Jiwa Korsa terus dipupuk oleh keluarga besar Lintas Atjeh, moment kebersamaan dalam meningkatkan tali silaturahmi dengan Bukber. Ada hal menakjubkan yang dilakukan keluarga Lintas Atjeh bersama anggota PPWI Aceh Selatan pada saat berbuka puasa di rumah Rahmatillah di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (22/06/2017), yang menyajikan menu buka puasa... Baca selengkapnya...

PPWI Media Grup Aceh Selatan Bagi Takjil Gratis Kepada Pengguna Jalan
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Bulan Suci Ramadhan adalah penuh berkah, semua orang, organisasi atau komunitas berlomba - lomba memanfaatkan untuk berbuat kebajikan, tak terkecuali Komunitas Persatuan, Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DPC Aceh Selatan. Setelah sebelumnya media Lintas Atjeh dan PPWI Aceh Selatan melaksanakan buka puasa bersama dan menyantuni anak yatim piatu di Desa Lhok Ruekam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kali ini kembali... Baca selengkapnya...

Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa, Media Lintas Atjeh Santuni Dhuafa
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Dalam bulan puasa ini mari kita sucikan hati bersihkan jiwa, saling peduli dan mengasihi, masih banyak saudara kita yang butuh perhatian dan kasih sayang, terlebih kepada kaum dhuafa dan yatim piatu. Hal tersebut disampaikan oleh Pimred Lintas Aceh Ari Muzakki pada saat mengunjungi kediaman kaum dhuafa dan anak yatim piatu bersama rombongan dalam rangka buka puasa bersama dan menyantuni yatim piatu di Gampong Lhok Reukam,... Baca selengkapnya...

Cek Endra Beri Santunan Masyarakat Di Pasantren Miftahul Jannah
Selasa, 20 Juni 2017

  KOPI Sarolangun, Memberi santunan pada Anak yatim, orang tua Jompo serta masyarakat telah menjadi kebiasaan dimata publik dan semakin  melekat pada sosok Cek Endra yang kini juga menjabat sebagai Bupati Sarolangun. Pasalnya, Kegiatan Santunan tersebut kerab dilakukan Cek endra bukan hanya saat Bulan Ramadhan, akan tetapi telah menjadi kebiasaan, sebab berbagi dan bersodakoh adalah merupakan Amal yang Pahalanya terus mengalir. Kegiatan itu... Baca selengkapnya...

Presiden Joko Widodo Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Istana
Selasa, 20 Juni 2017

KOPI, Jakarta - Buka puasa dilaksanakan secara lesehan di Istana Negara, Senen (12/6-17). Presiden mengundang anak yatim piatu dan penyandang disabilitas berbuka bersama di istana. Sebelum berbuka di awali pembacaan pemenang lomba Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat anak-anak digelar tadi pagi (red. Senen). Acara dilanjutkan dengan mendengarkan kultum dan buka puasa bersama. Presiden Jokowi beserta anak yatim menunaikan Shalat Maghrib... Baca selengkapnya...

Kordias Resmi Jabat Wakil Ketua DPRD Riau Sisa Masa Jabatan 2014-2019
Selasa, 20 Juni 2017

KOPI, Pekanbaru - Rapat paripurna DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dipimpin oleh Ketua DPRD Riau Septina Primawati didampingi Wakil Ketua Sunaryo dan Noviwaldy Jusman bertempat di ruang paripurna gedung DPRD Riau ,Kamis (15/6-17 ) Ketua DPRD Riau Hj. Septina Primawati mengungkapkan, pelantikan dilakukan sesuai dengan SK Mendagri nomor 161.14-3247 Tahun 2017, perihal pemberhentian dengan hormat wakil ketua DPRD Riau atas nama Manahara... Baca selengkapnya...

Ketum PPWI Hadiri Undangan Buka Puasa Bersama di Kediaman Dubes Maroko
Minggu, 18 Juni 2017

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke, yang adalah juga Ketua Persaudaraan Indonesia-Sahara-Maroko (Persisma), berkesempatan menghadiri undangan Iftar (berbuka puasa) bersama di Kediaman Resmi Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, H.E. Mr. Oubadia Benadbellah, Kamis, 15 Juni 2017. Acara yang dimulai sejak pukul 17.30 Wib itu diawali dengan temu-ramah dengan Bapak Dubes Maroko, sekaligus sebagai ajang perkenalan karena beliau... Baca selengkapnya...

NASIONALDPD RI Cek Kesiapan Final Pelabuhan Tanj.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Tanjung Priuk - Wakil Ketua DPDRI Nono Sampono sambangi pelabuhan tanjung priuk dan terminal Pulogebang mengecek info kesiapan moda transportasi [ ... ]



DAERAHHari Raya Idul Fitri 1438 H, Yonif 115/M.....
24/06/2017 | Haes Hajuna

KOPI, ACEH SELATAN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, Yonif 115/ML beserta kompi-kompi jajaran Yonif 115/ML menyerahkan zakat fitra [ ... ]



PENDIDIKANObrolan Santai dengan Kepsek SMK I Sei K.....
19/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pelalawan - Pak Kepsek (Kepala Sekolah) saya dengar dulu Sekolah ini milik yayasan alias swasta, kini sudah negeri bagaimana ceritanya. Betul ,  [ ... ]



EKONOMIHari ke-14, Pengunjung Jakarta Fair Menc.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Malam muda-mudi yang diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota DKI Jakarta yang ke-490, berhasil digelar dengan meriah di  [ ... ]



HANKAMBeri Penyuhan Hukum, Yonif PR 502 Kostra.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Kalimantan Barat - Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI – Malaysia Yonif Para Raider 502 Kostrad yang dipimpin oleh Letkol In [ ... ]



OLAHRAGAIni Dia Para Pemenang Wrangler True Wand.....
21/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Sebuah petualangan besar tahun ini “Wrangler True Wanderer 2017” baru saja menemukan pemenangnya. Mereka telah menunjukan bahwa m [ ... ]



PARIWISATAJakarta Fair Kemayoran Tetap Buka di Har.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

  KOPI, Jakarta - Penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2017 kini telah memasuki hari ke-15. Sebanyak 2.700 perusahaan yang tergabung dalam 1 [ ... ]



HUKUM & KRIMINALWaspada !!.. Menaiki Roller Coaster, Men.....
24/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Pusat perbelanjaan Trans Mart  barusan diresmikan oleh pemiliknya Chairul Tanjung sebulan yang lalu telah memakan korban seorang  [ ... ]



OPINIPeran dan Komitmen Pemerintah dalam Upa.....
21/06/2017 | Harjoni Desky

Jaminan Kesehatan Nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan JKN, hadir dalam rangka memenuhi hak masyarakat dalam bidang kesehatan. Pemenuhan ha [ ... ]



PROFILObrolan Santai dengan Camat Sentajo Agus.....
11/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Kuantan Singingi - Obrolan santai dengan Camat Sentajo Raya Agus Iswanto, SSTP dengan wartawan Pewarta- Indonesia di ruangan kerjanya, hari Jum [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAYoesi Ariyani Lestarikan Tari Klasik Jaw.....
28/05/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam era globalisasi sekarang ini, nilai-nilai tradisi sudah mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat modern karena dianggap tidak s [ ... ]



ROHANIAl Quran dalam Seni Batik.....
13/06/2017 | Muladi Wibowo
article thumbnail

  KOPI -  Mengisi bulan dengan beragam amalan merupakan hal yang biasa dilakukan oleh kaum muslim dimana saja, hal yang berbeda terjadi di kawasa [ ... ]



RESENSIFilm Jailangkung: Dari Permainan, Beruba.....
15/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - PERMAINAN boneka jailangkung masih adakah yang memainkannya? Ada dan banyak. Ritual pemanggilan arwah sangat lumrah dilakukan. Apalagi [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATISeptember Nanti Tembilahan Tuan Rumah Wo.....
06/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru - Indragiri Hilir (Inhil) merupakan daerah penghasil Kopra terbesar di Asia, 432 ribu Hektare kebun Kelapa milik rakyat maupun milik  [ ... ]



SERBA-SERBIMalam Muda Mudi Meriahkan Perayaan HUT J.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Malam muda-mudi yang diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota DKI Jakarta yang ke-490, digelar dengan meriah. Pada dasarn [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.