Pendidikan Karakter..? Hingga Saat Ini Masih Menjadi Sebuah Kegalauan
KOPI - Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Sedangkan di Indonesia Proyek Pendidikan Karakter dilontarkan oleh Kementerian Pendidikan di Tahun 2010 sebagai respon dengan maraknya kasus KKN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Dengan demikian, Karakter dapat didefinisikan yaitu suatu sifat atau watak serta akhlak yang melekat pada diri seseorang. Sedangkan definisi Pendidikan Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional mengartikan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Implementasi Pendidikan Karakter yang ditawarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah bersifat integratif pada semua materi Pembelajaran, pada semua kegiatan pembelajaran bahkah semua kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Pertanyaannya adalah apakah semua guru mata pelajaran baik tingkat Pendidikan dasar dan menegah sampai perguruan tinggi dibekali ketrampilan mengajar materi pembelajaran dengan memadukan nilai-nilai Pendidikan Karakter ???
Hal ini memerlukan perhatian tersendiri, karena cita-cita Pendidikan Karakter yang ditawarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menanamkan kebiasaan (habituation). Untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan tersebut maka perlu adanya kinerja ekstra keras dari para pendidik / guru karena untuk menanamkan kebiasaan itu sendiri tidaklah mudah. Perlu adanya upaya penanaman secara intensif yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, guru harus tahu bagaimana cara menerapkan secara terpadu nilai-nilai Pendidikan Karakter dengan materi Pembelajaran yang akan ia sampaiakan serta Strategi apa yang harus ia gunakan untuk memadukan nilai-nilai Pendidikan Karakter dengan materi Pembelajaran yang akan ia sampaiakan.
Ini menjadi PR tersendiri bagi guru. Adapun solusi yang ditawarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya penanaman kebiasaan nilai-nilai Pendidikan Karakter yaitu melalui “Penguatan (Reinforcement)”. Menurut Teori Oprant Conditioning Skinner, proses penguatan sebuah perilaku dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali dan juga dapat menghilang secara sendirinya. Artinya jika proses penguatan itu tidak dilakukan secara terus menerus maka akan hilang secara sendirinya, apalagi jika siswa sudah bertemu dengan lingkungan yang baru yang cenderung memberi penguatan negatif maka nilai-nilai Pendidikan Karakter itu pun akan terdegradasi, itu artinya siswa masih bergantung pada penguatan.
Bukan hanya itu, masalah yang paling kompleks mengenai implementasi Pendidikan Karakter adalah Evaluasi. Bagaimana cara mengevaluasi Pendidikan Karakter ??? Apakah dengan Tes tertulis ??? atau Tes Lisan ??? atau dengan evaluasi formatf/sumatif ??? atau dengan evaluasi Acuan-Patokan ??? apakah semua instrumen evaluasi itu dapat menjamin suksesnya implementasi Pendidikan Karakter itu sendiri ???. Ini “masih menjadi kegalauan besar” bagi dunia Pendidikan. Jika kita mengacu pada Teori Perkembangan Moral Kohlberg dan Domain Afektif Krathwolh pun serasa sulit untuk mencapai titik klimaks dari implementasi Pendidikan Karakter. Perlu adanya tinjauan ulang mengenai implementasi Pendidikan Karakter serta perlu diperhatikan pula persiapan tenaga pendidik guna mengimplementasikan Pendidikan Karakter.
Penulis : Arjuna Putra Aldino, Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- SDN Tanah Tinggi 2 Diduga Pungut Uang Gedung
- Malaysia Tertarik Metode Pendidikan Kelapa Sawit PKSCWE
- Camat Kenjeran Berikan Diklat Mengemudi Gratis bagi Warga Miskin
- Ulang Tahun ke-27 SMAN 6 Pekanbaru Berlangsung Meriah
- Profil Penerima Penghargaan Akademi Andalan & Peserta Unggulan
- Festival Membaca dan Menulis 2012
- GE Foundation Scholar Tawarkan Beasiswa
- Festival Film Pelajar Indonesia III Jakarta, 23-24 Juni 2012
- Yayasan Ar-Rahmah Mendidik Guru Menjadi Profesional
- UIR Mewisuda 700 Orang Lulusannya
- Kemah Pramuka Penggalang Bentuk Karakter Anak
- Kepsek SDN Tanah Tinggi 1 Setujui Pungutan Komite Sekolah
- Pemko Padang Panjang Alokasikan Rp1 M untuk Beasiswa
- Kepsek SDN Pondok Petir Diduga Pungut Biaya Uang Pangkal
- Pemeran Laskar Pelangi Raih Beasiswa Sobat Bumi


























