Ditemukan Raflesia Raksasa di Padang Panjang
KOPI, Bunga Raflesia memang sangat fenomenal. Siapapun banyak mengakui kalau bunga langka ini sangat luar biasa. Puspa langka endemik ini bunga terbesar di dunia dan banyak tumbuh di tenggara Asia. Raflesia memang memiliki banyak peminat. Banyak yang ingin melihat pesona puspa langka itu secara langsung. Ingin mewuudkan keinginan itu? Di Kota Padang Panjang, tempatnya.
Bunga Raflesia yang berukuran hampir 1 meter dengan berat biasanya melebihi 11 kg itu dengan anggun mengembang sempurna di Kota Serambi Mekah. Letaknya di kelurahan Silaiang Bawah sekitar 2 kilometer dari pusat kota Padang Panjang. Posisinya di sentral halaman Rumah Gadang Minangkabau yang berdiri megah. Di sekelilingnya terdapat beraneka bunga warna warni berbagai rupa.
Tempat tersebut memang sangat unik dan mengesankan. Untuk menjaga keamanan bunga parasit itu, ada sedikit pagar besi yang mengitarinya. Indahnya lagi, di sekeliling bunga dengan lima kelopak anggunnya terdapat lampu taman dan dikitari oleh air yang memberi kesan indah dan menyegarkan. Sebelum menuju ke posisi bunga oranye kemerahan itu berada, ada beberapa tangga yang harus dilewati. Sungguh semua hal ini membuat suasana di sekitar bunga tersebut menjadi lebih mempesona.
Namun, ternyata flora langka yang ditemukan oleh Thomas Stanford Raffles, Gubernur Bengkulu bersama kawannya Dr Joseph Arnold tanggal 20 Mei 1818 di Pulau Lebar, dekat Sungai Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan tersebut tidak memiliki bau busuk dengan aroma yang menyengat yang biasa terjadi pada raflesia lainnya saat kuncupnya menjadi kelopak bunga yang memekar. Jadi tentu saja tidak ada serangga berbagai rupa yang terpancing untuk mendekatinya. Selain itu, bunga bangkai inipun mekar dalam waktu yang lamanya melebihi bunga dengan jenis yang sama. Flora ini biasanya butuh waktu 22 hari mulai kuncup hingga mekar sebelum nantinya membusuk. Inang bunga raflesia inipun tidak ditemukan seperti layaknya bunga raflesia lainnya. Apa yang terjadi ya dengan bunga itu? Apakah raflesia itu species jenis baru dengan segala keunikkan sifatnya? Atau memang Raflesia ini lagi berulah karena tidak banyaknya yang mengunjungi disaat dia tampilkan segala keunikannya. Bisakah anda memberikan alasan yang tepat tentang hal ini? 
Masih ingatkan acara unik di Metro TV yang berjudul ‘Believed it or Not’ yang artinya percaya atau tidak? Acara ini meminta penonton untuk tidak cuma sekedar menonton. Tapi juga menebak apakah dua cerita dari topik yang ditampilkan itu asli atau tidak. Tepatnya saya mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama, karena sebentar lagi akan dijelaskan raflesia jenis Amorphophallus Titanium berikutnya yang sama-sama berada dihalaman Rumah Gadang tersebut. Yang harus ditebak adalah manakah raflesia dengan prototipe asli dan mana pula yang tidak?
Mari kita lanjutkan tebak-tebakkan menarik ini. Kenapa ini menarik? Memang sangat menarik, karena dua puspa langka nasional berbeda bentuk ini memang asli sama-sama berada di Padang Panjang di halaman rumah berarsitektur tinggi Minangkabau. Walaupun yang satu asli dan yang lainnya tidak, ternyata mendatanginya tidak akan membuat anda menyesal. Suasananya memang indah sekali. Halaman yang luas dilengkapi dengan pemandangan yang indah. Selain itu banyak dokumentasi dan informasi tentang cagar budaya Minangkabau yang bisa kita dapatkan di sana dilengkapi dengan pelayanan ramah dari para petugasnya.
Dilanjutkan raflesia yang kedua. Memang masih ditemukan lagi bunga raflesia kedua di halaman rumah yang masih kokoh, walau diguncang gempa dahsyat beberapa waktu lalu. Raflesia kedua ini tidak kalah uniknya. Penuh dengan kesan sederhana. Bahkan saking sederhananya tidak ada pohon inang yang biasanya menjalar ditanah basah yang disebut Liana di sana seperti layaknya parasit lainnya.
Menurut Holidin, anggota Tim Peduli Puspa Langka (TPPL) Bengkulu, saat menemani tim ekspedisi Jelajah Musi, bunga Raflesia butuh waktu sembilan bulan untuk tumbuh dan mekar. Pertumbuhan jenis Amorphophallus yang pertama kali ditemukan tahun 1878 di Kepahiang, Bengkulu oleh Odoardo Beccari, botanis Italia ini diawali dengan munculnya tunas berbentuk tonjolan mirip kutil di batang. Tunas akan terus tumbuh membesar dalam bentuk bulat seperti kol, namun terselubungi kulit berwarna hitam. Setelah sembilan bulan, kulit akan terkelupas sehingga kelopak bunga akan terlihat. Namun hal tersebut tidak terlihat pada bunga ini. Raflesia ini berdaun dan juga bukan tanaman parasit.
Walaupun cuma di kitari oleh pagar kayu dan ukurannya cuma kira-kira setengah meter, namun bunga ini terlihat kokoh dan tinggi menjulang hingga sekitar satu meter. Kalau raflesia yang pertama tadi berwarna warni, yang kedua ini hanya didominasi warna hijau saja. Bunga ini juga tidak menghisap serangga atau lalat dan baunya tidak menyebabkan keracunan yang biasanya masih bisa tercium dari jarak 100 meter.
Manakah dari gambaran di atas yang raflesianya hidup dan asli? Apakah raflesia pertama yang mekarnya lebih lama dari raflesia sejenis? Atau raflesia kedua yang tumbuh tinggi dan berdaun seperti layaknya bunga biasa? Jadi manakah yang menurut anda lebih masuk akal dengan segala sifat raflesia pada umumnya seperti paparan diatas?
Walaupun terdengar aneh kalau ada raflesia akarnya menghujam langsung ke tanah dan bukan tumbuhan parasit seperti umumnya raflesia yang ada namun itulah yang asli. Raflesia yang kedua adalah salah satu dari 28 jenis raflesia lainnya yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Sedangkan raflesia pertama hanya hiasan indah taman yang dibangun atas prakarsa Bapak Bustanil Arifin dan A Hamid. Bentuk yang memikat dari Raflesia Arnoldi membuatnya lebih terkenal. Sedangkan spesies kedua ini dengan bentuk bunga seperti lonceng terbalik agak tereleminasi gaungnya.
Di komplek Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) lah kedua bunga itu berada. Selain bertemu flora langka tersebut, kita juga akan kaya informasi akan budaya Minangkabau yang tentu tidak kalah menariknya. Pemerintah melalui Keppres Nomor 4 tahun 1993 sudah menetapkan raflesia sebagai puspa langka Nasional. Dan bunga tersebut berhasil ditumbuhkan di ex-situ (diluar habitat aslinya) yang merupakan hal yang luar biasa terjadi. “Botanis Malaysia pernah mencoba membiakkan raflesia dan berhasil, namun masih di lingkungan habitat aslinya atau in situ”, kata Sofie M.Sc, botanis Kebun Raya Bogor yang banyak meneliti tentang raflesia.
Namun sayangnya raflesia kedua ini tidak akan lagi berbunga karena telah menjadi batang. Bunga terakhir dari tanaman ini dengan terpaksa tidak bisa menampakkan mekarnya karena faktor alam dan kurang perawatan. Kuncup yang tak jadi mekar ini dalam merana tergeletak ditanah dan sudah patah hati untuk kembali berbunga. Istilah layu sebelum mengembang mungkin pas untuk bunga ini. Masalahnya adalah kenapa selama ini keberadaan bunga ini kurang terekspos dengan baik? Padahal tidak mudah untuk mendapatkan bunga yang letaknya sangat strategis dihalaman tempat wisata yang mengedukasi ini. Raflesia yang dulunya menampilkan indah bunga berbentuk lonceng ini memang terkesan lengang dari pengunjung. Padahal bunga ini sangat potensial untuk dijadikan penarik bagi wisatawan yang datang.
Memang tidak bisa dipungkiri, PDIKM telah berusaha menjaga UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terkhusus pasal 20 ayat 1 dan pasal 40 terkait perlindungan terhadap flora dan fauna yang dilindungi seperti harapan Kepala BKSDA ( Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Sumatra Barat. Ini terlihat dari terpagarnya bunga raflesia ini dengan baik. Namun usaha yang telah dilakukan ini harus lebih ditingkatkan mengingat masih ada enam lokasi raflesia lainnya yang belum terlalu terjamah di sekitar PDIKM. Selain raflesia kedua diatas yang terletak di sebelah kanan depan Rumah Gadang, masih terdapat satu lagi di samping flora yang telah membatang itu berada. Langkahkanlah kaki anda ke arah Kantor Dinas Porbudpar, karena anda akan menemukan satu bunga raflesia lagi di sampingnya. Sedangkan empat posisi lainnya terletak di bagian belakang PDIKM bersebelahan dengan jalan utama ke Mifan. Tepatnya disisi Mifan yang jarang dilewati orang. Jadi total ada tujuh raflesia yang berada di sekitar PDIKM. Tentu saja ini adalah peristiwa luar biasa yang langka terjadi. Tujuh raflesia menyabar di antara dua objek wisata yang banyak dikenal oleh masyarakat luas.
Bagi yang memang ada rencana berkunjung ke sana, tidak ada salahnya bila anda berkeliling di sekitar rumah adat ini, untuk melihat langsung kondisi rafesia yang umumnya berbunga setiap tiga bulan sekali ini. Lokasinya tidak terlalu sulit untuk dicapai karena memang umbinya selalu menjalar disekitar induk bunganya. Hal ini tidak sesulit mendaki Bukit Tui yang kabarnya juga menyimpan beberapa bunga raflesia lainnya. Hawa sejuk Padang Panjang memang kondusif untuk tumbuhnya raflesia jenis Amorphophallus Titanium ini. Jadi Padang Panjang juga cocok untuk dijadikan kota Bunga seperti gelar yang sudah melekat pada kota Bukittinggi.
Bunga yang berjenis umbi-umbian ini, telah lama berada di area PDIKM. Karena keberadaan ini pulalah sejak peletakan batu pertama di tanggal cantik delapan bulan delapan tahun delapan delapan, sampai berdirinya Rumah Adat yang diresmikan pada 17 Desember 1990 oleh Hasan Basri Durin Gubernur Sumatra Barat di masa itu, berkembanglah pemikiran untuk menjadikan patung bunga raflesia sebagai sentral penghias taman di halaman Rumah Gadang ini. Namun jenis bunga yang dipatungkan berbeda dengan tujuh raflesia yang berada disekitar PDIKM. Tidak seperti lonceng terbalik, namun seperti bunga Raflesia Arnoldi yang memang lebih banyak dikenal banyak orang. Mungkin karena warna dan bentuk tampilan Raflesia Arnoldi yang lebih menarik untuk dijadikan hiasan tamanlah yang membuat bunga ini terpilih untuk dipatungkan. Hasilnya, taman dengan model terrasering yang dilengkapi 4 jenis pohon beringin rindang di setiap pojok taman ini menjadi lebih berkesan dengan adanya patung bunga raksasa ini.

Tentu saja ini merupakan kekuatan wisata yang luar biasa, bila dipadukan dalam suatu paket kunjungan yang tertata rapi, dibawah sentuhan yang optimal pemerintahan setempat. Selain pengetahuan anda terasah dengan segala informasi tentang Minangkabau, anda juga dapat melepaskan rasa penasaran dengan melihat secara langsung bentuk puspa langka endemik yang banyak dicari orang selama ini. Tentu saja akan lebih membantu bila dipandu oleh orang yang kaya informasi untuk menjadikan perjalanan anda lebih bermakna dan berkesan. Setelah melepas segala penasaran yang ada didukung suasana taman dan alam pergunungan yang indah, sejuknya air Mifan dengan segala wahana bermain basahnya akan menyegarkan pikiran anda. Memang tiga paket wisata ini sangat kondusif untuk lebih diperhatikan dan ditingkatkan oleh Pemda ke depan. Jadi kapankah anda bisa berkunjung langsung ke sana? Mumpung sampai saat ini raflesia itu masih bertahan di sisa hidupnya. Jangan sampai terlambat dan anda menyesal nantinya!
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Datanglah ke Diniyyah Putri: Ada Nostalgia, Ada Sejarahnya
- Kelewat PD IKa eM Tenggelam di Kolam MIFAN
- Stasiun Kereta Api Padangpanjang
- Gratis Mini Zoo Lanudal Sediakan Mini Zoo Gratis bagi Masyarakat
- Temukan Pengalaman Seru di Ocean Park Hongkong
- Hingga Maret 2011, Wisman Kepulauan Riau Sebanyak 133.620 Orang
- Teluk Jailolo Masuk Program Pengembangan Wisata Bawah Laut Indonesia
- Dell Indonesia Gelar Dell Ambonesia Photografi Competition 2011
- Objek Wisata tak Bermakna Tanpa Promosi
- Daftar Obyek Wisata Kabupaten Luwu Timur
- Pariwisata Padang Panjang Perlu Sentuhan Lebih Serius
- Air Panas Menanti Investor
- Potret Tari Malaka Rajai Lomba Photography SIMFEST 2010
- Potensi Wisata Lutim Menjanjikan
- Pewarta Foto Manado Turun Meliput Perayaan Cap Go Meh


























