Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDATiga Pilar "Gowes Bareng" Bersama Masyar.....
01/08/2015 | Joe R Manalu

KOPI - Cengkareng - Sabtu pagi (01/08) kegiatan tiga Pilar "Gowes bareng" bersama dengan masyarakat ± 200 yang di hadiri Kapten inf Ober Purba (Danramil 04/Ckr) beserta jajarannya , Kompol Aji Sutarj [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Cerpen & Cerbung

CERPEN & CERBUNG

Ketika Gunung Juga Punya Cara

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Baca selengkapnya...

 

Cerita Pagi...

KOPI - Handphone Android bermerek Zenfone 5 ku bergetar. Saya jarang sekali menyetelnya berdering. Kalau tidak bergetar, pasti dalam keadaan silent. Sudah hampir setahun saya menggunakan si hitam ini, selalu setia menemani berselancar di dunia maya.

Saya termasuk tipe orang yang malas menerima telepon. Menerima dan mengirim pesan melalui text lebih efisien dan tidak mengganggu.

Baca selengkapnya...

 

Djumenengipun Ndoro Papin - 3

Siang itu Sang Kawi duduk termenung, bersandar pada balok persegi peninggalan era kolonial yang setia berdiri menancam di puncak bukit. Terik mentari terhalau semilir angin dan indahnya panorama luas padukuhan-padukuhan yang mengeliling di bawahnya. tatapanya, menggelayut sayup mengiringi suara benak yang beradu argumen dalam forum pemikirannya.

" Apakah benar, dengan bergantinya pemimpin akan berpengaruh pada beralihnya wajah nusantara kecilku yang mempesona."

" Benarkah apa yang di katakan orang, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme itu bisa sirna".

" Sekuat apakah tekat dan penerapan hal yang manusia sendiri senang akanya".

" Okelah tidak senang, akan tetapi membutuhkanya".

" Jika iya, kenapa orang musti berebut satu kedudukan dengan alasan yang serupa?"

" Demi dan untuk perubahan kesejahteraan, keadilan, kemajuan..tidak Korupsi Dll..".

" ah, begitu sibuknya orang dengan yang namanya, pujian, kepentingan,penghargaan dan pengakuan".

" Hingga kadang rela merajut jebakan, bermanis muka, menepuk dada sampai menghalalkan segala cara".

" Bukankah itu sudah melakukan Korupsi. Korupsi pilihan, korupsi kebebasan memilih, korupsi kemerdekaan bersuara dan menyatakan apa yang seharusnya.  Yaach, mungkin itu hanya bagian dari strategi, bagian dari kepentingan untuk pencapaian".

" Tapi apakah terpikir juga, dengan demikian kita telah berusaha menghalalkan segala cara, dengan dalih itu baik, benar dan demi perubahan atau lainya".

Apa benar menurut satu kepentingan itu sudah bisa di katakan benar dan sah harus di akui, di maklumi, di dukung dengan memaksa atau paling tidak dengan mengarahkan seorang untuk berpikir sama".

" Jelas sudah bahwa kita sudah tidak mampu untuk menghargai hak dan kebebasan lain, tetap pada intinya adalah di mana kepentingan kitalah yang harus di dukung dan untuk itu di terapkan berbagai cara, itukah kebenaran?".

" Kalau suara-suara benar saja masih di ragukan dengan melakukan segala cara, bagaimana bisa itu di sebut demi kita, demi semua....mungkin maksud dari kita dan semua adalah, kita yang satu koloni, semua yang ikut dalam berjuang mewujudkan kepentingan ".

"Kepentingan. payah juga kalau sudah namanya kepentingan, yang jelas kepentingan yang ada dan berguna bagi yang berkepentingan, sekalipun polesanya untuk semua yang di luar yang berkoloni kepentingan, toh akhirnya tetap yang ada namanya keuntungan, bagi siapa?..tentunya bagi yang berkepentingan. Apalagi kalau sudah mencapai posisi penting dan di pentingkan jelas sudah, mustahil kalau akan lepas dari kepentingan yang menguntungkan".

"wah, gak mungkin sudah nuswantaraku lepas dari jeratan akar KKN, bolehlah hilang rupa yang lama namun akan muncul juga wajah dan corak KKN yang baru, itu pasti, karena mereka semua berkepentingan".

"emmm....biarlah, kenapa pula aku memeikirkan semua, semoga celoteh pikiranku salah. Nuswantara kecilku memang harus berbenah, harus merias diri agar lebih tampis elok dan harmoni. Apapun sapa senyumnya itulah pesona yang akan terus menghiasi warna dalam kencah pelangi dunia sandiwara".

Tak terasa cakrawala jingga mulai menghias langit barat, kepakan sayam ayam alas menyadarkan sang kawi dari keasikan surga guman.

Menatap panorama sekeliling, masih terasa berat sang kawi dari puncak bukit sebelah padukuhan. Rumput, daun ranting pohon dan tepisan angin masih setia menyapa dan menawarkan pesonanya.

Garis besar sang kawi dari forum perdebatannya adalah, manakala kepentingan masih bercokol dalam benak yang di dukung dengan suara-suara lain yang sepihak, dan karenanya membuahkan satu koloni pendukung yang dimana kita menghalalkan semua cara untuk mencapainya. Maka yang namanya Demi dan Demi semua yang di luar koloni kepentingan kita adalah Gombal!! KKN akan terus melenggang dengan wajah dan kreasi yang berbeda, dan akan terus melirik mata-mata lain agar terhanyut dalam buaian tari hingga tak sadar merekapun sebenarnya telah larut untuk mendukung atau berbuat hal sama walau beda cara.

KKN akan selalu ada, biarkanlah. Cukup kita malu melakukanya dan jangan pernah melawan dengan calon KKN lainya.

Di atas segala kepentingan yang di lakukan bersama-sama atau mencari dukungan adalah menjerat kita dalam satu rangkaian budi dan bukan mustahil, mendasari hal melakukan perbuatan yang orang lain di rasa tidak tahu.

cukuplah berpikir akan hal itu.(hd)

 

Djumenengipun Ndoro Papin - 1

Suara kaki kuda  kadang melintas dan berbaur dengan suara langkah kaki mengisi malam. Berselimut dingin hanya lantunan sayup pujian dan kadang cacian beradu, bisik- bisik itu mewarnai suasana sepi desa di kaki pegunungan. Gendrang tanpa deru yang  sahdu terus berkumandang, kobaran semangat berlomba, berpacu melibas lawan tanpa peperangan. Begitulah gambaran keseharian dalam satu perebutan nuansa, di mana dari masing-masing kawanan menggalang kemenangan untuk memperebutkan simpati dan dukungan dalam pencanangan tunggal," yaaach....Tuanku harus menjadi pimpinan" guman kang sampar, sambil meneguk segelas kopi.

Sampar adalah salah satu dari sekian abdi kinasih dari Ndoro Papin yang kala itu merupakan salah satu putra pemangku yang di calonkan sebagai pemimpin Padukuhan Bakal.

Hari demi hari Sampar bersama poro sentono abdi dalem terus melakukan gerilya. Pagi, siang, sore, malampun tak pernah mereka lewatkan untuk terus memberikan asupan kepada poro kawulo agar, pada saatnya pemilihan jangan sampai salah dalam memberikan dukungan.

" Ndoro pain adalah satu-satunya yang layak untuk menggantikan Mbah Mangku, jadi sedulur-sedulur jangan lupa untuk memilihnya. Karena hanya panjenenganya yang memiliki pengetahuan luas dan ilmu yang mumpuni untuk melanjutkan kepemimpinan Mbah Mangku". ajak sampar.

Demikian juga dengan poro abdi kinasih lainya, mereka terus mengembangkan sayap pesona agar supaya semua tahu dan setuju apabila, tongkat pemangku di wariskan pada ndoro papin dan bukan yang lainya.

Suatu hari ketika matahari mulai terbenam, Sang Kawi seperti biasanya melaras gambang. Di teras ruma, sang kawi nampak sibuk menyatukan suara untuk mencapai nada gambang dalam menembang. Tanpa ia sangka datanglah seseorang yang menghampiri " kulo nuwun..?" suara menyapa di iringi ketikan pada papan dinding tersnya.

"oh, ndoro papin...monggo ndoro, monggo pinarak..?!' ( oh, ndoro papin..mari silahkan ndoro, silahkan masuk..) Sang Kawi menyambut sapa ndoro papi, sambil berdiri dan mempersilahkan masuk tamunya.

" Tumben ndoro..habis dari mana, apa memang sengaja kesini?." tanya Sang Kawi setelah mempersilahkan duduk.

"Iya Wi...aku sengaja kesini, yach..kita kan lama gak silaturahmi.." jawab Ndoro Papin.

"I njih betul ndoro..."

Setelah berbasa-basi cukup lama, ndoro papin melanjutkan untuk menyatakan tujuanya ke Sang Kawi.

"Begini Wii...terus terang, saya minta buatkan lirik lagu sama kamu, rangkaitkanlah yang syairnya bisa membuat kawanmu ini  nanti pada saat penobatan tongkat pemangku,  aku yang terpilih untuk menyambung estafet..". Aku tahu...bagaimanapun caramu, kamu akan bisa untuk itu, karena kamu kan sudah kebiasaanya..." ungkap ndoro papin.

"Njih, ngestok aken ndoro, tapi kenapa harus ke saya, kan banyak yang lainya ndoro..?" kilah Sang Kawi Bertanya?.

"Begini wi...semuanya juga sudah tak pesani, tapi kamu juga harus ikut membantu donk...usung-usung lumbung begitu lho wii..?! udahlah, nanti kalau aku jadi, kami bakal tak jadikan pujanggaku, gak ada yang lain..yo?!" jawab ndoro papin sembari memberi janji.

" iya..iya..ndoro, semampu dan sebaik saya akan membantu..., dan ndoro mbok gak usah pakek iming-iming janji begitu..bagaimanapun jenengan ini kan kawan, jadi pasti tak bantu sebisa saya."

" wes ta wi..tidak usah kuatir?!..nanti kalau sudah jadi tidak akan ada yang bisa nolak keputusanku, siapapun gak boleh..harus ,dan hanya kamu saja, karena kamu yang bisa itu..".

tak terasa seberapa lama mereka ngobrol, hingga kedua kali ndoro papin datang di hari yang lainpun tetap dalam bahasan yang sama ke sang kawi.

sampai pada saat mendekati hari H, datanglah utusan Ndoro Papin ke rumah sang kawi atas perintahnya (Ndoro Papin).

Bermaksud untuk menanyakan apa saja perlengkapan dan kebutuhan sang kawi, dalam merangkai syair dan lirik untuk sang ndoro papin. Karena mengingat semua perangkai sudah mengajukan syarat dan kebutuhan/ perlengkapan merangkai syair. Akan tetapi sang kawi menggelengkan kepala " tidak, aku tidak membutuhkan apapun, aku akan merangkai sebaik mungkin untuk sang ndoro, biar yang lain minta kebutuhanya, cukupi karena mereka perlu untuk itu. Namun aku tidak, aku hanya butuh hening dan itu bisa ku dapatkan sendiri." kata sang kawi pada utusan ndoro papin.

bersambung (hd)




 

Irony Buta Huruf (Lain Gatal Lain Digaruk)

Suatu malam,  sekitar jam 19.30 wita,  saya dan mantan pacar pergi ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa keperluan baby dan keperluan bulanan yg lainnya.

Tdk jauh dari tempat kami berdiri,  ada seorang remaja, tingginya sedang, kulit sawo matang, rambut sedang (mirip aktor korea), wajah lumayan cakepz (dibawah sy pastinya). DiaKelihatannya bingung memilih sesuatu, dengan memperhatikan label serta mencoba membau barang yg ada di depannya, smakin lama smakin bingung untuk menentukan mana yg mau dia beli.

Baca selengkapnya...

 

Kutitip Ginjal Ini

KOPI - Air mukamu sudah bisa ku lihat jelas, walaupun sedikit itupun karena kau paksakan untuk membersihkannya dengan air tajin yang sengaja kau oleskan pengganti masker diwajahmu. Sebenarnya apasih yang membuatmu begitu sedih dan tersiksa? Parfum beraroma tajam dihidung itu mengantarkan ingatanmu pada kejadian seminggu yang lalu, kejadian di Padang Fair ketika dalam keramaian kau disekap sendirian dibawah tenda biru disana ada minuman dan makanan gratis lalu kau dipaksa untuk ikut dengan mereka. Tempat itu masih mengingatkan dirimu akan kesepakatan untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang hal yang akan bisa membunuh cintaku pada lelaki yang telah meminangku satu bulan yang lalu?

Baca selengkapnya...

 

Menapak Jejak Masa Lalu di Alas Pamujan

KOPI - Adalah cerita dimana dahulu kala terdapat sebuah Kabekelan atau Padukuhan yang elok, asri dan mempesona.

Tertulis dalam coretan tinta leluhur, mengkisahkan tradisi budaya masa kabendaran dijadikan pakem desa sampai pada era kolonial dan pertamanan yang indah di atas bukit pesawahan berkembang dan beralih fungsi menjadi tempat wisata para ndoro-ndoro menir serta noni-noni Belanda waktu itu.

Baca selengkapnya...

 

Lontong Balango

KOPI - Rabu sore sebelum senja menjemput malam, Gadis pergi ke simpang Bunian, mencoba melulur lidah dengan makanan yang di jajakan di depan bekas gedung pengadilan Payakumbuh, gedung yang mengisyaratkan adanya keadilan dan ketidak adilan dalam palu yang menghantam gendang telinga dan menciptakan otot-otot jemari yang terpaksa tunduk pada tulang. Sekilas mengenang pengadilan itu, tersibaklah sebuah kisah orang yang menentang hukum yang di usung mulai dari pasar sampai pada penjara hanya berjalan kaki, pokoknya salingka nagari.Malu, memang tapi tujuanya saat itu untuk memberikan pelajaran pada masyarakat agar berhati-hati dalam bertindak di tengah keramaian.

Baca selengkapnya...

 

Mbah Sarlan dan Gerojokan Sewu

KOPI, Malang - Bendosari adalah satu di antara Desa yang berada di Kecamatan Pujon Malang Barat dan telah di tetapkan sebagai salah satu Desa Wisata unggulan oleh Pemkab Malang. Coban Sewu adalah satu di antara sajian Wisata yang di kelola Desa yang menjadi Desa Ekowisata tersebut.

Gerojokan coban Sewu Tretes, siapa yang tak Tahu keberadaanya, terlebih Warga Masyarakat Kecamatan Pujon, tentu pasti akan dengan senang hati menunjukan kemana arah pengunjung yang akan kesana.

Baca selengkapnya...

 

Kisah Pilu Seorang Bhayangkari

Cerita seorang istri polisi :

KOPI - Pada suatu hari menjelang lebaran (kira-kira seperti sekarang), seorang istri polisi mudik. Sang suami hanya mengantar pulang saja. Setelah itu polisi tersebut pulang kembali karena polisi itu pos pam.

Sepeninggalan sang suami, orang tua istri tersebut bertanya :

Orang tua : kenapa suami mu pulang lagi?

Istri. : iya pak, karena dia harus dinas lagi pak.

Orang tua : apa gak libur?

Istri. : tidak pak.

Orang tua : jadi suami mu nanti sahur dan buka, makan apa?

Istri. : dia bisa sendiri pak.

Orang tua : tapi anak tetangga kita yang dinas jauh bisa pulang ???

Baca selengkapnya...

 

Soekarno: Mien Hessels “Bunga Tulip Belanda”

KOPI, Tiga setengah abad atau 350 tahun negara Indonesia dijajah Belanda, berbagai penderitaan rakyat Indonesia zaman penjajah dahulu. Berbagai macam…
 

Impian yang Luruh

KOPI, Malang - Sebut saja namaku Iren 21 tahun. Aku berkulit kuning, berbadan tinggi di atas rata-rata cewek, rambut panjang sebahu. Aku asli kelahiran Malang. Begitu setiap lelaki melihatku pastinya akan tertarik dengan kecantikanku dan tubuhku yang indah. Tetapi, nasib yang aku jalani saat ini, masih kurang beruntung. Aku bekerja di tempat hiburan malam. Semua ini aku lakukan demi untuk mengais rezeky dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca selengkapnya...

 

Dalam Rencana Perburuan

Keriuhan pasar malam perlahan menghilang, cahaya lampu yg menyinari ruanganpun satu persatu mulai padam, mengisyaratkan rolling door bedak segera  menutupi pajangan-pajangan lapak yang berjajar tertata rapi, penghunipun melangkah ke area parkir dengan aneka rona wajah," sudah hari ini, esok semoga lebih baik" gambaran yang terbaca dari raut para penghuni - penghuni lapak yang hendak pulang.

Baca selengkapnya...

 

Dolar Singaporeku Berserak Tiada Arti

KOPI, BATAM - "Pokoknya aku harus pergi, biar banyak uang. Aku dah malas hidup di kampung hanya begini-begini saja!" Siti bertekad dan berpikir tiba-tiba. Dan apapun yang terjadi nanti, itulah resiko. Aku dah siap menghadapinya. Dengan penuh sopan-santun dan hati sedikit gundah, akhirya setelah pikir punya pikir Siti jelekpun mendekati emak bapaknya yang sudah sedikit renta,  dengan maksud hendak memohon ijin untuk meninggalkan mereka demi tekadnya.

Baca selengkapnya...

 

Last Maple Leaves

“Kaeru no ko wa kaeru.” Seru ibuku pada saat menatap wajah cowok seumuranku, yang baru saja membungkuk memberinya salam. Aku hampir tertawa saat wajah…
 

Maafkan Aku

KOPI - Aku tak pernah membayangkan sebelumnya kalau ibu sudah tak ada akan seperti ini, terlantar sepi kasih sayang dan penuh harapan. Ditengah malam saat adik-adikku sedang tertidur pulas. Aku tak pernah absen untuk memanjatkan berbagai doa untuk almarhumah Ibu dan yang pasti untuk Ayahku yang kini merantau di Kalimantan. Enam, atau bahkan setahun sekali Ayah pulang. Itupun kalau ada waktu cuti. Di rumah geribik bambu di pinggir kota inilah aku dan ketiga Adikku tinggal. Ani, Adikku yang berusia 16 tahun sudah menagihku dengan perayaan pesta ulangtahunnya nanti yang ke 17 tahun. Rafa, Adikku yang berusia 13 tahun sudah mulai merengek minta motor untuk pergi ke sekolah agar sama seperti teman-temannya yang lain yang sudah diizinkan orangtuanya mengendarai sepeda motor. Sedangkan Amelia, Adik bungsuku yang masih berusia 6 tahun justru tak pernah meminta apa-apa dariku kecuali memintaku untuk tidak meninggalkannya sendiri. Sungguh betapa besarnya kasih sayang yang mereka butuhkan saat ini.

Baca selengkapnya...

 

Aku Kembali Bukan Untukmu

“Apa maksud semua ini, Marni? Apa tak bisa lagi kita bicarakan?”

“Sudah terlambat, Bang!” Sekejap mata Marni meninggalkan Arman. Bus Antar Kota berwarna biru sudah menunggu di simpang jalan. Malam ini, Marni kembali pulang ke kampung. Meski berat, harus ia lakukan.

Semasa merajut cinta, Marni sosok perempuan yang begitu istimewa di mata Arman. Setelah sumpah sehidup semati diikrarkan, semua jadi berubah. Marni merasa diabaikan. Arman lebih suka menghabiskan waktu bersama teman sekerjanya. Sikap dingin Arman, membuat Marni menelan pahit harapan yang ia bendung. Keinginan menjadi keluarga yang bahagia hanya tertuang di kertas undangan. Arman yang dulu bagai api penerang, kini berubah jadi bara yang setiap saat bisa membakar Marni.

Baca selengkapnya...

 

Iqlimiya, Padi dan Cerita Ibu

oleh : Denni Meilizon "Pedas sekali, Bu! Tak maulah terusin makannya." "Pedas sikitpun itu, lauknya kan sudah dibasuh tadi." "Tak mau lagi, Bu!" "…
 

Si Burik

Foto: Si Burik Cerpen : Nova Linda   Si Burik adalah julukan warga kampung pada seorang gadis kecil yang selalu berdiam di sudut lapangan saat teman-teman sebayanya riang bermain. Sepertinya dia merasa rendah diri dan minder untuk bergabung dengan mereka.  Diam-diam dia memperhatikan kaki dan tangannya yang penuh bintik hitam bekas kudis akibat kulitnya teramat sensitif. Hingga satu gigitan nyamuk saja bisa meninggalkan jejak hitam yang lama, bahkan bila digaruk akan menjadi kudis kecil yang berair.  Gadis kecil itu menarik napas pelan. Pantas saja bila tak ada yang mau main denganku, bisiknya. Tentunya mereka jijik melihat kulitku yang tidak semulus kulit mereka.  Dalam diam dia ingat cerita ibunya bahwa hidup mereka sangat sulit saat dia baru lahir. Apalagi setelah orang tuanya berpisah, ibu hampir tak bisa memberinya susu. Sebelum saatnya dia telah terpaksa makan nasi putih yang dilumuri sedikit garam, yang penting asal perutnya kenyang dan tidak menangis.   Apalagi dia punya kakak lelaki yang tak genap setahun di atasnya. Tak mudah bagi ibunya menghidupi dua bayi sekaligus. Mungkin aku kurang gizi, bisiknya pada dirinya sendiri.  Tanpa sadar iya membandingkan kulitnya dengan kulit kakak lelakinya. Kenapa kulit kakak tak seperti kulitku? Apakah dulu kakak mendapatkan gizi yang baik, sementara aku tidak?. Gadis kecil itu kembali terdiam, dia tak menemukan jawaban apapun.  Dalam hatinya dia mencoba mengingat-ingat perlakuan ibu dan neneknya yang lebih menyayangi kakaknya. Apakah karena kakak mempunyai kulit yang lebih sempurna? ditambah lagi dengan otaknya yang sangat cemerlang? Ataukah karena dia laki- laki? Pasti dulu kakak mendapatkan gizi yang sangat sempurna, bisiknya pelan seolah pada dirinya sendiri.  Si Burik makin menunduk. Menatap tiap butir pasir yang mengotori kakinya. Namun pikirannya menerawang jauh pada nasib yang seolah tak pernah berpihak. Dia tiba-tiba ingat ayahnya. Ayah, kenapa kau tidak membawaku bersamamu saja? rintihnya.  Dia juga ingat kata-kata ibunya bila dia melakukan kesalahan dan menangis menyebut nama ayahnya. Ibunya selalu bilang bila dia ikut ayahnya maka dia akan tinggal dengan ibu tiri yang tidak akan memberinya makan nasi yang baik. Mungkin hanya akan memberinya makan kerak yang telah direndam dengan air.  Dulu dia sangat takut membayangkan hal itu terjadi pada dirinya, hingga dia berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan yang membuat ibunya marah. Tapi kini dia berpikir bahwa mungkin itu lebih baik daripada dia harus menyaksikan takdir yang seolah tak bersikap adil padanya.  Sebenarnya si Burik juga tak kalah pintar dari kakak lelakinya. Hanya saja hampir setiap malam matanya tak bisa tidur. Pikirannya selalu menerawang mencari jawaban dari teka-teki di kepalanya. Kenapa aku begitu berbeda? Apakah aku bukan terlahir dari rahim yang sama?.   Pertanyaan itu seakan tak pernah berhenti berputar di kepalanya tiap malam tiba. Saat seisi rumah lelap dalam buaian mimpi dia menangis dengan teramat pelan agar tak ada yang mendengar rintihannya. Toh tak satupun yang memperhatikan kesedihannya.  Dan seperi biasanya dia akan terbangun lebih awal. Membantu mengantar kue-kue buatan ibunya ke warung. Mencuci piring kotor ke sungai, dan setelahnya baru mandi dan bersiap untuk sekolah. Kadang dia merasakan tubuh kecilnya begitu lelah. Namun dia bertekat untuk tetap berangkat sekolah.  Di sekolah si Burik tak bisa fokus menangkap pelajaran yang diterangkan. Matanya terasa berat dan kepalanya pusing. Kurang tidur dan akibat menangis semalaman membuat seluruh tubuhnya lemas. Tapi dia tak ingin mengeluh dan bercerita kepada siapapun. Toh dia juga tak punya teman yang bisa mengerti keadaanya. Dan begitulah hari-hari yang harus dilewatinya. **** Suatu hari mereka kedatangan nenek dari rantau nan jauh. Beliau adalah kakak dari nenek kandungnya. Namun si nenek tak beruntung karena tidak mempunyai satu keturunanpun dari kedua kali perkawinannya. Saat nenek bercakap-cakap dengan ibunya, si Burik secara tak sengaja mendengarkan. Waktu itu dia sedang duduk melipat kain di balik lemari, mungkin tak ada yang menyadari keberadaannya di sana.  Si Burik mendengar nenek meminta kepada ibunya agar dibiarkan untuk membawa serta kakanya ke rantau karena dia tidak punya anak. Nanti kakak akan diurus dan disekolahkan seperti anaknya sendiri. Dan si Burik telah menduga jawaban ibunya. Pastilah ibunya akan menolak melepas nak kesayangannya. Namun satu hal yang membuatnya ingin menjerit dan meraung adalah karena dia mendengar ibu menawarkan bagaimana kalau nenek membawa dirinya saja. Ternyata ibu begitu tak menginginkanku, rintihnya.  Si Burik menahan tangisnya. Dalam hati dia berharap nenek itu mau mebawanya. Dia berjanji akan berusaha menjadi cucu yang baik. Setidaknya dia akan lebih tahu diri karena tinggal menumpang pada orang lain. Walaupun sebenarnya itu adalah neneknya juga.  Namun beberapa hari selanjutnya dia belum mendengar jawaban si nenek. Ibunya juga tak pernah bicara apapun tentang hal itu. Dalam hati si burik tak sabar menunggu. Mudah-mudahan nenek akan mau membawanya pergi, bisiknya.  Sampai pada saat sebelum nenek berangkat kembali ke rantau, dia mendengar ibunya sedang bercakap-cakap dengan suara pelan di dapur. Rasa ingin tahunya memuncak, membuatnya bediri diam dan memasang kuping di balik pintu. Perlahan dia mendengar neneknya bilang bahwa dia tak ingin membawa si burik, dia hanya ingin membawa kakaknya. Bila tidak diizinkan, ya sudah.  Si Burik tersentak kaget. Begitu sedih hatinya mendengar penolakan itu. Ternyata memang tak ada yang bisa menerima keadaanku. Bahkan nenek merasa lebih baik dia tidak ditemani oleh siapa-siapa daripada harus ditemani aku, batinnya. Perlahan dia melangkah ke luar rumah. Berjalan pelan sambil menghitung langkahnya sendiri. Dia ingin merenung di pinggir kali, sambil membiarkan ikan-ikan kecil bermain-main di kakinya.  ****  Beberapa waktu selanjutnya mereka kembali kedatangan tamu. Kali ini bibinya. Sepupu dari ibunya yang tinggal di kota. Dia pulang membawa ketiga anak lelakinya yang masih balita. Saat mereka duduk di teras si Burik juga mendengar percakapan mereka. Bibinya bilang bahwa dia kerepotan mengurus ketiga anaknya yang masih balita, dan dia berharap akan menemukan gadis kecil yang bisa di bawanya ke kota untuk menjaga anak-anaknya.  Selintas dia mendengar bahwa bibinya bilang akan menyekolahkan nanti anak yang mau menjaga anaknya sampai ke tingkat SMA. Rasanya si Burik ingin sekali ikut dengan bibinya ke kota. Dalam hati dia berjanji kelah akan merawat dan menjaga ketiga adik sepupunya dengan baik. Dia hanya berharap akan ada ynag menyekolahkan dia sampai tingkat SMA.  Maka mulailah si burik mendekati sepupu-sepupunya. Mengajaknya bermain dan mengganti celananya bila pipis, juga memandikan mereka. Si bibi sangat senang melihat si Burik begitu dekat dengan anak-anaknya. Sementara di hati si burik mulai tumbuh harapan semoga saja bibinya akan menawarkan padanya untuk ikut ke kota dan tinggal bersama mereka.  Tapi untuk kesekian kalinya si Burik harus menelan kekecewaan. Tak sekalipun dia mendengar bibinya mengajaknya untuk ikut ke kota. Walaupun bibinya selalu memperlakukannya dengan baik.  Akhirnya bibinya memang harus segera kembali ke kota. Namun dia tak berhasil membawa satu orang anak perempuanpun dari kampungnya untuk membantu dia mengasuh anaknya. Tapi bibinya juga tidak menawarkan kesempatan itu padanya. Kembali si burik menelan ludahnya yang getir.  Memang sudah takdir bahwa aku harus menjalani hariku di sini, bisiknya. Tak seorangpun yang sudi mengajakku tinggal bersama mereka walaupun hanya sebagai pembantu. Baginya yang terpenting dia bisa hidup dan sekolah, hanya itu. Sementara dalam kehidupannya sekarang dia merasa hampir tak punya harapan untuk sekolah walaupun hanya sampai SMA.  Ibunya pasti akan sibuk mengurusi sekolah kakaknya nanti. Dia dengar ibunya akan menyekolahkan kakaknya sampai ke perguruan tinggi. Sementara dia mungkin hanya akan sekolah sampai tamat SD saja, paling mujur dia di masukkan smp bila ada keringanan karena mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Selebihnya mungkin dia akan disuruh kursus menjahit, atau mungkin bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga. Si Burik kembali menelan keluh. Kenapa cita-cita untukku sangat sederhana? apakah karena aku bernasib buruk seperti kulitku yang burik ini?. Perlahan airmatanya jatuh di pipinya yang tirus. Ingin rasanya dia mencari keadilan pada Tuhan. Namun dia tak berani karena takut dosa.  ****  Suatu senja si Burik duduk diam di pinggir sungai tempat biasanya dia menyembunyikan kesedihan. Telah seharian dia berada di sana. Otaknya mulai berpikir bahwa dia harus pergi dari rumah. Meninggalkan orang-orang di kampungnya yang tak pernah memandangnya sebelah mata.  Aku akan mencari ayah, bisiknya. Tak peduli apakah nanti dia akan menjadi bahan ejekan atau tempat tumpahan kemarahan ibu tirinya. Mungkin juga dia harus makan kerak yang direndam air seperti kata ibunya. Aku akan tetap pergi, sekali lagi siBurik meyakinkan hatinya.  Si Burik ingat neneknya pernah bilang bahwa kampung ayahnya tak begitu jauh. Bila dia menyusuri sungai arah ke hilir dan memebus hutan, maka dia akan sampai di kampung ayahnya. Tapi sebentar lagi malam, bisiknya. Bukankah akan sangat mengerikan melewati hutan pada saat malam?. Dia kembali terdiam. Diputuskannya untuk pergi besok pagi-pagi saat semua prang tidak ada di rumah.  Keputusannya sudah bulat. Dia kembali ke rumah dengan langkah pelan seperti biasanya. Dengan mata yang selalu luruh seakan menghitung jejak yang tertinggal. Sampai di halaman, dia melihat wajah ibunya begitu pucat dan menatapnya dengan bibir yang gemetar. Sementara neneknya juga menyiratkan keresahan di matanya yang biasanya selalu beku saat menatapnya. Si Burik heran, ada apakah gerangan?.  Dia melihat ibu menyusulnya ke halaman. tangannya terulur seakan ingin menariknya ke pelukan. Matanya merah dan sembab seperti habis menangis. Sedang nenek juga menyusul dan berdiri di samping ibunya.  Si Burik masih diam dalam seribu ketidakmengertian. Sementara ibunya telah meraih tangannya dan memeluknya erat. Hal yang selama ini nyaris tak pernah dia rasakan. Yang hanya ada dalam angannya saat dia tertidur kelelahan setelah menagis semalaman. Cerpen : Nova Linda Si Burik adalah julukan warga kampung pada seorang gadis kecil yang selalu berdiam di sudut lapangan saat teman-teman sebayanya…
 

Surau Gampo

Cerpen, Syarifuddin Arifin

Surau tempat aku mengaji sejak kecil itu bernama Surau Muhajirin. Jamaahnya kebanyakan dari para pendatang, yang membeli sebidang tanah lalu membangun rumah dan keluarga di sana. Aku masih ingat, ketika gotongroyong membangun surau tersebut, ikut mengangkat batu yang ditumpuk cukup jauh dari lokasi pembangunan. Setiap malam, usai magrib kami belajar mengaji di sana. Tapi kini orang mengenalnya sebagai Surau Gampo, surau yang dibangun kembali dari dana spekulasi bantuan untuk korban gempa.

Baca selengkapnya...

 

Pesta Para Bangsawan

KOPI - Tahun depan,hanya tinggal hitungan bulan kita semua akan melihat sebuah pagelaran besar, sebuah teater agung peradaban, sebuah ritual pergulatan yang di persembahkan oleh para bangsawan. Mereka hendak melakukan pesta, pesta yang mensyaratkan semua penghuni lingkaran bersuara sebagai bukti kehadiran. Kehadiran di dalam arena pagelaran sang bangsawan. Kini para bangsawan mulai menampilkan senyum yang menawan, rayuan yang menggoda bahkan janji-janji yang mengesankan di sudut-sudut jalanan.

Baca selengkapnya...

 

Fatamorgana

KOPI - Malam ini begitu gelap, hujan tak kunjung berhenti. Bintang-bintang terlihat tak menampakan diri. Dengan angin malam yang selalu menerjang jendela kamarku, aku terdiam dan menatap langit-langit seraya berkata di dalam hati; apakah suatu saat nanti bulan akan berhenti memancarkan sinarnya ketika semua dari kita masih menginginkan sinarnya? Telah berjam-jam aku habiskan malam di meja belajarku, suasana malam ini begitu membuat hatiku gelisah. Sehingga aku tak bernafsu untuk tetap bertahan menatap tumpukan kertas yang berserakan di atas meja.

Baca selengkapnya...

 

Kang Tejo Bingung

KOPI - Ketika hari mulai sore kang Tejo melangkahkan kakinya dari sawah, seperti biasanya setelah ia menengok sawahnya di pagi hari ia harus sampai ke rumah sebelum magrib tiba. Walau lokasi sawahnya tak jauh dari rumahnya, ia tak enak hati jika pulang setelah magrib. Lagipula, ia tak mau terlambat menghabiskan waktu sorenya dengan anak dan istrinya untuk menyiapkan makan malam. Sebelum itu pun ia harus memberi makan ayam-ayam peliharaannya di rumah.

Baca selengkapnya...

 

Negeri Para Preman

KOPI - Karena bingung, tak tahu harus bagaimana mencari pekerjaan. Dukri dan kawan-kawannya (dukri and the genk) pergi ke bos preman. Bos para preman, penguasa Negerinya. "Aku ingin mendapat pekerjaan bos, aku ingin kaya, aku ingin merubah nasib", katanya dengan penuh harapan.

Pak bos preman terkenal punya banyak wilayah kekuasaan. Ia preman yang paling mashyur dan di segani di negerinya, semua orang takut padanya. Ia sangat berwibawa dan paling perkasa tapi murah senyum. Sampai-sampai orang-orang di negerinya kerap menyebutnya dengan julukan "The Smiling Preman". Ia orang yang berkepala dingin dan bertangan besi, segala yang ia inginkan harus tercapai. Tapi bung bos, eh maaf pak bos. Lantaran kami tak punya modal banyak baik ketrampilan maupun uang. Lantas kami harus bagaimana?"

Baca selengkapnya...

 

Sepotong Ketegaran

Pagi yang embun, saat dua orang sahabat menikmati secangkir teh hangat di beranda. Keduanya terdiam menikmati kepulan asap teh, sampai akhirnya Mirna yang lebih dulu bersuara.

"Aneh rasanya karena aku tiba saja tidak merasakan sakit pada luka bekas goresan duri tadi pagi." Kata Mirna dengan wajah tak percaya.

Marni yang duduk di seberangnya terdiam mengamati ekspresi sahabatnya saat bercerita. Tak biasanya Mirna bicara setenang ini, pikirnya. Apalagi bila telah bicara tentang hati.

Baca selengkapnya...

 

Sepotong Kepalsuan

Siang telah beranjak menuju petang. Di beranda rumah kost dua sahabat Ayu dan Puspita sedang terlibat pembicaraan sederhana. Namun pembicaraan berubah serius saat Ayu memperhatikan raut Puspita yang seolah lagi didera kegelisahan.

Baca selengkapnya...

 
Artikel Lainnya...

PPWI Gandeng Staf Ahli BNN Selenggarakan Seminar Daerah tentang Narkoba di Tanah Datar
Selasa, 23 Mei 2017

KOPI, Tanah Datar – Peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (narkoba) semakin memprihatinkan. Perkembangan narkoba tidak hanya dari sisi pengguna, tetapi juga wilayah jangkauan peredarannya serta jumlah dan jenis narkoba yang semakin variatif dan kreatif. Korbannya kian hari kian bertambah, berasal dari berbagai usia dan kelompok masyarakat. Pemerintah Indonesia sejak 2015 lalu telah menyatakan negara dalam keadaan darurat... Baca selengkapnya...

Demi Tegaknya NKRI, Jangan Mudah Terprovokasi
Rabu, 17 Mei 2017

KOPI, Pulau Sebatik - Bertempat di aula pertemuan Desa Bukit Aru Indah Kec. Sebatik Timur Koramil 0911-02/SEBATIK menggelar kegiatan Komunikasi Sosial untuk triwulan ke - II, kegiatan yang mengambil tema " Dengan Kegiatan KOMSOS Dengan Komponen Masyarakat Kita Tingkatkan Kemanunggalan TNI Rakyat dan Wawasan Kebangsaan Dalam Rangka Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa " dihadiri komponen masyarakat yang terdiri dari para ketua RT, kepala... Baca selengkapnya...

Atasi Spekulan, Monopoli Harga, Jelang Ramadan Kapolri Bentuk Satgas Pangan
Minggu, 14 Mei 2017

KOPI, Jakarta – Melalui video conference langsung di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (3/5/2017). Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian membentuk Tim Satgas Pangan untuk membantu menstabilkan harga pangan dan sembako menyambut bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Satgas akan dipimpin Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto. Pembentukan  tingkat Polda, Satgas Pangan dipimpin langsung Direktur Kriminal Khusus... Baca selengkapnya...

Trumph Akan Mengunjungi Raja Salman , Tersiar Ada Transaksi Penjualan Peluru Kendali
Minggu, 14 Mei 2017

KOPI, Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussel pada 25 Mei 2017. Usai itu, Ia akan menghadiri pertemuan puncak negara-negara anggota Kelompok Tujuh di Sisilia, pada 26 Mei, ungkap pejabat Kemenlu AS. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menuturkan “pada Bulan Mei ini Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berkunjung ke Arab Saudi.... Baca selengkapnya...

Menteri Agama: Pemerintah Tidak Anti Ormas Keagamaan Terkait Pembubaran HTI
Rabu, 10 Mei 2017

KOPI, Jakarta - Pemerintah akan menindaklanjuti langkah pembubaran Hizbut Tahir Indonesia (HTI) melalui jalur hukum sesuai UU No 17 Tahun 2013, tentang Organisasi Kemasyarakatan. Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, langkah hukum tempuh sebagai bukti bahwa pemerintah tak sedang bertindak represif. Untuk itu, Menag Lukman mengimbau semua pihak untuk menghormati langkah hukum pemerintah sekaligus memastikan bahwa HTI tetap dapat... Baca selengkapnya...

Pos Lintas Batas Negara Skouw Diresmikan oleh Presiden Jokowi
Rabu, 10 Mei 2017

KOPI, Jayapura - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, sejak hari pertama dilantik, dirinya telah menyampaikan sikap pemerintahan bahwa daerah-daerah perbatasan tidak boleh dilupakan. Karena merupakan beranda-beranda terdepan Indonesia. “Seperti di mana kita berada sekarang ini yaitu Skouw (PLBN), harus menjadi kebanggaan kita semuanya, kebanggaan masyarakat Papua, kebanggaan Indonesia,” kata Presiden Jokowi saat Pos Lintas Batas... Baca selengkapnya...

Penobatan Gelar Adat “Kapiteng Lau Pulo” Kepada Presiden Joko Widodo
Senin, 08 Mei 2017

KOPI, Tanah Bumbu- Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo  menghadiri “Puncak Budaya Maritim Pesta Laut Mappanretasi” di Pantai Pagatan, kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu, propinsi Kalimantan Selatan, pada hari Minggu (7 /5/17) Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, dalam rilisnya, dari Pantai Pagatan, Presiden dan Ibu Iriana bersama rombongan akan menuju Kecamatan... Baca selengkapnya...

DAERAHPeningkatan Jalan Lingkar Banyutowo Kend.....
28/05/2017 | Muhammad Effendi

KOPI, Semarang - Pekerjan peningkatan jalan yang menelan dana sebesar 1,2 M ini dinilai asal-asalan,karena tidak sesuai spek. Panitia (PPKom) seharu [ ... ]



PENDIDIKANPelepasan Siswa-Siswi Kelas VI dan Penta.....
29/05/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Bengkalis – Pelepasan dan Pentas Seni Sekolah Dasar Negeri 17 Sungai Selari , kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau, diadakan dengan sederhana. T [ ... ]



EKONOMIVIVA Capai Track Record Pendapatan Terti.....
24/05/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) tercatat mengalami pertumbuhan TV Share sebesar 92% sejak awal berdirinya di tahun 2011, pencapaian ini  [ ... ]



HANKAMLawan Paham Radikalisme, Perkokoh 4 Pila.....
21/05/2017 | Sahar

KOPI, Pulau Sebatik - Meskipun tinggal diperbatasan, rasa nasionalisme tidak boleh terbatas dan wajib di jaga, demikian juga upaya – upaya untuk m [ ... ]



OLAHRAGAKetua KONI Riau Emrizal Pakis: Lepas Li.....
08/05/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru - Sebanyak lima orang atlet Riau dipercayai mengikuti Islamic Solidarity Games (ISG) 12-22 Mei 2017 mendatang di Baku, Azerbaijan.
kel [ ... ]



PARIWISATAKunjungan Turis Mancanegara 1.02 Juta o.....
03/05/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru - Pariwisata andalan pendapatan negara non migas, negeri Indonesia kaya akan keindahan alam dan budayanya. Dulu para turis mancanegara [ ... ]



POLITIKRakorda DPD PKS Mamuju Tengah, Optimis R.....
21/05/2017 | Anto Zulyanto

KOPI, Mamuju Tengah, Sulbar - Menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) Tahun 2019, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Parta Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten  [ ... ]



OPINIKwalitas Berpolitik I.....
16/05/2017 | Jay Wardana

KOPI, Jakarta - Jika Anda menyimak film biografi berjudul "The Iron Lady", seorang kader partai politik di Inggris direkrut dari lulusan terbaik di se [ ... ]



PROFILBrigadir David Gusmanto Bhabinkamtibmas .....
30/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Taratakbuluh- Brigadir David Gusmanto , Bhabinkamtibmas desa Teratak buluh, Polsek Siak Hulu, kabupaten Kampar, propinsi Riau berdayakan pemuda [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAYoesi Ariyani Lestarikan Tari Klasik Jaw.....
28/05/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam era globalisasi sekarang ini, nilai-nilai tradisi sudah mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat modern karena dianggap tidak s [ ... ]



ROHANIKhatam Al-Qur'an dn Wisud Iqr'a PDTA Nur.....
15/05/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Kampar - Sebanyak empat puluh orang siswa-siswi PDTA (Pendidikan Diniyah Takmaliyah Al-qur'an) Nurul Iman, Desa Pandau Jaya mengadakan Khatam Al [ ... ]



RESENSIMARS, Film Kisah Perjuangan Meraih Mimpi.....
03/05/2016 | Zohiri Kadir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Bertempat di XXI, Palaza Senayan, Jakara, Senin 92/5/2016) dan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2016 , Multi Buana K [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIRinduku Terkubur di Kampung Lansek.....
21/02/2016 | Nova Indra

siang ini
riak Tabek Kaluai masih sama
saat hatiku bicara tentangmu
tentang cinta, tentang rindu kita

hingga kini
terngiang gelak tawa
dua pecinta ber [ ... ]



CURAHAN HATIWaspadalah… Modus Penipuan Menjual Nam.....
06/04/2017 | Didi Ronaldo
article thumbnail

KOPI, Siak Hulu, Waspadalah Gerombolan begal beraksi wilayah Siak Hulu, kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Kami memantau gerak-gerik gerombolan Begal te [ ... ]



SERBA-SERBIPerpisahan dan Pentas Seni TK Mutiara Ka.....
25/05/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru- Perpisahan dan Pentas Seni TK Mutiara Kasih , kabupaten Kampar, diadakan disebuah hotel di Pekanbaru, Sabtu (20/5-17). Sebanyak empa [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.