Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1435 H, kepada seluruh umat Muslim dan Muslimat sebangsa dan setanah air dan di seluruh dunia. Semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan pahala yang berlimpah di bulan suci penuh rahmat ini bagi setiap anak negeri di segenap penjuru nusantara... Amin...

Membedah Kasus Trafficking Berkedok Spa di Bandung

A. Pendahuluan

Jika kita mencermati berita di media massa mengenai banyaknya kasus trafficking yang terjadi, kita tentu terkaget-kaget karena Provinsi Jawa Barat (Jabar) TERNYATA menduduki posisi teratas kasus perdagangan orang (human trafficking) di Indonesia.

Menurut data dari Gugus Tugas: Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang,(http://www.gugustugastrafficking.org/) sepanjang tahun 2005-2009, di wilayah Jabar telah diketahui terjadi 794 kasus. Korban terbanyak adalah perempuan dan anak-anak (berusia di bawah 18 tahun). Sebagian besar terjadi pada buruh migrant Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negri. Dengan catatan, angka tersebut di luar jumlah kasus yang tidak diketahui, tidak terungkap, atau tidak dilaporkan.

 

Apakah kasus trafficking hanya terjadi pada buruh migrant? Pada warga desa yang dikirim ke luar negri? Setahun yang lalu, mungkin kami pun akan berpikir sebatas itu.

Setahun lalu, kami menemukan sebuah kasus, yang awalnya adalah penipuan, ancaman dan pelecehan di sebuah Spa. Tapi setelah kami telusuri kami menemukan lebih banyak lagi korban di spa tersebut dan spa-spa lainnya dengan pelaku dan pemilik yang sama. ada 4 Spa di antaranya Spa Heaven di jalan Sukarno Hatta No.178, Spa Hypnosis di jalan Sudirman No.152, Spa Qozi atau Zodiak di Setrasari Mall B1 34-35, Spa ZEUZ di jalan Sukajadi No.80, Dari hasil investigasi dan wawancara terhadap para korban, ternyata kasus-kasus ini mengarah pada trafficking. Dan tempat usaha tersebut TERNYATA BERADA DI KOTA BANDUNG. Di depan mata kita semua, di balik gedung-gedung mewah, perempuan dan anak-anak disekap dalam waktu tertentu dan dipekerjakan dengan sangat tidak manusiawi.

B. Deskripsi Kasus

Berdasarkan UU no. 21 tahun 2007, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Bab 1, pasal 1, kami mendeskripsikan indikasi trafficking dalam kasus ini:

1. Perekrutan Calon Pegawai

Sekitar Maret 2009, diketahui pelaku membuat iklan lowongan kerja di Koran setempat, dan banyak menarik calon pegawai perempuan, dari berbagai latar belakang. Dengan iming-iming: pengalaman tidak diperlukan, gaji besar.

Kemudian, pelaku juga menyebar calo untuk merekrut pekerja perempuan. Untuk SETIAP perempuan yang berhasil direkrut, si calo akan mendapat bonus sebesar Rp 200.000, -. Menurut keterangan korban, seorang calo berinisial Y, merekrut banyak perempuan dari desa mereka di Cianjur. Tetapi juga ditemukan calo-calo lain, yang mencari mangsa di sekitar Kota Bandung, Cianjur, Sukabumi, Garut, dan lain-lain.

Pertengahan tahun 2010, pelaku menyewa gedung untuk pelatihan calon pegawai, pelaku mencari calon terapis perempuan untuk dilatih melakukan pijat, facial atau lulur. Para peserta pelatihan akan disalurkan untuk bekerja di salon-salon.

Baik melalui iklan, maupun calo, pelaku telah melakukan PENIPUAN tentang posisi lowongan kerja yang sebenarnya. Para calon pegawai hanya mengetahui bahwa mereka di pekerjakan dengan pekerjaan normal tanpa mereka tahu pekerjaan yang mereka jalani ada pemaksaan perbuatan asusilanya dan pornoaksi.

2. Target Pencarian Pegawai

Pegawai (disebut terapis/pemijat) yang dicari adalah perempuan berusia 18 – 20 tahun. Tetapi ternyata pelaku juga banyak mempekerjakan perempuan di bawah umur. Mereka dibuatkan KTP, untuk memalsukan identitas dan usia mereka. Biaya pembuatan KTP sebesar Rp 250.000,- DIPOTONG dari gaji pegawai. Umumnya, terapis adalah perempuan pencari kerja pemula. Mereka tidak berpengalaman, tidak memiliki ketrampilan, bahkan beberapa belum lulus SMU. Mereka tidak mengetahui besarnya resiko tempat kerja mereka bahkan kebanyakan tidak tahu istilah Spa dan Terapis itu apa.

3. Masa Pelatihan Terapis

Mulanya, calon terapis diwawancara dan dijanjikan gaji besar oleh manajer perusahaan di rumah calon terapis atau di tempat perekrutan. Jam kerja dari jam 11 siang sampai jam setengah satu malam bahkan jika tamu ramai sampai jam dua malam, Bekerja selama setiap hari di berikan libur 4 hari dalam sebulan dengan dipilihkan waktunya oleh pengelola spa, untuk kasus spa yang baru tidak di berikan libur kecuali tanggal merah. Diberi tempat tinggal (mess pegawai). Pegawai diwajibkan mengikuti masa pelatihan (training) selama 3-5 bulan, atau sampai manajer menyatakan lulus pelatihan. Selama masa pelatihan tersebut mereka akan diberi gaji Rp 500.000,-.perbulan, Dalam wawancara kerja yang licin tersebut, sama sekali tidak terlihat sesuatu yang tidak wajar. Dengan tipuan tersebut, pihak pengelola meminta dan MENAHAN IJAZAH ASLI para calon terapis.

Setelah beberapa minggu tinggal di mess, para terapis baru diberi tahu mereka tidak hanya melakukan pijat wajah dan tubuh tamu. Mereka diwajibkan memijat alat kelamin tamu sampai tamu mencapai ereksi. Inilah yang disebut Massage Sehat (MS), layanan utama di Spa tersebut. Para terapis bahkan BARU MENYADARI bahwa tamu mereka semuanya laki-laki, dan tamu akan dipijat dalam keadaan telanjang dengan berada di kamar tertutup.

Para terapis yang kebanyakan perempuan lugu, masih muda, belum menikah, dan tidak berpengalaman dalam bisnis seks, sangat terkejut. Mereka menolak dan ingin pulang. Tapi mereka diancam jika kabur, dan disekap di dalam mess yang dijaga preman-preman. Mereka tidak bisa keluar dari gedung penyekapan, dengan alasan apapun. Kebutuhan makan-minum dan kebutuhan pribadi lainnya, dibelikan oleh pegawai rumah tangga.

Tengah malam ketika para terapis tertidur pulas, mereka dibangunkan satu persatu dengan paksa. Dalam keadaan kantuk berat dan tekanan mereka dipaksamenandatangani kontrak kerja selama 2 tahun. Isinya adalah berbagai BANYAK PERATURAN KERJA YANG TIDAK WAJAR. Jika mereka melarikan diri sebelum kontrak kerja selesai, mereka harus membayar ganti rugi selama pelatihan, sebesar Rp 20 juta. Jika mereka tidak mau membayar, mereka diancam dikejar kemanapun oleh preman, dikirim ke penjara, dan bisa DICEMARKAN NAMA BAIKNYA kepada keluarga. Dalam kondisi tekanan dan ketakutan itulah, para terapis menandatangani kontrak kerja yang menjebak sekaligus menjerat mereka dengan hutang yang tidak masuk akal!

4. Masa Kerja Terapis

Para terapis yang umumnya tidak tahu hukum, mudah ditakuti dengan ancaman dan pasrah, ketika menjadi korban kejahatan pemilik dan pengelola spa. Mereka semua akan dipaksa melakukan tes kerja pertama dengan pemilik dan para pengelola spa.

Menurut pengakuan calon terapis berinisial A (korban pertama yang kami ketahui): Tengah malam dia dipanggil ke ruangan pemilik Spa. Dia diharuskan memijat alat kelamin bosnya, sembari si bos meremas-remas payudaranya. sambil di paksa telanjang oleh bosnya, Dia harus melakukannya berjam-jam, sejak pukul 12 – hingga pukul 4 pagi. Dirasa belum cukup si bos memaksa korban untuk meng-oral alat kelaminnya. Anda bisa bayangkan yang terjadi selanjutnya?

Cerita sejenis ini tidak hanya kami dengar dari korban A. Beberapa terapis, terutama yang telah bekerja cukup lama, MENGAKUI sudah pernah mengalami pelecehan seks dari pemilik spa, pengelola spa, tamu istimewa, bahkan kepala keamanan spa tersebut! Dalam pengetesan “kemampuan” itu, tak jarang pelaku melakukan kekerasan pemaksaan dan ancaman.

Para terapis kebanyakan bersikap pasrah, dan memilih melanjutkan pekerjaan ini, setelah mengalami pelecehan. Mereka berpikir masa depannya telah rusak. Dan kami yakin, inilah tujuan utama para pelaku biar terapis bisa di eksploitasi terus demi keuntungan mereka!!

Mereka mengenakan seragam kerja berupa baju minim dan rok pendek (20 cm di atas lutut), yang menyebabkan mereka mudah mengalami pelecehan dari tamu. Pekerjaan mereka adalah memijat tamu, seluruh badan. Lalu dilanjutkan dengan memijat alat kelamin tamu, dengan tangan, sampai tamu ereksi. Bahkan pemilik dan pengelola spa bernama Fredi dan Leo, terang-terangan menyuruh terapis mengijinkan, jika tamu minta membuka seragam dan menggerayangi mereka.

Selain melayani tamu, beberapa terapis bahkan suka juga 2 terapis sekaligus di tes dalam satu waktu dan satu ruangan setiap hari bergilir dipanggil pemilik dan pengelola spa atau manager ke kamar, setelah spa tutup. Mereka diminta melakukan Massage Sehat, dengan dalih mengetes kemampuan terapis. Padahal, mereka hanya memanfaatkan layanan terapis, dan tidak mau membayar layanan tersebut. Terapis tidak bisa menolak permintaan itu. Mereka diancam akan mendapat hukuman, potongan gaji, atau diskors tidak boleh melayani tamu selama waktu tertentu.

Ancaman tidak hanya dilakukan pada saat para pelaku menagih “jatah” mereka. Tapi ancaman, hinaan menyebut terapis pelacur atau bondon sudah biasa mereka lakukan salah satu pengelola spa atau general manajer tidak segan melakukan kekerasan fisik yang dilakukan dalam rapat (briefing) sebelum dan sesudah jam kerja, SETIAP HARI. Para terapis yg tidak rela hanya bisa menangis, meratap dan pasrah menghadapinya.

Anda yang membaca laporan kami tentu terheran-heran. Mengapa para terapis tidak melarikan diri dengan uang yang mereka peroleh? Para tamu membayar tiket masuk spa, sebesar Rp 120.000,-. sudah paket mendapatkan layanan MS, Dari uang yang didapatkan spa tersebut, berapa yang diterima oleh para terapis? Kami melihat dengan mata kepala sendiri, slip gaji bulanan seorang terapis hanya sebesar Rp 17. 000 pertamu yang di layani). Bahkan dengan liciknya, para pelaku membebankan berbagai biaya untuk memotong gaji terapis. Biaya seragam, biaya kosmetik, biaya KTP, potongan sakit/absent, dan lain-lain. kami lihat sendiri dari slip gaji terapis yang di dapat bulan pertama gajinya kurang lebih seratus ribu, Bahkan dari kesaksian korban E, terapis lain justru mengalami potongan-potongan gaji sampai MINUS ENAM RATUS RIBU RUPIAH.

Anda bisa bayangkan, betapa pelaku membuat para terapis tidak memiliki kekuatan apapun untuk melepaskan diri!

C. Upaya Evakuasi dan Pelaporan

1. Bulan Agustus 2009, kami membantu korban A dan B melarikan diri, dengan alasan ibu korban jatuh sakit.

2. Kedua korban dibawa ke Institut Perempuan, ke LSM Rifka Annisa, Bahtera dan beberapa LSM perempuan lainnya.

3. Atas saran dari LSM Bahtera, korban A, ditemani salah seorang dari kami, melaporkan kasus pelecehan dan perkosaan yang dialaminya ke PPA Polda Jabar. Tanpa satupun aktivis LSM Bahtera yang bersedia mendampingi pelaporan. Setelah pemeriksaan, korban sangat ketakutan dengan keselamatan jiwanya, dan nama baik keluarganya. Sehingga korban A melarikan diri. Saat ini, tidak diketahui keberadaan korban A.

4. korban C berhasil dibujuk untuk melarikan diri. Didampingi pengacara hukum, korban C dan orang tuanya melaporkan kasusnya ke PPA Polda Jabar. Menurut keterangan dari petugas PPA, para pelaku yg dilaporkan sempat dipanggil Polda dan menjalani BAP. Tapi mereka tidak ditangkap karena orang tua korban yang ketakutan tidak mau menuntut.

5. Bulan Juli 2010, kami menyadari para pelaku masih bisa bebas karena dibiarkan, sedangkan pelaku justru memperluas usahanya, dan membuka beberapa cabang lain di Bandung. Dari hasil investigasi kami, saat ini ada EMPAT spa dan SATU tempat pelatihan yang beroperasi di bawah kendali para pelaku.

6. Bulan Juli 2010, kami menggalang kesadaran warga di sekitar tempat pelatihan calon terapis. Warga dan para tokoh warga, sangat terlibat aktif dalam pengintaian tempat tersebut. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri, berkali-kali terjadi aktivitas mencurigakan, tersembunyi, dan kedatangan banyak perempuan yang masuk di antar dan di jemput, bahkan di tengah malam waktu-yang tidak wajar.

7. Bulan Agustus 2010, kami dan tokoh warga akhirnya melapor kepada kecamatan dan kelurahan. Akhirnya diadakan pertemuan, yang diikuti oleh Camat, Lurah, Kapolsek, Danramil, tokoh warga dengan pihak pengelola tempat pelatihan spa. Hasil pertemuan itu, disepakati bersama, bahwa tempat pelatihan akan ditutup.

Tapi tidak lama mereka memindahkan tempat pelatihan di salah satu ruko Setrasari Mall atau Spa Qozi menurut keterangan terakhir dari salah satu imforman kami di sana ada 23 terapis baru yg dalam masa pelatihan.

8. Bulan Agustus 2010, kami mengevakuasi tiga orang korban (korban D, E, F), dua orang diantaranya masih di bawah umur. Pada hari yang sama, kami langsung membawa para korban ke Jakarta. Dan melaporkan kasus ini kepada Komnas Anak. Kami diterima oleh Bapak Aris Merdeka Sirait. Selain itu, kami juga berkonsultasi dengan Yayasan Jurnal Perempuan dan seorang anggota DPD RI.

9. Perkembangan paling terakhir... Tanggal 23 September 2010 Kami menemui ibu korban terapis di bawah umur, kita menceritakan ke ibunya tentang keadaan anaknya di sana yang ingin kabur. Ibunya, setelah tahu pekerjaan dan keadaan anak yang sebenarnya langsung kaget dan marah kemudian kami antar lapor ke Polrestabes. Besoknya tanggal 25 sore hari Polisi PPA menggerebek Spa bersama kita dan ibu korban menjemput beberapa terapis terutama yg di bawah umur, pertama 4 terapis disusul 2 terapis lagi dijemput polisi. Manajernya ditangkap yakni Leo dan Giri, tapi pemiliknya Fredi dan Thien tidak ditangkap. Para Terapis dan manajer menjalani BAP sampai dini hari tanggal 26, tapi di lepas lagi untuk dipanggil lagi hari Senin tanggal 27 di Polrestabes. Polisi mengadakan rencana mempertemukan dan merundingkan Para Korban dan keluarga dengan pihak spa... karena pihak Spa mengancam menuntut uang 20 juta, pelapor dan para korban yang kami bawa sepakat akan melawan dan tidak mau jika pihak Spa menawarkan damai.

D. Kesimpulan

Setahun lebih, kami melakukan investigasi, laporan, wawancara, dan tak kenal lelah berjejaring dengan siapapun yang kami harap bisa membantu perjuangan kami. Tapi, kami sangat menyadari, kami hanyalah warga sipil biasa. Tanpa kemampuan di bidang penegakan hukum, politik bahkan ekonomi. Kami bukan siapa-siapa, tanpa kepentingan apa-apa, selain KEPEDULIAN KAMI pada para korban. Kami sangat terkejut, dalam setahun terakhir, setelah setahun lalu sukses membuka spa pertama saat ini empat cabang spa sudah dibuka, dan seratus lebih perempuan diprediksi telah menjadi korban kebiadaban para pelaku. Kekhawatiran dan kepedulian kami atas kasus ini, bahkan mengalahkan kekhawatiran terhadap keselamatan diri kami sendiri.

Bersama iman kita pada Keadilan Tuhan, Kami mengetuk hati nurani Anda. Siapapun Anda, yang kami percayai untuk membaca laporan ini. Marilah bersama menyatukan kekuatan. Dengan mengingat wajah para perempuan yang kita cintai, kita berantas bisnis trafficking berkedok spa ini! Jangan biarkan mereka menjerat korban baru, yang mungkin saja: perempuan yang kita cintai!(HL)

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.